Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Afifi, Eran, dan Lebaran Kita

5
(2)

Bagaimana perasaanmu ketika kamu bepergian sebentar dan ketika pulang rumahmu sudah diambil alih oleh orang asing?

Delapan Mei 2021, tepat di hari ulang tahun saya, serombongan tentara Israel menganiaya Mariam al Afifi, musisi muda Palestina anggota Orkestra Pemuda di Palestina. Gadis 24 tahun itu ditarik jilbabnya, ditendang dengan kedua tangan diborgol di belakang pinggang, hingga kemudian ia terjerembab bersandarkan dinding semacam lorong tempat para tentara Yahudi mengerumuninya.

Malam Ramadan itu, warga Palestina berdemo memprotes keputusan pengadilan Israel yang akan menggusur permukiman warga Palestina di kompleks Syeikh Jarrah di Yerusalam Timur. Aparat Israel, yang terdiri dari polisi dan tentara, menindak keras orang-orang yang terlibat dalam aksi itu. Teriakan demonstran dibalas dengan pukulan dan tembakan. Para demonstran meradang, meskipun dalam kamus mereka tidak ada kata menyerah. Tak terkecuali bagi seorang gadis Palestina yang marah karena keputusan sewenang-wenang itu.

Karena kevokalannya, Afifi menjadi sasaran kekerasan aparat Israel. Setelah perlakuan tak menyenangkan yang tentu saja menyebabkan sakit di sekujur tubuh, apakah Mariam menyerah? Dalam keadaan terduduk dan dikepung aparat Israel dengan bedil siap meletus kapan saja, gadis itu meneriakkan kata-kata perlawanan.

Ya, kata-kata.

Ia bagai sebenar sadar ketika upaya fisik sia-sia, kata-kata adalah zam-zam yang pantang kering kapan saja. Sebagaimana video penyeretannya bisa kita saksikan secara bebas di media sosial, Mariam berintifada lewat kata-kata sebagaimana salinan berikut.

“Apa salah saya? Karena membela gadis kecil yang dipukuli? Karena itu saya ditangkap? Membela orang yang akan diusir dari rumah mereka?” tanya Mariam kepada tentara Israel yang menjaganya.

Tak ada jawaban.

“Bagaimana perasaan Anda? Saya tahu Anda hanya manusia biasa dan mungkin Anda juga punya keluarga, punya anak. Anda mau anak Anda tumbuh dewasa untuk membela pihak yang salah? Membela para penindas?”

Bedil-bedil diarahkan kepadanya. Tapi, Afifi tahu kalau takut bukan lagi pilihan.

“Apa ini yang Anda inginkan sewaktu masih muda, sewaktu masih kecil? Berada di pihak yang salah? Apa ini yang Anda mau? Sewaktu Anda masih kecil, punya impian besar, apakah ini yang Anda inginkan? Berada di pihak yang salah?”

Baca juga  Daun Jatuh Tidak Tergesa-gesa

Penggusuran sewenang-sewenang itu akan dilakukan apabila hingga 1 Agustus orang-orang Palestina yang tinggal di sana belum angkat kaki. Ke mana? Bagi Israel, itu bukan urusan mereka. Mariam tahu kalau tanggal dan bulan bagi Yahudi hanya tanda, semuanya bisa meledak kapan saja.

Dan terbukti.

Sore hari sebelum demonstrasi itu meletus, beberapa warga Palestina yang keluar sebentar, justru pulang dengan mendapati orang asing sudah menduduki rumah mereka. Alasannya: keputusan legal pemerintah sudah keluar. Tentu akan lebih baik kalau warga Palestina tahu diri lebih cepat.

Warga Palestina itu melawan. Dengan kemarahan. Dengan kegeraman dan air mata yang mereka tak tahu untuk apa lagi. Dengan kata-kata yang senantiasa menguar harapan yang cepat layu lalu tumbuh lagi tanpa perlu kata tetapi.

Sembilan Mei 2021, hanya berselang satu hari dari pengambilalihan paksa rumah-rumah warga Palestina dan perlawanan Mariam, striker PSV Eindhoven, berkebangsaan Israel, Eran Zahavi, batal memperkuat timnya dalam laga kontra Willem II Tilburg begitu mendapat kabar kediamannya di Amsterdam dimasuki orang-orang tak dikenal. Peristiwa yang kemudian disebut perampokan itu menyebabkan barang-barang berharga keluarga Eran digondol ketika istri dan anak-anaknya diikat. Meskipun anggota keluarganya tidak terluka atau menderita cidera sedikit pun, tentu saja kejadian itu membuat trauma.

“Kemarin, saya dan keluarga mengalami pengalaman mengerikan, perampokan dan penyerangan di tempat yang seharusnya paling aman di dunia bagi kami—rumah kami,” kata Shay Zahavi, istri Eran, dalam pesan yang diposting di Instagram. “Kami melewati beberapa jam yang mengerikan dan kami membutuhkan waktu untuk melupakan ini,” tulisnya lagi.

Sebagaimana Eran, Shay juga membuat takarir semua unggahan media sosialnya dalam bahasa Ibrani. Meskipun begitu, fitur penerjemahan otomatis membuat siapa pun bisa memahami apa yang mereka tulis. Unggahan Shay mendapatkan banyak simpati. Sebagian besar adalah pengikutnya yang berdarah Yahudi—dilihat dari bahasa Ibrani yang mereka gunakan—dan para pendukung PSV Eindhoven yang, sebagaimana fanatisme tim sepakbola, menganggap urusan Eran dan keluarganya adalah juga urusan mereka.

Baca juga  Pertanyaan Aneh Pak Sudi

Saya mengetahui kabar itu sejak beberapa hari yang lalu dan menunggunya viral. Ngeri-ngeri sedap saya membayangkan bagaimana peristiwa—yang kata Shay sangat mengerikan—itu membuat dunia memopulerkan tagar #standwitheran atau #israellivesmatter atau #jewslivesmatter atau #prayforeran atau #prayforisrael dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi, ternyata tidak. Mungkin baru akan viral sebelum dua hari yang lalu, kompleks permukiman Syeikh Jarah di Yerusalem Timur bergejolak. Lagi, tanpa rasa bersalah, beberapa warga Israel dengan santainya mengambil rumah warga Palestina dengan dua alasan yang bikin geram: pertama, kediaman mereka menghambat mobilitas orang-orang Israel; kedua, sebagaimana video pendek yang tersebar, si Israel mengatakan bahwa kalau bukan dia yang mengambil alih rumah itu, tah nanti juga akan diambil Yahudi yang lain. Oh.

Kita, orang-orang yang berada di luar lingkaran konflik paling kontroversial di abad 19 ini, sudah lama kehilangan kepantasan sebagai makhluk yang dikaruniai, mengutip Harari—ilmuwan Israel paling terkemuka itu, superkekuatan bernama bahasa dan imajinasi. Di hadapan ketakadilan dan neo-apartheid menggila di Palestina, kebungkaman menjalar dan menular ke segala penjuru. Kepedulian dan imajinasi kolektif milik siapa pun yang tertimpa kemalangan, tapi tidak untuk Palestina.

Malam tadi, rekan saya menelepon. “Abang tidak menulis tentang Palestina?” Tidak biasanya ia menembak saya dengan pertanyaan seblak-blakan itu, apalagi tentang topik yang tidak pernah menjadi konsennya. Saya menjawabnya dengan bahasa yang berputar-putar. Saya sejujurnya tidak tahu apa lagi yang mesti saya lakukan di hadapan konflik abadi tersebut, meskipun saya akhirnya bilang kalau sebagian hasil beli-putus buku Cinta Menggerakkan Segala saya berikan untuk Tanah Anbiya itu, sebagaimana sekuelnya film Hayya yang menyumbangkan 2,7 miliar untuk tujuan yang sama.

Baca juga  Palestina & Gado-Gado Toping Keju

Tapi, mendapati ribuan jemaah Masjidil Aqsa diserang membabi-buta pada malam-malam pengujung Ramadan, sumbangan yang diberikan bagai kertas-kertas tanpa nilai; tak kuasa menghalau peluru, semprotan gas air mata, lesatan peluru karet, atau laju tank-tank tanpa perasaan. Hingga … yang kini tersisa adalah kata-kata. Bahasa dan imajinasi yang dilangitkan. Keajaiban dan keberkahan yang diharap-harap.

Dalam wujud doa. Dalam wujud ketakputusasaan. Dalam semangat yang, sebagaimana kita percayai, kuasa menular dan menjalar ke penjuru Bumi, tak terkecuali ke Palestina.

Dan lebaran esok hari, kepantasan kita sebagai makhluk ciptaan yang dikaruniai dengan perasaan dan kepekaan sedang diolok-olok oleh ketakberdayaan mereka di tanah yang memberi batas paling tipis antara napas dan maut. Langit akan sama-sama memerah. Di sini pecah oleh kembang api, di sana oleh bom dan rudal. Orang-orang akan sama-sama meramaikan jalanan. Di sini rincah oleh silaturahim, di sana oleh pengejaran dan pemukulan. Rumah-rumah akan riuh-rendah. Di sini oleh kecipak mulut mengunyah makanan, di sana oleh penggusuran dan pengusiran. Dan kita sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Dengan imajinasi dan bahasa. Dengan tanah yang bisa menumbuhkan bebijian dan hujan turun menjelma kabar gembira.

Sungguh, sebagaimana kepada Eran atau Mariam, untuk bersimpati dengan Palestina, anda tidak harus menjadi muslim, anda hanya perlu menjadi manusia.

Mengutip Dan Brown, mereka yang netral di hadapan kejahatan yang terang benderang, adalah penghuni inferno: keraknya neraka. ***

Lubuklinggau, 12 Mei 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: