Cerpen, Kompas, Rika

Perihal Menyederhanakan Cinta

2.8
(25)

Percayakah kau bahwa suatu hari hujan turun karena alasan sederhana, awan-awan mencair karena panas oleh hati seorang perempuan yang diselubungi cemburu? Orang-orang percaya cemburu itu perlu, cemburu itu bagian paling nyata dalam cinta. Aku lebih percaya pada cinta yang baik, yang tidak ingin ada luka. Adakah cinta dalam hati seseorang jika ia bersikeras untuk lebih menyakitimu ketimbang membuatmu merasa bahagia? Tapi benarkah bahwa cinta selalu menanggung segalanya? Ya segala-galanya. Hati yang luka, tubuh yang luka, kebersamaan yang luka, kenangan yang luka.

Pagi yang basah oleh embun dan burung-burung berlarian di langit bersorak bahagia, aku masih duduk dengan kantong mata tebal meratapi kegilaanku pada lelaki yang mungkin sedang tidur lelap dalam pelukan istrinya. Orang-orang berpikir, apakah aku dapat menanggung kebodohan ini selama sisa hidupku? Aku pun berpikir demikian. Bumi nama lelaki itu. Lelaki yang jika dalam sehari ada delapan puluh enam ribu empat ratus detik, maka namanya mengisi sepertiga dari detik dalam sehari dalam pikiranku, sisanya mungkin aku sedang tidur. Namanya mengambang antara kebencian dan kecintaanku. Begitu tipiskah beda di antara keduanya?

Aku menyesap rokokku dalam-dalam, mungkin ini sudah puluhan batang sekian. Aku duduk mengamati jendela dengan tirai yang masih tertutup di dalam ruangan gelap tanpa cahaya. Aku sedang mengamati kehampaan, pikirku. Pernahkah kau bertemu seseorang dan seketika saja hidupmu seolah hanya berkisar tentangnya. Jika ada laki-laki lain dalam pikiranmu, itu hanya ilusi yang kau ciptakan di balik segala penolakannya terhadap dirimu.

Aku tidak pernah berpikir bahwa Bumi tidak mencintaiku. Tapi, jelas ia tidak pernah memilihku. Pernah sebuah drama Korea menyebutkan kurang lebih begini dalam satu kalimatnya yang selalu kuingat. “Apakah karena aku menginginkan tas milik perempuan lain karena itu aku dalam penderitaan ini?” Seingatku kalimatnya demikian. Menusuk tepat hatiku yang naif. Aku sedang menginginkan suami milik perempuan lain.

Sebenarnya tepatnya ia yang lebih dulu menginginkanku. Akan kuceritakan secara singkat pertemuan kami yang kemudian membuat kami sendiri babak belur dihajar keinginan kami.

Aku pikir sebagai perempuan aku cukup lovable. Aku memiliki kulit putih dengan porsi tubuh ideal dan wajah yang mungkin akan dilirik satu dua laki-laki ketika aku berpapasan dengan mereka. Aku memiliki kehidupan yang cukup menarik secara materi. Aku mandiri dan pekerja keras. Aku pintar dalam beberapa hal, terutama menulis dan memasak. Aku kecanduan pada hal-hal yang mungkin buruk untuk kesehatan, merokok dan begadang. Aku lebih menyukai kota ketimbang desa. Lebih menyukai puisi ketimbang apa pun di muka bumi ini. Aku bukan perempuan matre, ini satu hal yang banyak diidamkan laki-laki. Aku lebih percaya bahwa uang datang dari Tuhan bukan dari sosok seorang laki-laki yang harus terus aku peloroti. Dalam urusan ranjang, aku mungkin tidak perlu diragukan.

Baca juga  Kalung Kolang-kaling

Bukankah segala yang aku tawarkan itu cukup menarik bagi seorang Bumi yang bosan dengan hiruk-pikuk rumah tangganya yang sudah belasan tahun ia jalani. Aku jelas lebih menarik daripada istrinya. Tapi, yang lebih penting adalah aku memberikan tantangan baru bagi hidupnya yang datar.

Kami memutuskan berpacaran tepat pada ciuman pertama kami. Tidak satu hari pun dilewatkan Bumi untuk tidak mencium aroma tubuhku. Sampai detik-detik di mana ia begitu gilanya padaku. “Istriku, aku akan menceraikannya.” Tanpa ragu Bumi mengatakan karena ia sedang dilanda kegilaannya padaku.

Kami pergi ke semua tempat yang bisa kami datangi tanpa takut hubungan kami ketahuan. Kami pergi ke pantai mendengar ombak dan melihat pasangan yang lebih romantis dari kami, ternyata orang-orang juga sedang jatuh cinta, pikirku. Tapi, apakah mereka juga menjalani hubungan rumit seperti yang kami jalani? Setiap akhir pekan, kami pergi ke bioskop dan setelahnya di sebuah kafé yang ramai kami menertawakan dan memuji hebatnya film yang kami tonton. Kami pergi ke toko buku, Bumi akan langsung menuju rak non-fiksinya. Aku menemaninya sebentar, tapi selalu singgah untuk melirik buku-buku sastra. Aku mencintai puisi, Bumi pun sama tertariknya. Kami pergi ke danau, melihat keindahannya, menikmati anginnya, berpelukan dan pergi.

Kami berdiskusi banyak hal. Politik, agama, musik, film, buku, dan hal yang terabsurd sekalipun, hidup. Kebanyakan dari hasil diskusi kami adalah Bumi yang akhirnya ngambek. Dia selalu menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang berpikiran terbuka, senang Amerika, dan kritik. Tapi, lebih baik jangan percaya kata-katanya. Jika berdebat, aku selalu kalah karena akhirnya aku harus terbawa drama ngambek-nya. Dia orang yang konvensional, pada dasarnya membenci kebebasan, menghina kemodernan, dan yang paling parah adalah menganut itu secara berlebihan.

Bumi adalah orang yang akan terus menasehatiku untuk tidak merokok. Dia mengatakan itu jutaan kali mungkin, tanpa bosan. Dia akan mengajakku jalan-jalan kemana pun, kapan pun jika memang dia sedang di sampingku. Dia akan menceritakan kisah lucu, tapi lebih banyak kisah bijak sebelum aku tidur atau ketika aku sedang sedih dan mengutuki kehidupanku. Dia terus menceramahiku perihal agama dan moral. Dia akan memijat kakiku ketika aku terlihat stres.

Aku memasak makanan enak untuk Bumi jika aku sedang rajin, tapi aku lebih banyak mengajaknya makan di luar. Aku membuatkan kopi terenak saat ia sedang bekerja. Aku selalu memakai pakaian terbaikku ketika aku bertemu dengannya, aku ingin selalu terlihat cantik untuknya, aku ingin dia selalu mengagumiku tanpa pernah menjadikan kekuranganku alasan untuk meninggalkanku. Aku akan memijatnya kapan pun ia terlihat lelah. Aku tidak akan merepotkannya masalah uang karena aku ingin berusaha terus membuatnya nyaman. Aku akan berusaha terus mempercayainya walaupun aku tahu dia pembohong. Saat aku terus melakukan ini, aku sadar aku sendiri telah berusaha membuatnya nyaman, tapi aku sendiri tidak. Saat kau mulai memutuskan mencintai seseorang, saat itulah kupikir kau akan kehilangan sebagian dirimu.

Baca juga  Akar Bahar Tiga Warna

Aku terus berusaha berpikir bahwa cinta berjalan sedemikian wajar pada kami berdua. Kami bahagia, terlepas seberapa konservatif Bumi dan seberapa modern aku. Kami tahu kapan kami harus menyesuaikan satu sama lain. Tapi, masalah terbesar bagi kami bukanlah apakah kami cocok atau tidak. Tapi, ini mengenai tas milik orang lain.

“Apa kau bahagia dengan keadaan ini?” Bumi menanyaiku ketika kami sedang joging di taman. Aku terengah. Tepat demikian itulah juga hatiku. “Aku tahu kau tidak. Sampai sekarang aku belum bisa menceraikan istriku. Maaf.”

Kata terakhir, itu yang sebenarnya tidak pernah bisa aku maafkan. Apakah kau harus menunggu untuk laki-laki yang mulai ragu-ragu? Aku menanyai diriku. Aku putuskan, ya, aku menunggu. Terlepas apa yang menanti di ujung sana.

Malam itu aku rasakan angin lebih dingin dari biasanya. Bumi duduk dan membacakanku cerita, Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Aku pikir ia sedang tidak membaca buku, tapi mengisahkan ulang kisah kami, sama menderitanya aku dan perempuan dalam kisah itu. Berbulan sejak kisah itu, aku masih percaya Bumi akan menepati janjinya, ia hanya perlu waktu sedikit lagi.

Kami sedang menikmati bulan purnama yang indah di taman belakang rumahku. Bumi menceritakan cerita orang-orang bijak. Kadang aku lelah mendengarnya, karena nyatanya ia tak sebijak yang ia ceritakan. Ia tak sebijak pengetahuannya tentang kebijaksanaan. Saat Bumi sibuk dengan kisahnya, sebuah pesan masuk, Bumi melirik handphone-nya.

“Maaf, aku harus pulang, anakku sakit.” Bumi menutup pintu rumahku. Air mataku berbisik, “Jangan.” Yang tersisa saat itu hanya aku dan kesunyian.

Aku pikir aku mulai kelelahan, menunggu Bumi yang tidak juga bercerai. Aku kehilangan harga diriku sebagai seorang perempuan. Aku menunggu laki-laki yang bisa saja datang atau tidak karena alasan perempuan lain. Aku lelah menunggu Bumi bekerja untuk menafkahi hidup perempuan lain. Aku lelah melihatnya kadang terluka dan bahagia sekaligus karena memiliki dua perempuan di sisinya. Aku cemburu pada banyak hal yang kadang terasa tidak masuk akal.

Kadang kau harus sadar seseorang datang dalam hidupmu hanya karena mereka penasaran dan ingin mencoba. Kamu perempuan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, dalam kebosanan hidup yang sudah terlampau jauh menyiksa kebahagiaan, laki-laki akan menjadi egois. Jika ada yang harus tersakiti, itulah konsekuensi dari kata “mau”, “ayo”, “coba dulu”, “percaya aku”, “sabar”, “bertahan sedikit lagi”. Pada titik akhirnya mereka hanya akan menjadi dua pilihan bagi diri mereka sendiri, pengecut atau penjahat!

Baca juga  Tembiluk

Aku ingat sore itu, senja sudah hampir menggantung di langit. Bumi datang membawa secangkir teh hangat untukku dan kopi susu untuknya. Kami duduk di beranda mengawasi angin yang lalu-lalang dalam napas kami.

“Aku ingin bicara.” Bumi membuka kalimatnya dan aku tahu pertanda buruk sedang menggantung di atas kepala Bumi. “Istriku hamil.” Hanya ada dua pilihan, “Jika ingin bertahan dengan hubungan ini, aku akan menikahimu, tapi tidak menceraikan istriku.” Bumi menyesap udara, sedangkan aku seperti kehabisan udara di tenggorakanku. “Atau pilihan yang lebih baik, kau akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku, kau akan bahagia.”

Kita sadar agama menjanjikan surga bagi perempuan yang ikhlas berpoligami, bukankah surga tidak melalui jalan yang benar-benar mudah? Surga mungkin tidak akan didapatkan hanya dengan berpangku tangan dan bahagia, kau perlu usaha lebih. Setidaknya bersabar dalam penderitaan. Tapi, mampukah aku ikhlas dalam keserakahan seorang lelaki?

Aku berpikir keras, tentang hal yang setiap detiknya aku pikirkan semenjak hubungan kami. Betapa bodohnya aku, memikirkan hal yang sama setahun belakangan padahal aku tahu hari ini memang akan datang. Aku percaya laki-laki yang mengatakan rumah tangganya berantakan dan ingin berpisah dan menginginkan aku. Aku telah percaya pada laki-laki yang setelah ia berhasil menaklukkanku ia katakan ia lebih mencintai keluarganya yang tadinya berantakan. Aku membiarkan pertanyaan Bumi menggantung, seperti senja yang saat ini menggantung di depan kami. Betapa sulitnya menyederhanakan cinta, pikirku.

Rika, menulis novel, puisi, dan cerpen, menetap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pernah menjadi perserta Kelas Cerpen Kompas dan salah satu cerpennya lolos kurasi buku antologi Cerpen Pilihan Kompas.

Astuti Kusumo, lahir di Yogyakarta tahun 1970. Ia pelukis otodidak yang menempuh pendidikan di UPN Fakultas Ekonomi Yogyakarta. Ia pernah berpameran keliling dalam ASEAN Children Exhibition tahun 1985. Tahun 2019 dua kali pameran tunggal, yakni UGEMI di Sangkring Arts Space, Yogyakarta, dan Gemati di Balai Soedjatmoko, Solo. Selama tahun 2020 tujuh kali pameran bersama di Yogyakarta. Pernah memenangi penghargaan Silver Medal Shankar India Art Exhibition tahun 1985.

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 25

No votes so far! Be the first to rate this post.

9 Comments

    • hehe

      jeleknya di mana ya?

    • Garin

      Tak semua yang ikut kelas kompas lolos dalam seleksi kompas. Jumlahnya ratusan sejak 2012. Jangan naif karena sakit hati belum tembus kompas dengan melemparkan tuduhan asal. Semua media ada kelemahan ada kelebihan. Kalo mau kritik ya bagus asal ilmiah. Karya para pencaci belum tentu bagus juga. Bahkan di koran menengah aja belum teruji.

  1. Kal

    Beginian tembus kompas.

  2. Elizabeth

    Sampah

  3. Dave

    Narator(-aktor) bersolilokui selama cerpen ini, merenung, menilai dan bergulat dengan cinta pada pacarnya yang sudah beristri. Tampaknya proses mawas diri itu dipicu oleh kejadian di akhir cerita itu, ada ultimátum yang disampaikan oleh pecintanya tentang masa depannya. Narator sadar dia terjerat dalam cinta yang sulit diputuskannya. Bagi dia, dari permulaan ada cinta murni, sekaligus asumsi bahwa dia dicintai oleh pacarnya. Dengan demikian dia berupaya mengembalikan ‘cinta’ itu. Namun cintanya tidak sesederhana itu. Dia sadar akan keruwetan dalam cinta yang melibatkan tiga orang, ada aturan main lain yang berjalan, pacarnya milik mutlak istrinya. Dalam solilokuinya, narator meninjau kembali tahap riwayat cintanya dan semakin sadar akan keruwetannya. Narator menjadi objek hasrat pacarnya, ada cinta jasmani yang tidak bisa dikontrol dan pada waktu itulah pencintanya membuat janji palsu, akan menceraikan istrinya kemudian menikahkan narator. Muncul kecurigaan narator juga hubungannya bukan cinta romantis sejati (sesuai dengan asumsinya semula). Ada ironi juga pacar tidak sadar akan posisi diri sendiri dan menceramahi narator tentang agama dan moralitas. Hubungan cinta terus diperpanjang oleh pecintanya dengan kata seperti ‘sabar’ (sampai istrinya diceraikan). Bagi si narrator dalam solilokunya tetap ada kehampaan dan kesepian dalam kehidupannya akibat pacarnya tetap milik perempuan yang lain. Kemelut muncul dalam hubungannya dengan ultimátum yang disampaikan oleh pacarnya untuk berpoligami atau memutuskan hubungannya. Jelas tawaran berpoligami itu membuat dia marah (pacaranya disebut narator serakah, mau punya lebih dari satu istri). Ultimatum itu memicu solilokui tersebut yang memuat penilaian juga tentang kekurangan pacarnya (munafik, bodoh, bohong dan serakah), tentu alasan sudah cukup untuk memutuskan hubungan itu (dan menolak poligami) namun masih ada rasa cinta yang kuat dan tak mau menghilang, suatu misteri yang tetap berada dalam hubungannya.

  4. Anak kampung

    Mbulet.. mesti belajar lagi. Hehe

  5. Luna

    Aku benar-benar tidak menyangka cerpen seperti ini bisa lulus kompas? Apa karena penulisnya pernah mengikuti kelas kompas kemudian mendapatkan kemudahan? Aku benar-benar kecewa dengan tim kurator.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: