Bagus Likurnianto, Koran Tempo, Puisi

KISAH PENUNGGANG KUDA; COWONGAN

3
(2)

KISAH PENUNGGANG KUDA

: kepada Satrio Hans

.

perjalanan ini bermula dari kesepian

di atas pelana kuda di kemarau musim kemarin barangkali

kita perlu mengingat lorong teduh yang didiami bangsa jin

.

satu di antaranya menyambutmu dari mulut goa di ngarai

menghendaki seorang musafir tertelan ke perut bumi

dan aku yang menggerutu di kepalamu membayangkan sebaliknya

.

“tapal itu dipijakkan ke jalan Allah,” katamu, “aku bertandang padamu.”

“kuterima kedatanganmu, wahai tamu Allah,” sambut seorang muslim

.

kudamu tak mungkin bisa lewat, kau mengetahuinya sejak mula

tetapi, mungkin kau tak pernah membayangkan yang satu ini:

.

betapa mustahil bagi musafir tanpa air dan suluk syair safar

apalagi untuk sebuah perjalanan gelap dan amat rahasia

terlebih lorong itu persis dunia yang penuh tipu daya

demikianlah sebelum akhirnya seorang wanita menawarkan hatinya

.

aku mengetahui satu hal yang berbahaya darinya

lidah bercabang lagi berbisa desisnya menggema di mulut sahara

aku mengetahui satu hal yang mengerikan darinya

tubuhnya sebatang pedang yang kelak menyayat mayatnya

.

“duhai nasibmu, nang, kelana dicincang segala lena di pelana

duhai nasibmu, nang, kelana dicincang segala lena di pelana!”

.

apa yang kuketahui bersusulan dengan firasat dan lesat

seekor kuda lain yang larinya gemuruh kematian

.

maka, perjalanan ini lagi-lagi berlanjut dengan kesepian di atas pelana kuda

di kemarau musim kemarin, barangkali kita perlu mengenang

lorong yang jalan keluarnya diciptakan sepanjang perjalananmu padaku

.

Dihyang, 2021

.

COWONGAN

.

di kemarau ini, selalu ada yang menunggu

menanggalkan musim di langit

dan menjatuhkannya lewat tangan boneka

.

batok siwur kau rias menjadi putri

yang bisa menebak arah angin

kekeringan pun tiada mungkin

.

dibiarkan berlama-lama di atas petak sawah

Baca juga  Pengakuan Alina

sebab duka hanya tergaris di gerimis

amis sesaji yang menghidu dewi sri

.

dan kita meniup mantra ke anak-anak saat

menyaksikan waktu yang berjatuhan

dari sunyi yang melapangkan tiap balong

.

di kemarau ini, selalu ada yang menunggu

siapa yang meruntuhkan langit itu

di hadapanku?

.

Banjarnegara, 2021

.

Cowongan berasal dari kata cowong (Sanskerta) yang berarti lesu. Tradisi cowongan berangkat dari musim kemarau panjang yang membuat hasil tani layu, nyaris mati. Masyarakat Banyumas Raya kemudian memanggil hujan lewat boneka dari siwur.

Siwur ialah gayung yang terbuat dari batok kelapa dan bambu.

Bagus Likurnianto lahir di Banjarnegara, 9 Januari 1999. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Bulgaria. Bagus, yang juga tinggal di Banjarnegara ini, aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto dan mengasuh Komunitas Taman Kecil di desanya.

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: