Cerpen, Kompas, Ramayda Akmal

Lelaki yang Menabur Rempah

3.6
(7)

Tersebutlah seorang pemuda, Karl Heidrich, yang jatuh cinta habis-habisan pada segala yang oriental. Ia yang memandang tanah kelahirannya sebagai daratan dingin dengan kehidupan layu, terbius oleh kehangatan bumi dan manusia dari timur jauh. Ia dicengangkan oleh bahasa-bahasa baru seperti lagu dan disihir oleh aroma rempah yang bertahan seperti kenangan.

Malangnya, keterpanaan itu muncul berbuntut gelombang, yang datang justru ketika cintanya dirasa semakin benar. Kala itu Karl dengan pelajar kelana lain dari berbagai benua berkumpul sambil menyeruput kopi, menggenggam kecemasan, membicarakan masa depan.

“Ini adalah tahun-tahun keguguran untuk kita.” Seorang teman dari Florida memulai pembicaraan.

“Cuma institusi kita yang masih bertahan. Institusi oriental terkenal di sebelah Barat itu baru saja bangkrut, menyusul kemudian yang di Utara.” Sambung teman dari Thailand.

“Kita harus segera menyelesaikan studi atau terhempas dalam kesia-siaan, tersesat di satu titik gurun, di malam hari, tanpa mengenal rasi bintang.” Seorang dari Iran berpuisi sambil menenggak espresso-nya.

“Terima kasih kepada rajamu yang gemar menyumbangkan apa pun kepada kita sehingga kita bisa bertahan.” Tutur teman dari Italia kepada si Thailand.

“Sekarang namanya sumbangan, dulu upeti, dulunya lagi mungkin rampasan.” Teman blasteran Jerman-Singapura mulai mengumpankan humor yang justru membuat orang sulit tertawa.

“Karena kami kaya, tidak apalah.” Jawab teman Thailand sambil mengangkat bahu. “By the way, selamat untukmu Karl! Menang lagi untuk yang kesekian kali. Dalam beberapa tahun ke depan, kamu akan menguasai semua bahasa dunia,” lanjutnya.

“Aku rasa cukup dengan bahasa Cina dan Melayu untukku bisa menguasai dunia.” Karl menjawab dengan kebanggaan sebenar-benar.

“Tentu saja kamu menang. Mereka terbuai seorang putih berambut pirang bermata biru bicara Hanyu!” Teman Jerman blasterannya menambahi ledekan yang justru mengakhiri perbincangan.

Tiba-tiba setiap orang menyadari waktu. Mereka harus kembali ke laboratorium dan manuskrip-manuskripnya. Pertemuan atas kopi itu berakhir, namun apa yang dicandakan di dalamnya, apa yang muncul setelahnya di benak mereka masing-masing tidak bisa lagi dicegah.

Kemenangan Karl berturut-turut di kompetisi pidato di beberapa negara Asia mengundang decak kagum. Namanya pun melambung. Institusi tempatnya belajar memajang gambarnya, menjadikannya patron dan idola. Ketika institusi oriental yang dianggap tertua di negaranya itu mulai sekarat, kemenangan Karl adalah napas lanjutan untuk bertahan. Tentu saja bertahan itu jauh dari berjaya. Sejak beberapa tahun terakhir, institusi ini harus mengganti nama, meninggalkan semua atribut berbau kolonialisme, dan menjaring sebanyak-banyaknya mahasiswa dari negara-negara non-Eropa, terutama daerah yang mereka rujuk sebagai oriental itu, untuk meredam semuanya, mengadilkan segalanya.

Baca juga  Aku

Namun, canda-canda menukik, kritik halus bertameng obrolan terbuka terkait kemenangan Karl terus berlanjut. Bahkan kemudian, beberapa mahasiswa yang menyebut diri mereka tergabung pada Kelompok Orang Berwarna mengirimkan somasi disertai sekotak jeroan ayam segar ke ruang kepala institusi.

Di dalamnya muncul kosakata-kosakata semacam white savior complex, reproduksi struktur kekuatan kolonial dan rasisme, kegagalan dan halangan atas dekolonisasi, pengakuan yang tidak setara, dan lain-lain slogan pamflet. Somasi itu meminta pengultusan Karl disudahi dan institusi perlu mengadakan seminar dan pendidikan tandingan.

Somasi ini ditanggapi dengan cepat, taktis, dan dingin. Potret Karl di halaman depan institusi diturunkan, panel diskusi tentang dekolonisasi direncanakan, dan perkuliahan senormal-normalnya terus dijalankan. Semua tampak selesai, kecuali untuk Karl.

***

Setelah peristiwa itu, Karl melewati hari-hari dengan pagi yang penuh kemarahan, siang dihiasi hujatan dan malam bernama kesedihan. Ia merasa diserang dari luar dan dalam. Kekecewaan seperti udara yang harus dihirup tanpa pilihan. Beberapa waktu lamanya ia melemparkan diri ke pesta-pesta bawah tanah yang diadakan oleh teman-teman putihnya. Dalam setiap tegukan whiskey Sour [i], Karl mengutuki para aktivis yang melawannya itu.

“Kalian tahu, siapa mereka itu? Para demonstran muda, yang menghabiskan hidupnya untuk bersolek, yoga, dan menyalurkan aspirasi. Mereka rela mati demi hewan-hewan liar yang dijagal, tetapi juga turun ke jalan demi mendapatkan teman kencan. Mereka tidak pernah menghirup atau menyentuh apalagi mengenal apa yang mereka perjuangkan itu. Demi Tuhan.” Seorang teman mengelus pundak Karl dan memenuhi gelasnya yang telah kosong.

“Dan para pendatang itu, di pagi hari, bibir mereka seperti pisau tajam merobek-robek Eropa, tapi di malam hari tubuh mereka meliuk mesra dari satu bar puisi ke bar puisi lainnya, dari satu pelukan bule ke pelukan bule yang lain.” Karl dibawa ke pojok ruangan karena teman-temannya mulai terganggu dengan ocehannya. Kepada satu-satunya teman yang masih bertahan bersamanya, seorang anak pemborong dari keluarga Hanse [ii], Karl lanjut berbisik.

“Kamu tahu apa yang paling menyedihkan? Aku sebagai lelaki putih sampai mati akan sulit dan terpojok. Kecintaanku akan selalu dikaburkan dengan kekuasaan. Mereka bilang, mempelajari bahasa, mengagumi alam, dan mencintai gadis Melayu berkerudung ungu adalah bentuk paling subtil dari penguasaan itu. Bahwa melakukan satu kesalahan bagiku tidak termaafkan. Sementara apa pun yang terjadi dengan mereka, apa pun yang dilakukan seseorang dalam posisi mereka, adalah emansipatif.”

Baca juga  Rindu Tak Mati-mati

Temannya yang pemborong itu cuma manggut-manggut sambil mengisap rokok putih yang manis. “Kamu tahu Karl, mungkin memang benar, sekarang ini kita sedang dijajah. Mereka melakukan serangan balik!”

Dan mata Karl yang tadinya sipit penuh air mata kemudian memicing ke arah temannya itu. Ia terenyak. Dalam hati ia mau protes, dalam hati ia ingin menangis, tetapi tenaganya melayang, dan si teman sudah menghilang di punggung-punggung telanjang gadis-gadis di lantai dansa. Karl merasa mual sekali. Aneh, ke mana pun ia pergi, ia merasa selalu berakhir di tujuan yang keliru.

***

Pulanglah dia ke pedalaman Bavaria. Berlindung pada tangan ayah ibunya yang renta dan berdiam di kamar dalam selimut melankolia. Karl menghibur diri dengan menghafal kosakata dan kembali pada rempah-rempah kesayangannya. Ia menaburkan ketumbar di jendela. Ia menata bunga lawang di meja dapurnya. Ia menjejalkan kayu manis di vas bunga. Wewangian rempah itu yang menjaga kesadarannya.

Sampai pada suatu hari Karl membuat sebuah makan malam istimewa sebagai hadiah untuk orangtuanya. Ia memasak Pangek Masin [iii] sebagai menu utama dan Es Laksamana Mengamuk [iv] sebagai penutupnya. Ia mengerahkan semua pengalamannya yang ia dapat ketika tinggal berbulan-bulan menelusuri lembah Andalas.

Orangtua Karl tersedot oleh masakan yang merangkum semua rasa, gurih, asam, asin, manis, dan pedas. Mereka sedikit saja bicara dan memuji profesionalitas Karl dalam memasak. Mereka cuma menggeleng-gelengkan kepala setiap kali menyendokkan kuah santan dengan potongan ikan tengiri yang lembut ke mulut mereka. Mata mereka berkaca-kaca sembari terus-menerus menepuk telapak tangan Karl sebagai tanda kagum.

“Bagaimana, Ma? Terlalu pedas? Terlalu asin? Kamu tidak masalah dengan santan ’kan?” Karl terus memberondong ibunya dengan pertanyaan.

“Tidak, Nak. Ini sangat lezat. Aku tidak bisa membayangkan masakan seenak dan sekaya ini. Aku seperti menikmati sebuah simponi dalam piring, dalam ruangan ini.” Jawab ibunya pelan, dalam senyum yang berat oleh kegundahan.

“Kenapa Ma?” Karl heran dan tidak menduga reaksi ibunya.

“Tidak apa-apa, Nak. Aku cuma terharu. Kamu sudah dewasa. Kamu mandiri. Bahkan, kamu memasak masakan yang jauh lebih enak. Kamu sudah ada di dunia yang jauh sekali rasanya. Tidak lagi berguna aku.” Ibunya menunduk, menggeleng, sambil gemetar menyendokkan Pangek Masin. Karl menarik napas dan kehabisan kalimat. Diam mengudara. Ayahnya lalu bangkit, mengambil bir dan memulai pembicaraan.

Baca juga  Kisah Kematian Supraba

“Ingatkah kamu, hari ini tepat dua tahun yang lalu kamu pulang dari Asia. Waktu itu, di bandara kami hampir tidak mengenalimu. Kamu sangat kurus dan gelap, Nak!”

“Saat kamu di sana, tiada hari kami lewati tanpa cemas. Kami selalu berpikir, apakah kamu cukup makan, apakah kamu bisa selamat dari dengue, teror, dan penyakit-penyakit lainnya. Kami khawatir kamu tidak bisa menemukan kafe atau sekadar menikmati bir yang segar ini. Nyatanya sekarang kamu tumbuh jadi penjelajah yang andal. Kamu berhasil memenangkan daerah-daerah asing misterius itu, Nak.”

Kalimat-kalimat ayahnya masih berlanjut. Sayang Karl sudah larut dalam kelelahannya sendiri. Entah mengapa, lagi-lagi ia merasa ada di tempat yang keliru. Betapa seluruh niatan untuk bahagia dan membahagiakan, hanya berujung pada percakapan yang ganjil dan menyakitkan.  Sambil menghirup rempah-rempah yang masak dalam santan di piringnya, Karl pun menyerah. Ingatannya datang, acak, seperti pendar cahaya yang menusuki tubuhnya.

Hamburg, 2021

Catatan kaki

[i] Minuman beralkohol campuran whiskey, jus lemon, dan gula.

[ii] Perserikatan atau masyarakat pedagang yang merentang dari Eropa Barat-Utara sampai Tengah dan berjaya dari abad ke-12 sampai ke-15.

[iii] Masakan khas Minangkabau yang berbahan dasar ikan.

[iv] Minuman buah khas Riau.

Ramayda Akmal adalah mahasiswa doktoral di Hamburg UniversitÄt, Jerman. Ia telah menerbitkan dua novel, Jatisaba (2015) dan Tango&Sadimin (2019).

Wayan Kun Adnyana, lahir di Bangli 4 April 1976. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sejak 22 Maret 2021. Profesor Sejarah Seni Rupa ini juga telah menggelar pameran tunggal sebanyak 14 kali, termasuk di Tainan, Taiwan, dan Sydney, Australia. Meraih penghargaan Visiting Scholar Award dari Gwen Frostic School of Art, Western Michigan University, Amerika Serikat (2015).

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Agak bingung sebenarnya dengan maksud dari cerpen ini. Kenapa percakapn dengan orang tuanya pun, dianggapnya sebagai tujuan keliru? bertanya-bertanya maksud Karl sebenarnya bagaimana,inginnya apa,. Tetapi selebihnya, saya suka.

  2. Dave

    Cerpen ini memuat pendirian yang menentang berkas sikap kolonialisme yang terdapat di materi ajaran dan perilaku sebuah lembaga kajian Asia di Eropa yang dicat oleh narrator sebagai etnosentris. Demikian juga sikap lulusannya, tokoh Karl dari ras Aryan yang tetap melihat Timur sebagai tempat yang eksotik dan tempat dia bisa merasa bahagia dan membahagiakan. Dalam skema argumen pasca-kolonial ini muncul tiga blok yang berdasarkan ras, ada tokoh Aryan (oknum di Lembaga kajian Asia, tokoh Karl dan orang tuanya), blok Kelompok Berwarna (tokoh antara lain dari Iran dan Thailand) dan blok blasteran (tokoh blasteran Singapura-Jerman). Blok pertama terpaksa mundur akibat tekanan dari blok kedua sedangkan blok ketiga menduduki posisi yang tak tentu. Agar kontestasi ini bisa berjalan pertokohan dari masing blok-blok ini cerpen ini bergantung pada unsur-unsur stereotip, dari blok pertama ada si Karl yang berambut putih dengan warna mata biru dan ayahnya yang suka minum bir dari blok kedua ada tokoh Iran yang hanya bisa berbicara secara puitis dan dari blok ketiga ada tokoh yang mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan kedua blok lain.
    Narator menggambarkan sikap orientalisme yang melekat pada sebuah lembaga pendidikan dan salah satu lulusannya, seorang Jerman bernama Karl. Lembaga pendidikan pun terpaksa untuk mengubah materi ajaran dan kegiatan yang memuliakan capaian Karl. Akibatnhya yang Kelompok Berwarna tersinggung dan menindak. Tersurat juga bahwa prestasi Kelompok Berwarna di lembaga itu tidak diakui sama sekali. Meskipun begitu, pendirian Karl tidak langsung berubah dan menolak adanya sikap orientalis yang berkaitan dengan ideologi penjajahan itu. Narator malah menunjukkan sikap Karl yang bersifat keunggulan dan ingin menguasai yang lain dan mengutip tokoh Karl yang ingin menguasai dunia lewat kemampuan berbahasa Timur (China dan Melayu). Sikap lulusan lembaga orientalis tersebut bergandeng dengan aspek yang dianggap eksotik tentang negara Timur (khususnya makanan yang memuat rempah-rempah). Rempah-rempah tentu menandakan sebuah komoditi yang diinginkan oleh pedagang Eropa sekaligus pandangan Barat tentang eksotika Timur. Bagi Karl yang dulu menjadi idola lembaga itu tidak mampu menerima kritik yang dilontarkan aktivis Kelompok Berwarna itu sehingga dia mundur dari kampus dan kembali ke kampung halaman tempat dia terus belajar bahasa dan memasakkan orang tuanya masakan yang memuat rempah rempah. Narator memperlihatkan bahwa ada kesamaan dan perbedaan antara angkatan tua dan angkatan muda di blok ras Aryan itu. Kesamaan terlihat dalam pendapat Bapakanya bahwa Timur ‘misterius’ dan ‘asing’ (dengan kata lain ‘eksotik’). Namun lain dengan Karl, Bapaknya memiliki citra yang serba negatif terhadap Timur (tempat penuh penyakit dan teror dan kekurangan makan dan bir yang baik). Di akhir cerita Karl sadar dia di tempat yang salah (rumah ortunya), lalu dia tiba di ambang epifoni, seperti sikapnya tentang Timur yang lama dia terpaksa dipikirkan ulang (ada ‘pendar cahaya menusuki tubuhnya’.)

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: