Cerpen, Fitri Astuti Lestari, Suara Merdeka

Anak Perempuan

4.9
(9)

Namaku Pramastuti. Bapak dan ibuku memanggilku dengan sebutan Genduk, sebagai penanda bahwa aku adalah anak perempuan mereka. Hanya dua tahun aku menjadi anak satu-satunya bagi orang tuaku. Ketika lahir Pranowo, maka aku resmi menjadi anak sulung. Sejak saat itu aku lebih banyak bersama Yu Narsi, yang diambil dari pelosok desa untuk mengasuhku. Segala kemeriahan menyambut Pranowo digelar, mulai dari memotong seekor sapi dan nanggap wayang kulit semalam suntuk. Tidak lupa dua ekor kambing disembelih sebagai aqiqah. Waktu aku lahir, menurut ibu cukup seekor kambing saja yang disembelih.

Aku ini anak perempuan mereka. Kedua orang tuaku biasa dipanggil sebagai bapak dan ibunya Pranowo oleh seluruh keluarga besar dan para tetangga. Mengapa bukan bapak dan ibunya Genduk? Aku tidak tahu. Di keluarga lain, orang tua juga biasa dipanggil seperti itu, yaitu dengan nama anak pertama laki-laki. Bapaknya Bimo, bapaknya Fahmi, bapaknya Danang, dan sebagainya. Meskipun mereka juga memiliki anak perempuan sebagai sulung, namun nama anak laki-lakilah yang dilekatkan pada para orang tua.

***

Sore itu kulihat Ibu mengambil arang beberapa bongkah, lalu meletakkannya di setrika besi. Disiramnya sedikit minyak tanah di atas arang, lalu disulutnya dengan api. Setelah muncul bara, tutup setrika berwarna hitam itu dikatupkan dengan pengait berbentuk ayam jago. Di meja makan, telah digelar berbagai kain dan selimut sebagai alas untuk setrika. Di sisi kanan tersedia telenan kayu yang diatasnya ditutup dengan beberapa lembar daun pisang.

“Mengapa Ibu setrika? Mana Yu Narsi, Bu?” tanyaku sambil meletakkan pantatku di dipan samping meja. Dipan dengan kasur kapuk randu itu biasa digunakan kami sekeluarga untuk duduk atau rebahan sambil menonton televisi, yang diletakkan di sudut ruangan, tak jauh dari meja makan.

“Narsi pulang, Nduk. Setelah emaknya meninggal, rupanya hari ini ada pembagian harta waris,” sahut Ibu sambil mengangkat setrika ke meja. Lincah tangannya menggambil seragam PNS bapak, lalu menggosoknya.

“Yu Narsi berapa bersaudara tho Bu?” ada rasa ingin tahu lebih jauh tentang orang yang sejak kecil menggendong dan merawatku itu. Selama ini yang kutahu, pengasuhku hanya memiliki seorang adik yang sering mendatanginya untuk meminta uang baginya dan emak mereka di kampung.

“Sebenarnya Narsi punya seorang kakak laki-laki yang merantau di Jakarta. Tapi kakaknya itu tidak pernah pulang dan tidak juga peduli terhadap emaknya. Narsi anak kedua, terus anak terakhir ya si Siti yang sering kemari itu. Kasihan Narsi, sudah banyak berkorban untuk keluarganya. Menghidupi emaknya dan membiayai sekolah Siti. Semoga dia mendapat warisan yang layak. Meski emaknya hanya punya rumah kecil tapi kalau dibagi, ya lumayanlah buat Narsi.” Melihat air mukanya, Ibu terlihat sungguh-sungguh memikirkan perempuan yang sudah bekerja padanya selama tiga belas tahun ini, sejak kelahiran Pranowo.

Baca juga  Tepi Laut Kadra

Aku termenung. Membayangkan wajah Yu Narsi yang bulat telur, dan tubuhnya yang berisi, terasa empuk dan hangat ketika ngeloni aku sewaktu kecil. Berapa usianya kini? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Warisan kalau sesuai adat di sini itu, memakai sistem sepikul sak gendongan, Nduk,” tutur Ibu sambil menyorongkan setrika ke arah telenan kayu. Digesutnya setrika itu di atas daun pisang, sehingga ketika permukaan besi beradu dengan daun menimbulkan bunyi “kresssss”. Lalu menguar aroma khas daun pisang yang ditindas panas, mengisyarakan adanya kloropil yang terbakar. Ketika setrika diangkat, jejaknya coklat dan beberapa terlihat kehitaman. Daun pisang yang tadinya hijau merona seperti perawan, kini terlihat lesu dan berkerut. Adakah kandungan lignin, allantoin, hemiselulosa, protein, dan polifenolnya masih tertinggal di sana?

Aku menggapai-gapai penjelasan guru Biologiku beberapa waktu lalu tentang daun pisang yang mengandung antioksidan, tapi gagal karena ibu meminta perhatian. “Nduk! tahu tidak kamu tentang sepikul sak gendongan?” Ibu menoleh ke arahku.

Lamunanku tentang daun buyar. Beberapa bulir keringat kulihat menggantung di wajah Ibu. Aku hanya diam, takjub memandang wajah ibu yang berkilat-kilat seperti kue cucur. Tanpa menunggu jawabanku, ibu meneruskan pembicaraannya.

“Sepikul itu artinya jatah warisan anak laki-laki ada dua bagian. Sedangkan bagi anak perempuan segendongan, yang artinya satu bagian. Coba kamu perhatikan orang yang memikul di pasar itu kan bawa dua bagian, di depan dan belakang. Biasanya aktivitas memikul itu dilakukan laki-laki. Sedangkan perempuan biasanya nggendong tenggok di belakang punggungnya,” jelas Ibu.

Aku merenungi penjelasan Ibu. Itu artinya Yu Narsi dan adiknya hanya akan mendapat masing-masing satu bagian, sementara kakak laki-lakinya yang tidak peduli pada emaknya itu akan mendapat jatah dua bagian? Alangkah tidak adilnya. Tidakkah itu bisa diubah? Bukankah anak, entah itu laki-laki dan perempuan, harusnya memilki hak yang sama?

***

Namaku Milastuti. Sejak menikah dengan Pramono, dari desaku yang dingin aku diboyong ke sebuah kota kecil yang penuh gunung batu, hingga sekarang aku menua di sini bersamanya. Kebahagiaan mengaliri hidupku, mulai lahirnya Pramastuti yang kami panggil Genduk, lalu disusul Pranowo. Kata suamiku, kebahagiaan baginya adalah memiliki anak lelaki. Maka ketika Genduk lahir, hatiku risau melihat mukanya yang masam. Tapi akhirnya Pranowo hadir, menggenapi segala yang kurang dalam hubunganku dengan suamiku.

Sekarang Pramono sudah pensiun. Anak-anak sudah pindah dari rumah kami. Genduk bekerja di sebuah perusahaan konstruksi sebagai sekretaris. Pranowo menjalankan bisnis percetakan dan telah menikah serta memiliki dua anak. Sebagai seorang ibu, aku tidak pernah membedakan antara anak perempuan dan anak laki-lakiku. Namun adakalanya aku merasa bersalah karena tidak memiliki kuasa apa pun pada mereka, ketika ketidakadilan diterima salah satunya. Oh bukan, bukan salah satunya. Tapi selalu Genduk yang harus menepi dan mengalah. Aku tahu dia kecewa ketika keinginannya untuk kuliah di kedokteran harus kandas, karena bapaknya lebih memilih memberi kesempatan Pranowo daripada Genduk.

Baca juga  Rumah Tuhan

“Nduk, tolong mengerti. Jika kamu kuliah di kedokteran, sementara adikmu mau masuk ke sekolah teknik arsitektur, bagaimana mungkin Bapak dapat membiayai. Gaji Bapak tidak akan cukup. Memang kamu dapat beasiswa. Tapi di luar biaya kuliah itu juga besar. Untuk itu Bapak minta kamu mengalah. Ambillah pendidikan yang bisa dapat pekerjaan dengan cepat. Bantu Bapak agar cita-cita adikmu bisa terwujud,” demikian waktu itu suamiku meminta pengertian Genduk.

Dengan gemetar dan berkaca-kaca putri sulungku itu mengangguk. Pada saat yang sama hati seorang ibu merasa hancur. Sesungguhnya Genduk yang cerdas dan selalu mendapat prestasi akademik lebih tepat mendapat dukungan daripada adiknya. Yang aku tahu, Pranowo bahkan tidak tertarik di bidang teknik. Bapaknyalah yang menginginkan itu. Maka tidak heran jika kemudian anak laki-lakinya itu DO dari kampusnya, dan lebih suka berbisnis daripada menyelesaikan pendidikan formalnya.

“Katakan pada anak perempuanmu itu untuk segera menikah! Usianya sudah 35 tahun mau nunggu apa lagi? Itu semua teman sepermainannya sudah beranak pinak. Ini dia masih melajang saja. Malah apa itu, sibuk ikut segala macam organisasi. Ah itu yang membuat dia malas menikah,” suamiku bicara dengan ketus.

Dia rupanya lupa jika anak perempuannya selama ini sibuk bekerja membanting tulang untuk ikut membiayai adiknya kuliah, mengongkosi adiknya ketika menikah, dan mengangsur pinjaman bapaknya di bank akibat membantu permodalan Pranowo. Kesibukan memikirkan nasib keluarganya membuat sulungnya itu lebih suka bekerja daripada menjalin hubungan dengan laki-laki.

“Belum ketemu yang tepat, Bu,” begitu kilah Genduk apabila aku menanyakan soal calon suami untuknya.

Begitulah anak perempuan kami. Dia menua dengan segala beban berat di pundak dan punggungnya. Dia seperti kuda pedati yang berjalan pelan membawa beban yang terseret-seret di belakangnya.

“Kenapa harus Genduk, Pak? Kita nyambat Pran saja. Dia kan sudah nyaman hidupnya. Secara ekonomi lebih mapan dari kakaknya. Tidak ada salahnya, kita minta bantuan pada anak laki-laki kita,” begitu kuutarakan pendapatku pada suamiku, ketika dia ingin memperbaiki rumah.

Rumah tua kami membutuhkan renovasi pada bagian atap agar kami terbebas dari bocor saat musim hujan. Namun seperti yang sudah kuduga, dia menolaknya.

“Bu, sebaiknya kita tidak mengganggu Pranowo. Biarkan dia fokus pada pekerjaannya dan pada keluarganya. Menjadi seorang laki-laki itu berat. Dia harus bertanggungjawab terhadap hidup istri dan anak-anaknya. Beda sama wanita. Kalau wanita itu hidupnya ditanggung suaminya. Jadi kalau Genduk menikah, ya tidak perlu kerja banting tulang. Makanya suruh dia cepat menikah. Wanita berkarier itu ya percuma. Wong akhirnya juga ngurusi dapur, suami, dan anak-anaknya,” begitu kilahnya.

Baca juga  Atavisme

***

Aku mengambil cuti, demi bisa pulang ke rumah orang tuaku. Kata Bapak, ada hal penting yang akan dia bicarakan. Ternyata Bapak hendak menjual rumah, untuk menyelesaikan beberapa utang. Dan sisanya akan digunakan untuk membeli beberapa bidang tanah dan rumah di pinggir kota. Jadilah sore itu aku dan Bapak pergi untuk melihat tanah yang hendak dibeli. Melewati jalan berkelok-kelok sampailah kami ke sebuah rumah kecil, dengan pekarangan yang luas. Wajah Bapak sumringah begitu turun dari mobil dan langsung menuju rumah tersebut. Rumah bercat putih itu terlihat sepi. Pintunya terkatup rapat, begitu juga dengan jendela rumah. Di samping kanan kiri menuju rumah, berjajar tanaman bunga beraneka warna. Mereka seperti gadis-gadis cantik dengan kostum berwarna-warni yang sengaja berdiri menyambut kedatangan kami. Aku tersenyum, terasa indah di sini. Aku mulai menyukai ide Bapak. Menurut Bapak, si empunya sudah mengosongkan rumah tersebut sejak sebulan lalu, karena harus pindah ke lain kota.

“Gini lho Nduk, kenapa aku ingin membeli rumah dan tanah ini, semata-mata karena aku memikir masa depan anak. Lha itu ibumu yang tidak paham,” Bapak menjelaskan dengan nada yang optimistis dan tegas.

“Sekarang coba kamu pikir, Nduk. Adikmu itu tinggal di kota. Uang sewa untuk tempat produksi buku itu kan mahal. Kalau Bapak beli tanah ini, Pranowo bisa menjalankan bisnis di sini. Dia juga bisa membuat rumah di sini. Bahkan, tanah ini untuk membangun rumah bagi anak-anaknya Pranowo juga masih memungkinkan. Seandainya dia ingin berhenti berbinis pun ada banyak hal yang bisa dia lakukan di tanah seluas ini. Tuh di sana, ini tanahnya sampai batas pohon beringin yang di sana itu,” jelas Bapak sembari mengarahkan jari telunjuknya ke utara.

Selanjutnya Bapak menjelaskan rupa-rupa rencana, di mana tidak ada namaku disebut di situ. Aku diam mematung dan tiba-tiba merasa lelah. (37)

Fitri Astuti Lestari lahir di Semarang 12 September 1973. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro tahun 1999 ini, selama kuliah aktif dalam dunia seni teater kampus dan menulis fiksi. Salah satu karya penyutradaraan adalah pementasan lakon Wek-wek karya D Djayakusuma yang dipentaskan di Universitas Diponegoro dan Festival Teater Mahasiswa Tingkat Nasional di Padang pada tahun 1994. Beberapa karya fiksi berupa cerpen, puisi, dan esai dimuat di Majalah Sastra Horison, Harian Suara Merdeka, Wawasan, tabloid Cempaka, dan beberapa media cetak lainnya.

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

8 Comments

  1. Wah sumpah bagus banget.. mau nangis bacanya..

  2. Pandangan terhadap Genduk sebagai seorang perempuan masih banyak terjadi di sekitar kita. Padahal zaman sudah berubah.
    Kasihan Genduk

  3. YPurwanto

    Alur ceritanya 3 dimensi, keren. Saya sebagai pembaca pemula dengan asik masuk ke ruang alur cerita. Terimakasih sudah menginspirasi dan mengajarkan saya sebagai anggota kaum pria/kaum bapak untuk berlaku adil

    • Ratri

      Suka banget karena mengangkat tema posisi anak perempuan dalam sistem keluarga Jawa dengan segala tantangannya,diolah jadi cerita yang menarik

      • Lis

        Ceritanya masih relevan sampai sekarang. masih ada orang tua yang menomorsatukan kepentingan anak lelakinya dan menomorduakan anak perempuannya. Itu dialami teman saya. Sungguh prihatin. Terus angkat kisah-kisah persoalan perempuan. Biar jadi pencerahan

    • Riri

      Realitas lingkungan patriarki yg terus harus diperjuangkan tak hanya oleh perempuan, salah satunya melalui karya. Salut Mbak Fitri, konsisten memberikan pencerahan melalui cerpen. Semoga perempuan Indonesia mampu setara dan makin maju. Salam sastra!

  4. Catarina

    Patriarki yg dibungkus dg alur yg lembut. Bonusnya, saya jadi tahu unsur yg terkandung dalam selembar daun pisang, dan betapa muka seorang ibu itu sungguh sangat memikat hingga terlihat seperti cucur. 🙂

  5. Wawan Arif

    Duh, baru baca beberapa paragrag awal saja, sudah terseret seret masuk dalam cerita.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: