Cernak, Kedaulatan Rakyat, Yudadi BM Tri Nugraheny

Arem-Arem Kejujuran

5
(1)

PELAJARAN hari ini menguras pikiran. Perlu konsentrasi tinggi. Perut Trio Centil sudah berbunyi. Lapar melanda Kiki, Ayu, dan Laras serta penghuni kelas lainnya. Sepertinya makan bakso bisa menjadi penyemangat. Namun, di kantin tidak ada bakso atau makanan berkuah lainnya. Kantin menyediakan makanan ringan dan camilan berat, seperti arem-arem, aneka macam roti, dan gorengan.

Murid-murid Kelas V sedang belajar tentang operasi hitung pecahan campuran. Materi yang agak sulit. Butuh fokus dan keterampilan agar tidak salah hitung. Bu Danik, guru Matematika berkali mengingatkan agar murid-muridnya teliti mengerjakan soal.

Saat yang dinantikan tiba. Bel istirahat berbunyi. Sangat nyaring terdengar di telinga. Semua penghuni kelas berhamburan untuk rehat sejenak. Ada yang pergi ke kantin, taman, kamar kecil, dan perpustakaan.

“Nggak usah ke kantin. Aku sudah bawa bekal banyak nih. Satu kardus roti pisang. Kalian bantu aku makan,” kata Kiki. Kiki mengacungkan sebuah tas kresek berisi kardus.

“Ya. Apa kata teman-teman kalau Trio Centil cuma dua orang?” kata Ayu. Mereka selalu bertiga saat di sekolah. Jika salah satu tidak kelihatan, temannya pasti bertanya.

“Yach… Aku kan sudah bawa banyak bekal. Masa harus jajan lagi?” kata Kiki.

Andi yang kebetulan lewat melongok isi tas Kiki. “Mau dong,” katanya. Kiki menyerahkan satu roti pisang padanya. Ada beberapa teman yang ditawari juga mau. Mama Kiki pandai membuat roti.

“Oke. Tapi kami tetap ke kantin. Buat tambahan,” kata Laras.

“Aku mau beli makanan ringan saja.”

“Beneran. Ini banyak banget. Ibu memberiku banyak agar bisa dimakan bertiga,” kata Kiki. Ayu dan Laras manyun.

“Lihat, sudah kubagi sama teman lain, tapi masih banyak.”

Baca juga  Kambing Sulastri Bunting

“Ayo, Yu, kita ke kantin. Aku keburu pingsan,” kata Laras, ia sangat ingin jajan di kantin.

“Sayang kan, uang sakuku utuh.” Laras meringis.

“Lhah, mendingan juga ditabung,” usul Kiki.

“Enggak mau,” kata Laras. Kiki menghela napas. Teman yang satu ini memang suka jajan. Kalau ia, lebih suka membawa bekal dan uang jajan ditabungnya. Perut kenyang, uang saku utuh. Dan yang pasti, ia bisa membeli benda-benda kebutuhannya sendiri dengan uang tabungannya.

“Ya sudah. Aku temani kalian ke kantin. Terus dari kantin kita makan bersama di taman. Oke?” kata Kiki.

Kantin penuh sesak. Kiki menunggu di depan kantin. Laras dan Ayu segera berdesakan memilih makanan. Laras memilih arem-arem, kue talam, dan beberapa gorengan. Ia memang sangat lapar. Laras merogoh sakunya. Dilihatnya uang di dalam saku. Tetiba mukanya pucat. Ia kebingungan. Uang sakunya telah digunakan untuk membeli buku gambar. Sisanya tidak cukup untuk membayar jajan. Ia merasa malu untuk mengembalikannya. Dan itu berarti ia harus antre lagi lebih lama di depan Mbak Ima, penjaga kantin. Laras bimbang. Kalau dia mundur, nanti dia mendapat antrean di belakang. Tinggal satu anak lagi di depannya. Kini tiba gilirannya.

“Ehmmmm…. Arem-arem satu…” kata Laras.

“Sama apa?” tanya kasir kantin. Ia melihat masih ada jajan lain di tangan Laras…

Laras menjawab. “Arem-arem satu saja. Jajan yang lain tidak jadi. Uangku kurang, Mbak. Nanti saya kembalikan ke tempatnya,” kata Laras mantab.

Ia merasa lega setelah mengatakan hal itu. Entah keberanian dari mana hingga ia mampu berkata seperti itu. Mbak Ima mengacungkan jempol. Laras membayar jajannya. Ia lega sudah berkata jujur. Lagi pula, tadi Kiki juga menawarinya bekal untuk dimakan bersama. Roti buatan mama Kiki sangat lezat.

Baca juga  Mengenal Herbal untuk Antioksidan Diabetes

“Beli apa kamu?” tanya Kiki.

Laras mengacungkan arem-arem yang dipilihnya.

“Hanya itu? Katanya lapar banget?”

“Lho, katanya kamu bawa bekal banyak. Terus, mau dimakan bersama-sama,” jawab Laras beralasan. Kiki mengangguk.

“Tadi sepertinya kamu sudah mengambil aneka makanan, Ras,” kata Ayu.

“Eh… ehmmmm…” Laras kikuk, “Yang benar uangku hanya cukup untuk membeli satu arem-arem. Aku lupa uang sakuku sudah kugunakan untuk membeli buku gambar dan pensil di koperasi.”

“Wuih… arem-arem kejujuran dong,” kata Kiki.

“Lagipula kan Kiki bawa roti banyak,” kata Ayu.

Laras mengangguk. Lontong bersantan isi sayur alias arem-arem itu telah mengingatkan Laras untuk berkata jujur. Dan Laras bangga karenanya. ***

Yudadi BM Tri Nugraheny. Durungan RT 05 RW 09, Wates, Kulonprogo 55611.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: