Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Mufti Wibowo

Ular

3.6
(5)

PAGI itu, teh dalam mugku tak bekerja sebagaimana mestinya. Aku salah mengira karena berpikir setelah membanting ponsel itu semua akan kembali berjalan normal seperti biasanya. Setelah suara benturan keras ponselku saat mengenai dinding kaca akuarium, airnya yang tumpah tak cukup untuk membanjiri lantai ruangan. Tiga ikan hias megap-megap, tapi tak cukup menarik perhatianku untuk berempati.

Ibu, sejak kecil, selalu mengatakan aku adalah seorang anak yang istimewa. Aku tak tahu mengapa ibu mengatakan demikian. Yang terpikir olehku adalah setiap anak tentu istimewa bagi seorang yang melahirkannya. Sejak kecil, aku sangat menyukai ikan. Karenanya, Ibu memberikanku sebuah akuarium. Meski hanya seukuran bola basket yang hanya cukup untuk hidup tiga ekor ikan kecil. Sehari dua kali, aku memberi ikan-ikan itu makan. Seminggu sekali, aku bertugas membersihkan akuarium dan mengganti airnya. Aku membeli ikan-ikan itu dengan uang jajan yang kusisihkan, tak jauh dari rumah.

Mungkin karena setiap hari aku hanya bermain dan berbicara dengan ikan-ikan itu, Ibu selalu mengatakan padaku ikan-ikan itu selalu berenang di kepalaku. Diam-diam aku meyakini kata-kata Ibu bahwa ikan-ikan itu benar-benar hidup di kepalaku. Karenanya. aku sering membanggakannya di hadapan teman-teman di sekolahku. Tapi, karena itu aku menjadi bahan olok-olok mereka.

Pikiran kekanak-kanakan yang rapuh seperti jejaring laba-laba koyak seketika. Pada suatu hari yang tak terlupakan, mungkin kelas tiga atau empat sekolah dasar, aku pulang diantar Bu Tari, guruku. Dia mengantarku karena aku terus menangis. Sepanjang perjalanan menuju rumah yang berjarak kurang dari sepuluh menit dengan berjalan kaki itu, genggaman tangan Bu Tari hanya cukup untuk menahan suara tangisku. Akan tetapi, tak cukup untuk membendung air mataku yang mungkin sederas mata air Cipendok.

Baca juga  Seekor Anjing Manis

Semua bermula saat kudengar bel tanda masuk setelah istihahat. Aku bergegas pergi dari ruang perpustakaan setelah melihat foto-foto yang merekam keindahan bawah laut, tentu saja untuk melihat ikan-ikan. Saat kami akan memulai belajar, aku membuka tas yang dari dalamnya kemudian kutemukan seekor ular berwarna hijau menjulurkan kepalanya. Sontak saja aku menjerit histeris.

Aku kemudian tahu itu bukan ular yang berbisa. Ukurannya pun tak lebih besar dari bilah bambu yang biasa digunakan Bu Tari untuk menuding objek-objek yang diterangkan di papan tulis. Setelah didesak, salah seorang teman lelaki di kelasku mengaku memasukkan ular itu ke dalam tasku. Tapi, pengakuan itu tak cukup untuk membuatku berhenti menangis. Seminggu kemudian aku menolak datang ke sekolah.

Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah, aku justru menjadi begitu sering melihat kepala seekor ular menjulur dari mulutku, sesekali dari lubang hidung atau telingaku. Ia mendesis, menjurkan lidahnya yang hitam pekat yang mengisyaratkan ancaman bisa. Sejak itu pula, aku membenarkan apa yang dikatakan Ali dan teman satu kelasku di SD dulu. Kata mereka, aku tak layak mereka jadikan kawan sebab lebih akrab dengan hewan-hewan. Yang Ali dan kawan-kawan itu belum tahu—dan mungkin tak akan pernah terpikirkan—adalah aku tak hanya bersahabat dengan ular, bahkan ular itu hidup di dalam kepalaku.

Ular di kepalaku diam-diam terus membisikkan kepadaku untuk merelakan ikan-ikan di kepalaku untuk mereka jadikan mangsa. Bertahun-tahun, aku memang berhasil mencegah ular itu memangsa ikan-ikan itu dan membuat mereka hidup dalam kelaparan. Dengan begitu, aku berharap mereka akan melenggang pergi dari kepalaku untuk mencari makanan di luar sana. Tapi, ular di kepalaku memilih untuk tidur di sana alih-alih menunggu aku lengah.

Baca juga  Dodolitdodolitdodolibret

Beberapa jam lalu, aku lena dan lengah mengawasi ikan-ikanku. Jadilah mereka santapan ular itu. Ketegangan demi ketegangan antara aku dengan Ibu telah menemui puncaknya. Tiga ekor ikan menjadi korban, menggelepak-gelepak sia-sia di lantai setelah menyaksikan pertengkaran kami.

“Kamu tak pantas bersikap seperti itu pada orang yang melahirkan dan membesarkanmu!”

“Ibu membangun hubungan kita di atas fondasi ketidakjujuran. Itulah yang membuatnya mudah runtuh.”

“Akulah yang melahirkanmu, ada darahku di tubuhmu, mana mungkin aku tak jujur dengan kasih sayangku padamu, Nak.”

“Lalu apa yang membuat Ibu tak pernah katakan siapa ayahku. Aku takkan keberatan apalagi malu, bahkan, jika Ibu katakan bahwa ayahku adalah sosok gergasi yang pada tengah malam yang gelap gulita muncul dari dasar telaga Cipendok.”

Sebuah tamparan di pipiku mengakhiri pertengkaran itu yang sesungguhnya sudah dimulai sejak tumbuh bulu-bulu di kemaluanku dan darah haid pertama. Kepala ular itu menjulur dan mendesis, bepindah-pindah antara mulut, hidung, dan telinga. Beberapa saat lamanya aku merasa sedikit tuli karena dengungan di telinga. Sungguh pun tamparan itu tak membuatku merasa sakit, aku merasakan rongga dada yang tiap detik semakin terasa sesaknya. Aku tahu, hanya menangis yang akan membuatnya baik kembali.

Fakuntsin, 2020

Mufti Wibowo, berdomisili di Purbalingga, Jateng.

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: