Cerpen, Lintang Alit Wetan, Solopos

Garong Pamungkas

3.5
(4)

DUA pencuri kelas kakap atau garong baru saja beraksi di tengah malam. Di tengah guyuran hujan lebat, mereka berhenti sejenak ketika melintasi jalan setapak yang terjal dan curam di Celah Kledung. Masing-masing memanggul bagor yang penuh berisi barang-barang hasil curian. Dalam hati keduanya terus berbisik, saling mengancam untuk membunuh.

“Saat kau lengah, akan kubunuh kau, Jambrong!”

“Awas Jlabrang, racun di makanan ini juga akan meledakkan tubuhmu!”

***

Di perdesaan lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Seorang saudagar kaya, Suharta menguasai perdagangan tembakau. Cukong-cukong hilir mudik berdatangan ke rumah Juragan Suharta, sang juragan tembakau. Karena kekayaannya yang sangat melimpah, bangunan rumahnya sangat mencolok dan terlihat paling mewah di pedesaan itu. Hal ini membuat iri warga sekitar rumah juragan tembakau dan mengundang garong untuk menggasak harta kekayaan juragan tembakau itu.

Juragan Suharta bukannya tak waspada dengan segala kemungkinan. Apalagi kalau menyangkut harta kekayaannya. Demi keamanan, dia membayar puluhan preman bayaran dan tukang gebuk. Kamera CCTV juga terpasang hampir di setiap sudut rumah mewah itu. Anjing-anjing penjaga yang sangat ganas dan buas cuma diberi makan dalam waktu sepekan sekali oleh pembantu juragan tembakau. Hal itu membuat anjing-anjing itu kian beringas dan bisa membantu memperkuat penjagaan keamanan rumah juragan tembakau dari garong.

“Itu semua tidak akan menyurutkan nyali kami!” teriak lantang Jlabrang dan Jambrong. Sepasang garong yang ditakuti di wilayah pegunungan itu. Garong dari Kledung ini pantang menyerah. Mereka sudah merencanakan menggasak harta benda juragan tembakau yang kesohor amat kikir.

“Ayo kita susun beberapa skenario operasi,” ajak Jlabrang kepada Jambrong. Ini biasa mereka lakukan apabila mereka akan menjalankan aksi.

“Skenario pertama. Aksi dilakukan siang hari bolong dengan menyamar sebagai kuli petik daun tembakau yang akan memasok daun-daun tembakau basah ke rumah juragan tembakau. Skenario kedua, aksi dilancarkan malam hari. Kita bergerak bersama masing-masing berkostum seperti yang dipakai preman bayaran penjaga rumah juragan tembakau. Skenario ketiga, aksi bergerak malam hari menunggu saat hujan deras dengan masing-masing berganti-gantian masuk ke rumah juragan tembakau melalui pintu utama saat terjadi pergantian petugas penjaga,”lanjut Jlabrang.

Baca juga  Hujan Seribu Malam

***

Malam ini kawasan sekitar Gunung Sindoro dan Sumbing tersaput kabut tebal. Hujan deras bergemuruh mengguyur bumi sejak pagi hari tidak ada henti. Petir dan kilat sambar-menyambar. Guntur menggelegar menghantam bumi. Gemuruh hujan malam ini bagai hambur anak panah-anak panah dari langit yang sedemikian deras mengguyur bumi. Seperti doa-doa yang diijabah Gusti, lalu malaikat-malaikat melesat turun ke bumi dalam jarum-jarum air hujan. Di antara itu, sepasang garong berdoa agar aksi mereka berjalan lancar, tiada halangan apa pun. Sluman, slumun, slamet.

Dari arah puncak gunung, angin gunung bertiup kencang. Di desa rumah juragan tembakau. Burung bence sesekali berbunyi. Sungguh, berbeda suasana malam ini dibandingkan malam-malam yang lain. Tintrim.

***

Jlabrang dan Jambrong bergeser posisi turun dari tempat persembunyian. Mereka menyusuri jalan setapak menuju rumah juragan tembakau. Hafal betul arah jalan ini. Sebab mereka sudah terbiasa melewati jalan setapak ini setelah berbulan-bulan mengintai, mengincar rumah sang juragan tembakau.

Di depan rumah juragan tembakau, di luar pagar ada pohon besar. Jlabrang dan Jambrong berhenti sejenak. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya. Skenario ketiga mereka pakai untuk aksi kali ini. Mereka bergerak malam hari menunggu saat hujan deras dengan masing-masing berganti-gantian masuk rumah juragan tembakau melalui pintu utama saat terjadi pergantian petugas penjaga.

Tepat pergantian malam, Jlabrang masuk rumah juragan tembakau duluan. Disusul Jambrong selang 5 menit kemudian. Seorang penjaga siuman. Terbatuk-batuk, tidur mendengkur berselimut sarung lagi. Penjaga yang lain tidur pulas. Hujan lebat, hawa dingin menusuk-nusuk tulang, halilintar sambar-menyambar membuat para penjaga lengah, kurang kewaspadaan. Ketika ada penjaga yang siuman, Jlabrang sudah berhasil menggasak emas, berlian, bergepok-gepok uang dan harta benda berharga mahal milik juragan tembakau.

Tampaknya, Jlabrang dan Jambrong berbagi tugas. Mereka sangat profesional dan sudah kenyang asam garam dunia pergarongan. Sementara Jlabrang menggasak harta benda dari dalam rumah juragan tembakau, Jambrong menyihir petugas-petugas penjaga dengan ajian sirap maling yang dikuasainya. Anjing-anjing buas penjaga rumah juga dibungkam Jambrong dengan umpan daging-daging sapi segar yang dicampur dengan racun pembunuh binatang yang mematikan.

Baca juga  Hantu Kebun Tebu

Lampu-lampu yang bergelayutan di atas ruang depan rumah juragan tembakau bergoyang-goyang diterpa angin malam yang kencang. Burung bence masih terdengar sesekali berbunyi. Tepat pukul 03.00 dini hari, Jlabrang memberi kode isyarat kepada Jambrong bahwa aksi mereka sukses. Harta benda berharga di dalam rumah juragan tembakau sudah masuk di bagor. Jlabrang dan Jambrong sempat bersiul-siul dan bersenandung lagu perjuangan sebelum bergerak secepat angin, sekelebat halilintar meninggalkan rumah juragan tembakau yang masih tertidur pulas dengan para penjaga yang berselimut sarung, mengigau, meracau tidak jelas apa yang terucapkan dari mulut.

***

Jlabrang dan Jambrong bergeser posisi berjalan cepat naik ke Celah Kledung dari arah desa di mana rumah juragan tembakau berada. Mereka menyusuri kembali jalan setapak menuju Celah Kledung. Mereka sudah hafal betul arah jalan ini. Sebab mereka sudah terbiasa melewati jalan setapak ini setelah berbulan-bulan mengintai mengincar rumah juragan tembakau. Dua karung bagor berisi harta benda berharga mahal mereka bawa. Tubuh mereka yang tinggi, besar, kekar dan berotot menjadikan satu karung bagor yang masing-masing mereka bawa terasa ringan. Pukul 05.00 mereka sampai di Celah Kledung, tempat mereka bersarang.

Di sebuah gubuk, dua karung bagor diletakkan begitu saja. Perut mereka mulai lapar bagai irama musik, keroncongan dan dangdutan. Tidak ada irama rock atau pun blues, apalagi reggae-disko. Jambrong menyalakan api di dapur. Ia mulai menjerang air, menanak nasi, dan memasak lauk-pauk ikan goreng lezat untuk sarapan pagi mereka berdua. Jambrong menyuruh Jlabrang supaya mencari kayu bakar di hutan sekitar Celah Kledung karena persediaan kayu bakar di dapur menipis. Sambil menunggu Jlabrang mengumpulkan kayu bakar, Jambrong memilah-milah isi karung bagor hasil kerja mereka semalam. Terbersit niat jahat Jambrong setelah melihat barang-barang berharga mahal tersebut.

“Awas Jlabrang, racun di makanan ini akan meledakkan tubuhmu!” bisik hati Jambrong sembari menaruh racun binatang yang ganas mematikan di nasi yang sedang ditanak, di jerangan air yang bergolak mendidih, dan pada ikan goreng yang lezat. Racun binatang itu adalah sisa dari aksi mereka tadi. Jambrong tertawa terbahak-bahak. Gembira. Sebab, hasil kerja semalam dua karung bagor penuh akan dikuasainya menjadi miliknya.

Baca juga  Daun-Daun Ketapang

Di hutan sekitar Celah Kledung, Jlabrang cukup mengumpulkan ranting-ranting yang berjatuhan di semak-semak untuk dibawa pulang ke gubuk. Jlabrang pun tahu apa yang ada di karung bagor yang sekarang tengah dijaga Jambrong di gubuk. Jlabrang pun berniat menguasai seluruh barang-barang berharga di dalam karung bagor itu agar menjadi miliknya seorang.

“Saat kau lengah, akan kubunuh kau, Jambrong!” bisik hati Jlabrang berlari menuju gubuk sambil memanggul kayu bakar hutan.

***

Jambrong sudah selesai menjerang air, menanak nasi, dan memasak ikan goreng. Karena kelelahan, ia pun tertidur pulas. Dari arah hutan, Jlabrang berlari menuju gubuk. Kayu bakar hutan diletakkan di depan gubuk. Saat itu, Jlabrang melihat Jambrong tertidur pulas. Jlabrang meraih besi seukuran tongkat pramuka. “Bres!” Besi dihantamkan dengan keras berkekuatan tenaga penuh pada Jambrong. “Gedubrak!” Jambrong terkapar tidak bernyawa.

Karena perut lapar, Jlabrang menuju meja yang sudah tersedia hidangan sarapan pagi dengan lauk ikan goreng dan minuman teh yang dimasak Jambrong. Dengan lahap Jlabrang menyantap sarapan pagi dan menenggak minuman teh. Selang beberapa menit kemudian, Jlabrang tersedak, kepala pening, muntah darah, dan…terkapar tak bernyawa.

Lintang Alit Wetan adalah nama pena dari Agustinus Andoyo Sulyantoro lahir di Kalialang, Kemangkon, Purbalingga, 13 Mei. Menyelesaikan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FPBS IKIP Yogyakarta (UNY) tahun 1997. Karya cerpen dan puisinya pernah diterbitkan sejumlah media dan juga dibukukan. Buku antologi puisinya yang sudah terbit Lingkar Mata di Pintu Gerbang (2015), kumpulan esai Banyumas dalam Prosa Nonfiksi (2016), menyunting buku Perjamuan Cinta (2015), kumpulan esai Manusia Jawa Modern (2016).

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: