Cerpen, Suara Merdeka, Susanto Aboge

Kali Ketiga Ini Ningsih Melahirkan Bayi

4
(1)

Gemblung bae ayu apamaning warase. Pernyataan serupa itu kerap telontar dari mulut-mulut kuli panggul di Pasar Thengok ini. Semua lelaki di pasar kecil yang kini aku pimpin ini berpikiran sama soal Ningsih. Meski dianggap kurang waras dan keluyuran sejak 10 tahun lalu, namun Ningsih masih tetap memesona.

“Itu lho Pak Mantri, Ningsih masih cantik kan. Padahal, sudah pernah beranak dua,” kata Rikun, kuli panggul, menunjukkan Ningsih yang sedang berjalan di depan pasar saat aku sedang memeriksa kondisi ruko pasar.

Ningsih dianggap lain, ya untuk menyebut istimewa dibandingkan dengan orang gila lain. Ningsih memang kurang waras, tetapi Ningsih tetap bening dan bersih. Ya, konon kata orang pasar, Ningsih punya kebiasaan mandi lima kali sehari. Tak heran saat keluyuran di pasar, rambut Ningsih yang melebihi bahu tergerai basah.

Berbeda dari para lelaki yang suka iseng dan menggoda Ningsih, perempuan-perempuan pedagang pasar di perbatasan kabupaten ini justru merasa miris.

Bagaimana tidak, telah dua kali Ningsih hamil dan dua kali pula Ningsih melahirkan bayi.

Kehamilan pertama konon karena ulah serombongan pemuda pemabuk yang biasa mangkal pada malam hari di depan pasar. Dari kehamilan pertama ini, Ningsih melahirkan anak lelaki. Dari cerita orang pasar didengar, dari rahim Ningsih yang kurang waras namun anak yang dilahirkan terbilang gagah. Entah siapa bapak bayi lelaki itu, apalagi kehamilan itu akibat keroyokan.

“Gusti Alloh memang Maha Pengasih, orang seperti Ningsih saja tetap dikasih sehat. Padahal untuk makan minum seadanya dikasih orang pasar saja. Tapi ya itu sampai melahirkan pun ia tetap dikasih sehat, kecuali jiwanya yang kurang waras,” ujar Yu Minem, pedagang ikan asin yang puluhan tahun mangkal di pasar itu.

Usai kejadian kehamilan dan kelahiran anak pertama Ningsih itulah, suasana pasar terbilang aman dari para pemabuk yang berkeliaran di depan pasar. Sementara anak pertama Ningsih yang lahir selamat langsung dibawa dan diasuh oleh kerabatnya dari Jakarta.

Kehamilan kedua Ningsih terjadi lagi sekitar dua tahun setelah kejadian itu. Ningsih yang kembali berkeliaran di pasar itu diketahui hamil lagi. Usut punya usut yang tak jelas benang merahnya, Ningsih dibawa mobil bak terbuka suatu malam saat duduk-duduk di depan kantor pos. Mobil bak terbuka itu pun yang memulangkan Ningsih pada pagi hari dalam kondisi mabuk di depan pasar. Orang pasar tahu identitas mobil bak terbuka itu sebenarnya, tetapi mereka diam.

Malang nasib Ningsih karena pada usia kehamilannya yang mencapai empat bulan, janin sebesar jari itu keluar dari selangkangannya dalam kondisi meninggal dunia. Di Puskesmas kota kecamatan ini, Ningsih menangis tak henti-henti. Ningsih akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa Kota Lama.

Baca juga  Warisan

***

Cerita Ningsih tak berhenti sampai di sini, karena setelah enam bulan di rumah sakit jiwa, ia kembali. Kerabat jauhnya dari Jakarta pulang dan berusaha merawatnya di rumah peninggalan bapak ibu Ningsih yang mati muda bersama neneknya.

Dari keterangan warga sekitar, Ningsih mulai tak waras, setelah beberapa tahun lulus madrasah tsanawiyah. Ia konon disukai Usman, cucu Kaji Bakir, bahkan disebut-sebut pacaran dengannya. Ningsih yatim-piatu yang dipiara neneknya itu, rajin dan pintar mengaji. Namun malang, hubungannya dengan Usman tak direstui orang tua lelaki itu. Pantang bagi keluarga Kaji Bakir untuk menjalin hubungan dengan Ningsih. Nenek Ningsih itu dulu Gerwani, orang merah yang pernah ditangkap. Kakeknya anggota BTI yang mati hanyut usai geger ‘65 di sungai besar dekat pabrik aci.

Tapi diam-diam Usman dan Ningsih tetap menjalin hubungan cinta hingga akhirnya diketahui Kaji Bakir. Oleh kakeknya, Usman kemudian diarahkan untuk pergi ke Jakarta untuk mondok dan melanjutkan kuliahnya.

“Carilah istri di Jakarta yang layak dan berpendidikan. Jangan menikah dengan anak PKI!” ujar Kaji Bakir yang sempat memergoki Usman dan Ningsih berduaan di depan Pasar Tengok.

Sejak perpisahan itulah, Ningsih menjadi pelamun. Namun ia tetap sering duduk di depan pasar. Sesekali dijemput oleh neneknya, namun tak lama kemudian neneknya meninggal. Maka Ningsih pun sendirian, kerabatnya ada jauh di Jakarta.

Tahun demi tahun Ningsih hidup sebatangkara. Ia akhirnya bekerja menjadi pelayan toko sembako di lingkungan pasar itu. Ia menjadi kembang pasar sekaligus kembang bibir warga pasar. Beberapa kali orang hendak melamarnya, tapi ia menolak termasuk duda juragan bawang merah yang rutin mengantar bawang tiga hari sekali ke pasar itu.

“Mau cari yang seperti apa Ning, lha wong kamu sudah ‘ontang anting’. Mau nunggu si Usman ya tak mungkin. Usman mungkin sudah punya pacar di Jakarta, apalagi sebentar lagi ia sudah jadi sarjana. Paling-paling ya akan bekerja di sana, apalagi Kaji Bakir punya saudara yang jadi pegawai di sana,” kata Yu Midah, juragan sembako yang jadi majikan Ningsih.

Tapi Ningsih tetap menolak, ia tetap pada cinta pertamanya Usman. Apalagi ternyata Ningsih rutin mendapatkan surat dari Usman yang kuliah di Jakarta. Tak heran jika beberapa hari sekali, ketika waktu istirahat bekerja di pasar, Ningsih akan berjalan kaki menuju Kantor Pos yang tak jauh dari pasar itu.

Namun malang tak dapat ditolak. Benarlah apa yang dikatakan Yu Midah. Usman yang digadang-gadang Ningsih ternyata mengkhianatinya. Selepas kabar wisudanya di Jakarta, Usman tak kunjung kembali. Malangnya setelah pulang ia justru membawa seorang perempuan calon istri yang tak lain teman kuliahnya dulu. Dari bapak sang pacar itulah Usman mendapatkan pekerjaan di sebuah departemen.

Baca juga  Alergi

Sejak itulah tiada lagi kabar hubungan Ningsih dan itu pun yang menjadi Ningsih pendiam. Beberapa minggu ia tak lagi bekerja. Namun ia keluyuran di depan pasar hingga kantor pos menjadi kebiasaannya. Hingga suatu malam menjadi malam jahanam penyebab kehamilan kedua Ningsih itulah terjadi.

***

Pagi ini sebagai kepala pasar yang lebih dikenal sebagai mantri pasar, aku diberi tahu pihak rumah sakit bahwa Ningsih hendak melahirkan. Ya, kali ketiga ini Ningsih akan melahirkan bayi. Lima bulan lalu, Ningsih dibawa kembali ke rumah sakit Kota Lama usai mengamuk di pasar. Usai diperiksa, petugas rumah sakit memberitahukan bahwa Ningsih sedang hamil. Kehamilannya bahkan telah masuk empat bulan pula.

Sontak hal itu membuat geger warga pasar setempat. Namun bahan cerita itu hanya bertahan beberapa hari saja. Justru kabar itu telah terdengar oleh istriku dan membuatnya berbinar. Perempuan yang telah kunikahi tujuh tahun lalu dan hingga kini belum juga mengandung benihku.

“Mas, bagaimana kalau nanti Ningsih melahirkan anaknya untuk kita saja. Untuk mancing agar kita punya anak,” tanya istriku spontan sebelum aku memakai seragam mantri pasar untuk berangkat dinas.

Omongan dari ibuku soal mancing anak ternyata manjur juga, setelah sebelumnya istriku diam mendengar ide itu. Mendengar itu aku hanya terdiam dan hanya memandang wajahnya. Namun istriku seperti anak kecil. Ia menggoyang-goyang badanku, merengek. Begitulah, sejak pagi itu menjadi pagi yang membuat kami menjadi rutin mengirim makanan dan vitamin untuk Ningsih di rumah sakit jiwa Kota Lama itu.

Pagi ini, istriku tiba-tiba langsung datang ke pasar ini dan menjemputku untuk menjemput anak Ningsih. Aku memahami istriku. Apalagi usahanya bersamaku untuk memiliki anak berkali-kali gagal. Konsultasi ke dokter, orang pintar hingga kiai telah kami lakukan.

“Sabar Mas, nanti kalau waktunya pasti akan diberi,” kata kiai terakhir yang kami kunjungi. Seperti sarannya, kami pun rutin memberikan sumbangan ke panti asuhan di kota kecil ini.

Pernah kami membiayai seorang janda muda hamil di luar nikah sampai melahirkan dengan janji anaknya akan diberikan kepada kami, tetapi ternyata setelah anaknya lahir janji itu tak ditepati. Ya, siapa mau anaknya dikasihkan ke orang lain. Mungkin hanya orang tak waras saja seperti Ningsih.

***

“Pak Mantri, Bu Mantri, anak Ningsih sehat dan cantik,” kata perawat memberitahukan kepada kami yang belum lama sampai di ruang bersalin rumah sakit itu. Istriku langsung memandangku dan tersenyum hari dan langsung memelukku.

Baca juga  Biografi Ayam Betina

“Kita punya anak Mas mulai hari ini,” katanya memandangku, matanya berkaca-kaca. Sang perawat memandang kami dan kemudian berlalu. Dari balik kaca pintu ruang bersalin aku melihat Ningsih terbaring, sesekali ia melihat makhluk kecil yang bergerak-gerak dan sedang ditangani perawat. Kami pun akhirnya masuk ke ruang itu dan menemui Ningsih dan si bayi.

“Pak Mantri mirip sekali seperti Mas Usman,” kata Ningsih tiba-tiba sambil memandang kami berdua. Istriku memandangku terbelalak. Aku langsung berkeringat dingin mendengar itu. Tapi langsung kukuasai diriku untuk tetap tenang.

Kemudian sang perawat membopongkan bayi mungil perempuan itu kepada istriku. Saat diciumi istriku, bayi itu menangis meronta-ronta tak kunjung henti.

“Mbak, boleh aku menggendongnya,” kata Ningsih tak terkira kepada istriku.

Dengan sedikit ragu, akhirnya istriku menyerahkan si bayi kepada Ningsih. Saat itu aku melihat Ningsih bukan lagi Ningsih yang selalu menjadi pembicaraan orang. Aku melihat Ningsih sebagai seorang ibu dengan kewarasan yang penuh. Saat digendongannya, si bayi langsung terdiam.

Pemandangan Ibu dan bayinya saling berpandangan tenang itu hanya berlangsung beberapa saat sebelum dua perawat datang. Dengan cepat seorang perawat yang panik langsung mengambil bayi dari tangan Ningsih. Usai diambilnya dari tangan Ningsih, sang bayi kembali menangis. Ningsih berteriak dan mencoba bangkit dari ranjang sebelum kemudian dua orang perawat tadi mengikat kedua tanganya ke besi ranjang.

Aku dan istriku yang telah menggendong bayi perempuan itu keluar dari ruang bersalin. Sebelum keluar, aku melirik kepada Ningsih yang meronta-ronta. Matanya memandangku tajam, seperti pandangan matanya suatu malam, malam 10 bulan lalu di ruang kantor pasar. Ya, malam yang menjadi penyebab kali ketiga ini Ningsih melahirkan bayi. Semoga hanya aku dan Ningsih yang tahu soal itu. ***

Purwokerto, 30 April 2021

Susanto Aboge adalah nama pena dari Susanto, yang lahir di Banyumas 17 Juli 1984. Lulusan Sosiologi Unsoed Purwokerto 2008 itu, selain menjadi jurnalis di Suara Merdeka Biro Banyumas juga aktif di LTNNU Banyumas, Sekolah Kepenulisan Luar(K)otak, Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI). Cerpen, esai, dan puisi termuat di sejumlah media massa dan online. Sebuah buku kumpulan karya jurnalistik Pitutur Kiai Ronggeng – Wawancara Ahmad Tohari terbit 2020. Beberapa kali menjuarai lomba karya jurnalistik nasional dalam kurun waktu 2015-2020.

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: