Cerpen, Koran Tempo, Kurnia Effendi

Tentang Tujuh Dosa

4.2
(12)

ANGEL membuka pintu mobil dengan kontak pengendali jarak jauh. Empat lampu sein berkedip dua kali. Aku masuk dari pintu kanan dan duduk. Secara bersamaan kami menutup pintu dan seperti memiliki gagasan serupa melalui senyuman.

Persis setelah mesin mobil menyala, kepala kami memperpendek jarak. Tangannya meraih tengkukku dan beberapa detik kemudian bibir kami bertemu dengan hasrat yang belum tuntas. Tanganku menyusup di antara sandaran jok dan tubuhnya, memeluk punggungnya. Tak ada jeda melepas ciuman. Mulut kami saling melumat dengan rakus. Serakus penyanyi rock mengunyah mikrofon—seandainya kusaksikan videonya—meraung di kabin mobil yang hangat.

Aku ingat, sepasang tangan Angel menangkup kedua belah pipiku seakan-akan wajahku sebuah apel besar yang segar. Namun, aku tak ingat apa-apa sesudah bunyi gemuruh yang mengatasi musik cadas dari radio itu.

***

Kereta Intercity dari Leiden Centraal menuju Arnhem harus transit di Amsterdam. Di stasiun terakhir aku melewati plaza yang luas, tetapi tidak begitu ramai. Aku menunggu bus bertenaga listrik dengan konektor di atap yang akan membawaku ke Bronbeek. Harus berkonsentrasi untuk mengingat jumlah halte agar tidak terlewat. Sesuai petunjuk Angel, Museum KNIL itu terletak 200 meter dari pemberhentian bus keenam.

“Kutunggu di kafe museum pukul 9. Pagi-pagi sudah buka.” Itu pesan Angel kemarin melalui WhatsApp. Sayangnya, tanpa kuketahui sebabnya, ponselku bermasalah. Apakah pulsa Belanda habis atau ada kesalahan saya mengoperasikan sehingga jaringan lokal terputus.

Satu jam sebelum waktu janjian, aku sudah tiba dan memilih tempat duduk di beranda sisi kanan gedung yang sudah menyajikan minuman dan sarapan. Pagi cukup ramai oleh banyak pasangan lansia mengenakan pakaian olahraga. Mereka dengan santai dan saling bersenda, menjumput roti menempatkannya di piring kecil. Meraih cangkir dituang kopi atau teh, kemudian memilih kursi yang tersedia. Sebagian menyebar ke area taman.

Apakah camilan itu gratis? Sungguh aku ingin mengopi, tetapi perlu memastikan apakah boleh menuang seenaknya. Siapa tahu para pria dan wanita yang kutaksir berusia rata-rata di atas enam puluhan itu anggota organisasi yang dikelola pihak museum, bergiat setiap Sabtu.

Angel! Bagaimana aku menghubungimu? Aku gelisah begitu menyadari sudah pukul 9.30 dan tiada sosok perempuan muda yang melenggang di antara pengunjung kafe itu. Angel berjanji mengenakan setelan warna jingga, tentu menarik perhatian. Satu per satu opa-oma yang berwajah segar itu meninggalkan beranda. Menjelang sepi, dugaanku tentang Angel bermacam-macam. Apakah dia terlambat atau membatalkan pertemuan? Dua hari lagi aku pulang ke Indonesia. Memang ini penundaan yang ketiga, tetapi tidak semua salahku.

Aku mencari akal dengan membuka Facebook dan mengirim pesan kepada Yahya di Jakarta, sahabat Angel. Aku memintanya agar mengontak nomor Angel, mengabarkan bahwa aku sudah di kafe yang dijanjikan sejak pukul 8. Beberapa menit tak ada reaksi … padahal Lebakbulus kini pukul 2.30 siang. Sayangnya aku tak dapat menghubungi teman satu dormitory di Marienpoelstraat karena harus menggunakan provider Belanda.

Pukul 10 aku memutuskan masuk ke museum. Hendak kugunakan kartu yang berlaku untuk mengunjungi sekitar 400 museum di Holland selama setahun, senilai 60 euro. Di depan meriam Aceh hadiah Willem II, seorang wanita ramah menanyakan tujuanku dan memeriksa kartu yang kuserahkan. Saat itulah, dari sebuah pintu yang terbuka lebar di sayap kiri, terlihat wajah yang kukenal: Angel! Serupa benar dengan foto yang kuterima dari Yahya.

Baca juga  Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Rupanya Kafe Batavia yang dimaksud ada di dalam gedung. Si cantik anggun dengan tinggi badan 170 cm itu bergegas menghampiriku. Aku bersyukur sekaligus gembira. Angel membantu menjelaskan kepada wanita resepsionis museum. Si rambut pirang itu memintaku menitipkan ransel dan membiarkan kamera DSLR tanpa wadah kubawa masuk.

“Angel, aku—”

Angel berkedip. “Kita sudah bertemu. Tak ada yang salah, bukan? Kafe Batavia di dalam. Di luar sana juga terdapat kafe, tetapi khusus untuk para veteran.”

“Ooo …” Aku mengangguk dan tak memprotes sewaktu tangannya menggandengku.

“Kita hanya punya waktu paling banyak 2 jam,” ujarnya mengingatkan.

“Apakah museum ini akan tutup dengan cepat?”

Angel menggeleng berulang-ulang. Seolah-olah ia ingin pamer rambutnya yang panjang dan ringan berkibar. “Kita akan ke rumah seorang kolektor benda-benda Indonesia. Siapa tahu itu kaulihat pertama kali dan terakhir kali.”

Ucapannya cepat dan pasti meski mengandung nada pesimistis aku mampu kembali terbang ke Belanda kelak. Saya manut memasuki ruang demi ruang sesuai rute yang dia sarankan. Tujuannya agar aku segera menemui lukisan Raden Saleh dan gurunya, A. A. Payen, di sebuah selasar yang hening. Aku menatap panorama Pasundan dan Istana Bogor dengan gaya lukisan naturalis guru dan murid itu.

Angel meminjam ponselku dan memotret beberapa posisiku sedang menyaksikan lukisan. “Mungkin nanti anakmu atau para sahabatmu membutuhkan foto ini.”

Aku tersenyum dengan gurauannya. “Aku pasti memerlukan. Ini bahan novelku.”

Angel, pemilik sepasang pipi menjulang dan mata bundar jernih itu, tersenyum dengan ujung lidah muncul di sisi celah bibirnya. Aku gemas-mas-mas!

“Kita masih sempat minum sebelum ke rumah Ton Eijkelenkamp.” Angel memesan jus jeruk di bar museum.

Lalu lintas di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam, atau Utrecht saja tak pernah macet, apalagi di kawasan tempat pabrik sepeda Gazelle ini.

Aku yang bangun terlalu pagi tak jadi mengantuk. Ton, pria ganteng yang ternyata berpacar lelaki, menjamu kami anggur istimewa di ruang pribadinya. Serius, dia begitu hafal benda-benda kuno milik Indonesia termasuk peranti kehidupan suku-suku terpencil di Nusantara. “Saya tahu beberapa kisah pewayangan,” ujarnya bangga. “Nah, kepada siapa museum kecil ini nanti kuwariskan?”

“Ah, temanku ini juga tak punya waktu lagi buat menawar-nawarkan,” Angel mencubit lenganku kemudian merangkulku seolah-olah untuk menghapus nyeri kecil yang dibuatnya. Ton tak akan cemburu kepada siapa pun melihat gaya demonstratif Angel.

Ini sudah pukul 6 petang, namun sang baskara masih menempati sepenggalah langit barat. Musim panas memang waktu yang tepat untuk melakukan penelitian di Eropa. Matahari di Belanda sejak pertengahan Juni melayari langit sepanjang 18 jam. Aku merasa lebih produktif dibanding di Jakarta. Pulang ke rumah menjelang gelap, mendekati pukul 10 malam.

Baca juga  Ular-ular Pak Sudar

“Ada restoran enak, menyajikan masakan Turki. Mau?” tanya Angel untuk menutup pertemuan panjang hari ini.

Saat Angel memarkir mobil di halaman yang tak terisi satu kendaraan pun, aku sempat membaca nama yang dikelilingi lukisan kaca patri warna-warni. The Seven Sins.

Untuk kesekian kali, Angel sigap menggandeng tanganku memasuki resto yang memang lengang. Pasti bukan jam dinner. Apakah orang Belanda kurang menyukai masakan Turki?

“Pesanlah!” Angel mengangsurkan daftar menu ketika aku memandangi interior yang menunjukkan peradaban masa lalu. “Porsinya tak terlalu besar. Tak akan kekenyangan.”

Aku tidak paham dengan nama-nama yang tercantum. Kufoto dua halaman daftar itu, sebagai bagian dari riset. Aku memesan steik mirip kebab dan satu menu lagi dipilihkan Angel.

“Ini pengaruh bumbunya akan membuatmu kebal dari rasa takut dan sakit.” Lagi-lagi senyum Angel membuatku ingin menciumnya. Ia memanggil pramusaji, menyerahkan daftar pesanan. Dengan bahasa Belanda fasih, Angel meminta sesuatu yang sedikit berbeda dari racikan standar. Sesudahnya ia memandangku. “Di loteng ada tempat berfoto bagus.”

Angel tahu hal-hal yang kuinginkan. Kenapa tidak menemui Angel pada minggu pertama kedatanganku di Negeri van Oranje? Aku lebih mementingkan kunjungan ke kota-kota lain, bahkan ke Paris dan Brusel. Padahal, Angel sudah memberi tahu rute dan jadwal kesehariannya.

Kami menaiki tangga batu yang memutar dan mendapati balkon yang tak terlalu besar. Mirip mimbar tempat pemimpin umat memberikan khutbah. Dari tempat ini kami dapat melihat area restoran. Garis-garis sinar surya terbentuk dari lubang-lubang angin yang menghadap ke barat seperti sorot cahaya dari proyektor film di masa lalu.

Sebuah rak rendah berisi kitab-kitab tebal menempati satu sisi. Tidak berdebu. Aku membukanya dan pasti tak mampu membacanya. Isinya mirip ayat-ayat. Kuambil salah satu yang berwarna dan kubuka-buka. Tampaknya berisi kisah pengembaraan para nabi.

Selain ruang tak terlalu luas, badan Angel yang wangi terlampau dekat denganku. Hasratku meletup. “Angel—”

“Lakukan apa yang kauinginkan,” potongnya sok tahu. Senyumnya belum selesai, aku sudah menyumbat mulutnya. Aku justru yang tersengal karena lidahnya pintar mengisap.

“Maaf.” Aku memeluknya erat dan tak menduga dalam sergapan bibir Angel ke leherku membuatku mencapai sesuatu yang tak seharusnya terjadi.

“Kumaafkan.” Angel merenggangkan tubuhnya. “Mau berfoto di sini? Ada kursi tinggi, bagus sebagai tempat dudukmu.”

Beberapa kali Angel mengambil gambarku. Setelah mengembalikan ponsel, kami turun bergandengan tangan, seakan-akan salah satu dari kami takut jatuh.

Hidangan sudah tersaji. Ruap aroma daging bakar, bawang bombai … tapi aku merasa sayang menghapus tilas hangat bibir Angel.

“Ayo!” Angel mempersilakan. Rasa lapar baru kusadari dengan caraku menyantap. Kuraih tempat lada hitam tabur. Kupandang sejenak desain yang indah itu. Setelah kutaburkan ke tengah sajian, kumasukkan wadah mungil itu ke ransel, saat Angel sedang menunduk.

Sesekali kami bercerita. Dan Angel menagih janjiku membawakan buku untuknya. Aku sangat ingat, menyimpannya di ransel. Saat kami menikmati es krim cokelat mirip lava leleh terlindung gumpalan bola dingin, kutulis ucapan dan tanda tangan di halaman kolofon novelku.

Baca juga  Danau, Kisah Pria-pria Bermasalah

“Ini cerita erotis … hm, menurutku romantis, sih,” ujarku. Bagi Angel, tema apa pun tidak masalah, kecuali dia tidak suka. Ini penukar terima kasihku yang kusiapkan dari tanah air.

“Pasti aku akan membacanya,” Angel berjanji. “Setelah kau pulang.”

Saat mengucapkan kata “pulang” terasa berat. Perpisahan, apalagi kami hanya bertemu intens dalam beberapa jam, tentu menciptakan rasa kehilangan begitu dalam.

Aku sengaja menambah nilai drama: “Aku tak ingin kemalaman sampai di Leiden.”

“Aku membayar dulu.” Angel memberi isyarat kepada pelayan yang kemudian menuju kasir meminta nota tagihan. Angel membaca catatan di bawah jumlah euro yang harus dibayar. Matanya menatap pramusaji. Perempuan muda bercelemek cokelat itu menoleh ke meja kasir. Dari sana melangkah seorang pria dengan cambang lebat namun rapi.

“Selamat malam,” sapanya dalam bahasa Inggris. “Kalian telah melakukan tujuh dosa.”

“Dosa? Tujuh?” Aku terperangah.

“Pertama, kalian makan di waktu yang seharusnya untuk berdoa. Kedua, membuka dan memindahkan kitab suci kami tanpa meminta izin. Ketiga, kalian berciuman di mimbar kudus itu. Keempat, tidak berdoa saat hendak makan, itu mirip iblis. Kelima, Anda …,” dia memandangku, “mencuri wadah lada hitam. Keenam, Anda memberikan karya tak senonoh kepada wanita ini.”

Hening sesaat memberi waktu aku terperanjat. Kupandang Angel yang tampaknya tenang-tenang saja.

“Ketujuh?” tanyaku kemudian.

“Kalian akan membayar dengan kartu yang tak berlaku di bumi. Ini sebuah gereja … bila Anda ingin tahu. Derma kalian sangat diharapkan. Pakailah uang tunai.”

Tanpa bicara, Angel memasukkan kembali kartu alat bayarnya. Aku yang menguras isi dompet. Sepeninggal pria berwajah Timur Tengah itu, aku teringat nama restoran ini: The Seven Sins. Aku tersenyum sebelum menggeleng-geleng. Kuambil wadah lada hitam di ransel, mengembalikannya ke meja. “Mencuri memang berdosa ….”

Di mobil, saat kami kembali berciuman itulah terdengar bunyi gemuruh sesuatu yang berat runtuh, bersaing dengan lengking alto penyanyi metal di radio. Dari jendela kaca kulihat dinding berhias kaca patri melayang turun. Selanjutnya aku tak ingat apa-apa.

***

Warna ruangan serbajingga mengelilingiku. Ini warna gaun Angel. Aku bangkit duduk di tengah ranjang. Seseorang yang menyembunyikan sayapnya, menunggu kubicara.

“Di mana Angel?” tanyaku demikian khawatir.

“Angel? Ah, dia satu-satunya malaikat perempuan. Nakal pula. Baru saja pergi menemui Yahya. Mungkin sedang mencari hiburan. Lusa dia akan menjalankan tugas berikutnya.” ***

Kurnia Effendi dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, 20 Oktober 1960. Ia telah menerbitkan 25 buku aneka genre (puisi, cerpen, esai, novel, dan memoar). Karyanya yang mutakhir berupa novel tentang Raden Saleh yang ditulis bersama Iksaka Banu, berjudul Pangeran dari Timur, terbit Februari 2020.

Average rating 4.2 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Garin

    Hanya cerita. Iya, hanya cerita, sebagai sastra yang menuntut sekadar cerita, karya ini nilainya nol. Koran Tempo redakturnya inferior, khas masyarakat poskolonial suka yang berbau asing. Relevansi dan kontribusi buat sastra indonesia apa?

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: