Cerpen, Endang S Sulistiya, Kedaulatan Rakyat

Babi Ngepet

3.4
(5)

“SUAMINYA di-PHK sejak setahun lalu. Namun dia tidak mengajukan pinjaman dan tidak pernah kredit,” ujar Nunik menjabarkan alasan atas orang yang dicurigainya. Badim mengerutkan kening. Dia tidak mau gegabah percaya pada gosip. Apalagi yang keluar dari mulut istrinya.

“Ya, mungkin dia bukan tipe orang yang suka menumpuk utang,” kata Badim setengah menyindir.

“Dua anaknya sengaja dikurung di rumah. Dilarang bergaul dengan anak-anak di perumahan ini. Aneh, bukan?”

“Itu bukan dikurung tetapi mematuhi peraturan untuk tidak keluar rumah. Tahu sendiri masih Pandemi.”

“Kenapa Bapak dari tadi belain keluarga itu terus terutama kepada Bu Risma? Suka, ya?”

“Bu Risma itu istri orang, mana mungkin aku suka. Kalau kagum mungkin iya. Dia ibu rumah tangga hebat. Rumahnya selalu rapi dan bersih. Dia tidak pernah terlibat kerumunan ibu-ibu doyan gosip. Pula dia mendidik kedua anaknya dengan baik,” jelas Badim. Kian deras menggelontorkan sindiran.

Fix keluarga itu main babi ngepet dan ada benih-benih pelakor. Awas saja kalau sampai Bapak kepincut!” seru Nunik murka. Kepalanya mengepul, dadanya panas, wajahnya merah.

Berulang gelengan kepala mengiringi kepergian Badim. Sudah jenuh dia mendengar argumentasi istrinya yang kian tidak berdasar.

Masuk kamar. Badim membuka gembok laci meja. Dikeluarkannya cepuk bekas wadah minyak rambut. Sesaat membukanya, mata Badim membulat. Buru-buru Badim menghitungnya. Dan benar, uangnya hilang dua ratus ribu.

Tidak ada yang pegang kunci gembok laci selain dirinya. Pula istri dan anak-anaknya mana berani mendekat setelah ancamannya yang tegas. Namun Badim kali ini memilih diam. Dia tidak berminat cerita ke istrinya. Khawatir istrinya itu justru mendapat bahan baru untuk bergosip.

Baca juga  Trilogi

Badim berangkat ke pos ronda. Sempat beberapa bulan kegiatan ronda berhenti karena Pandemi. Baru sebulan ini ronda digiatkan kembali setelah banyaknya aduan kehilangan.

Lalu seminggu terakhir, isu babi ngepet mencuat. Mulanya Yon yang mengaku melihat sekelebat bayangan babi hitam keluar dari kontrakannya. Setelah memeriksa rumah, tabungan nikahnya tinggal setengah. Padahal bertahun-tahun Yon mengumpulkan uang dari penghasilannya sebagai tukang kunci.

Selepas pengakuan dari Yon, bergiliran warga lain menyatakan kehilangan. Memang mereka tidak mengatakan melihat bayangan babi hitam sebagaimana Yon. Akan tetapi isu tentang babi ngepet tidak surut melainkan menjadi-jadi.

Sesampai di pos ronda, Badim seolah mendapat durian runtuh kala melihat Yon. Dia memang belum mendengar penuturan langsung dari Yon. Selama ini dia hanya mendapat cerita dari penuturan kaset perekam. Siapa lagi kalau bukan istrinya.

“Lho, Yon, bukannya malam ini bukan jadwal rondamu?” sapa Badim basa-basi.

“Saya ikut ronda tiap malam, Pak Dim. Saya bertekad mau menangkap babi ngepet itu. Sakit hati saya, tabungan nikah dicuri. Mana pacar saya mengancam putus kalau tidak menikah tahun ini.”

Di pos ronda sekarang berkumpul 4 orang piket ditambah Yon sebagai sukarelawan dan total menjadi 6 orang dengan kedatangan Badim.

“Tinggal bawa ke KUA ini apa susahnya, Yon,” tukas Pak Mul, menyela.

“Perempuan mana yang sudi dinikahi cukup di kantor KUA kalau bukan karena hamil duluan, Pak Mul!” sungut Yon, kesal.

“Istriku tidak neko-neko. Sepulang nikah di KUA, cukup mampir ke rumah makan bersama kedua pihak keluarga. Tidak ada resepsi-resepsian,” timpal Pak Har.

“Dulu Pak Guntur dan Bu Risma juga begitu,” kenang Pak Mus. Dia bisa dibilang tetua di perumahan itu.

Baca juga  Hati Kutub Utara

“Mengenai Pak Guntur dan Bu Risma apa sudah lama tinggal di perumahan ini, Pak Mus?” sela Yon tiba-tiba.

“Sudah lama. Sejak cluster-cluster baru mulai dibangun. Bahkan ketika deretan rumah Pak Badim dahulunya masih kebun pisang,” jawab Pak Mus.

“Dua tahun tinggal di sini, anak sulungnya sakit mendadak lalu meninggal. Mungkin karena trauma, mereka pindah ke rumah lain. Beberapa kali mereka renovasi rumah hingga jadi semegah sekarang,” imbuh Pak Husni yang sama seniornya seperti Pak Mus.

“Anak pertamanya meninggal, Pak?” Badim refleks bertanya. Di perjalanan ke pos ronda tadi, dia sempat browsing tentang ciri keluarga yang menggunakan pesugihan babi ngepet. Disebutkan bahwa biasanya pesugihan jenis itu meminta tumbal anak kesayangan. Pikiran Badim mulai tergiring.

“Waduh, jangan-jangan benar kasak-kusuk itu!” Yon sepertinya menangkap sesuatu yang juga telah ditangkap Badim.

“Kasak-kusuk apa?” Pak Mus dan Pak Husni saling berpandangan.

“Paling soal babi ngepet. Iya, bukan?” tanya Pak Mul memastikan. Yon mengangguk.

“Sejak muncul cluster baru dan beberapa rumah dikontrakkan, pencurian kerap terjadi. Anehnya, baru kali ini ada isu babi ngepet. Banyak yang percaya pula,” tutur Pak Har yang menjabat sebagai Ketua RW kesal.

“Saya hari ini kehilangan uang juga, Pak. Tidak banyak memang. Hanya 200 ribu,” aku Badim.

“Coba diselidiki dahulu lebih teliti. Nanti juga pencurinya bakal ketemu. Alih-alih babi ngepet, biasanya pencuri asli justru orang yang tidak disangka,” nasihat Pak Mus kepada Badim.

Maka ketika Badim mendapat giliran keliling patroli, dia diam-diam mampir ke rumahnya. Dia mengintai kamar tidurnya dari tirai jendela. Istrinya tampak kelimpungan di kamar tidur. Selang menit kemudian, istrinya merogoh kunci dari daster. Beranjak ke laci, membukanya dengan kunci, dan mengambil uang dari cepuk.

Baca juga  Misteri Gigi Kakek

Keterkejutan Badim tidak sampai di situ. Istrinya melakukan panggilan video dengan Yon.

“Dapat berapa malam ini? Jangan lupa komisi untukku atau kubongkor sandiwara babi ngepetmu!” ancam Nunik pada Yon.

“Aku tidak takut dengan ancamanmu lagi. Berani kau bongkar sandiwaraku, aku akan membongkar sandiwaramu! Aku tahu, kunci cadangan yang kau pesan itu kau gunakan untuk apa!” tegas Yon membalikkan keadaan. Merasa menang.

Badim menggeretakkan giginya dalam persembuyian. Geram. ❑

*) Endang Sri Sulistiya, ibu rumah tangga sekaligus penulis lepas, lulusan Fisipol Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Average rating 3.4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. iwan

    Mohammad Setiawan Wibisono
    X Axioo
    SMK Nuris Jember
    “saya suka ceritanya yang membuat saya penasaran, tapi endingnya malah tidak ada resolusi yang membuat bikin penasaran lagii. Hadehhhh…”

  2. Mvalentsadaffa

    Nama : Muh.Valentsa Daffa Saktiawan
    Sekolah : SMK NURIS
    Kelas : X TKJ Axioo

    saya suka cerpen ini karena ceritanya bagus mantap kali

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: