Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Menulis dan Ketidakselesaian

Mau dan sawonya yang “selesai berbuah”. (sumber foto: dokumentasi pribadi penulis)

4.5
(8)

Menulis, bagi sebagian orang, adalah aktivitas elitis. Yang hanya dilakukan oleh mereka yang rela menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membuat karya teks—dan tentu saja membaca banyak buku. Sebagian yang lain melihatnya sebagai aktivitas populis karena sedari tingkat sekolah dasar kita telah berurusan dengan huruf, membaca, dan tulis-menulis. Populisme itu makin menemukan pasangannya di era media sosial yang, disadari-atau tidak, memaksa tiap penggunanya membuat takarir atas unggahannya. Catatan kali ini tidak akan membincangkan dua cara pandang di atas terhadap menulis. Elitis ataupun populis, aktivitas menulis tetap bisa menjadi sesuatu yang diperhitungkan ketika karya tulis itu selesai. Tidak ada yang salah dengan keduanya. Yang perlu digarisbawahi adalah: menulis tidak serta-merta membuat seseorang, yang melihat menulis sebagai elitisme sekalipun, menjadi penulis!

***

Akhir-akhir ini, sejak istri saya membuka warung nasi, Ahad menjadi hari favorit kami sebab hari itu ia tidak berjualan sehingga ia benar-benar milik kami. Saya tidak tahu apakah saya harus memintanya berhenti atau bagaimana, sebab saya sendiri punya andil dengan kesibukan barunya itu. Ya, sayalah yang selalu bilang kalau masakannya layak mendapat empat jempol atau lebih karena rasanya yang lezat dan ia tak pernah pelit dengan bahan dan rempah-rempah sehingga kalau ia buka warung makan pasti laris manis. Mata saya tak sengaja terarah ke barisan buku yang memenuhi lemari pembatas antara dapur dan ruang tengah. Saya baru mau melanjutkan kronologi ingatan dan mencari hubungannya dengan buku-buku ketika ingatan lain menikung: cabai yang lebat di kebun kami di samping pekarangan sudah banyak yang masak. Salah satu hal yang saya senangi adalah memetiknya sebelum petang sebab istri saya akan bersorai karena ia bisa menghemat puluhan ribu. “Harga cabe sekarang suka main trampolin, Yah!” katanya seraya meraup cabai yang saya geletakkan begitu saja di atas meja makan. Anak-anak datang dan merengek minta dibelikan es krim. Saya tahu kalau Istri, karena ia memasak semua menu di warung nasinya sendirian, sangat capek dan rengekan yang bising akan membuatnya bertambah capek. Saya mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dan si nomor dua Dkayla langsung menyambarnya dan berbalik seraya mengangkat uang kertas di tangannya. Kakak dan adiknya bersorai lalu suara mereka makin sayup begitu langkah kecil mereka berlarian ke toko yang menjual es krim di ujung gang. Pandangan saya kembali menabrak barisan buku di lemari. Ponsel saya di sudut meja makan berdering. Saya mendekat dan mendapati nomor tak dikenal di layar. Siapa? Saya tak hendak menjawab. Saya ingin ke rak buku, tapi mulut saya malah berkata, “Apa yang bisa Ayah bantu, Bun?” Saya tahu dia lelah dan saya ingin jadi suami yang peka dengan mengabaikan hasrat membaca buku. “Hapemu, Yah,” mulutnya monyong ke ponsel saya yang masih berdering. “Kalau memang penting, nanti akan ngirim WA,” balas saya. “Lho, bukannya karena pentinglah, seseorang langsung menelepon,” sanggahnya. Ponsel saya berhenti berdering bersamaan dengan pandangan kami yang sama-sama mengarah ke sudut meja makan, seakan-akan perhatian kami membuat alat komunikasi itu tak percaya diri. Istri baru mau mengatakan sesuatu ketika nada pesan WhatsApp berdentang. Saya tersenyum dan ingin sekali bilang kalau saya menang. Istri ke belakang dan tak lama kemudian ia berteriak kecil karena minyak sayur yang ia panaskan di kuali membuat asap mengabuti dapur. “Oh, tempenya bahkan belum diiris!” ia menyalahkan diri sendiri dan saya hanya tersenyum. Suara salam yang melengking menahan gerakan jemari saya yang hendak membuka kode layar ponsel. Tetangga kami, seorang perempuan yang sejak punya anak telah menyulap dirinya jadi pohon beringin yang rimbun, mengantarkan bubur durian dan meminta saya segera mengganti piringnya sebab ia tak bisa menunggu lama. Setelah menuang semua isinya ke mangkuk, Istri menahan saya. “Cuci dulu,” katanya. Saya menaruh piring itu di atas kitchen set. Saya ke belakang dan mendapati kompor yang sudah dimatikan tapi jejak kabut asap masih tebal. “Ini!” Semenit kemudian ia menyerahkan piring yang sudah dicuci dan sekresek terong ungu. Saya sebenarnya mau bilang kenapa tidak dia yang langsung saja menyerahkannya, tapi saya malah menerima piring itu—dengan melongo. Dua ekor kecoak melintas di lantai lalu hilang di bawah kulkas. “Abis ini Ayah ke kebun lagi. Petik terong lagi. Sekarang antar ini ke Bu Dini.” Istri saya benar. Suara tetangga itu melengking lagi, meminta piringnya cepat dikembalikan. Saya melewati buku-buku di lemari. Saya merasa mereka kompak memandangi saya dengan tatapan marah. Di pekarangan, ayam-ayam tetangga sedang berseteru dengan kucing-kucing kami di dekat wadah makanan mereka yang isinya berantakan. Saya berjalan mendekat dan seperti tahu siapa yang bakal dipersalahkan, ayam-ayam itu berlarian dengan ribut. Terdengar bunyi beduk. Dua ekor kecoak terkapar dengan isi perut yang buyar dekat kulkas. Sebelah sepatu saya tergeletak di dekatnya. Sejak kapan Istri berani sama kecoak? O, sudah setengah empat rupanya. Suara beduk baru saja berhenti. Ponsel saya berdering lagi, seperti tak mau kalah dengan azan di kejauhan. Saya ke belakang. Aroma tempe yang baru ditiris menyerang-nyerang penciuman. Saya putar kran. Membaca doa wudu. Azan tedengar kemerosok—pasti toanya rusak! “Jangan rusak lipatan di lemari. Kain disampir di kursi kerja Ayah,” kata Istri, antara memperingatkan dan memberi tahu. Saya sedang menggulung kain di pinggang ketika anak-anak pulang. Mereka saling pukul dengan buku yang ditarik sembarang dari lemari. Buku-buku di rak itu, saya rasakan, menatap saya tajam dan beringas. Dinda dan Dkayla yang berebutan ingin membela diri di hadapan saya, tentu saja saya kagok dengan “serangan mendadak” itu—sementara Dmaura menangis dengan mulut yang cemong oleh warna merah es krim stroberi yang tinggal secuil di tangan kanannya. “Yah, besok Bunda mungkin nggak jualan aja,” adu istri saya sambil memandang ponsel di tangan kanannya. “Bibik barusan nelepon kalau dia nggak masuk lagi?” tebak saya. Ketiga putri kami kini hampir bersamaan merengek campur menangis. Ponsel saya berdering lagi. Ponsel Istri juga berdering. Angin deras menerobos masuk dari pintu depan. Anak-anak berteriak. Kucing-kucing berkelahi di dapur. “Oh, ikanku yang baru dicuci!” Istri buru-buru ke belakang. Kelebatan angin itu menampar-nampar wajah. Saya yang belum memasang kuda-kuda, terhuyung mundur. Dinda dan Dkayla berteriak memanggil Ayah mereka. Dmaura berlari ke dapur, juga menangis tapi memanggil-manggil Bunda. Azan hampir selesai. Saya membuka mata. Ketiga putri saya berlarian di dipan. Pipi saya terasa pedas. “Ayah bangun!” Di luar kamar, suara itu memukul-mukul gendang telinga. Salam tahyat akhir terdengar sayup-sayup. Saya singkap gorden kamar. Masih gelap dan berkabut. Lho, bukannya barusan Asar? Bagaimana sudah malam saja? Suara gedebuk mengagetkan saya. Dua buah jambu biji jatuh di pekarangan depan. Seekor kucing masih lelap di bawah pilar beranda. Saya kucek mata dan terdengar suara pintu dibuka. Istri merepet karena saya tidak subuhan di masjid.

Baca juga  Bulan Celurit Api

***

Perhatikanlah. Sebuah paragraf panjang di atas, apabila tidak diakhiri oleh twist bahwa pencerita ternyata sedang menceritakan mimpinya, akan tetap tampil sebagai lanturan.

Potensi semesta cerita tak bisa dianalogikan sebagai sebatang pohon kelapa. Ia adalah beringin yang bercabang banyak, kanopi lebat nan rindang, dan akar yang menjalar—atau bahkan—menggantung ke sana-kemari, cerita-cerita yang tumbuh, besar, dan beranak-pinak dalam pikiran yang tak jarang gagal kita kontrol pergerakannya. Tapi itulah semesta pada dasarnya, yang dengan kompleksitasnya, adalah energi potensial keberceritaan yang diam-diam bermukim dalam diri dan kehidupan tiap manusia.

Menyitir Harari dalam trilogi Sapiens, sebagai manusia yang berkembang secara tak terduga selama tujuh puluh abad, kita seharusnya bisa mengolah potensi itu untuk menggerakkan dunia atau paling tidak mengubah diri sendiri. Dalam dunia cerita, kita dituntut memanfaatkan kepekaan sebagai sapiens modern untuk memproduksi narasi secara efektif untuk kemudian diolah secara kreatif, hingga akhirnya memungkinkan menjadi karya yang inventif.

Dalam menulis, bahkan bacotan, bualan, dan lanturan dalam kepala kita seharusnya tidak tampil apa-adanya apabila kita berhasil memperlakukannya dengan efektif. Bahasa sederhananya adalah: memberikan tanda titik. Baru kemudian memastikan, apakah tulisan ini harus diolah (lagi) secara kreatif atau bahkan potensial menjadi karya cipta yang belum pernah dibuat sebelumnya (inventif).

Yang membuat dunia produksi-cerita semrawut adalah kreator tidak sabar untuk menjadi kreatif—atau bahkan inventif, padahal ceritanya selesai juga belum! Oleh karena itu, tak jarang, tumpukan bacaan, ratusan percobaan menulis, dan puluhan kelas diikuti, hanya memperkaya ilmu pengetahuan dan konsep-konsep berkarya, tapi tidak kunjung membuat kita mampu menyelesaikan proyek menulis sendiri. Akhirnya, yang berserak-hamburan di sekitar kita adalah para pengamat, komentator, kritikus, dan kreator mandul.

Baca juga  Orang Inggris

“Tapi, ‘kan, lebih baik tidak menulis apa pun daripada nulis banyak tapi tidak bermutu!” Begitulah para medioker menghibur diri. Mereka sebenarnya tidak berada pada posisi yang pantas untuk mengukur sesuatu yang bahkan belum mereka lihat ujungnya.

Oleh karena itu, kalau kita mau membuka diri dengan berbagai kemungkinan, yang harus kita pahami adalah: berproses efektif alias menyelesaikan karya sampai selesai adalah langkah pertama dengan tembok setinggi langit di depannya. Sekuat apa pun usaha untuk mengabaikan tahap efektif sehingga tak sabar ingin melompat ke tahap kreatif (apalagi inventif!), kita hanya akan terlempar ke belakang dalam keadaan yang mengenaskan dan tentu saja … kesal.

Kesal karena anda sebenarnya lebih pintar dari si A yang telah merampungkan tulisannya, karena sebenarnya anda lebih cerdas dari si B yang sudah menulis banyak buku, karena sebenarnya anda lebih banyak membaca buku dari si C yang dua bulan lalu karyanya memenangkan penghargaan.

“Kamu tidak ingin belajar dari si A?” tanya teman dekatnya kepada anda. “Kepada si B?” tanyanya lagi ketika anda hanya menjawab dengan geming. “Si C?” desak teman anda lagi.

Kita sungguh tahu apa yang harus dilakukan, tapi salah satu kegemaran kita adalah masuk lobang berkali-kali dan mencukupkan diri berbahagia-raya dengan ilmu dalam kepala. Bukan karya yang kuasa mengubah apa saja.*

Lubuklinggau, 24 Maret 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring/luring.

4 Comments

  1. Erlinda Herawati Harahap

    Inspiratif❤️👍 dan aku membacanya tidak sambil ngopi, karena lambungku tak bisa berteman dengan kafein😊

  2. Miftahur Rahman

    Biasanya mimpi bisa saja terjadi di kemudian hari

  3. Aku tersindir, dan rasanya A, B dan C adalah guru. 😀

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: