Cerpen, Koran Tempo, Ramayda Akmal

Dokter Kafkaesque

4
(4)

Di bawah pohon maple, ketika lonceng gereja berdentang enam kali, Kamila menukar sepatu tenisnya dengan sepatu oxford hitam. Ia kemudian berlari dengan perasaan aneh. Setelah sekian lama berbaring, berlari terasa terlalu bebas, seperti tanpa pegangan, seperti mau jatuh. Setelah melewati dua tikungan, berbeloklah ia ke sebuah pintu bangunan bergaya Rococo. Seluruh lorongnya berlapis marmer hitam dan abu-abu. Meja bar-nya tinggi menopang gelas-gelas panjang yang menyambut dengan kemilau angkuh. Kamila berbelok ke sebuah ruang darurat tempat menggantung jaket dan tas. Ia memakai celemek hitam, menyisir, dan mengikat rambutnya mlipis ke belakang, dan menyulap mimiknya menjadi seramah boneka selamat datang.

Ini adalah hari pertama ia kembali ke balik meja bar setelah hampir mati berbulan-bulan di sanatorium. Ia bersyukur sekaligus heran, bosnya yang konsisten bangsat, Tuan Dandamdonet, tiba-tiba meneleponnya dan memintanya kembali bekerja. Terlambat ia paham, hampir semua pegawai minggat penuh protes sehingga Dandamdonet terpaksa memanggil para veteran.

Hotel plus restoran di pinggir sungai Elbe ini adalah tempat para schickimicki [i] menikmati malam dan sarapan di akhir pekan. Hotel yang dimiliki perusahaan Belanda ini dinamai Būsu, yang dalam bahasa Jepang berarti warung, dimanajeri oleh suami-istri imigran India, dan dioperasikan oleh pelajar-pelajar diaspora, yang menjadi intelektual terhormat tetapi dengan finansial yang sekarat.

Hari ini akan jadi berat, seperti yang dulu-dulu. Alarm kerja Kamila dimulai dengan menuangkan berbagai jus ke dalam gelas-gelas pendek dan memberikannya kepada pelanggan sebagai bujukan. Sesekali ia bicara sambil memegang pundak mereka. Cara murahan untuk memancing tips besar yang dipaksakan Dandamdonet ini pilihan buruk yang harus diambil Kamila tinimbang diam dan mendengarkan caci maki bosnya yang metaforik: labu lembek berlubang, dengkul idiot, kotoran di rambut blonde, paedofil susu basi, dan lain-lain yang memancing ngilu.

Setelah perburuan tips, Kamila akan bolak-balik dalam siklus konstan, membuat kopi, mengantarkannya, mengambil piring kotor, memasukkan ke mesin pencuci, melihat mesin pesanan, dan kembali membuat kopi. Setelah tiga jam Kamila baru bisa mendapatkan kebebasannya berupa makan siang yang terlalu dini, yang kadang menggoyang lidah, tetapi seringkali tinggal piring dan baguette keras.

Baca juga  Sihir Batu Bata

Makan siang bersama teman-teman inilah yang Kamila tunggu-tunggu. Ia berjanji cerita kepada mereka tentang perkenalannya dengan seorang dokter yang istimewa, dokter yang jatuh cinta pada Kafka.

***

Mereka duduk di ruang setengah basemen restoran itu. Dari jendelanya, mereka bisa memandang panorama yang sama seperti orang-orang kaya di lantai atas. Sambil menyiram roti dengan kuah kari dan merogoh dua sosis rebus, Kamila menerima sapaan dan selamat dari teman-teman. Barista bernama Sven berkaca-kaca menyambutnya. Sebelum sakit, mereka berdua adalah pasangan serasi kerja rodi. Mereka bicara politik sambil meracik latte atau bergosip sambil memasukkan berkilo-kilo buah ke mesin jus.

“Jadi, siapa nama dokter itu?” Sven memulai pembicaraan.

“Dirk Parsley. Seperti rempah-rempah.”

“Seperti apa dia?”

“Tinggi langsing, selalu berkaos polo putih, dan meskipun tua, dia tetap ganteng.”

“Ganteng tidak bisa menyembuhkan,” Paedofil susu basi menyahut.

“Betul. Seperti kalian tahu, pertengahan tahun yang lalu aku mulai batuk. Sejak itu, perjalananku dimulai.”

“Perjalanan?” Dengkul idiot menimpali sambil mendesakkan sosis ke mulutnya.

“Perjalanan dari satu dokter ke dokter yang lain, dari satu diagnosis ke diagnosis lain, seperti menyambungkan titik-titik menuju bentuk misterius. Pertama-tama, aku harus pergi ke dokter rumah, lalu ke dokter ahli radiologi, yang menemukan bakteri di paru-paruku, dan akhirnya ke Dokter Parsley. Dia sangat simpatik dan tenang. Saking optimisnya, aku rasa aku sudah bisa sembuh hanya dengan kata-kata baiknya. Dia mendengarkan ceritaku dengan saksama, dan menyimpulkan bahwa kondisi tiba-tiba kemasukan bakteri, seperti Gregor Samsa yang tiba-tiba bangun tidur sebagai kecoa. [ii]

“Siapa itu Gregor Samsa?” Paedofil susu basi mulai bingung.

“Kamu tidak tahu. Lalu bagaimana selanjutnya?” Sven memotong.

“Dia memberiku antibiotik untuk sepuluh hari dan ketika aku kembali padanya, dengan lebih optimis lagi, dia yakin aku sembuh. Dan entah kenapa, di depannya, batuk-batukku yang semakin parah juga tiba-tiba hilang. Namun hasil potret X-ray berbeda sekali. Bakteri itu semakin menyebar, bahkan kini ke kedua paru-paruku. Dokter Parsley terdiam. Suaranya mulai bergetar saat dia mengirimku cepat-cepat ke rumah sakit.”

Baca juga  Bayi

“Ceritanya mulai kafkaesque, aneh, dan berputar,” Sven menimpali.

“Memang. Dan kalian tahu, paru-paruku penuh borok ketika aku sampai di sanatorium. Setiap malam aku berdoa memperpanjang umur, sampai pada satu ketika Dokter Parsley meneleponku. Ia bertanya kapan aku bisa keluar, bagaimana dokter di rumah sakit menanganiku, dan perhatian lain yang begitu hangat. Aku merasa bangga dan takut sekaligus.”

“Dia yang takut.” Dengkul idiot kali ini benar.

“Kupikir juga demikian, sampai kemudian perusahaan asuransi mengejar-ngejar kami. Tagihan sanatorium naik dengan cepat. Perusahaan asuransi bertubi-tubi meminta semua dokumen kesehatanku ke Parsley. Di sanatorium aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berjemur dan menjadi beriman. Asuransi terus menekan Parsley dan kadang meminta dokumen yang ia sendiri tidak memilikinya. Ia meneleponku dan bercerita tentang Das Schloss [iii]. Dia berkata, kondisi kita seperti tokoh dalam novel itu. Berputar-putar di labirin birokrasi tanpa menemukan titik temu, tanpa tahu apa yang diinginkan perusahaan asuransi itu.

“Kasihan.” Paedofil susu basi trenyuh.

“Akhirnya aku memaksa Parsley menuliskan semua yang dia bisa tulis untuk meyakinkan asuransi. Kalau tidak, aku tak sanggup juga membayarnya. Dengan ancaman begitu, dia berhasil meyakinkan perusahaan. Semua berakhir lancar. Aku keluar dari sanatorium dan sehat kembali seperti yang kalian lihat sekarang. Namun petualangan belum berakhir. Setelah beberapa hari keluar hidungku bengkak dan sakit sekali. Bernapas pun nyeri. Datanglah lagi aku padanya. Dia tampak bingung. Dia ambil darahku, dia paparkan X-ray ke semua badanku, dan di ujung, dia mengirimku ke dokter ahli hidung. Kala itu dia bilang, kami berdua seperti tokoh Josep K dalam Der Prozess [iv], yang dihukum tetapi tidak tahu atas alasan apa.

“Oh, aku bisa bayangkan betapa melelahkannya itu. Kamu harus makan yang banyak!” Sven mengungkapkan simpati sambil melemparkan dua sosis baru ke piring Kamila.

Baca juga  Kota yang Raib Separuh Gaib (Kisah Kota Terlarang dalam Catatan Hoaks)

“Kamu tahu, aku harus menambah dosis obatku, karena aku dapat infeksi baru di hidung. Lagi-lagi dengan yakin, Parsley menciptakan kombinasi obat yang berbeda, yang membuatku muntah semalaman setelah meminumnya. Dengan sangat lemah aku menghubungi dokter yang merawatku di sanatorium. Katanya kombinasi itu tidak dibenarkan, bisa menyebabkan penggumpalan darah. Demi Tuhan, saat itu aku bingung dan kecewa besar.”

“Aku kembali menginap di sanatorium untuk beberapa hari dan berhenti menemui Parsley. Anehnya dia masih sempat meneleponku. Dengan suara yakin yang sama ia berkata: Frau Kamila, aku seperti dokter desa dan aku telah menjawab panggilan yang salah, lonceng palsu di malam hari. Begitu aku menjawabnya, situasi tidak pernah menjadi lebih baik lagi [v].

“Saat itu aku terdiam. Seperti ada air mancur di otakku, tiba-tiba aku teringat juga satu-satunya novel Kafka yang kubaca selesai, berjudul Amerika [vi], yang justru tidak selesai ditulis Kafka. Aku bilang: Kita berdua seperti Karl Rossmann dan Delamarche. Sahabat yang ingin saling membantu, tetapi dengan aneh, saling menyakiti dan meninggalkan.”

“Setelah itu, kami benar-benar putus kontak. Namun kalian tahu, setiap aku mengingat sakitku, setiap aku menarik napas dan mendengar suara dadaku sendiri, dengan dahak-dahak dan bunyi berkeriyutnya, aku teringat Parsley. Sampai sekarang.”

Semua orang diam. Merenung. Sayup-sayup panggilan Dandamdonet mengudara.

Hamburg, 2021

Ramayda Akmal, penulis, tinggal di Hamburg, Jerman.

Catatan kaki

[i] Orang-orang yang modis dan elegan.

[ii] Tokoh utama dalam Die Verwandlung (The Metamorphosis) (1912) karya Franz Kafka.

[iii] (1926) karya Franz Kafka.

[iv] (1925) karya Franz Kafka.

[v] Kutipan kalimat terakhir dari cerpen “Ein Landartz” (1917) karya Franz Kafka.

[vi] (1927) karya Franz Kafka.

Average rating 4 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Kal

    Serasa memakai pov org pertama yang nyaru jadi pov orang ketiga dengan panggilan paedofil susu basi atau dengkul idiot. Ada kesan perasaan subyektif terhadap tokoh lain.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: