Cerpen, Pipiet Senja, Republika

Gema Takbir Masih Kudengar

2.7
(6)

Satu pagi di penghujung tahun 2012, aku baru mengambil wudhu untuk shalat Dhuha. Tiba-tiba, napasku sesak sekali disertai rasa nyeri luar biasa di bagian kiri dada. Rasanya menusuk-nusuk, dalam sekejap rasa nyeri itu merambah ke punggung. Tak tahan dengan sesak dan rasa nyeri yang menghebat aku pun ambruk. Sepertinya, aku sempat tak sadarkan diri, entah berapa lama.

“Bu Haji, sadar, ya Bu Haji. Pingsan nih si ibu, aduh. Gak ada siapa-siapa lagi.”

Perlahan, aku membuka mata, masih terasa nyeri di dada bagian kiri, tetapi tidak begitu sesak lagi.

“Tolong, minta minum,” pintaku susah payah mengucapkan sepatah dua kata. Perempuan yang telah lama menjadi asistenku itu tergesa mengambilkan air hangat dari galon. Ia tinggal di rumah kontrakan sebelah rumah yang kutempati bersama putriku.

“Terima kasih, Bi. Untunglah Bibi belum pulang.” Kutatap wajahnya yang tampak mencemaskanku.

“Iya, tadi mau ambil cucian di mesin cuci, eh, lihat Bu Haji dikira lagi tiduran, tapi masa iya depan kamar mandi. Pingsan ternyata, ya Bu Haji?”

Aku tak bisa meladeninya karena rasa nyeri yang aneh itu masih bersemayam di dadaku, kepalaku pun mendadak sakit. Dokter sudah pernah mengingatkan, dampak pengangkatan limpa dan kandung empedu, dipastikan bakal terjadi komplikasi. Masalah kesehatan yang disebutnya akan jauh lebih serius selain penyakit abadiku, talasemia.

“Bibi, mau ya antar aku ke HGA?”

“Iya, iya, bisa!” sahutnya terdengar semangat membantu.

“Baik, kita pergi ke UGD-nya. Eh, panggil becak dulu, ya, tolong.”

Aku sama sekali tidak beranjak dari tempatku ambruk, tidak ganti baju pula selain merangkapnya dengan gamis dan mengenakan jilbab. Otakku segera menghitung tabungan yang tersisa. Sepertinya tinggal 300-an ribu saja. Bagaimana kalau harus dirawat? Sambil dipapah si bibi naik becak, otakku memikirkan cara mendapatkan dana besar dalam tempo sesingkat ini.

Aku baru saja keluar dari perusahaan penerbitan nasional. Bosnya, sahabatku, sangat baik terhadapku. Banyak buku karyaku yang diterbitkan. Dia memberiku keleluasaan waktu dalam berkarya, disela menebar virus menulis ke pelosok Tanah Air dan mancanegara. Jadi, waktu kerjaku boleh dipilih dan disesuaikan dengan kegiatanku di luar. Dengan catatan yang penting tiap bulan ada naskah yang bisa diterbitkan.

Ternyata, perlakuan istimewa bos ini tidak disukai oleh beberapa karyawan tetapnya. Mereka yang baru bergabung di perusahaan menganggap aku dianakemaskan! Aku menerima keputusan jajaran direksi, berhenti tanpa diberi pesangon. Ada perjanjian lisan dengan bos, mendapatkan kontrak ekslusif. Caranya, mengajukan proposal untuk menulis sejumlah buku anak-anak, dibayar honornya per bulan atau secara periodik.

Baca juga  Kandang Kambing Nurjawilah

“Boleh, sebentar akan ditransfer, Teteh. Semoga sehat kembali dan tetap berkarya.” Demikian balasan dari sahabatku, si bos, atas permintaan pinjaman dana.

Ketika dokter di UGD HGA telah memeriksa hasil laboran dan menyarankanku diopname di RSCM, transferannya telah masuk ke rekeningku. Tiga jam menunggu mendapatkan izin dokter UGD tidak jua ada yang bisa mengantar ke RSCM. Kuputuskan menandatangani keterangan minta pulang sendiri.

Aku memanggil taksi langganan. Sore itu aku pun meluncur ke UGD RSCM seorang diri. Anak sulung sibuk di kantornya, adiknya belum lama menikah dan hamil muda, tempo hari mengalami pendarahan. Aku tidak ingin merusuhi anak-anak. Mereka sedang menghadapi banyak masalah. Biarlah semuanya kutanggulangi sendiri.

Selama dua hari dua malam aku dirawat di ICCU, didiagnosis terkena serangan jantung ringan. Ada penyumbatan di jantung, kalau tidak membaik juga harus dilakukan tindakan, dikateter jantung, pasang ring.

Seorang koas cantik berkerudung sering menemaniku, menjadi teman berbincang jika dia sedang santai dan aku boleh duduk. “Sejak sekarang Ibu tidak boleh melakukan kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran,” ujarnya suatu saat.

“Misalnya apa, Dok?”

“Naik tangga, bepergian jauh….”

Tuiiing! Jadwal sisa tahun itu masih padat; kelas menulis di pesantren-pesantren, undangan ke Amerika Serikat, Yaman, Iran, dan Tunisia. Semua itu harus dibatalkan. Ya Allah, betapa berat ujian-Mu kali ini, kesahku membatin. Belum lama cerai, kemudian harus pergi dari rumah, hanya membawa baju yang dipakai saja dan sebuah laptop.

Hari ketiga aku diperbolehkan pulang. Dua anakku tak ada yang tahu kalau ibu mereka sempat ambruk di ICCU. Sekali ini dengan komplikasi; jantung error plus diabetes melitus.

Memasuki tahun baru 2013. Beberapa hari aku tinggal di Masjid At-Tin. Berbaur dengan para pendatang lainnya, mereka yang tinggal atau singgah di masjid yang dibangun oleh Tien Suharto. Di sinilah aku mendapatkan hikmah dari ujian-Nya, berupa rezeki yang tak disangka-sangka. Dana Rp 35 juta terkumpul dari pengajian Ratih Sang, melalui perantara Ustaz Bobby Herwibowo.

Kemudian, jumpa Ustaz Jefry Al Bukhori alias Uje, bersama manajer sebuah televisi swasta, aku didapuk sebagai bintang tamu program acara yang diberi nama; “Assalamu alaikum Ustad”. Sempat curhatan dengan Uje di ruang tunggu, ia menyemangatiku. “Jangan di-dengerin tuh diagnosis dokter. Seenaknya saja bilang umur orang sebentar lagi. Umur mah hanya Allah SWT yang Mahatahu. Mana tahu ane yang sehat kuat begini malah duluan pergi….”

“Jadi, bersedia nih kalau kita bikin event di Taiwan, Taz?” tanyaku.

“Mau banget. Iya, jadwalkan sajalah, Teh. Kalau sudah fiks, hubungi langsung manajer ane, ya Teteh.”

Baca juga  Hadiah di Ujung Maut

Siapa sangka, ketika undangan dari Taiwan baru kuterima, tiba-tiba ada BBM dari Ratih Sang dan Teddy Snada. “Teteh, kita telah ditinggal oleh saudara kita, Uje.” Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun.

Berkat bantuan sahabat-sahabat, terutama Ustaz Bobby Herwibowo dan jamaah taklimnya Ratih Sang, aku mendapat rumah cicilan di Cibubur. Aku mengira, di sinilah tempat tinggalku hingga dipanggil Sang Pencipta. Ternyata tidak. Sebab, putriku memutuskan bercerai. Mantan suaminya tidak berkenan kami tetap tinggal di rumah yang uang mukanya dariku, sementara mereka mencicilnya.

Maka, kembali aku tak punya rumah tinggal. Patungan dengan anak-anak, kami pun bisa menempati rumah kontrakan di kawasan Lippo Cikarang. Ada sahabat budiman yang berkenan memberi hak guna pakai sebuah ruko untuk kantor bisnis kami. Agaknya, ia bersimpati dan sangat mendukung ikhtiarku dan anak-anak. Kami telah mewujudkan keinginannya memiliki buku biografi yang mencerahkan. Alhamdulillah, semoga Allah SWT membalas ketulusan hatinya dengan pahala dan rezeki berlimpah.

Seorang sahabat berhati mulia lainnya mengucurkan sejumlah dana untuk memodali perusahaan penerbitan yang kami beri label Pipiet Senja Publishing House. Kulayangkan rasa terima kasihku kepada sahabat sejak bertahun-tahun silam.

“Terima kasih, Kang Budi Sulistianto. Berkat dukungan dan kepercayaan Anda, sepanjang tahun 2015 Pipiet Senja Pubslishing House telah menerbitkan 12 buku.”

Sementara kondisi kesehatanku belum stabil, semangat yang kumiliki masihlah terpelihara. Semua bersumber dari sosok-sosok yang kusayangi, terutama anak-anak dan cucu-cucu. Setiap kali bersama mereka, aku merasa masih dibutuhkan, masih bermanfaat.

Pada 17 Februari 2021: Aku dinyatakan terpapar Covid-19, tertular dari menantuku. Bersama sulungku, istri dan dua anaknya, kami pun dikarantina di Wisma Atlet. Sejak awal pun tim dokter sudah meragukanku bisa bertahan, meskipun termasuk orang tanpa gejala dan tanpa keluhan apa pun. Masalahnya, aku lansia dengan komorbid.

Aku ditempatkan tak jauh dari meja tim dokter. Setiap saat, mereka mendatangiku, menanyakan keluhanku, memeriksaku dengan cermat, seraya mengulang menanyaiku riwayat penyakit. Agar tidak buang waktu, kutuliskan saja sekilas riwayat penyakitku di karton bekas tutup kotak makanan, “Saya dengan talasemia, kardiomegali, ashma bronchiale, diabetes mellitus, dan dinyatakan positif Covid-19.”

“Obat apa saja sebanyak ini, Suster?” tanyaku takjub dengan segenggam pil yang diberikannya berikut makan pagi itu. Kuhitung ada 24 butir, masya Allah!

“Antibiotik dan suplemen, Bu.”

“Saya talasemia, loh, Sus. Kalau kebanyakan antibiotik efeknya HB saya akan hancur dong.”

“Oh, sejak kapan talasemia?”

“Sejak dilahirkanlah, namanya juga cacat genetik.”

“Oh, iya, ya. Sering transfusi?”

Baca juga  Suara Azan

“Tiap bulan, bisa bertahan sih dua bulan, tetapi HB-nya tinggal 6.”

“Nanti dikonsulkan dengan dokter spesialisnya, ya Bu.”

Antibiotiknya ternyata bukan pil saja, melainkan melalui injeksi dan infus. Injeksi heparin per enam jam sekali di perut. Belum injeksi insulin sebelum makan, ini bisa kulakukan sendiri. Infus botol kecil pertama pada hari kedua pukul 08.00 berjalan lancar. Infus kedua pukul 14.00, baru beberapa menit seketika terjadi reaksi. Rasa panas dan gatal luar biasa menyerang sekujur tubuhku. Aku berteriak minta dokter menghentikan infusannya. Mereka minta maaf karena tidak tes lebih dahulu, langsung diinfuskan.

Hari demi hari kujalani dengan ikhlas, berdamai dengan kondisi apa pun sambil memperkuat ibadah, berzikir, berdoa, dan membaca ayat-ayat suci Alquran sungguh membuatku tangguh. Setelah 10 hari di HCU, dokter mengizinkanku bergabung dengan keluargaku di kamar rawat biasa. Dua hari di situ dokter mengizinkan keluarga anakku pulang. Aku bersikeras ikut pulang. Anakku menandatangani keterangan pulang paksa. Jika terjadi sesuatu dengan emaknya ini maka anakkulah yang bertanggung jawab.

Gema takbir sayup-sayup masih kudengar dari masjid yang tak jauh dari rumah kontrakan putriku. Aku mengajak cucuku, Qania, pergi ke masjid untuk membayar zakat. Tampak gadis kecil kelas dua SD yang selalu kutemani sekolah daring selama pandemi ini semringah. Wajahnya mirip ibunya yang sedang meniti karier sebagai notaris.

“Besok Lebaran mau ke mana kita, Manini?” tanyanya sambil memegang tanganku.

“Maunya sih ketemuan dengan Zein dan Zia,” sahutku seketika merasa sedih, memendam rindu kepada dua cucu yang langka jumpa sejak orang tua mereka berpisah. Ya, dari lima cucu, hanya Qania yang paling dekat dan selalu menemaniku.

“Moga saja diizinkan ketemu Aa Zein dan Teh Zia,” ujar Qania terdengar sebagai doa yang takzim. Ia menengadahkan kedua tangan, tepat di depan masjid.

Pada 16 Mei 2021, umurku akan genap 65 tahun. Sebagai rasa syukur yang tiada terhingga, maka aku ingin mencetak ulang buku memoar Bagaimana Aku Bertahan. Berharap masih bisa berbagi dengan saudara-saudara perempuan, mereka yang terpuruk dan dizalimi. Bangkit dan Lawan, Saudariku! ***

Depok, April 2021

Pipiet Senja lahir di Sumedang pada 16 Mei 1956 dari pasangan Hj Siti Hadijah dan SM Arief (alm)—seorang pejuang 45. Seratusan novelnya telah diterbitkan.

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. fifki

    saya suka cerpen ini karena kata kata nya mudah dimengerti

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: