Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Buku-buku Tak Punya Otak

Ilustrasi dok.pribadi penulis

3.9
(18)

Saya dulu, mungkin juga sebagaimana Anda, sangat percaya kalau buku adalah jendela dunia.

Saya ingat sekali, ketika SMP saya bisa hafal nama latin rambai (Soneratia sp.) dan khasiat buah tersebut dari sebuah buku terbitan Balai Pustaka yang bercerita tentang kegigihan seorang anak di Kalimantan menuntut ilmu. Dalam perjalanan ke sekolah ia melewati banyak pohon, tak terkecuali pohon rambai, tempat orangutan kerap bergelayutan. Ya, buku itu bukan bercerita tentang rambai. Tapi, salah satu pengetahuan yang melekat di kepala saya hingga hari ini adalah tentang rambai itu.

Hingga SMA, perpustakaan menjadi tempat yang nyaman untuk menghabiskan jam istirahat atau membaca sepuasnya ketika guru mata pelajaran tertentu absen dan kami diarahkan ke perpustakaan agar tidak ribut. Perpustakaan di Fakultas Pertanian Universitas Andalas tidak menghadiahi saya kenyamanan semacam itu. Selain karena letak perpustakaannya relatif tidak strategis (nyempil di lantai 2 atau 3 sebuah gedung yang lengang), juga karena semua koleksinya adalah buku, jurnal, dan skripsi akademis. Saya sempat beberapa kali mengunjungi perpustakaan kampus yang megah dengan koleksinya yang variatif, tapi entah saya malah lebih nyaman membaca di wisma, rumah kontrakan lima-enam kamar yang dihuni 10-12 mahasiswa dari fakultas yang sama. Salah satu penyebabnya karena rekan-rekan wisma saya adalah “orang-orang penting” di kampus: ketua dan para pengurus BEM, aktivis dakwah kampus, dan unit kegiatan mahasiswa lainnya. Apa hubungannya? Koleksi buku mereka banyak sekali. Dari genre pemikiran, pergerakan, self-branding, dan fiksi. Satu lagi, kami langganan koran: Media Indonesia dan Republika.

Buku-buku atau bahan bacaan di wisma adalah salah satu sumber kegembiraan dan alasan kenapa saya lebih betah menghabiskan akhir pekan dengan leyeh-leyeh di kamar sambil membaca buku (tentu saja setelah aktivitas rutin seperti mencuci baju, menyetrika, atau memasak bersama). Tapi, kebiasaan itu pula yang membuat saya sempat ditegur oleh para senior sampai-sampai ia melarang saya membaca buku-buku koleksinya. Kenapa? Karena saban membaca buku, saya selalu membawa pensil. Pada ide atau kalimat atau kutipan yang tak saya sepakati atau, paling tidak, potensial diperdebatkan, saya akan menggarisbawahinya atau bahkan membuat catatan khusus di tepi halaman. Biasanya saya akan menghapusnya lagi begitu “dialog” saya dan buku menemukan titik temu. Biasanya saya akan menyalin “hasil dialog” itu di buku tulis. Tapi, karena saya membaca banyak sekali buku dan hampir semuanya tidak bisa saya terima begitu saja buah pemikiran penulisnya sehingga banyak sekali halaman dalam banyak judul yang saya garisbawahi, coret, atau beri catatan, tak semuanya sempat saya hapus. Yaaa tentu saja, pemilik bukunya kesal. Waktu itu saya sedih. Hari ini, saya memaklumi apa yang para pemilik buku-buku itu lakukan.

Baca juga  Dian

Salah satu yang saya syukuri terkait budaya mencoret-coret isi buku semasa kuliah itu adalah hal itu dilakukan sebagai bentuk dialog saya dengan penulisnya. Lho, bagaimana sekarang? Hari ini, saya makin kerap mencoret-coret isi buku bukan hanya dengan menggarisbawahi kalimat atau memberi catatan di tepi halaman. Hari ini, saya bisa menyilang satu halaman penuh, bahkan tak jarang satu buku penuh.

Mulanya saya pikir kebiasaan ini karena banyaknya buku yang saya baca dan tulis telah membentuk standar pengetahuan yang terus meningkat. Tapi, setelah saya timbang lagi, alasannya bukan itu. Banyak sekali buku di rak saya berisi tentang hal-hal yang “tidak lagi saya butuhkan”, tapi saya terus membacanya. Banyak sekali buku-buku lama yang “saya hafal isinya dan letak coretannya di mana”, tapi mencoret satu halaman penuh atau bahkan semua halaman dalam buku tersebut tak pernah saya lakukan.

Saya akhirnya menemukan fakta, semua buku yang saya silang isinya itu adalah buku-buku terbitan di atas tahun 2009. Temuan itu paling tidak memberikan saya banyak informasi tentang kenapa buku-buku sangat buruk itu bisa terbit?

Judul-judul buku dalam kategori self-publishing dan atau antologi bersama yang dibiayai urunan oleh penulisnya mendominasi. Sebagian kecil lainnya barulah buku-buku keluaran penerbit mayor dengan stempel dibaca jutaan kali atau karena penulisnya adalah bintang media sosial dengan pengikut bejibun. Tapi, yang membuat makin miris adalah, buku-buku dengan embel-embel literasi juga banyak sekali masuk dalam kategori “silang penuh” ini.

Hari ini, kemudahan menerbitkan buku, ajakan mengajak menerbitkan buku sebanyak-banyaknya di bawah projek literasi, dan antologi bersama yang dibiayai urunan demi merespons momen dan keadaan tertentu, melupakan hal fundamental dalam urusan merilis jilidan teks ilmu pengetahuan: kemampuan penulisnya dan kurasi yang ketat. Maka, buku-buku (itu) pun menjelma jilidan berlembar-lembar cetakan teks dengan nama penulis, judul, dan ISBN di sampul. Udah itu aja! Ya, jilidan semata. Lalu jeprat-jepret sana sini. Buat poster sana-sini. Bincang buku ono-ini! Jendela dunia, rumah ilmu pengetahuan, pemantik kritisisme, atau bahkan peranti pelenting imajinasi, sudah tak lagi masuk dalam pertimbangan dalam perilisan buku, terutama “perbukuan bebas”—untuk menyebut karya-karya yang lahir tanpa pengetahuan dan kemampuan menulis serta proses kuratorial tadi.

Baca juga  Anak Ibu

Sampai di sini, saya, mungkin juga sebagian Anda, menjadi geli dengan slogan “buku adalah jendela dunia”. Glorifikasi buku lagi bukan zamannya, apalagi di zaman ini. Saban buku terbit, kekhawatiran dan kecurigaan kerap sekali menghinggapi saya. Betul kata AS Laksana, bagaimana kita berharap orang-orang akan membaca buku, kalau kita tidak menulis dengan sungguh-sungguh.

Ya, tidak usah berharap orang-orang akan membaca bukumu, kalau kamu sendiri menulisnya asal jadi. Tidak usah sibuk beropini dengan membawa-bawa buku sebagai mesin kebudayaan, kalau membaca dan menulis baru kamu lakukan di waktu luang.

Berdialog dengan buku hari ini sudah jadi barang mewah karena derasnya bombardir jilidan teks yang ditulis oleh orang-orang yang lupa bahwa, dalam kebiasaan membaca kritis, buku adalah rekan bertukar pikiran, bukan narasi agung tak terbantahkan. Kalau otaknya kosong, ya buku itu layak masuk tong!

Lubuklinggau, 7 April 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Average rating 3.9 / 5. Vote count: 18

No votes so far! Be the first to rate this post.

5 Comments

  1. Benar, menjamurnya self publishing saat ini tidak diimbangi dengan kualitas karya yang baik.

  2. Waduh, sepertinya kudu usaha lebih keras lagi ni, supaya buku berikutnya ga masuk tong 😬.

  3. Titan Sadewo

    seperti biasa, bang Benny selalu dar der dor!😂🙏

  4. Biasalah bng. Acara nubar itu cuma buat cari cuan. 😂 Masalah quality masih nol.

  5. Next time kalo beli buku 2 copy yah Ben, abis dicoret kirim ke aku, lumayan terma bersih hahaha

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: