Cerpen, Media Indonesia, Raihan Robby

Kultus

4.5
(10)

“I’m a creep, I’m a weirdo… What the hell am I doing here? I don’t belong here…” Lengking suara Thom Yorke dari ponsel pintar membangunkan Zelda dari tidurnya. Zera terdiam beberapa saat di ranjang. Ia tidak langsung mematikan lagu Creep yang menjadi alarm di ponselnya itu. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi, kepalanya sangat pening.

Konon, ada mitos yang mengatakan ketika manusia tertidur, roh dan jasadnya akan terpisah, roh bisa berkelana menembus dimensi astral. Hal-hal di luar nalar pun bisa saja terjadi, seperti merasakan masa kanak[1]kanak kembali, diculik kerajaan setan, bercinta dengan seseorang yang tidak dikenali, atau bahkan bertemu dengan Nabi.

Seperti yang baru saja Zera rasakan. Kepalanya masih sangat pening. Ia memijat kedua pelipisnya dengan kedua jempolnya. Ia sibuk menerka[1]nerka mimpi apa yang baru saja ia alami. Beberapa bulan terakhir ini, ia memang merasa sedang mendapat bisikan dari Sang Malam. Sewaktu-waktu ia bermimpi menjadi matahari pagi, yang bagi tafsirannya sendiri, ia akan bersinar dan dibutuhkan banyak manusia. Di mimpinya yang lain juga ia pernah menjadi ikan laut yang terjerat jala nelayan, kembali ia tafsirkan bahwa apa pun yang baik bagi kebanyakan manusia akan menemui jalan terjal, ia bisa saja ditangkap, diasingkan, bahkan dibunuh.

Awalnya Zera hanya menganggap mimpinya sebagai bunga tidur, tidak istimewa. Namun, mimpi-mimpi aneh itu tetap berdatangan setiap malam. Ketimbang jadi gila, pikirnya, ia terima saja ‘wahyu’ ini. Jika saja Zera mau menelisik lebih jauh dari peristiwa mimpinya itu, mungkin ia akan menemukan sosok Jung, seorang psikiater yang menolak pemahaman Freud tentang alam mimpi. Kurang lebih, Jung menganggap mimpi berasal dari sifat keagamaan seseorang yang bersifat bawaan. Zera seharusnya menyadari hal ini, mungkin ia akan menjadi orang suci atau seorang mualim.

Ia menganggap dirinya kini sebagai “Lidah Tuhan” dan “Keinginan Tuhan”. Apa yang Zera sampaikan adalah ucapan Sang Tuhan, dan apa-apa yang Zera lakukan adalah keinginan Sang Tuhan. Ia hanya seorang perantara, pembawa pesan.

Zera menyerah. Ia tidak bisa mengingat mimpinya tadi malam. Alarm dari telepon pintarnya masih saja berbunyi. Sudah dua kali lagu dari Radiohead itu berputar. Memasuki putaran lagu ketiga. Zera mematikan alarmnya. Ia mengecek ponselnya. Sudah terdapat belasan panggilan tak terjawab, juga ratusan pesan tertimbun di grup Telegram.

Baca juga  Tamu Tengah Malam

Di grup itulah Zera berkomunikasi dengan para pengikut spiritualnya. Pemuda Surga nama grup tersebut. Di sana, sudah ramai diskusi tentang mimpi-mimpi yang dialami para pengikut Zera semalam.

Tidak kalah aneh dari mimpi Zera. Mimpi para pengikutnya pun biasanya beragam. Ada yang bermimpi menjadi kipas angin di sebuah warung tegal, ada yang bermimpi menjadi cairan vaksin untuk virus yang belum ditemukan obatnya sehingga ia merasa amat sangat dibutuhkan manusia. Bahkan, ada yang bermimpi menjadi sebuah negara. Mimpi seremeh atau sebesar apa pun tetaplah mimpi. Sebagai ‘juru bicara Tuhan’, Zera bertugas untuk menafsir semua mimpi-mimpi itu.

Biasanya Zera mampu menafsirkan mimpi para pengikutnya yang sudah tembus tiga digit itu dengan cepat dan benar. Tapi, pagi ini kepalanya terasa berputar-putar. Lantaran para pengikutnya telah berkali-kali mencari kehadirannya di grup, ia terpaksa merespons.

Mula-mula ia menyampaikan ceramah tentang kehidupan yang selalu saja buruk di mata orang lain, gerakan spiritual mereka dianggap sesat, dan berkali-kali ingin diberangus. Tapi, mereka tidak boleh menyerah karena Zera adalah matahari pagi yang dibutuhkan banyak manusia.

Zera mengatakan, sebelum dirinya menjadi pimpinan Pemuda Surga, ia telah menjadi boneka, orang miskin, bajak laut, penyair, menjadi bidak, dan raja. Ia memulai segalanya dari April, di Mei ia terjatuh, tapi ia bangkit di Juni. Ia menanamkan paham ini kepada pengikutnya, jika sampai Juli mereka masih terus berusaha dan gagal, sebaiknya setiap orang di Pemuda Surga mengikatkan dirinya pada sebuah bola besar dan mati bersama[1]sama. Semua pengikutnya terpukau di e-conference itu, mereka tidak mengetahui bahwa Zera mengutip lirik lagu dari Frank Sinatra.

Setelah berceramah panjang lebar, yang isinya banyak ia ambil dari lirik-lirik lagu favoritnya, Zera kembali memijat pelipisnya. Pening di kepalanya tidak kunjung hilang, malah semakin menjadi[1]jadi.

Sementara itu, seolah kurang puas dengan ceramahnya, sejumlah para pengikut Zera mencoba meneleponnya. Biasanya, mereka ingin minta ‘bacaan’ atas mimpi mereka.

Baca juga  Bulan Sabit dan Kekasih

Ia mematikan suara telepon pintarnya untuk sekadar berbaring kembali di ranjang. Ia belum sarapan, mungkin itu yang menyebabkan kepalanya pening, pikirnya. Lalu ia ke dapur untuk membuat telur urak-arik dan juga dua potong daging ham setengah matang. Ia menyantapnya dengan lahap, tidak pernah ia merasa selapar ini.

Selagi makan, ia merenungkan mengapa pengikutnya terus bertambah dengan cepat dalam dua bulan terakhir. Mungkin karena saat ini agama yang diyakini setiap orang tidak memberikan jalan pintas untuk setiap permasalahan yang ada. Agama terlalu bertele-tele untuk menjawab hal paling remeh, seperti mimpi.

Zera tetaplah manusia yang bisa merasakan lapar dan pening. Pikirnya, mungkin saja Tuhan juga sedang lapar dan pening menyikapi segala karut-marut permasalahan manusia.

Baru saja ia menaruh piring bekas makannya di tempat cucian, cahaya layar ponselnya kembali berkelip-kelip. Ia menghela napas kesal. Zera kemudian menerima panggilan telepon itu dan menjawab dengan nada malas.

Namun, si penelepon tampaknya tidak menyadari intonasi Zera. Ia keburu bersemangat lantaran panggilannya dijawab ‘juru bicara Tuhan’. Ia lantar bercerita, akhir-akhir ini ia bermimpi menjadi pijar besar di antara puing dan suara tangis orang-orang. Apa artinya? Zera yang sedang kesal karena ia bahkan tidak bisa mengingat mimpinya sendiri, menjawab sekenanya. Dari mimpi tersebut, si pengikut ini tampaknya telah dipilih untuk menjadi cahaya yang akan menyelamatkan umat manusia. Pengikutnya tertawa di ujung telepon. Ia mengucapkan terima kasih kepada Zera. Kini, ia telah yakin dirinya perlu melakukan gebrakan untuk keselamatan umat manusia.

Sebelum menutup teleponnya, ia bertanya kepada Zera, adakah mantra yang akan membuatnya mujur? Awalnya Zera ingin mengutip lirik lagu Paul Anka, tetapi itu terlalu puitis baginya. Zera mengingat sebuah ucapan dari iklan di Rusia yang ia sendiri tidak paham maksudnya. Ia mengatakan kepada si penelpon itu untuk mengucapkan Mipan Zuzu-Zuzu, Ya Kakus, Ya Nyam-Nyam, supaya setiap langkah agar pengikutnya selalu diberkahi kemujuran dari Tuhan. Pengikutnya itu kembali mengucapkan beribu terima kasih dan menutup teleponnya. Kepala Zera masih terasa pening.

Baca juga  Di Sini, Hujan Turun Deras Sekali

***

Di hari esok, ketika terbangun dari tidurnya, Zera masih belum bisa mengingat-ingat mimpinya. Kepalanya pun tidak henti berdenyut-denyut. Pening di kepalanya kian bertambah saat memeriksa ponsel, dan melihat isi grupnya tinggal ia sendiri.

Ke mana mereka? Ah, tapi ia tidak begitu peduli. Ia lebih memikirkan sakit di kepalanya yang tidak kunjung mereda dan kegelisahan mengapa Sang Malam tidak membisikinya lagi selama dua hari terakhir.

Ia duduk di sofa dan menyalakan televisi. Hal pertama yang ia lihat ialah berita tentang aksi bom bunuh diri di suatu kafe yang tengah ramai, di pusat kota. Gila, pikirnya, bunuh diri dengan mengajak orang lain yang belum tentu ingin mati. Syukurlah ia dan gerakan spiritualnya tidak pernah mengajak kepada keburukan. Ia berjalan sesuai jalan yang telah Tuhan berikan.

Cukup lama ia perhatikan berita di televisi itu. Reporter mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri itu menggunakan pakaian biasa-biasa saja seperti seorang pegawai kantoran. Yang mengherankan adalah si pelaku meneriakkan kata-kata aneh, seperti bahasa asing yang hingga berita diturunkan, belum dapat dipahami.

“Mipan Zuzu-Zuzu, Ya Kakus, Ya Nyam-Nyam!” Terdengar seruan si pelaku dari cuplikan CCTV yang ditayangkan stasiun berita itu, sebelum kemudian bunyi ledakan yang memekakkan.

Zera mematikan televisinya dan melempar remote tv ke lantai. Ia terpaku. Kepalanya semakin sakit. Sekelilingnya mulai berputar. Di tengah pandangannya yang mengabur, ia merasa ada yang menggedor-gedor di dalam kepalanya, berteriak-teriak di benaknya menyuruh ia menyerah. Menyerah? (M-2)

Jakarta, 2021.

Raihan Robby, lahir di Jakarta 9 Mei 1999. Kini, menetap di Yogyakarta sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY. Menulis puisi, cerita pendek, dan naskah drama. Tulisan-tulisannya dapat ditemukan di berbagai media online dan antologi bersama

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: