Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Palestina & Gado-Gado Toping Keju

Kedatangan pengungsi Yahudi pelarian dari Holokaus ke wilayah Palestina pada 1947

4.3
(16)

Heli Kusuma, mahasiswa semester akhir di program pascasarjana Universitas Bengkulu, yang pernah belajar di Benny Institute English Story Sharing Class bersilaturahim malam tadi. “Karena sering liat postingan Sir, jadi saya bawakan ini,” katanya seraya menyerahkan dua sikat pisang kepok dalam kresek. Saya baru saja menemukan faedah atas aktivitas mengunggah teman ngopi favorit di media sosial: pisang kepok goreng! Meski sesekali menyebut saya “Bang”, pemuda kelahiran Batu Gajah itu tampaknya lebih nyaman memanggil saya “Sir”. Dalam majelis ilmu, seharusnya memang tak ada istilah mantan untuk guru maupun murid.

Setelah menyesap teh hangat yang baru istri saya hidangkan, ia berkomentar panjang-lebar tentang rentetan twist di sepertiga akhir novel saya Ethile! Ethile!, menanyakan alasan saya jarang tampil di acara-acara kepemudaan di Lubuklinggau, bercerita tentang impiannya menjadi dosen, dan tentu saja membahas … Palestina.

“Saya memang membaca tulisan-tulisan Sir di media sosial tentang itu, tapi … siapa tahu …,” gantungnya.

Saya tahu, ia bukan hanya ingin mengonfirmasi, tapi juga mendapatkan lebih banyak informasi. “Kamu tinggal perbanyak membaca,” kata saya datar. “Ya. Banyak membaca. Dan itu tidak mudah.” Tapi, saya tahu kalau dia sedang tidak mau mendengar ceramah semacam itu.

***

Kekejaman Barat (baca: Eropa) terhadap Yahudi adalah hal yang tak bisa dikesampingkan ketika membicarakan konflik Israel-Palestina. Dalam periode Perang Salib (1095–1271), di tengah perjalanan dari Eropa menuju Yerusalem untuk memerangi pasukan Islam, Kristen melakukan perundungan, pengucilan, penyiksaan, hingga pembataian tanpa ampun terhadap mereka.

Sejak awal, dalam banyak literatur Barat, bangsa Yahudi dicitrakan eksklusif, tertutup, kaya, dan cerdas. Meskipun begitu, jumlah mereka yang tidak banyak dan tersebar tidak merata, adalah objek pengambinghitaman yang potensial bagi Barat yang hegemonik.

Tiap keributan, kesalahpahaman, kalah perang, gagal panen, binatang ternak mati mendadak, kekeliruan data, bahkan pergantian musim yang tidak tepat perkiraan, Yahudi kerap disalahkan. Kenapa demikian?

Banyak alasan dan latar belakang, tapi yang menyala ke permukaan adalah, salah satunya, karena orang-orang Yahudi menyerahkan Yesus ke penguasa Romawi. Kita semua tahu, bagaimana selanjutnya: Yesus disiksa dan disalib. Sebuah paradoks dalam sirah kekristenan. Bagaimanapun, penyaliban itu membuat Kristen “sampai” pada momentum “Yesus menebus dosa umatnya.”

Tahun 1878, Theodor Herzl, penulis drama, sandiwara, dan wartawan koran liberal Neue Freie Presse berdarah Yahudi berkebangsaan Austria-Hungaria pindah ke Wina dan menuntut ilmu hukum di sana. Kegemarannya menganalisis dan memproduksi karya kreatif menjadikannya senantiasa kritis. Setelah mendengar banyaknya berita yang beredar tentang penindasan terhadap kaum Yahudi di wilayah kekaisaran Rusia dan sebagian Eropa Timur, Herzl berkeinginan mendirikan negara berdasarkan ras Yahudi. Ia menerbitkan der Judenstaat (Negara Yahudi) tahun 1896 dan diejek banyak orang Yahudi yang tinggal di Eropa Barat, wilayah di mana orang Yahudi hidup dalam kemakmuran. Tapi Herzl tidak menyerah. Ia bahkan mengusulkan program penggalangan dana untuk merealisasikan cita-citanya membentuk organisasi—yang dikemudian hari bernama—Zionisme.

Sebelum membidik Palestina sebagai tanah tujuan, Theodor Herzl menetapkan beberapa wilayah di Afrika, Amerika Utara, dan El-Arish di Sinai, Mesir, sebagai tanah nasional mereka (Katz, 1996: 129). Herzl juga pernah mengusahakan tempat bagi orang-orang Yahudi di Mozambik dan Kongo. Pembesar-pembesar zionis lainnya, seperti Max Nordau, pada tahun 1897, bahkan mengusulkan Argentina untuk Negara Yahudi, tahun 1901 menunjuk Siprus, dan berbelok ke Uganda dua tahun berikutnya.

Semua usaha itu tidak menunjukkan hasil. Orang-orang Yahudi yang tersebar di mana-mana tak memiliki alasan kuat—emosional, primordial, apalagi spiritual—untuk pindah ke wilayah-wilayah itu. Meski keterbatasan akses informasi waktu itu membuat kabar pengusiran mereka d(ar)i timur Eropa belum tentu sampai ke Afrika dan Amerika, tapi berurusan dengan orang-orang yang sama sekali baru, tidak mudah. Apalagi, mereka tak memiliki “tetangga” sepenanggungan di sana.

Sementara itu, Hitler yang diangkat menjadi kanselir Jerman pada 1933, pikirannya terus terganggu oleh krisis Jerman pada masa kecilnya yang menyebabkan negara itu berubah bentuk-dan-namanya menjadi Republik Weimar setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia I setahun sebelumnya. Sejak itu krisis berkepanjangan terjadi di Jerman dan merembet hingga 1930-an. Hitler menuduh orang-orang Yahudi di Jerman berperan penting menyebabkan situasi itu.

Baca juga  2020 dan Kemewahannya

Tuduhan itu berakar dari kompleksitas pemikiran, kebencian, dan dendam dalam diri Hitler. Tapi, ia adalah salah satu propagandis terbaik di dunia. “Yahudi berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Mereka diwarisi insting kriminal yang membahayakan,” katanya pada 1940 ketika Holokaus sedang berkobar. Sebagai seorang keras kepala yang kejam, Hitler memelihara bara dendam pada Edward Bloch, dokter Yahudi yang menyebut kedatangan ia dan ibunya—Alois Hitler—yang mengidap kanker payudara stadium akhir, sudah sangat terlambat. Ketika Alois meninggal pada 1907, Hitler membawa tumpukan ingatan buruk tentang Yahudi: Yahudi membantu Inggris mengalahkan Jerman di PD I, Yahudi menyebabkan krisis di negaranya; seorang dokter Yahudi gagal menyelamatkan ibunya.

Sejarah mencatat, Holokaus menewaskan sekitar enam juta orang Yahudi. Herzl yang meninggal pada 1904 mewarisi pemikiran yang kuat kepada penerusnya. Upaya mencari rumah bagi Yahudi pun menemukan premisnya: tidak boleh jauh-jauh dari Eropa. Pengungsi yang selamat dari pembataian Nazi harus segera mendapatkan suaka.

Inggris yang sedang menguasai tanah Palestina—yang belum berbentuk negara—bersimpati pada orang-orang Yahudi. Pertama, karena yang membantai Yahudi adalah bangsa Jerman, lawan mereka pada Perang Dunia I. Kedua, kemenangan Inggris tak lepas dari andil 50.000 pasukan mereka yang berkebangsaan Yahudi, di mana 10.000 di antaranya tewas di medan perang.

Tapi, hampir tiga puluh tahun sebelum migrasi besar-besaran Yahudi Eropa ke Palestina pada 1947, pejabat pemerintah Inggris berdarah Yahudi yang berpengaruh, Walter Rothschild, membentang peta Asia Barat-Eropa di hadapan pembesar Britania Raya dan menunjuk sebuah wilayah yang dikepung Libanon, Mesir, Suriah, Trans-Jordania, dan Laut Mediterania sebagai Tanah Yahudi. Ya, Rothschild inilah salah satu “murid terbaik” si Bapak Zionisme, Theodor Herzl.

Apakah usulan itu diterima? Belum. Dalil bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan untuk Kaum Yahudi sebagaimana yang termaktub dalam Perjanjian Lama tidak menarik bagi Inggris. Lagi pula, kenyataannya, di wilayah Palestina, bangsa Arab Islam-Arab Kristen-dan-Yahudi bisa hidup berdampingan tanpa gejolak.

Karena Yahudi bagaimanapun harus memiliki tempat tinggal (dan itu urusan mendesak!), Pemerintah Inggris bersedia menerima mereka sementara sebelum menemukan wilayah yang dituju. Tak pelak, populasi Yahudi meningkat dari 46.000 pada tahun 1880 menjadi sekitar 250.000 pada tahun 1919. Mereka terutama tinggal di kota-kota industri besar, terutama London, Manchester dan Leeds. Setelahnya, Inggris bergejolak karena populasi dan manuver imigran Yahudi dianggap sudah mengancam. Kekhawatiran itu bukan isapan jempol sebab waktu itu Yahudi memberikan lanskap sosial yang baru bagi Inggris: Sinagog-sinagog berdiri di beberapa kawasan strategis, Yahudi merilis koran sektarian dalam oplah yang besar, dan perhelatan keyahudian mulai banyak digelar (di ruang) publik.

Gelombang “penolakan” di Inggris menemukan momentumnya ketika Yahudi pelarian dari kekejaman Nazi juga membutuhkan tempat tinggal. Isu tanah yang dijanjikan sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama pun merebak lagi. (Menurut Alkitab Perjanjian Lama, tanah suci atau tanah perjanjian merupakan tanah yang Allah janjikan kepada bangsa Israel sewaktu mereka berada di Mesir. Allah berjanji melalui Abraham dan keturunannya untuk memberikan tanah tersebut, yang disebut tanah Kanaan. Janji tersebut tidak diberikan kepada Abraham dalam waktu yang singkat, bahkan Abraham pun belum dapat mengklaim tanah itu menjadi miliknya sewaktu ia hidup. Abraham dan keturunannya, termasuk bangsa Israel, selalu menunggu penggenapan janji itu, agar hidup mereka yang selama ini nomaden dapat segera berakhir).

Setelah Liga Bangsa-Bangsa menyetujui dijadikannya Mandat Britania atas Palestina sebagai “wilayahnya orang Yahudi” sehingga, atas dasar nilai kemanusiaan yang universal, PBB mengeluarkan keputusan pembagian Palestina menjadi dua: negara Yahudi dan negara Arab, negara-negara Arab bereaksi. Pembagian itu sungguh merugikan Arab Palestina (Yahudi dengan populasi yang kecil malah mendapatkan 54 persen wilayah). Tapi, Israel tutup telinga. Pada 14 Mei 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya.

Perang Arab-Israel tak terelakkan. Pertempuran yang berakhir pada 1949 dengan serangkaian gencatan senjata itu menghasilkan batas-batas di sepanjang wilayah zona pertempuran antara Israel dengan negara-negara tetangga. Seperti dikutip BBC, batas itu kemudian dikenal sebagai Jalur Gaza (diduduki Mesir) dan Yerusalem Timur dan Tepi Barat (diduduki oleh Yordania). Saat itu negara-negara Arab masih menolak untuk mengakui Israel.

Perubahan terbesar perbatasan wilayah Israel terjadi pada tahun 1967, ketika konflik yang dikenal dengan Perang Enam Hari membuat Israel menguasai wilayah Semenanjung Sinai, Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur dan sebagian besar Dataran Tinggi Golan Suriah. Sejak saat itulah wilayah Israel berlipat ganda.

Baca juga  Pertanyaan Aneh Pak Sudi

Israel secara efektif mencaplok Yerusalem Timur—mengklaim seluruh kota sebagai ibukotanya—dan Dataran Tinggi Golan. Langkah ini tidak diakui oleh komunitas internasional, sampai ketika Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump mengubah posisi resminya—menjadi negara besar dunia pertama yang melakukannya.

Kemenangan demi kemenangan serta dukungan dari para sekutu—di mana orang-orang Yahudi memegang posisi penting di dalamnya—membuat Israel menjadi rajadiraja. Di sini, ungkapan bahwa “kejahatan bukan hanya muncul dari niat, tapi juga kesempatan” benar-benar diamalkan Israel. Ya, ketersudutan Palestina oleh agresi tak berkesudahan adalah kesempatan yang berjodoh dengan niat mereka untuk menguasai wilayah itu!

Kini, urusannya bukan lagi sengketa teritorial sebagaimana yang didengung-dengungkan banyak pengamat. Israel sudah membawa agama (Perjanjian Lama) sebagai motif suci sebagai isu alihan dan perlindungan dan propaganda yang terbukti mujarab! Dalih mereka, kalau Alkitab saja merestui, dengan balapasukan dan senjata yang memadai, impian itu harusnya mudah mereka wujudkan. Sampai titik ini, pandangan bahwa tanah (milik) Palestina itu memang tak pernah ada, mengaliri darah mereka.

Jadi, kalau ada anggapan bahwa Palestina telah menyeret konflik ini ke wilayah agama yang tidak relevan, tentu saja itu tunasejarah. Israel yang memulainya. Palestina yang mayoritas Islam, tentu Islam-Palestina tersinggung karena Yahudi menafikan Al Quran.

Tapi, apa yang salah dengan Israel yang berupaya mewujudkan amanah agama samawi? Bukankah itu seharusnya membuat tindakan Dunia Islam yang menyebut Israel maling, pencuri, dan lain sebagainya, gugur demi kitab suci?

Tunggu dulu.

Eran Elhaik, seorang ahli genetika dari Universitas Johns Hopkins School of Public Health, Amerika Serikat, melakukan tes DNA terhadap orang-orang Yahudi. Hasil penelitian yang dipublikasikan Jurnal Genome Biology and Evolution edisi 17 Januari 2013 terbitan Oxford University Press dengan judul “The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypothese” mengungkapkan bahwa semua Yahudi yang saat ini menduduki Tanah Palestina tidak satu pun memiliki sampel DNA Bangsa Khazaria!

Khazaria merupakan konfederasi dari berbagai suku, Slav, Scythian, Hun-Bulgar, Iran, Alans, dan Turki, yang membentuk sebuah imperium yang sangat kuat dan berkuasa di kawasan Kaukasus Utara-Tengah pada akhir Zaman Besi (Iron Age) dan kemudian memeluk Yahudi pada abad ke-8 Masehi. Kaum inilah yang sejatinya mewarisi Tanah-Kanaan yang dijanjikan itu. Kaum itu hingga hari ini, mengutip Elhaik, musnah entah ke mana. Elhaik berani menyatakan hal tersebut karena, demi mencari sampel genom Khazaria, ia dan timnya bahkan melakukan tes pada orang-orang Yahudi di Armenia, Georgia, dan kawasan konfederasi Khazaria lainnya—dan tetap tidak menemukan Yahudi sebagaimana yang disebutkan kitab suci.

Dalam perspektif Islam, apa yang menimpa Yahudi, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Yahudi adalah kaum paling permisif terhadap status nasab kaumnya. Demi populasi sebanyak-banyaknya, mereka abai pada silsilah keluarga karena, belakangan, terutama di Amerika, asalkan ada salah satu anggota keluarga—yang sangat jauh sekalipun hubungan kekerabatannya—berdarah Yahudi, siapa pun dalam lingkarannya otomatis Yahudi. Bandingkan dengan Islam yang begitu runtut menamai tiap anggota keluarganya dengan bin atau binti yang berderet-deret panjangnya demi menjaga pohon nasab.

Kembali ke tes DNA Yahudi, Elhaik menegaskan, kalaupun Yahudi bergenom Khazaria itu ada sehingga klaim bahwa Yahudi berhak atas tanah yang sempat ditinggalkan Ibrahim ‘alaihissalam—dan keturunannya—sebelum mereka meninggalkan Syam menuju Mesir ketika Nabi Yusuf berkuasa di sana itu, klaim itu pun sangat rapuh. Mengapa?

Sejarah mencatat, orang-orang Kanaan mendiami Palestina pada 1500 SM, sementara orang-orang Arab mendiaminya pada 4000 SM (Khan, 1981: 26). Adapun Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hijrah dari Aur di Irak menuju Palestina pada pertengahan atau akhir tahun 3000 SM, bahkan ada pendapat yang mengatakan 1500 tahun setelah kedatangan orang-orang Kanaan. Artinya apa? Artinya orang-orang Arab lebih dahulu tinggal di wilayah Palestina dibandingkan dengan nenek moyang bangsa Israel.

***

Dan hari ini, di era kiwari yang membuat dunia menjelma rumah kaca yang bisa dilihat dan dikomentari siapa saja, konflik ini telah bergerak jauh meninggalkan isu perebutan wilayah dan klaim meta-historis dalam kitab suci masing-masing. Konflik ini sudah menjadi gado-gado toping keju. Tumpek-blek, meski tidak nyambung bagai kecelakaan realitas, tetap disajikan sebagai fusion. Semua campur-aduk: rasisme, kolonialisme, atau—kalau memang benar kekhawatiran Erdogan bahwa, begitu Israel menguasai Palestina, akan diikuti pencaplokan wilayah sekitarnya hingga ke Mekkah—cikal bakal Imperium Yahudi. Dan … masyarakat dunia tidak bisa berbuat apa-apa karena beberapa fakta:

Baca juga  Tuan Kong Bertanya Kabar Dzulkarnain

Pertama, sebagian besar malas membaca dan memahami sejarah, tak terkecuali umat Islam yang banyak tersebar di negara-negara dunia ketiga yang jauh dari literat, sehingga setiap aksi atau gerakan solidaritas dan pengutukan selalu mengusung isu permukaan. Kedua, PBB—dengan Amerika dan vetonya—sudah lama menjadi perserikatan bar-bar sehingga suara-suara anti-penjajahan dari para anggota mental dan menguap entah ke mana. Ketiga, seiring Israel yang terus tumbuh dan menyusup ke banyak lini kebijakan ekonomi dunia, Bangsa Arab, yang sudah lama masuk perangkap kapitalisme, patah taji. Puncaknya: UEA merayakan Hanukkah, hari raya Yahudi pengujung tahun lalu.

Syahdan, seorang anak kecil nan polos—bukan Arab bukan Yahudi—turun ke Bumi dan ditanya tentang konflik Israel-Palestina, menjawab, “Kalau keduanya merasa berhak untuk merdeka, mengapa tidak melihat sejarah? Kalau keduanya merasa berhak hidup atas nama Tuhan yang memberikan kehidupan, sejak kapan penganut agama Abrahamik diperkenankan saling bunuh? Kalau keduanya menolak disebut pelaku kejahatan, abaikanlah sejarah, abaikanlah firman-Nya, dan lihatlah perbandingan jumlah korban dan kerusakan di kedua belah pihak—sebelum Permukiman Syeikh Jarrah diserang Ramadan yang lalu—berdasarkan data dari The Humanitarian Crisis in Gaza dari Council of Europe Report yang bisa diakses bebas di laman resmi PBB sebagai berikut: korban warga sipil (1600 Palestina: 6 Israel), korban anak-anak (550:1), kerusakan permukiman (18.000:1), tempat ibadah hancur (203:1), taman kanak-kanak yang tak bisa difungsikan (285:1), dan fasilitas kesehatan yang rata jadi tanah (73:0). Siapa yang kejam dan bengal?”

Anggaplah kita sama-sama sukar (baca: malas) menelaah sejarah, tapi … rasanya tidak diperlukan seorang genius untuk membaca kenyataan jomplang nan mengenaskan di atas. Tinggal membaca angka. Lupakan nyawa manusia. Tinggal membaca segala. Membaca kemanusiaan. Membaca keterang-benderangan.

***

“Sekarang kamu menyebut konflik itu sebagai apa?” tanya saya serta-merta.

Hening.

“Heli,” tegur saya, “kamu dengar Sir?”

Dia tersenyum dan bangkit. “Sir berjanji akan menulisnya?”

Saya tidak mengangguk tapi tersenyum. “Ke mana lagi setelah dari rumah Sir??” kata saya sembari mengekor langkahnya ke luar rumah.

“Ini sudah Isa, Sir,” jawabnya sambil berbalik dan menyalami saya. “Tentu Heli salat dulu.”

Di situ, saya tahu kalau energi dan waktu yang saya habiskan untuk bercerita barusan sungguh tidak sia-sia. ***

 Lubuklinggau, 19 Mei 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Referensi:
  1. Rubenberg, Cheryl A. (1989). Israel and the American National Interest: A Critical Examination. University of Illinois Press. hlm. 26. ISBN978-0-252-06074-8
  2. Salim Tamari. “Ishaq al-Shami and the Predicament of the Arab Jew in Palestine”” (PDF). Jerusalem Quarterly. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2007-09-28. Diakses tanggal 2007-08-23.
  3. Kant, Immanuel (1974): Anthropology from a Pragmatic Point of View. Translated by Mary J. Gregor. The Hague: Martinus Nijhoff, cited in Chad Alan Goldberg, Politicide Revisited. University of Wisconsin-Madison
  4. “The Palestinian National Charter”. Permanent Observer Mission of Palestine to the United Nations. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-09-09. Diakses tanggal 9 September 2010.
  5. The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypothese.(Jurnal Genome Biology and Evolution, Oxford University Press, Edisi 17 Januari 2013)
  6. Khan, Zafarul Islam. 1981. Tarikh Filashtin al-Qadim. Beirut: Dar al-Nafis
  7. Katz, Jacob & Friends. 1973. Israel. Jerusalem: Keter Publishing House Ltd.
  8. http://www.aljazeera.net/specialfiles/pages/e4329d51-7068-476f-ad78-89cd700baf96
  9. http://www.alukah.net/culture/1042/21592/
  10. http://www.myjewishlearning.com/ask_the_expert/at/AsktheExpert–Matrilineal_descent.shtml

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 16

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. terima kasih p. Benny, pencerahannya….

  2. Firman

    Wow. Thanks…

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: