Cerpen, Ranang Aji SP, Tribun Jabar

Gadis Penjaga dan Pria Berjanggut

4.7
(3)

1

Dalam sebuah perpustakaan, seorang gadis penjaga tengah memperhatikan seorang pria berjanggut. Satu-satunya pengunjung yang datang. Dari mejanya, ia melihat pria berjenggot itu melayang-layang di atas bukunya. Dalam beberapa menit, ia mulai terbiasa dengan wajah pria itu yang kini semakin dikerumuni oleh, tidak saja rambut jambang, tetapi juga huruf-huruf yang berputar-putar seperti menari-nari penuh warna seperti pelangi. Setelah beberapa saat, gadis itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada beberapa buku di atas mejanya. Salah satunya sama persis seperti buku yang ada pada pria berjanggut itu. Judul buku itu Cosmiscomic karya seorang penulis yang dihormati, Itali Calvino.

Ketika ia mulai membuka-buka halaman buku itu, tiba-tiba ia melayang persis seperti pria berjanggut itu. Mereka bertemu dan saling berhadapan. Berdua mereka masuk halaman-demi halaman yang jauh dari masanya. Dalam perjalanan itu, kemudian terlihat seorang pria putih kekuningan, berwajah ramah tengah bercakap dengan Goenawan Mohamad. Pria putih itu bernama Italo Calvino, tetapi Goenawan hanya menyebutnya Calvino. Calvino tengah bercerita tentang kisah aneh bernama Viskonte Medardo dari Terralba. Keadaan tubuhnya terbelah menjadi dua ketika berperang, tapi dua tubuh itu tetap hidup. Setiap tubuh membawa karakternya. Satu jahat dan satu baik. Goenawan heran dengan keadaan itu, dan segera mencatatnya. Ia, kemudian, menyimpulkan itu sebagai sifat kekuasaan ketika tubuh itu akhirnya bersatu lagi.

Ketika percakapan itu berakhir, dan Calvino pergi, seorang pemuda gondrong, bertampang tengil, tapi cerdas, dan diketahui bernama Sukab menguntit dari belakang. Pemuda itu mengikuti Calvino hingga tiba di sebuah lautan dengan gerbang besar bertuliskan “Cosmiscomic”. Di sana ia melihat pemandangan yang menakjubkan. Sebuah bulan yang besar tergantung hanya berjarak beberapa meter dari permukaan laut. Di sana ia juga melihat tiga pria dan satu perempuan di atas perahu bernama La Disitanza Della Luna.

Perempuan itu istri kapten kapal. Berambut hitam berombak. Kapten itu ingin istrinya pergi, maka perempuan itu bersama dua pria lainnya naik ke atas bulan. Di bulan yang aneh dan berdinding susu, pria bernama Qfwfq jatuh cinta pada perempuan itu, tapi sayangnya perempuan itu mencintai sepupu Qfwfq, dan sayangnya juga, sepupu Qfwfq mencintai bulan. Menyaksikan kekacauan itu, Sukab segera pergi dan memotong senja serta mengirimkannya kepada pacarnya. Ia tak ingin bernasib seperti mereka yang kehilangan cinta. Gadis penjaga dan pria berjanggut itu begitu takjub hingga tak sadar di sampingnya telah berdiri pria berkulit putih, berambut ikal sebahu dengan pakaian abad ke-15 di Prancis. Namanya Blaise Pascal. Dia berbicara seperti berguman sembari melihat bulan yang menggantung dekat itu. Katanya, “Semua sudah diucapkan… semua sudah ditemukan… semua sudah dituliskan… oh, tak ada lagi yang bisa ditemukan di dunia….”

Baca juga  Buah Hate
2

Setelah bersama-sama mengarungi lautan kata-kata yang mengantar mereka pada dunia berbeda-beda yang membuat perasaan mereka takjub oleh cakrawala luas, tiba-tiba jiwa mereka seolah ditarik-tarik oleh suasana, kadang mencekam karena misteri yang gelap, kadang murung karena kesunyian yang mencekam. Tapi mereka terus melayang di atas buku, berputar-putar mengelilingi dunia, melintasi waktu, dan menyaksikan kejadian-kejadian yang membuat mereka berpikir keras, dan membuat tubuh mereka penat. Saat kelelahan hampir saja membuat mereka tertidur, tiba-tiba mata mereka melihat cahaya api dari api unggun yang besar di sebuah tanah lapang.

Di sana banyak orang berkumpul. Laki-laki, perempuan, semua menari mengelilingi api unggun. Beberapa orang memainkan gitar, biola, dan perkusi sambil bergerak indah. Tapi di antara kerumunan orang, makanan, minuman memabukkan, terlihat seorang pria yang berdiri angkuh sembari memegang cawan besar berisi anggur termahal. Ia dikelilingi perempuan-perempuan telanjang. Di tengah keramaian pesta itu, tiba-tiba ia berseru lantang, membuat semua orang berhenti dan memperhatikan pria angkuh dan tampak sangat berkuasa itu.

“Hai, kalian manusia periang, dengarkan aku!” Pria angkuh itu melangkah ke tengah, tubuhnya berputar dan matanya mengawasi setiap orang dengan tangan mengangkat cawannya ke atas kepala.

“Aku sudah ada di dunia ini sejak pagi bersinar, dan akan tetap ada hingga jatuhnya bintang terakhir di malam hari. Meskipun aku diwujudkan sebagai Gaius Caligula, aku adalah pria dari seluruh pria, karena itu aku adalah tuhan kalian!”

Lidah api menyala merah, membubung menyemburkan butiran-butiran abu kayu bercampur asap. Setiap orang berseru memuja nama Caligula. Tetapi seorang pria tua bersama gadis remaja yang berdiri di antara kerumunan berteriak keras.

“Kau bukan tuhan! Kau manusia!”

Baca juga  Guarjja yang Membawa Kesedihan

Semua orang tiba-tiba terdiam dan menatap pria bersama gadis remaja yang berani bicara lancang itu. Pria angkuh yang menyebut dirinya Gaius Caligula menatap dingin dan kemudian tertawa keras. “Bakar mereka!” teriaknya memerintah. Setelah perintah itu diucapkan, beberapa prajurit bersenjata pedang segera menangkap pria tua dan gadis remaja yang bersamanya. Di saat itu, tangan gadis penjaga tiba-tiba ditarik keras oleh pria berjanggut. Dari atas gadis penjaga melihat dua orang itu dibakar di atas api unggun.

“Ini apa?”

“Pesta kekuasaan,” jawab pria berjanggut itu sambil melayang pergi.

3

Setelah keluar dari kengerian yang begitu mencekamnya, gadis penjaga dan pria berjanggut memutuskan masuk di dunia yang berbeda lagi. Ketika mereka sampai di sebuah masa, ketika banyak anak muda berkumpul di kampus biru, seorang pria bernama Ashadi Siregar meminta mereka untuk berhenti sejenak mendengarkan ceritanya. Di tahun 1970-an, seorang gadis patah hati oleh seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis lain dan gadis lain menolak cinta pemuda itu.

Gadis penjaga begitu tertarik dengan kisah cinta itu hingga merasakan dialah yang pantas dicintai. Ketika ia mengangankan itu, matanya melirik pria berjanggut yang masih bersamanya. Tetapi pria itu hanya diam. Muka gadis penjaga itu tiba-tiba terlihat aneh. Matanya seperti berkabut dan akhirnya menatap pria berjanggut dengan sinar kekecewaan. Ia merasa bahwa pria yang bersamanya adalah seorang yang sulit memahami cinta. Karena tak mendapat respons seperti yang ia harapkan, gadis itu pergi mengunjungi Rymond Carver, dan bergabung dengan empat orang sahabat yang tengah berbicara tentang cinta.

Empat orang itu terdiri dari dua pria dan dua perempuan. Mereka duduk melingkari meja dapur, berbicang-bincang sembari minum gin yang dicampur tonik dan es batu. Dari jendela yang terbuka, sinar matahari yang kuning bersinar membentuk garis-garis yang pendar. Setelah beberapa teguk, seorang pria bernama Mel mengatakan pendapatnya tentang cinta. Nada suaranya berat. Katanya, siapa sih yang bisa mendefinisikan cinta. Cinta sejati itu seharusnya adalah cinta spiritual.

Baca juga  Rumah yang Bertumbuh

Lalu, seorang perempuan yang dipanggil Terri, tak lain adalah istri Mel, mengatakan bahwa sebelum ia menjadi istri Mel, ia punya pacar yang selalu menyiksanya dan hampir membunuhnya. Pacarnya bernama Ed, ia kejam dan jahat, tapi semua itu karena mencintainya, kata Terri. Itu bukan cinta, bantah Mel kepada istrinya. Keduanya kemudian saling berbantahan yang membuat pasangan lainnya menjadi tidak enak hati. Perbincangan tentang definisi cinta itu terus berlangsung hingga malam dan tak ada satu pun yang disepakati. Mereka bubar karena botol minuman telah habis dan perut mereka lapar.

Gadis itu memandang empat sahabat itu dengan pertanyaan: apa yang mereka bicara mereka ketika berbicara tentang cinta? Ia merasa tak mendapat kepastian tentang apa itu cinta. Tetapi ia mendapat kesan bahwa mungkin memang ada cinta sejati, tetapi tak mampu abadi. Karena dunia itu relatif. Setiap saat, perasaan juga bisa menguat, melemah, atau bahkan hilang sama sekali dalam sekali waktu. Ketika ia hanyut dalam pikiran itu, tiba-tiba energinya menjadi tersedot dan membuatnya lemah. Akhirnya, ia memutuskan menutup bukunya dan meminta pria berjanggut itu pergi.

“Maaf perpustakaan sudah tutup,” katanya. []

Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Naskahnya berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern dan Pacamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya” menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud.

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: