Cerpen, Pikiran Rakyat, Ratna M Rochiman

Angin dari Desa

5
(5)

ANGIN memang tak pernah bisa bersahabat. Ia terbatuk. Kesedihan telah mengambil semua daya hidup, namun sorot matanya masih menyiratkan ketegasan. Ia kancingkan baju hangat sampai ke leher untuk sekadar mengurangi gigil.

TERBUNGKUK ia kumpulkan bambu-bambu yang telah dilubangi, diikatnya kuat-kuat. Gemetar. Tulang tangan dan kaki berderak, dimakan usia, seperti suara ranting kering terinjak.

Ia berdiri, berjalan mendekati balai-balai. Di sana semua kelelahan dilepaskan, matanya memandang ke arah guguran dedaunan bambu kering. Secangkir teh panas mulai dingin. Ia harus segera meminumnya, seolah berlomba dengan angin.

Sehelai Almanak 1984, terjatuh dari tempatnya. Melayang tertiup angin yang masuk melalui pintu yang terbuka. Hari ini telah berada di pengujung tahun.

Angin terlalu dingin, tapi ia harus menerima, hanya anginlah yang kerap membawa masa lalu kembali hadir. Walau hanya kesedihanlah yang kerap menemui. Setelah angin menghempaskan dan merenggut kebahagiaannya.

Aku mendekati dan menyapanya.

***

DESEMBER, empat belas tahun lalu. Usiaku menginjak empat puluh delapan tahun. Tapi angin tak mengenal usia, bila ia berubah menjadi badai dan memporak-porandakan impian.

“Johan, kau harus pulang sekarang!” Tarmiji berteriak dari arah pintu. Lelaki tanpa rambut itu terengah setelah menaiki tangga menuju tempatku. Ia melambai-lambaikan sehelai kertas berwarna keabuan. Melihat wajahnya, aku membaca sesuatu telah terjadi. Aku tak beranjak. Tanganku masih memegang bambu. Suling ini masih memerlukan ampelasan terakhirnya.

“Ini!” dia mengangsurkan kertas kepadaku. Kemudian mulutnya terkunci. Matanya memancarkan kegelisahan, memandangku. Kertas itu kuterima.

Sebuah telegram. Kabar datang dari desa yang jauh dari tempatku duduk, membuat dadaku sesak, menahan tangis, bahkan terasa tak mampu untuk menarik nafas.

Kabar itu menumbangkanku, hingga akhirnya berhari-hari aku terkapar di tempat tidur, setelah mabuk, tak sadarkan diri. Aku mengutuk keberadaanku yang jauh dari desa, ketika peristiwa itu terjadi, tak bisa menolong mereka, hingga mereka pergi untuk selamanya.

Sejak itu, setiap mataku terpejam, Zulaikha, terus menguasai tidurku. Tangisku tak buncah. Aku laki-laki. Tak boleh lemah. Kubuat tangisan menjadi batu dalam dada.

Kau tersenyum sambil menuntun tiga anak bersayap. Keteduhan jadi misteri dalam matamu. Hanya tersenyum, lalu menghilang. Dadaku sesak.

Baca juga  Masjid ke-1.000

Kau menemuiku lagi. Saat aku tak tahu, apakah aku sudah terpejam atau belum. Zulaikha, kau memangku bayi bersayap, menyusuinya. Aku ingin menangis, tapi aku laki-laki. Dua anak bersayap di sisimu cuma tersenyum. Dadaku sakit.

Kalian datang kembali. Kali ini, aku sudah benar-benar pulas. “Zulaikha,” desisku lemah. Kau berdiri sangat jauh, aku tak dapat meraihmu. Tanganmu terlihat kuat memeluk tiga anak bersayap. Kalian tersenyum, melambai.

Berhari-hari, kau datang menemuiku, Zulaikha, bersama tiga anak bersayap. Tersenyum, lalu menghilang. Dadaku pecah. Aku muntah darah.

***

MASIH Desember, empat belas tahun yang lalu, sebulan berselang setelah datangnya telegram dari Bulik Tisah. Telegram yang kini tergeletak di atas ranjang, yang tak sempat aku bereskan sebelum aku pergi.

Aku pulang…

Aku berjalan melawan angin, menyusuri jalan berkerikil, gemeretak terinjak boot. Di sepanjang jalan, pohon-pohon terlihat merana karena patah tersapu badai, membuat mataku sakit. Desa sepi. Satu, dua, orang yang tak kukenal lewat berselisih jalan denganku. Desa ini seperti desa baru. Begitu asing.

Kakiku berhenti di depan rumah yang hancur. Rumahku. Tak ada si Mbok, yang selalu mengkonde rambutnya, setelah memakai minyak kletik dan bersenandung macaphat.

Tak ada Paklik Dikun, yang kakinya pincang, bekas kena tembak ketika berjuang mempertahankan kemerdekaan di Yogyakarta, dan wajahnya rusak terbakar, hingga ia malu untuk kawin. Yang ada hanya puing bekas rumah. Aku cuma bisa menghela nafas. Aku laki-laki, kata mbokku lelaki tak boleh menangis.

Kuputar tubuhku, melihat sekelilingku. Tak ada sanak tersisa, hanya beberapa orang yang tak kukenal. Mata mereka memandangku sekilas lalu pergi bergegas. Aku, orang yang terasing, bukan orang yang pulang.

Kulanjutkan perjalananku ke ujung desa. Dadaku lebih nyeri. Angin pun kini terasa lebih dingin menusuk.

“Zulaikha, aku pulang,” gumamku saat berada di ujung desa. Di depan rumah terakhir yang berdekatan dengan pematang sawah. Kulihat rumah kami tinggal separuh. Apakah aku pantas menangis sekarang? tanyaku dalam hati.

Tak ada keinginan untuk mencari kuburmu. Aku tak mampu untuk melihatmu bila sudah bersalin rupa menjadi gundukan tanah. Bukan aku tak mau, mencari anak-anak kita, bukan! Dari telegram yang dikirim Bulik Tisah, kau dan anak-anak menghilang. Kalian tak ditemukan, setelah badai menyapu habis seluruh desa.

Baca juga  Monolog Dengdem

Zulaikha, apakah kau menghukumku? Karena kau dan ibumu, menganggapku tak sanggup berada di dekatmu, dan memenuhi kebutuhanmu dan anak-anak kita? Aku telah berusaha. Tapi apa yang bisa kulakukan lagi untuk tetap menyakinkanmu? Sebenarnya kita tak pernah sengsara, ibumulah yang mengira kita kekurangan. Aku seniman. Bukankah aku tetap bertanggung jawab untuk menafkahimu?

Maafkan aku, mungkin paham yang kuanut tak pernah bisa membuat aku pulang dan akhirnya menjauhkanku darimu. Tapi kita tak boleh menyalahkan keadaan. Ketika aku dibuang lima tahun yang lalu, cuma Bulik Tisahlah yang aku kabari. Semata-mata kulakukan, agar kau dan anak-anak merasa aman.

Di ujung desa ini aku lunglai, terduduk di atas rerumputan. Pandanganku menyapu sampai jauh. Air mataku tak pecah juga. Yang kulakukan hanya bisa menahan air mata, tapi tak pernah bisa membuatmu bergembira hingga akhir hidupmu.

Angin semakin membuatku menggigil dan meninggalkan titik-titik air di kulit. Aku menengadah, langit kelabu.

Kusadari aku terlalu munafik! Tak seperti awan-awan di atas sana yang lebih jujur saat ingin menumpahkan airnya. Aku iri.

Gerimis mulai menderas. Angin pun berubah kencang. Orang-orang berlarian sambil berteriak. Seorang di antaranya menyuruhku untuk menepi dan berteduh. Aku hanya menatap semuanya, tanpa bereaksi.

Zulaikha, kubiarkan hujan membasahi tubuh, mewakili seluruh tangisan. Gemuruh guntur, kilatan petir, tak seberapa dibanding dengan apa yang kurasakan di dalam dada. Badai ini meluluhlantakanku.

Di tengah hujan, sekelebatan kau datang dengan wajah tersenyum, menghampiriku sambil menuntun tiga anak bersayap. Tubuhmu basah kuyup sama sepertiku, sayap ketiga anak itu pun ikut kuyup. Senyummu menikamku.

***

AKU terbangun di ruangan bercat biru, dengan jendela menghadap halaman. Di depan pintu masuk, berdiri seorang perempuan tua bertubuh gemuk memegang mangkuk.

“Johan, kau sudah bangun tha?” ia mendekat. Aku tak membalas pertanyaannya. Kupandangi perempuan itu lekat-lekat. Bulik Tisah? Sejak kapan aku berada di rumahnya? Aku terbatuk.

Baca juga  Kabut Ibu

Bulik Tisah membuka tutup gelas, dan memberikan gelas berisi air hangat kepadaku. Dalam satu tegukan, isi gelas itu tandas, mengusir kerontang di tenggorokanku.

“Kau diantar orang. Tak kukenal. Kau mabuk! Katanya, kau terkapar di jalanan. Untung di saku jaketmu ada sobekan alamatku. Kalau tidak, entahlah.” Bulik Tisah mengambil handuk kecil dari dalam mangkuk, mengganti kompresanku.

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Kurasakan saat ini kepalaku sangat berat. Zulaikha, astaga! Bukankah kemarin kita masih menikmati hujan?

Aku tak berani untuk menanyakan keberadaanmu pada Bulik Tisah. Aku takut mendengar, kalau kalian memang sudah tiada, pulang ke rumah Tuhan di surga.

Tuhan? Tiba-tiba aku rindu rumah Tuhan. Aku masih memiliki Tuhan.

***

DESEMBER, empat belas tahun yang lalu sudah terlewati. Angin berhembus pelan. Langit senja sedikit demi sedikit mulai menyimpan matahari di balik bukit.

Tubuhnya lesu, tenggelam dalam jaket. Segenap kesedihan, ditumpahkan lewat tiupan seruling. Setelah itu, ia tersenyum tipis lalu menembang, selirik machaphat terdengar begitu mengiris.

“Aku harus menangis, Zulaikha. Harus!” gumamnya nyaris tak terdengar. “Sekarang aku tak peduli, walau aku laki-laki.”

***

LUBANG di depanku sudah tertutup sempurna. Pencarianku berakhir di sini, Bapak. Di depan tanah merah, tempat terakhirmu berumah. Aku bersyukur telah menemukan dan mendengar ceritamu sepeninggal kami. Tapi aku tak punya keberanian mengatakan siapa aku.

Sebenarnya, badai keadaanlah yang membuat Ibu pergi, jauh sebelum musibah itu terjadi. Ibu menambatkan kehidupan kepada lelaki pilihan nenek dan melarang kami mencarimu, meski kami rindu.

Angin berhembus. Air mata bergulir, aku boleh menangis, bukan karena aku perempuan, tapi karena aku manusia.***

Ratna M Rochiman, lahir di Bandung, 30 Juli 1972. Bertempat tinggal di Bandung. Aktif di Majelis Sastra Bandung (MSB), pendiri Komunitas Penulis Perempuan Indonesia (KPPI).

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: