Cerpen, Fajar Makassar, Kak Ian

Pak Guru Bakri Gagal Mudik Lagi

2.1
(7)

“Tahun ini kita tidak bisa mudik lagi. Kuharap kamu tidak kecewa apalagi marah padaku. Aku bisa memahami apa yang kamu rasakan. Tapi ini sudah aturan yang di atas, jadi aku harus mematuhi segala peraturan itu. Semua guru dilarang untuk mudik tahun ini,” dengan berat hati Pak Guru Bakri memberitahukan pada Lasmi, istrinya yang saat itu sedang menyiapkan makan sahur.

Pesan yang berupa pemberitahuan itu diterima oleh Pak Guru Bakri melalui WhatsApp, saat menjelang sahur dari rekan kerjanya sesama guru di mana ia mengajar. Jika seluruh ASN dilarang mudik tahun ini.

Pak Guru Bakri yang saat itu usai membacanya dari ponselnya itu langsung terdiam sejenak.

“Ya, sudah, Pak, mau dikata apa bila ada pelarangan mudik bagi guru macam kamu,” akhirnya Lasmi mengungkapkan juga keputusannya itu. Ia menerima situasi dan kondisi saat itu; jika dirinya beserta keluarga tidak bisa ke Semarang lagi, berlebaran ke rumah kedua orang tuanya.

“Ta-tapi aku kan sudah berjanji sama kamu, Bu.”

“Tidak usah dipikirkan apalagi dipusingkan lagi. Ayo, makan dulu nanti keburu imsak. Aku bangunkan Rocky dan Bilal dulu ya.”

Akhirnya makan sahur Pak Guru Bakri saat itu terasa hambar. Mungkin dirinya merasa tidak enak hati atau merasa bersalah karena ia tidak bisa mengajak istri dan kedua anaknya itu mudik. Berlebaran ke Semarang, ke rumah mertuanya? Entah.

***

Sebenarnya Pak Guru Bakri hanya seorang guru ASN dengan golongan 3a. Setiap gaji yang diterima olehnya hanya bisa menutupi kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan rumah bahkan juga untuk membayar sekolah bagi anak-anaknya yang masih sekolah. Selain itu sebagai anak sulung, Bakri juga harus mengirimi uang untuk kedua orang tuanya yang sudah renta di kampung. Tentu mereka harus bisa menyisati dan memutar otak agar roda kehidupan keluarga mereka terus berjalan harmonis.

Baca juga  Bapak

Tapi untungnya hal itu terbantu juga oleh Pak Guru Bakri yang punya sampingan menjadi ojol disela-sela ia mengajar online selama pandemi masih mewabah di negeri ini. Sedangkan Lasmi juga turut ikut membantu perekonomian keluarga dengan membuat kue-kue kering untuk menyambut lebaran. Jadi mereka saling menopang perekonomian keluarga dengan caranya masing-masing.

Walaupun sebenarnya Pak Guru Bakri merasa dirinya menjadi kepala keluarga tidak utuh. Dikarenakan Lasmi, istrinya ikut pula membantu perekonomian keluarga.

***

Keesokkannya, di pagi hari Lasmi menghidupkan televisi. Ia melakukan itu hanya untuk melihat acara siraman rohani ramadan seusai subuh tiba. Biasanya di bulan suci ini banyak sekali acara seperti itu. Akhirnya ia pun mencari channel serupa. Namun saat ia mencari channel untuk acara siraman rohani ramadan tetiba matanya tertuju pada berita sekilas hari itu.

Ternyata berita saat itu sedang menayangkan tentang para pemudik yang nakal khususnya para ASN yang diam-diam melakukan mudik. Namun naasnya sebagian dari itu ada yang terkena ciduk saat ada sidak penertiban bagi para pemudik yang nakal oleh petugas lalintas.

Salah satu di antara yang terkena ciduk itu ternyata ada yang sangat dikenal Lasmi. Di dalam layar kaca itu ia melihat ada rekan kerja suaminya yang sesama guru terkena penertiban bagi para pemudik yang nakal. Dan itu sangat familiar bagi Lasmi.

Bukankah itu Pak Guru Fulan beserta keluarganya?

***

“Pak, janji ya jangan nekat untuk mudik hanya karena permintaanku ini. Aku tidak mau nama baikmu tercoreng lantaran memikirkan egoku ini. Aku ikhlas tidak mudik tahun ini lantaran memang sudah aturan dari tempatmu bekerja. Bila semua ASN dilarang melakukan bepergian termasuk mudik,” tetiba Lasmi memeluk Pak Guru Bakri usai baru mengajar online.

Pak Guru Bakri yang tetiba dipeluk istrinya pun kaget. Tidak biasanya Lasmi begitu romantis siang itu. Namun ia hanya bisa membalas dengan sebuah bisikkan sesuatu ke telinga Lasmi.

Baca juga  Lebih Baik Ditampar Kejujuran

“Ini bulan puasa lho, Bu! Ada apa memangnya?” tanya Pak Guru Bakri pelan di telinga Lasmi sambil tersenyum. Seketika itu muka Lasmi seperti kepiting rebus.

“Ma-maaf ya aku jadi lupa, Pak, jika lagi berpuasa,” Lasmi langsung melepaskan dekapannya. “Oya, aku juga lupa lagi membuat adonan biji salak kesukaanmu untuk buka puasa nanti ,” lanjutnya mengalihkan rasa malu pada suaminya itu.

Lasmi langsung menuju ke ruang dapur tapi tetiba ponsel Pak Guru Bakri berdering. Ada telepon masuk dari salah satu rekan kerjanya sesama guru.

“Pak, pas subuh tadi lihat berita tidak? Jika tadi Pak Fulan terkena penertiban bagi para pemudik yang nakal. Ia terkena jaring. Sekarang ia lagi dapat sanksi dari kedinasan karena melakukan pelanggaran melakukan tindakan mudik secara diam-diam. Padahal saya sudah bilang sama dirinya jangan mudik apalagi bagi kita sudah ada pelarangannya. Tapi ia masih keras kepala masih mudik saja. Akhirnya ia mendapatkan pelajaran juga. Ia beserta keluarga terkena penertiban bagi para pemudik yang nakal terutama ASN….”

Pak Guru Bakri saat itu hanya terdiam, termangu. Ia sudah tidak lagi mendengarkan ucapan dari balik ponsel rekan kerjanya itu. Tapi ia sedang berpikir keras. Apakah ini ada kaitannya dengan Lasmi yang tetiba melunak?

Padahal Pak Guru Bakri sudah punya rencana memikirkan untuk melakukan mudik secara diam-diam!

Hingga lagi-lagi suara di balik telponnya, tidak lagi di dengar oleh Pak Guru Bakri. Ia sedang mencari jawaban atas perubahan Lasmi, istrinya saat itu. Atau, apakah ia harus nekat juga untuk melakukan mudik demi Lasmi yang merindukan kedua orang tuanya di kampung halaman. Walaupun istrinya itu sudah berkata dengannya, tidak perlu melakukan mudik kembali.

Baca juga  From Gaza with Love

Saat itu juga Pak Guru Bakri dipenuhi kedilemaan. Di satu sisi ia ingin sekali menuruti keinginan Lasmi, istrinya itu atau mengikuti aturan di mana ia bekerja. Setiap bagi guru ASN dilarang mudik. ***

KAK IAN, penulis, aktivis anak dan penikmat sastra. Saat ini aktif/founder di Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Penulis yang pernah menulis cerita anak berbahas Jawa ini di Majalah Jaya Baya, karya-karyanya juga sudah dimuat di berbagai media cetak nasional dan lokal serta online. Bukan hanya itu saja sudah memiliki buku solo sebanyak 5 buku.

Average rating 2.1 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: