Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Bukan Simulakra

Saya, istri, dan murid Pak Edi (tengah)/dok. pribadi penulis

4.6
(9)

Pernahkah Anda kalah bertubi-tubi padahal pertarungan bahkan belum dimulai? Saya mau menceritakan kisah ini. Setelah membaca ini, siapa tahu Anda menganggap pertanyaan di atas bukan sepotong kalimat puitik semata.

***

Pagi ini kami berangkat ke SMKN Muratara. Saya membawa mobil keluar pagar telat setengah jam dari jadwal yang kami rencanakan. Ya, kali ini saya akan mengisi acara kepenulisan ditemani istri. Meski sudah menduga kami tidak akan bisa berangkat pukul 6.30 karena kerepotan istri menyiapkan bekal anak-anak dan lauk untuk makan siang, saya berulang kali meminta istri untuk segera menyerahkan urusan dapur itu ke bibik. “Yang lain silakan diurus Bibik. Tapi suami dan anak-anak harus mengisi perut dari makanan yang kumasak sendiri!” Saya sudah hafal jawaban yang membuat saya hampir jatuh saking terenyuh.

Kami tiba di lokasi lewat beberapa menit dari pukul sembilan. Ternyata acara belum dimulai. Pak Edi, si kepala sekolah yang hampir sepuluh tahun lalu bilang mau mengundang saya tapi baru terealisasi sekarang itu, menghampiri kami yang baru sebentar menunggu di kantor. Belum sampai satu menit duduk, ia mengajak kami langsung ke aula sekolah.

Pak Edi membuka acara dengan zikir bersama dan kata-kata motivatif yang langsung diikuti murid-murid yang hadir. Sesekali sahutan dan tepuk tangan menghangatkan duha. Saya pikir sudah selesai, ternyata belum. Kami diminta berdiri menyanyikan lagu mars sekolah. Saya baru tahu kalau sekolah ada juga marsnya. Itu pun diciptakan kepala sekolahnya sendiri.

Sembari menyanyikan lagu dengan teks yang tertera di layar in focus pandangan saya menyapu aula. Saya perhatikan siapa-siapa yang terlibat dalam kepanitiaan. Dan saya tak menemukan satu guru pun yang sibuk mengatur ini-itu. Mereka memang hadir, tapi duduk manis bersama murid lainnya. Saya perhatikan lagi; operator laptop materi: murid, operator sound system: juga murid, fotografer: murid lagi. Dua kameramen perekam video: murid lagi murid lagi.

Baca juga  Orang Inggris

Lagu mars selesai. Saya perhatikan lagi ekspresi murid yang datar. Mungkin, sebagaimana saya, mereka tak sabar menunggu acara dimulai.

Saya mengira-ngira, apakah salindia “Remaja, Bahasa, dan Imajinasi” yang saya siapkan malam tadi cocok buat mereka. Apakah tema saya tidak mengawang-awang bagi anak-anak di kabupaten yang masuk daftar Tertinggal (2020-2024) berdasarkan Perpres itu.

Pak Edi sedang memperkenalkan saya dengan penuh semangat ketika pikiran saya mempertimbangkan materi praktik menulis dasar dalam diska keras di dalam tas. Kalau memungkinkan, saya akan mengajak mereka menulis dengan gembira saja.

Lalu Pak Edi menceritakan profil murid/muridnya. Saya yang duduk di bangku pembicara dan istri yang berbaur dengan peserta di bangku peserta beberap kali beradu pandang ketika Pak Edi mengatakan bahwa sebagian muridnya berasal dari keluarga broken home. Spesifiknya: mereka ditelantarkan ayah kandung yang memilih menikah lagi. Catat: sebagian besar mereka tinggal bersama seorang janda yang sehari-harinya menyadap karet untuk menyambung hidup dan masa depan si anak.

Ternyata cerita belum selesai.

Pak Edi melanjutkan, sebagian murid juga berasal dari tempat yang jauh dengan berbagai kondisi yang bikin geleng-geleng kepala. Yang tinggal di Noman, 30 kilometer dari SMKN Muratara, subuh-subuh harus menunggu mobil yang melalui sekolah. Pun yang berangkat sekolah dari Pulau Kidak, sekitar 40 kilometer, hampir tak pernah absen kecuali mobil yang biasa ditumpangi tidak beroperasi. Satu-satunya murid bercadar di aula itu, terang-terangan dijadikan Pak Edi contoh tentang definisi kerja keras yang sebenarnya. “Sepulang sekolah,” kata Pak Edi, “dia masih akan menyadap karet,” lanjutnya. Lalu paparan tentang sejumlah prestasi yang ditorehkan para murid luar biasa itu di tingkat kabupaten, provinsi, hingga regional Sumatra pun menyadarkan saya bahwa: salindia-salindia yang sudah saya persiapkan, kini sedang menutup wajahnya di dalam diska keras.

Baca juga  Titik Hati

Saya baru akan berpikir untuk memodifikasi materi, sebelum Pak Edi memanggil saya ke depan untuk memantik pengetahuan tentang menulis, literasi, dan dunia kreatif. Saya ragu-ragu mengambil pelantang suara dari si kepsek.

Saya teringat semua materi literasi yang bertumpuk manis dalam laptop. Saya sedang memikirkan dua hal: menjadi Mario Teguh atau tidak. Menjadi yang pertama jelas tidak mungkin. Tapi, tidak menjadi si Teguh akan melempar saya kepada sihir yang kuasa mengubah saya menjadi sosok yang tidak peka.

Saya memutuskan menjadi anak-anak. Saya menjadi bagian dari mereka. Lebur dan bergembira. Saya tantang mereka menggambar “pemandangan” dalam dua menit. Dan dengan riang mereka memainkan alat tulis di atas kertas. Hasilnya? Anda mungkin sudah bisa menebak. Termasuk saya yang merasa kalah tak keruan kali siang tadi.

Muratara-Lubuklinggau, 31 Maret 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring/luring.

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Desy Arisandi

    Keren, menyentuh jiwa

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: