Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Xenoglossy dan Sastra

4
(4)

Pekan pertama Oktober 2019, saya diminta untuk menjadi pemantik diskusi dalam sebuah perkumpulan terbatas di Petaling Jaya, Malaysia, yang membincangkan sastra dan aktivitas kreatif saya di Lubuklinggau. Ditilik dari garis wajah, dapatlah dikatakan para peserta yang berasal dari Malaysia dan Singapura itu memiliki darah Melayu. Ketika sesi diskusi dibuka, hampir semua peserta berbicara. Bahasa yang mereka gunakan sungguh “mengganggu” saya. Tak satu pun peserta berdarah Melayu itu sepenuhnya menggunakan bahasa Melayu. Bahkan, beberapa orang benar-benar menjadikan bahasa Melayu sebagai sisipan. Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang disisipi bahasa Melayu!

Saya tiba-tiba teringat fenomena komunikasi bahasa Indonesia yang diselipi kosakata atau istilah bahasa Inggris yang menghinggapi generasi milenial di Indonesia. Berikut beberapa hasil tangkapan layar kicauan pengguna Twitter yang mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris:

Bahkan pengusaha terkemuka yang pernah menjadi cawapres RI, Sandiaga Uno, ketika menepis rumor silang-pendapatnya dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwal Kamil, sempat mengunggah kicauan yang dengan sengaja menggunakan bahasa Indonesia campur bahasa Inggris yang belakangan populer disebut gaya bahasa Anak Jaksel (Jakarta Selatan):

Sebentar! Apakah fenomena ini hanya menjangkiti anak Jaksel atau hanya gaya bahasa Anak Jaksel dengan ciri-ciri tertentunya yang menampilkan bahasa Indonesia yang keinggris-inggrisan itu?

Ternyata tidak.

Kebiasaan bicara ngingris itu juga menjangkiti kalangan pejabat dan petinggi Negara. Mereka tidak mengadopsi gaya bahasa Anak Jaksel dan mereka pun tidak tinggal di Jaksel.

Pada 8 Februari 2017 Kompas.com menurunkan tulisan “‘Hoax’ dan ‘Move On’, Bahas Inggris dalam Pidato Politik SBY” dengan menurunkan penggalan pidato SBY sebagai berikut:

“Marilah kita benar-benar pandai bertoleransi dan bertenggang rasa. Setelah itu marilah kita lanjutkan perjalanan kita melangkah ke depan. Move on.”

Menurut Kompas.com, kata-kata lain yang kerap disisipkan SBY dalam pidatonya, di antaranya emerging market (pasar yang berkembang), sustainable growth with equality (pertumbuhan berkelanjutan berasaskan persamaan), dan equality before the law (persamaan di hadapan hukum). Ada pula kata-kata berbahasa Inggris yang pengertiannya jelas dalam bahasa Indonesia, tetapi selalu disebut ulang oleh SBY dengan versi Inggris. Beberapa di antaranya yakni Indonesia for all (Indonesia untuk semua), justice (keadilan), diversity  (perbedaan), freedom (kebebasan), security (keamanan), dan liberty (kebebasan). 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, juga pernah melakukan hal serupa.

Think like a stranger, act like a native. Dengan begitu, bisa melihat kesempatan yang tidak terlihat. Lihat semua peluang, lalu dorong,” ujar Anies dalam sambutannya pada acara perayaan puncak hari ulang tahun (HUT) Kabupaten Kepulauan Seribu ke-16 di Pulau Pramuka, Sabtu (11/11/2017). “Mulai branding, disiapkan usaha mikro, bahkan tempat souvenir. Hal yang sederhana, kerjakan di tempat ini hal-hal yang tak pernah dipikirkan,” tegasnya kemudian.

Memang, kemunculan gaya bahasa yang mencampur-adukkan bahasa Indonesia-bahasa Inggris itu lebih mudah dijumpai di media sosial, namun tentu saja hal itu tidak sekadar muncul dari tradisi teks, melainkan diawali oleh tradisi lisan yang akhirnya, atas dasar kepraktisan, dituangkan begitu saja dalam bahasa teks. Sebagaimana yang dikemukakan oleh laman pakarkomunikasi.com, 2 dari 13 ciri bahasa media sosial adalah interaktif dan faktor emosional. Dua ciri tersebut juga merupakan sifat bahasa lisan. Oleh karena itu, bahasa-bahasa ala Anak Jaksel yang beredar di media sosial itu adalah cerminan perilaku komunikasi langsung, khususnya di antara kalangan muda, di kota-kota besar.

Untuk menegaskan kalau fenomena bicara nginggris itu sudah mewabah di kota besar, beberapa video tentang kecenderungan berbahasa campur-aduk itu juga dengan mudah kita temukan di Youtube.

Dalam sesi khusus gaya hidup di CNN Indonesia Pagi, salah satu pembawa acara mengungkapkan keluhannya hidup di ibukota dengan kalimat sebagai berikut:

“Weekend kemaren, super duper macet banget gak sih? Literally, di semua tempat. Itu annoying banget. Aku tuh ampe …. Aduh! Kawan-kawan aku tu which is pada baper sama aku. You know what I mean?”

Bahkan, kanal Vidio Liputan 6 membahas khusus fenomena ini dengan menampilkan percakapan di telepon yang menggunakan bahasa campur-aduk yang sering digunakan masyarakat di kota besar, khususnya Jakarta, sebagai berikut:

  • “Aduh, guys. Cuaca hari ini so hot banget, yess? Which is jadi pengen es kelapa gitu!”
  • “Wuih! Sih Jessie sama Ruben relationship goals banget sih. Jadi gemes!”
  • “Uwelah, pacar gue tu, literally lagi kenapa sih?”
Baca juga  Sesungguhnya Dia Sangat Cemas

Dalam ulasannya, kanal itu menyatakan bahwa fenomena di atas adalah fenomena komunikasi masyarakat kota besar, khususnya generasi mudanya. Ya, di kota-kota besar, bukan hanya di Jakarta, apalagi di Jakarta Selatan (Jaksel) saja. Beberapa responden yang terdiri dari generasi milenial ketika ditanyakan fenomena ini, mengungkapkan kalau mereka melakukan itu karena faktor lingkungan alias sekadar ikut-ikutan.

Xenoglossy

Melalui makalah bertajuk The Xenoglossy Analized by Linguist, si penulis Octavia da Cunta Botelho menerakan bahwa xenoglossy adalah perpaduan dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu ξένος (xenos) “aneh” dan γλῶσσα (glōssa) “bahasa”. Jadi, xenoglossy adalah “bahasa aneh”. Lebih jelas, Botelho menulis bahwa xenoglossy adalah kemampuan kontroversial seseorang untuk berbicara atau menulis dalam bahasa yang mereka yang tidak mereka pahami. Xenoglossy bukan hanya untuk “ceracauan” yang sepenuhnya menggunakan bahasa yang tak dipahami oleh pengucap atau penulis—karena di bawah pengaruh gangguan kejiwaan yang kompleks, tapi juga untuk ceracauan yang menyisip dalam bahasa sehari-hari.

Oleh ahli dan pemerhati bahasa, fenomena kebahasaan di atas dirumuskan dengan istilah alih kode atau campur kode. Karena pengguna xenoglossy adalah mereka yang tidak terlalu memahami apa yang diutarakan, maka dari beberapa tujuan alih kode atau campur kode—untuk mengakrabkan suasana, menghormati lawan bicara, meyakinkan topik pembicaraan, membangkitkan rasa humor, atau sekadar bergaya atau bergengsi (Sposlky, 1998: 49), oleh pengguna bahasa yang sadar, xenoglossy dengan sengaja untuk tujuan yang terakhir; bergaya atau bergengsi. Dalam xenoglossy, kode-kode yang digunakan, karena diucapkan dalam bentuk ceracauan, kemungkinan besar tak disadari oleh pasien. Dalam dunia kebahasaan, orang-orang yang biasa menyisipkan kosakata atau istilah untuk tujuan gaya-gayaan semata tak ubahnya dengan orang yang sedang mempraktikkan xenoglossy. Ivan Lanin menulis buku dengan judul Xe.No.Glo.Sa.Fi.Lia pada tahun 2018. Sayang sekali, selain subteks judul yang berbunyi Kenapa Harus Ngingris? dan sedikit penjelasan dalam bab tentang judul tersebut, buku itu benar-benar tak membeberkan kajian komprehensif tentang xenoglosafilia yang dimaksud, selain kecenderungan menggunakan istilah asing (bahasa Inggris). Tabrani Yunis, dalam sebuah artikel kebahasaan tentang kebiasan ini, secara blak-blakan penyebut penutur bahasa gado-gado ini sebagai snoobish alias sekadar gaya-gayaan.

Sebuah video di kanal Youtube Bahasa Kita Hari Ini (2018) menampilkan seorang mahasiswa yang baru kuliah di Jakarta mengekspresikan keterkejutannya karena mendapati harga tiga sachet kopi yang murah dengan campur kode bahas Inggris meskipun ia tahu kalau lawan bicaranya (penjual kopi sachet) bukanlah orang yang terbiasa dengan gaya xenoglosofilia yang ia tunjukkan; “You know, itu tuh like kejutan banget? Literally, kita cuma bayar sepuluh ribu—oh my god!which is biasa kita pesan di kafe dengan harga tiga puluh  ribu. Actually, aku baru aware tentang ini, even aku tuh ngekos di sekitaran sini. Ini tuh like surprise gitu, ‘kan, yess?

Xenoglossy adalah campur kode yang menunjukkan kebanggaan berlebih menggunaan istilah asing (bahasa Inggris), untuk menunjukkan kesan gaul, bergaya, atau lebih modern di hadapan lawan bicaranya, secara lisan dan tulisan. Karena pengertiannya yang bertendens negatif ini, pengguna xenoglossy akan kesulitan atau bahkan keliru mencari padanan bahasa Indonesia dalam memilah kata, cenderung berbicara ngingris tanpa melihat keadaan sehingga menimbulkan kesan pamer, sombong, dan norak sekaligus.

Pada titik  tertentu, xenoglossy sangat mungkin melipir pada politik identitas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Nelly Martin (2018), bahwa karena bahasa Inggris masuk di Indonesia melalui budaya pop lewar lagu-lagu dan film produksi Amerika sejak tahun 1950-an, maka mereka yang kerap menggunakan bahasa Inggris (Amerika) adalah mereka yang dekat dengan kemajuan zaman, mereka yang terus mengikuti perkembangan terkini. Lebih jauh, Nelly juga menyebutkan bahwa di masa itu, banyaknya para pejabat yang merupakan alumuni kampus (di) Amerika yang  menggunakan/menyelipkan bahasa Inggris dalam percakapannya sehari-hari ketika mereka sudah kembali/bekerja di Indonesia memberi kesan kalau bahasa Inggris sangat dekat dengan kekuasaan (Berbahasa Adalah Hak Asasi, Termasuk Bahasa Gado-gado, 2018). Bila xenoglossy masuk ke dalam ranah bahasan Nelly ini, kehadirannya bukan sekadar bagian dari ragam berbahasa, tapi juga potensial menimbulkan konflik dan kesenjangan sosial.

Baca juga  Jasmine

Jadi, alih/campur kode (code-mixing) adalah fenomena wajar dalam berbahasa di masyarakat. Namun xenoglosafilia adalah bentuk penyalahgunaan campur-kode untuk tujuan-tujuan yang jauh dari prinsip kehidupan bersosialisasi yang baik.

Lalu Sastra?

Dalam makalah ini, sastra yang dimaksud adalah genre prosa yang meliputi novel, novelet, atau cerpen. Genre ini dipilih karena sifatnya yang bercerita sehingga dekat dengan realitas. Sastra dalam pembahasaan kali ini tidak memasukkan puisi karena jenis karya sastra ini jarang kita temui dalam bahasa sehari-hari, apalagi bahasa lisan yang mengandung kepraktisan.

Dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (Grafitti & Freedom Institute, 2014), Ignas Kleden mengemukakan bahwa sastra adalah karya teks yang telah beres dalam urusan ilmu bahasa. Meskipun kerap memberontak dari pakem berbahasa yang kaku, sastra melakukannya sebagai bentuk tawaran baru kebahasaan yang tak jarang menghasilkan bahan bacaan yang estetik dan menyenangkan.

Leo Tolstoy dalam Buah Kebudayaan (1889) mengatakan kalau sastra adalah alternatif untuk mempelajari bahasa dengan cara yang menyenangkan, jauh dari formula dan aturan, tapi menyajikan pembelajaran tentang dua hal itu dengan sangat terselubung.

Dalam salah satu sesi di Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) di Palembang tahun 2011, sastrawan Budi Darma mengatakan bahwa prosa menjadi genre sastra yang lebih banyak diminati (baca: dibaca) daripada puisi karena menawarkan cerita yang menampilkan mozaik kehidupan yang kompleks dengan bahasa yang indah, kadang tak biasa, tapi berterima.

Terkait alih kode atau campur kode atau xenoglossy, dalam sebuah forum, Seno Gumira Ajidarma, secara tidak langsung menyentilnya. Ia menulis bahwa sastra itu unik dan indah karena menampilkan teks yang memantik imajinasi tanpa harus keluar dari  tertib bahasa. Artinya, sastra menunjukkan kemampuannya mengemukakan banyak hal, termasuk yang multiinterpretatif (memantik imajinasi) tanpa harus menerapkan alih kode atau campur kode yang potensial membuat pembaca kebingungan memahami karena keberadaan kode (bahasa) yang berbeda-beda.

Dalam prosa atau karya cerita, teks yang dihadirkan adalah narasi dengan bahasa yang benar dan dialog yang menggunakan bahasa yang kontekstual alias bahasa yang baik. Ya, dalam karya prosa, penulis dituntut menjahit narasi atau deskripsi dengan bahasa dengan plot, logika, EyD, dan diksi yang beres. Tanpa itu, teks prosa yang diketengahkan, alih-alih dianggap sastra, layak diterbitkan pun tidak!

Kita bisa melihat bagaimana tatabahasa dalam paragraf pembuka cerpen Dongeng Sebelum Bercinta berikut ini:

Beberapa saat sebelum pernikahannya, Alamanda meminta kepada calon suaminya untuk mendengarkan dongeng sebelum mereka bercinta di malam pertama …. (Kumpulan cerpen Corat-coret di Toilet, Eka Kurniawan, Gramedia Pustaka Utama, 2014).

Atau …

Simon Price meninggalkan percetakan tepat pukul lima sore setiap hari. Dia sudah menjalani jam kerjanya dan itu cukup; rumah menunggu, bersih, dan sejuk, di puncak bukit, jauh dari keriuhan pabrik di Yavril. (The Casual Vacancy, J.K. Rowling, Qanita, 2012)

Sekembalinya dari pertemuan, diam-diam Gopal mendatangi Abu sambil mengikik geli. (Pandemi Gengsi, Marga T., Gramedia Pustaka Utama, 2014).

Ketika membacanya, kita seperti tidak merasa ada yang istimewa. Namun, narasi/deskripsi yang benar lagi baik memang tidak memerlukan kesadaran (si)apa pun untuk menandainya sebagai “benar lagi baik”, tapi … misalkan penulisan tiga narasi/deskripsi di atas diberikan kepada mereka yang tak memiliki pengetahuan dan kecakapan berbahasa yang baik, siapa jamin mereka bisa menceritakan perempuan yang mengulur waktu bercinta dengan suami yang tak ia inginkan sebaik Eka Kurniawan menulisnya, atau menampilkan banyaknya kesan dalam dua kalimat yang ringkas perihal kepulangan Simon seperti yang dilakukan J.K. Rowling, atau mengemas kesan diam-diam sekaligus geli sepiawai Marga T.?

Baca juga  Anak Ibu

Pun dengan suara tokoh, sangat jamak kita temukan prosa menampilkan dialog yang tidak harus patuh kaidah bahasa yang benar, tapi terasa lekat dengan keseharian seperti berikut:

“Sialan. Tak doyan, maka kubuang. Makanlah! (cerpen Fatamorgana, Soedharnoto, Kompas, 29 April 1972)

Kamu kayak gak pernah ditinggal sendirian aja, Fe. Lagipula kita ‘kan tetap bisa telponan. (Cerpen Eric Stockholm, Benny Arnas, kumpulan cerpen Eric Stockholm dan Perselingkuhan-perselingkuhan yang Lain, Qanita, 2015)

“Taik kucing! Tak tahu malu kau ya?!” (cerpen Percintaan Kakek Agus, Putu Wijaya, Kompas, 23 Desember 1970).

Ya, sastra juga menyediakan ruangan yang berkarib dengan realitas, yang paling mimesis, yang menyilakan “pemberontakan” kaidah kalimat yang benar. Prosa menamainya “dialog” dan “solilokui”. Dalam dua ruang ini, tak penting aturan bahasa tertulis, yang penting suaranya tokohnya terdengar dalam ruang imajinasi pembaca.

Prosa menunjukkan kapan bahasa tulisan harus dikemas dengan benar melalui narasi dan deskripsi yang rapi, bernas, dan indah. Prosa juga menyilakan alih/campur kode menyelinap dalam dialog atau soilokui sebab itu adalah suara realitas yang meminjam mulut dan perasaan tokoh-tokoh rekaannya untuk berekspresi. Prosa melatih pembaca-pengapresiasi-penulis untuk menghindari xenoglossy.

Melalui prosa, sastra memberikan kesempatan bagi bahasa yang baik dan benar untuk tumbuh, berinteraksi, dan hidup harmoni.

Simpulan

Xenoglossy adalah fenomena berbahasa yang menjangkiti sebagian besar kaum milenial. Kemunculannya yang melakukan alih/campur kode tanpa memedulikan makna atas kode-kode baru yang digunakan mesti dikritisi untuk mengembalikan fungsi bahasa yang baik itu seperti apa.

Generasi milenial di kota besar banyak yang terjangkiti kebiasaan ini. Sementara pejabat atau petinggi Negara melakukannya untuk menegaskan makna ynag dimaksud, karena merasa bahasa Indonesia tidak cukup kuat mengungkapkannya.

Membaca, mengapresiasi, atau menulis sastra, sama sekali bukan untuk membasmi alih/campur kode yang kadung melekat dalam dalam tradisi berbahasa bangsa Indonesia yang, di daerahnya masing-masing, terdiri dari lebih dari satu bahasa yang eksis. Tidak. Dan memang tidak mungkin terjadi. Sebab formula yang muncul belakangan takkan mampu menggerus fenomena sosial (termasuk sosiolinguistik) yang sudah beranak-pinak di tengah masyarakat. Pelibatan prosa dalam fenomena berbahasa adalah untuk menghindari pengguna bahasa dari bahaya laten xenoglossy.

Maka, prosa, dalam bentuknya yang komunikatif, sejatinya bisa menjadi terapi berbahasa yang baik bagi yang pengidap pengguna xenoglossy. Kegagalan memilah pola berbahasa—kapan harus kontekstual dan kapan harus tekstual—potensial menimbulkan masalah dalam komunikasi lisan sekaligus gagal menghasilkan tulisan yang diterima secara universal dan dinilai layak untuk dikonsumsi publik.

Seorang pengidap xenoglossy bisa saja menjadi seorang penutur dan penulis yang wajar bila memiliki kedekatan dengan karya-karya prosa secara intens. Bukan tidak mungkin, seorang xeno bisa menjadi seorang yang tertib berbahasa sebagaimana Ivan Lanin, menjadi pedantis alias orang yang memelihara bahasa Indonesia dalam segala lini kehidupannya.

Sampai di sini, paling tidak, ada secercah titik terang bagi kita untuk memperlakukan sastra dengan lebih baik; bahwa kehadirannya bukan sekadar menara gading dalam khazanah kebudayaan, bahwa kehadirannya juga bisa berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat, bahkan untuk perkara yang takkan mungkin kita tinggalkan setiap hari: komunikasi. ***

 

Islamabad-Lubuklinggau, 19-27 Oktober 2019

BENNY ARNAS adalah sastrawan dan penyuka bahasa. Telah menulis 24 buku lintasgenre. Dua bukunya diekranisasi ke layar lebar; Cinta Meggerakkan Segala ke film 212 The Power of Love (2018) dan Hayya menjadi film dengan judul yang sama (2019). Minat terkininya adalah menulis catatan perjalanan. Atas biaya sponsor, ia telah merekam aktivitas sosial-kebudayaan 15 negara dalam sejumlah prosa-perjalanan yang kelak akan ia terbitkan. Kini ia berkhidmat di Lubuklinggau, mengelola Bennyinstitute, lembaga kebudayaan yang ia dirikan pada 2018.

 

 

Average rating 4 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: