Cerpen, Radar Banyumas, Teguh Pratomo

Kasan Wolu

3
(1)

SEBELUM kematian kekasihku, segala nyali yang datang membusung ke gugusan rimbun daun-daunku tertawan di lembah-lembah mara. Pada mata yang terbaca gelagat mala, kekasihku berdiang di murka Kala, menjadi kembang asem paling digdaya. Pada matanya yang semerah mata lelaki kelahiran samudera mendidih ketika asmara gegar waktu tumpah di atas punggung lembu suci, ia bagai pemburu sukerta kepada para pemberani yang memanggul kapak. Ia yang lahir pada malam Tumpak Jenar tak terhentikan. Sekali kapak terayunkan, ia seakan hanya tertandingi oleh bocah beracun api yang dipaksa lahir sebelum waktunya. Tak ada pula Murwakala yang dilakonkan dalang leger di bawah kaki-kaki pohonku yang perkasa.

Sebelum kematian kekasihku pada malam gerhana itu, para pemanggul kapak dipulangkan ke kampung halaman dengan sepotong nama, tanpa raga tanpa jiwa. Tak ada pusara untuk menaburkan sungkawa, untuk ziarah para pendoa. Tak ada pula kapak yang sempat menumbangkan pohon pertama.

Seorang lelaki tua yang gemar bercakap-cakap dengan angin gunung berkisah dengan senandung mendung. Para pemanggul kapak lalu tekun mendatangi ingatan orang-orang bagai malam paling Kasih jatuh di atas makam; muram dan mencekam. Namun, lelaki tua yang berkarib denganku semisal dekan di bawah pangkal buluh. Kekasihku diselipkannya di balik ringkik hantu yang riuh di ceracau para penerka, di gelap kacau prasangka.

Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam. Dari rumpun perdu yang merayu angin gunung, terkisahkanlah kabut ganjil yang berhembus seusai gerimis turun dan berseru, “Pulanglah sebelum kekasih rimba tiba!” Orang-orang bersuluh menjemput api.

Sebelum segala tanya, lelaki tua yang gemar bercakap-cakap dengan angin gunung berkata, “Ia lelaki dengan kaki tak bertungkai. Ia tiba untuk para pemanggul kapak yang bertegar tengkuk, yang dilambai kabut tak nampak, diseru kabut tak mendengar. Ia hanya memahat di dalam baris, sekedar berkata dalam pusaka.”

Baca juga  Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Orang-orang mengasah amarah. Untuk setiap pemanggul kapak yang pulang dengan sepotong nama, tanpa raga tanpa jiwa, darah mesti dibayar darah. Namun, sebelum perburuan menderapkan langkah pertama, lelaki tua yang gemar bercakap-cakap dengan angin gunung bermanis mulut mematahkan tulang, “Lelaki dengan kaki tak bertungkai tak mengendap di balik ilalang sehelai. Ia bertahta di balik pohon sulung, di dalam perut batu berlumut. Kepadanya, perburuan hanya berputus runut.”

“Ia lelaki pencinta rimba. Ia datu jenggala. Kepada para pemanggul kapak, ia berdiang di murka Kala, menjadi kembang asem paling digdaya. Sekali kapak terayunkan, ia bagai pemburu sukerta tanpa Murwakala yang dilakonkan dalang leger di bawah kaki-kaki pohon perkasa. Lelaki yang lahir pada malam Tumpak Jenar itu sebatu hitam tak bersanding. Apabila pecah menanti sebab, apabila retak menanti belah, perburuan hanya upacara pemanggilan mara bersimbah-simbah. Lelaki dengan delapan jari kaki itu seakan hanya tertandingi oleh bocah beracun api yang dipaksa lahir sebelum waktunya.”

Lelaki tua masin lidahnya. Kerumunan tercerai dari riungnya. Perburuan gugur dalam kandungan. Orang-orang pulang, berumah di bilik dendam. Di beranda-beranda, kekasihku dipercakapkan malam yang bersungut-sungut dan menginap sebagai lelaki paling hantu di ingatan.

Pada perburuan yang urung dipacakbariskan, para pemanggul kapak diam-diam kembali datang membusung ke gugusan rimbun daun-daunku. Kekasihku hanya dikisahkan di kering air liur. Pada mata yang terbaca gelagat mala, kekasihku kembali berdiang di murka Kala, menjadi kembang asem paling digdaya. Kabut ganjil yang berseru, “Pulanglah sebelum kekasih rimba tiba!” bagai bibir diretak panas. Para pemanggul kapak menjadi sukerta tanpa Murwakala yang dilakonkan dalang leger di bawah kaki-kaki pohonku yang perkasa sebagai suaka.

Pada pohon-pohonku yang tak tumbang, kisah berulang. Daun-daun langit yang bertuliskan nama para pemanggul kapak luruh berguguran. Mereka dipulangkan ke kampung halaman masing-masing dengan sepotong nama, tanpa raga tanpa jiwa. Tak ada pusara untuk menaburkan sungkawa, untuk ziarah para pendoa.

Baca juga  Para Penggali Kubur

Aku bagai sepasang kota suci berkubukan malaikat yang tak tertembus lelaki perancu penunggang keledai pemakan api. Aku setra gandamayit di sepanjang sisik-sisik naga yang berkekasihkan lelaki kelahiran samudera mendidih ketika asmara gegar waktu tumpah di atas punggung lembu suci.

Hingga seratus nama terbilang, kekasihku pantang hembalang. Pada segala kutuk, ia tak tunduk. Pada segala jimat, ia tak sekarat. Ia lelaki berkalung anugerah. Ia tulah untuk setiap pemanggul kapak. Bagai lelaki yang beribukan sungai, kematiannya adalah laung genta yang ia dentangkan bersama mandat yang ia kembalikan kepada angkasa.

Namun, pada pohon-pohonku yang tenang menjulang, pada satwa-satwaku yang mesra bercinta dengan lebat hutan, aku menimbun nestapa berduka-duka. Pada setiap kapak yang tak sempat menumbangkan pohon pertama, kesedihanku adalah ibu ketika seratus pelita telah padam seiring senja kedelapan belas yang jatuh di padang Kuru Setra. Ketika pemanggul kapak dipulangkan ke kampung halaman dengan sepotong nama, tanpa raga tanpa jiwa, aku menanggung nyeri yang tak terjangkau erang seperti hangusnya arwah nabi yang pernah menelan bara saat mengingat kembali sakaratul mautnya.

Padaku yang mekar menghampar, tumbal telah dibaringkan di batu altar. Meski pada mata yang terbaca gelagat mala, kutaburkan pula sungkawa kepada setiap nama yang tak berpusara. Halimun berkabung di puncak-puncak kelabu, di kelam yang tak tertembus cahaya pelipuran. Tak pernah ada pekik disoraksoraikan untuk kesucian puting-puting bukit yang perawan.

Nyanyian kematian kehabisan kidung, menjelma kijang kencana di pundak gunung. “Pergilah, Kekasih, aku ingin kijang kencana!” pintaku.

“Kijang kencana akan membawanya ke gerbang moksa,” dalih lelaki tua yang gemar bercakap-cakap dengan angin gunung.

“Pergilah, Kekasih, aku ingin kijang kencana!” pintaku.

Baca juga  Penakluk Lebah

“Gerbang moksa melengserkan datu jenggala,” dalih lelaki tua.

“Pergilah, Kekasih, aku ingin kijang kencana!” pintaku.

“Jenggala tak berdatu membiarkan pohon-pohon tumbang,” dalih lelaki tua.

“Pergilah, Kekasih, aku ingin kijang kencana!” pintaku.

Kekasihku menuju kijang kencana pada malam gerhana itu. Pada malam yang sama dengan malam kelahirannya itu, daun telinganya layu. Ia pulang ke kampung halaman meninggalkan sepotong nama, membawa serta raga, membawa serta jiwa. Tak ada pusara untuk menaburkan sungkawa, untuk ziarah para pendoa.

“Kasan Wolu mati! Kasan Wolu mati!” teriak orang-orang.

Segala nyali datang membusung ke gugusan rimbun daun-daunku. Setiap kapak yang terayun menumbangkan pohon pertama hingga tuntas segenap loba. Kabut ganjil yang berhembus seusai gerimis turun menepi sebagai rubiah. Aku meraih pekung ke dada, mencongak tukak.

Sejak kematian kekasihku pada malam gerhana itu, aku jenggala tak berdatu. Aku rimba yang dilahirkan rahim ibu bumi dan dibesarkan bapak langit dengan kasih sayang hujan yang membentang sebagai mangsa untuk segala nyali tak berpenjaga. Dengan darah Kristus yang membatu di lambung sungai-sungaiku, para pemanggul kapak yang sesat grahita menggiringku ke bukit Golgota. Lalu, para pembawa panah. Lalu, para perambah. Lalu, para kekasih yang pura-pura. (*)

Umah Bata, Maret 2021

TEGUH PRATOMO. Lahir di Desa Cipaku Kec. Mrebet Purbalingga. Bekerja sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) di Pemkab Purbalingga. Saat ini, bermukim di Perum. Griya Abdi Kencana Purbalingga.

Average rating 3 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: