Alim Musthafa, Cerpen, Republika

Hari Raya Penderitaan

3.8
(4)

Pagi merekah, gaung takbir bertalu, jalan-jalan kampung Topoar mendadak ramai. Para lelaki berbondong-bondong menuju masjid terdekat, sementara para wanita hilir mudik menyunggi talam, hantaran aneka kue dan masakan dikirim ke rumah-rumah kiai aji sebagai selamatan.

Namun, saat semua orang diberkahi kebahagiaan hari besar itu, Jamila hanya meringkuk di dalam kamar, mendekap kesedihannya sendiri, meski Tuma, ibunya yang lain, tak berhenti memintanya mandi dan bersolek diri.

“Mau mandi sendiri apa mau dimandikan, Jamila?” Akhirnya Sukri, ayah Jamila, turun tangan. Ia membuka pintu dengan kasar, sedang tangannya memegang batang sapu lidi seukuran tangan anak kecil.

Jamila tetap tak peduli. Ia duduk membisu di tubir ranjang dengan tatapan kosong. Menghadap tembok yang tertempel gambar kaligrafi ayat Alquran.

Tak ada respons, lelaki yang sudah dikuasai amarah itu gegas mendekati Jamila, meraih tangannya dengan kasar, lalu menyeret paksa ke luar kamar. Beberapa kali ia mendaratkan batang sapu itu ke tubuh putrinya setiap kali meronta dan berusaha kabur.

“Cepat mandi! Ayah tak mau tahu, pokoknya kamu harus sudah selesai dandan sepulang ayah dari masjid nanti,” tegas Sukri setelah membukakan pintu kamar mandi untuk Jamila.

Jamila sesenggukan. Ia tidak hanya merasakan sakit fisik, tapi juga tekanan batin yang mendalam. Ia tidak tahu bagaimana ayahnya bisa sekejam itu. Padahal, hari itu hari raya, di mana ia seharusnya dimanja dengan kebahagian, malah tak berhenti dicekoki penderitaan.

Jamila hanya bisa pasrah. Ia menyadari nasib buruk memang selalu membayang-bayangi hidupnya sejak Aminah, ibu kandungnya, pergi untuk selamanya. Mula-mula, ia dibuat sesak hatinya oleh tingkah ayahnya yang memilih menikah lagi sebelum kematian ibunya genap mencapai tujuh hari. Padahal, ia sudah begitu berduka atas kehilangan orang tersayang itu. Karena itulah, ia tidak kerasan lagi tinggal di rumah dan memilih buru-buru balik ke pesantren tanpa menunggu acara tahlilan terakhir untuk kematian orang yang telah melahirkannya itu.

Ia tak habis pikir kenapa ayahnya begitu mudah dan buru-buru menikah lagi dan kenapa juga harus memilih wanita itu. Padahal, dari desas-desus yang beredar, ia tahu wanita itulah yang justru menjadi penyebab ibunya jatuh sakit dan kemudian meninggal.

Baca juga  Jumra

Perasaan Jamila berangsur-angsur membaik setelah kembali berbaur dengan teman-temannya di pesantren. Ia mulai menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan untuk melupakan kesedihan sekaligus kebencian yang ia bawa dari rumahnya. Ia kembali menata hatinya. Membuka lebar-lebar masa depannya. Dalam setiap kegiatannya, tak lupa ia selalu meniatkan untuk meng hadiahkan pahala-pahala amal baiknya kepada sang ibu yang telah meninggal agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Namun, ujian untuk Jamila ternyata tidak berhenti sampai di situ. Setelah semuanya hampir membaik, Sukri bersama istrinya tiba-tiba mengunjunginya dan mengabarkan sudah menunangkan Jamila. Tentu saja, ia syok. Ia berusaha menolak pertunangan sepihak itu dengan cara menangis dan memukul-mukul dada ayahnya, tapi ayahnya tak peduli, bahkan mengatakan, Jamila beruntung telah memiliki tunangan yang diidam-idamkan banyak gadis di desanya.

Jamila tak juga berhenti menangis meski orang tuanya sudah pulang dari pesantren. Ia duduk bercangkung di pojok kamar sembari membenamkan wajah ke kedua lututnya yang tertutup rok panjang. Satu-dua temannya mendekat dan berusaha menghibur. Tapi, usaha itu sia-sia. Tangisan Jamila makin menjadi-jadi. Sementara itu, teman-temannya yang lain hanya diam membisu di mulut pintu, bahkan sebagian sampai meneteskan air mata karena kasihan.

Entahlah, mengapa Jamila begitu tak menginginkan pertunangan itu? Padahal, menurut penuturan ayah dan ibu tirinya, Tajib, pemuda yang telah resmi menjadi tunangannya itu adalah pemuda tampan dan terkaya di desanya, pemuda yang tentu akan mampu menjamin hidupnya sampai tua. Tapi, Jamila mengatakan, tak peduli dan tak membutuhkan itu. Sebab, ia sudah punya pilihan sendiri. Seorang santri yang telah ia beri harapan dan berjanji mendatangi rumahnya dan meminangnya suatu hari nanti.

Status pertunangan itu ternyata benar-benar menjadi beban bagi Jamila. Gairah belajar pun jadi padam. Kalaupun ikut hadiran, ia lebih banyak termenung. Bahkan, kadang didapati terisak saat sedang menyendiri di pojok kamar. Teman-temannya juga bingung, sebab hiburan apa pun tak pernah mempan. Bahkan, karena merasa kasihan, salah satu temannya pernah nekat membujuk orang tuanya agar anak gadisnya itu dibebaskan, tapi sayangnya mereka tetap teguh pendirian.

Baca juga  Mali

Keadaan Jamila tetap tak juga membaik sampai akhirnya liburan pesantren tiba. Liburan menjelang bulan puasa. Namun, berbeda dari santri pada umumnya, Jamila justru tak menyambut baik liburan panjang itu. Ia sepertinya tak ingin pulang ke rumah. Pulang ke rumah, menurutya, hanya menyerahkan diri pada penderitaan. Tapi, pada akhirnya ia tetap pulang juga karena ayahnya menjemputnya beberapa hari kemudian.

***

Tuma berdiri kaku di ambang pintu saat Jamila baru saja usai mandi. Ia mengawasi anak tirinya itu yang tetap mematung, terisak-isak, dan tak hendak menyentuh setelan baju baru di sisinya. Setelan baju itu baru saja ia antarkan untuk Jamila setelah lima hari yang lalu ia terima dari keluarga Tajib sebagai hantaran untuk dikenakan saat Lebaran.

“Cepat pakai bajunya, Jamila! Sebentar lagi tunanganmu datang,” teriak wanita itu dengan raut yang mulai merah padam.

Jamila hanya melirik sekilas setelan baju itu, lalu kembali terdiam. Ia tahu, setelan baju itu pemberian Tajib dan ia merasa tak sudi memakainya meski harganya mahal dan tampak cantik jika melekat pada tubuhnya.

“Kamu kira, dari tadi ibu hanya menggertak sambal, Jamila?” Wanita itu tiba-tiba mendekat, meraih kuping Jamila, lalu menjewernya kuat-kuat sampai gadis malang itu semakin terisak. “Ayo cepat pakai jika tak ingin merasakan yang lebih keras lagi!”

Tangis Jamila kian tak terbendung. Akhirnya, ia terpaksa menuruti keinginan ibu tirinya. Ia pikir, akan lebih menderita lagi jika terus-terusan menolaknya. Ah, Jamila benar-benar bernasib malang.

“Berhentilah menangis dan dandanlah yang cantik! Sebentar lagi tunanganmu akan menjemput,” tegas wanita itu setelah melepaskan jeweran dan kembali mengawasi.

Jamila beranjak, mendekati cermin di sisi ranjang, menatap wajahnya sendiri sebelum akhirnya mengenakan setelan baju itu pelan-pelan. Sementara itu, di kedalaman hatinya, ia mengutuk wanita itu, membenci setelan baju di tubuhnya, dan mulai memikirkan cara untuk membuat mereka kecewa dan menyesal.

Baca juga  Savonette

***

Tajib datang dengan motor gede, menjinjing parsel Lebaran, lalu menyerahkannya kepada Sukri dan Tuma yang berdiri menyambutnya dengan bahagia. Sukri lantas mempersilakan Tajib masuk dan duduk di ruang tamu yang sebelumnya sudah disajikan aneka makanan dan minuman khas. Beberapa saat Sukri mengajak Tajib mengobrol sebelum akhirnya meminta Tuma memanggil putri semata wayangnya.

Namun, yang ditunggu tak juga muncul, hanya Tuma yang keluar dengan raut kepanikan.

“Anu, Mas… ” Tuma mengadu dengan suara terbata, “Jamila sudah tak ada di kamarnya. Di kamar lain juga tidak ada.”

“Bagaimana ini bisa terjadi? Kan kamu yang menjaga rumah? Jadi ibu kok tidak becus!” Suara Sukri mendadak meninggi.

“Maaf, Mas, saya memang tidak pernah lihat Jamila keluar kamar.”

“Pasti kamu yang teledor!”

Sukri pun bangkit, meninggalkan Tajib, dan mencoba memeriksa kamar demi kamar. Namun, pemeriksaan itu sia-sia saja. Jamila memang sudah tidak ada di sana.

“Kita kejar! Mungkin masih tak jauh dari sini,” ajak Sukri.

Sukri dan istrinya bergegas turun ke jalan. Diikuti Tajib. Mereka bertanya kepada setiap orang yang ditemui di jalan. Namun, orang-orang itu tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan.

Jamila yang dicari-cari sudah berada di areal permakaman, duduk bersimpuh di sisi nisan sembari menangis tersedu tanpa memedulikan peziarah-peziarah yang mulai datang. Pada nisan itu ia tak berhenti menyeru, “Ibu, Jamila sudah tidak kuat lagi. Jamila ingin menyerah dari penderitaan ini.” ***

Kota Ukir, 2021

Alim Musthafa, lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Alumnus PBA di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk. Selain mengajar, ia menulis fiksi dan menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab. Karya-karyanya telah tersiar di sejumlah media nasional dan lokal, seperti Media Indonesia, Republika, Solopos, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Denpost, Analisa, Radar Malang, Bhirawa, Radar Banyuwangi, dan Tanjungpinang Pos.

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: