Cerpen, Koran Tempo, Tommy Duang

Pengakuan Alina

4.4
(9)

Pengakuan ini ditulis ketika anak-anak di tempat saya mengajar sedang mengerjakan soal ujian semester keenam. Sesekali saya mengangkat muka, memastikan mereka tidak nyontek jawaban orang lain; bekerja dengan jujur, sejujur saat menarasikan dosa-dosa di bilik pengakuan; atau setidaknya menulis hal yang murni lahir dari kepala mereka sendiri.

Di masa serba tidak pasti ini, kita kesulitan memantau perkembangan intelektual anak. Boleh jadi ada yang memasuki ruang ujian hanya bermodalkan pena, tanpa isi kepala. Ada pula yang datang dengan kepala setengah kosong, walaupun banyak pula yang kepalanya penuh. Karena itu, ruang ujian harus diawasi ketat.

Pemakluman pada dua paragraf pembuka di atas penting untuk kisah kita hari ini: Pengakuan Alina ditulis dengan perhatian terbagi. Karena itu, bila ditemukan ada bolong di sana-sini, atau ada informasi yang tidak benar, silakan koreksi saya. Sebab, kasus Alina ini benar-benar menghantam kemanusiaan kita.

“Dia benar-benar seperti iblis,” katanya.

Itu kisah tentang suaminya. Mereka menikah pada April 2010 dan bercerai hampir sebelas tahun kemudian. Dua hari setelah perceraian itu, Alina ditikam dalam gelap dan saat saya menulis ini dia sedang terbaring di rumah sakit, bergulat sendirian melewati masa kritis.

Kami terakhir kali bertemu tiga minggu lalu. Malam itu matanya sama sekali tidak bercahaya, mungkin karena semua jenis penderitaan bercokol di sana. Udara terasa panas; rumah masa kecil kami cukup dekat dengan pantai; Alina mengenakan sweter hitam, kaus tangan murahan, dan topi berwarna abu-abu.

Tiba-tiba saja ia menangis, seperti tangis perempuan dewasa pada umumnya ketika mengalami penderitaan tak tertahankan dalam hidup mereka; kehilangan anak tunggal, misalnya. Tetapi Alina tidak punya anak.

Saya mematikan api rokok ketika dalam tangis ia terbatuk-batuk dan mengibaskan tangan kanannya menghalau asap. Pikirannya mengambang seperti asap rokok; mengembara ke mana-mana, ke masa lalu yang suram, ke bekas-bekas luka di balik sweter, dan ke masa depan yang abu-abu, antara ada dan tiada.

Ia teringat akan lidah ibu mertuanya yang setajam silet London; kakak perempuan suaminya, seorang perawan tua yang suka gossip; dan ipar laki-lakinya yang tidak tahu diri. “Keluarga suamiku betul-betul seperti iblis,” katanya selepas mengatur napas.

Selama sepuluh tahun hidup di antara manusia-manusia itu, ia merasa tertekan dan tidak bahagia. Satu-dua tahun awal, semuanya baik-baik saja. Segala sesuatu berubah ketika Alina tidak kunjung hamil serta memberi suami dan ibu mertuanya anak. Orang-orang di sekitarnya mulai menjadi seperti iblis dan rumah mereka perlahan-lahan menjadi seperti neraka.

Tidak tahan menjadi manusia di antara iblis-iblis itu, Alina memutuskan untuk menjadi seperti iblis juga. Waktu itu umurnya dua puluh lima. Mata bola pingpongnya masih seindah waktu berumur tujuh belas dan lesung pipinya tidak pernah kehilangan pesona.

“Saya pikir, bukan saya yang mandul.” Diraihnya bungkus rokok dari hadapanku, mengeluarkan sebatang dan menyulutnya. Ia mengisapnya dalam-dalam, membuang asapnya sembarangan, lalu terbatuk sambil memaki-maki.

Baca juga  Pemeran Utama Langsung Mati di Menit Pertama

“Maksudmu?”

“Sepuluh tahun menikah dan kami tidak punya anak. Saya mandul.”

“Mungkin suamimu yang mandul.”

“Saya tidur dengan satu-dua teman kerja. Tidak ada hasil.” Dia mengatakan itu tanpa sedikit pun rasa bersalah seolah-olah tidur dan bercinta dengan laki-laki yang bukan suami itu lumrah.

Saya berusaha untuk tidak bereaksi. Lagi pula tidak adil menuntut kesetiaan dari seorang perempuan yang tidak lagi diberi kebahagiaan oleh suami dan seluruh keluarganya.

Asap rokok dari mulutnya bergulung-gulung di hadapan kami berdua dan saya kembali menyalakan sebatang. Debur ombak sesekali terdengar dan dari kejauhan terdengar lolongan anjing.

Umur kami hanya terpaut dua tahun. Dulu, waktu masih kecil, Alina paling tidak tahan mendengar lolongan anjing di tengah malam. Biasanya dia langsung melompat ke dalam pelukan ayah saat telinganya menangkap suara lolongan anjing. Saat itu ayah masih hidup dan ibu belum pergi dari kehidupan kami bertiga.

“Sejak kapan kau merokok?”

“Lima tahun lalu,” jawabnya sambil menanggalkan sweter hitam yang membalut tubuhnya. Di balik sweternya, ia mengenakan selembar kaus putih tipis. Di kedua lengannya ada beberapa bekas luka yang sudah mengering.

Saya menggenggam lengan kirinya dengan tangan kanan dan bertanya apakah suaminya memang sekejam itu. Dia mengatakan bahwa pria itu dan seluruh keluarganya lebih kejam dari yang pernah saya bayangkan.

“Masih banyak luka lain. Dan sebanyak itu pula saya lari dari rumah.”

Di puskesmas tempatnya bekerja, Alina memiliki tiga rekan kerja laki-laki. Dua orang sesama perawat dan dulu sama-sama kuliah di Makassar. Salah satu dari keduanya, dua tahun lebih muda dari Alina, dulu waktu masih kuliah, pernah tergila-gila kepadanya.

Dan satunya lagi petugas keamanan yang baru bekerja sekitar tiga tahun lalu. Badannya tinggi besar sebagaimana petugas keamanan pada umumnya, berotot, atletis, dan merupakan seorang mantan polisi yang dipecat karena kasus perselingkuhan.

“Saya pernah tidur dengan ketiganya,” katanya sambil menghunjamkan puntung rokok ke asbak dan menghamburkan asap dari mulutnya sembarangan.

“Suamimu tahu?”

“Wawi jantan satu itu tidak pernah tahu.”

“Kau memanggil suamimu babi?”

“Ibu, saudari, dan adiknya juga babi. Maka mereka saya beri tai.”

Dia menyulut lagi sebatang dan bertanya apakah saya memiliki bir. Ketika saya mengatakan bahwa ada tiga botol bir yang saya simpan sejak tiga hari lalu, ia langsung berjalan menuju lemari pendingin, mengambil dua botol dan membuka salah satunya dengan senduk makan sebelum menghabiskan setengahnya.

Diletakkannya botol bir itu di atas meja dan ia mulai menangis. Saya berdiri, memeluknya, dan mengatakan bahwa saya akan selalu ada untuk mendengarkan semua ceritanya. Dia mengatakan bahwa sikapnya sudah kelewat batas dan tidak seharusnya membiarkan rumah tangganya hancur.

Suaminya bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar di kampung tetangga. Lelaki itu, yang kerap dipanggilnya babi, berangkat sekolah setiap hari sebelum jam tujuh pagi dan pulang menjelang jam dua siang. Dia hanya digaji empat ratus ribu rupiah sebulan dan tiga perempat dari jumlah itu dihabiskan untuk membeli bensin serta merawat sepeda motor Honda bebeknya yang telah berumur dua puluh dua tahun.

Baca juga  Kaing-Kaing Anjing Terlilit Jaring

Bertahun-tahun lalu, ketika pernikahan mereka masih berusia satu tahun, Alina menyarankan agar suaminya berhenti mengajar dan beralih profesi menjadi petani sayur atau peternak babi atau penjual ikan.

Ibu mertua dan kakak perempuan suaminya marah besar. Mereka beranggapan bahwa satu-satunya pekerjaan yang layak untuk lulusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) seperti suami Alina adalah mengajar anak-anak sekolah dasar. Lagi pula menjadi guru adalah kebanggaan yang sangat luar biasa bagi siapa pun di kampung Alina, tidak peduli berapa gaji yang diterima sebagai balas jasa.

Untungnya, perekonomian mereka sedikit terbantu ketika Alina diterima sebagai perawat di puskesmas di ujung kampung dan membuka usaha jual-beli online sebagai pekerjaan sampingan. Penghasilannya tidak seberapa, tapi cukup untuk menjaga agar asap dapur mereka tetap mengepul, agar gaya hidup sebagai pasangan guru dan perawat di desa tetap terjaga, dan yang paling penting, agar mulut dan perut suami, mertua, kakak-adik iparnya tetap diberi makan.

Penyelewengan yang sering Alina lakukan dengan teman-teman kerjanya dan juga satpam itu dimulai sekitar dua tahun lalu ketika kekerasan yang dilakukan suaminya semakin menjadi-jadi. Tapi akhir-akhir ini penyelewengan itu dirasanya belum cukup mengerikan, mengingat betapa jahatnya lelaki itu dan semua keluarganya. Maka Alina melakukan satu permainan ringan yang membuat hatinya bahagia.

“Sekali seminggu saya memberi mereka sup ayam yang dicampur setengah botol air kencing,” katanya setelah menenggak habis sebotol bir. Dia mengatakan itu tanpa sedikit pun rasa bersalah seolah-olah saya dan seluruh dunia ini biasa mencampurkan setengah botol air kencing ke dalam sup ayam untuk kemudian dihidangkan kepada orang lain.

Suami, ibu mertua, dan kakak-adik iparnya sangat menyukai sup ayam. Waktu memakan sup ayam adalah satu-satunya saat ketika empat orang itu tiba-tiba menjadi begitu baik hati kepada Alina.

Biasanya itu terjadi pada setiap Sabtu siang. Alina tidak bekerja pada Sabtu, kakak dan adik iparnya pergi ke pasar mingguan di kampung tetangga, suaminya ke sekolah, sedangkan ibu mertuanya mengikuti program wajib lansia di puskesmas. Alina sendirian di rumah dan punya banyak waktu untuk melakukan hal mengerikan itu.

Setelah memastikan hanya sendirian di rumah, Alina bergegas mandi di kamar mandi yang merangkap toilet. Sehabis mandi, ia berjongkok sebentar di kloset, sambil menyikat gigi, dan menadah air kencingnya dengan penggayung.

Setelah berpakaian di dalam kamar mandi-toilet berukuran satu setengah kali dua meter itu, ia langsung menuju ke dapur untuk memindahkan air kencing tersebut dari penggayung ke dalam botol bekas minyak goreng. Biasanya bumbu-bumbu telah dihaluskan lebih dulu oleh kakak iparnya sebelum pergi ke pasar dan Alina tinggal menggorengnya sebelum dimasukkan ke dalam panci dengan satu liter air dan beberapa potong daging ayam.

Baca juga  Arajang

Saat sup ayam sudah setengah matang, Alina memasukkan setengah botol air kencing itu ke dalam panci. Tidak ada bau bacin karena wangi bumbu jauh lebih tajam. Cita rasa air kencing juga tidak terasa di lidah. Walaupun demikian, Alina merasakan kebahagiaan tak terkira.

Demikianlah, setiap Sabtu siang, Alina menyajikan sup ayam untuk keluarga suaminya.

“Dan kau tidak merasa bersalah?” Saya menyulut lagi sebatang rokok dan menuangkan bir ke dalam gelas.

“Bersalah karena apa?”

Di kejauhan, anjing melolong piluh di sela-sela suara debur ombak dari pantai. Jam dinding yang tergantung tepat di atas kulkas menunjukkan pukul satu dini hari dan mata saya mulai mengantuk. Saya menyarankan agar Alina segera tidur karena besok paginya saya harus ke sekolah dan dia pulang ke rumah suaminya.

“Cerita saya belum selesai,” katanya. “Kami akan bercerai. Lalu lari ke Papua. Saya dan Marsel. Dia juga akan menceraikan istrinya.”

“Marsel siapa?”

“Satpam itu.”

“Jangan bodoh.”

Tanpa sedikit pun rasa bersalah, Alina menceritakan bahwa dia mencintai laki-laki itu. Mereka telah lama berencana pergi jauh, memulai suatu kehidupan yang lain di tempat yang lain pula. Mereka akan ke Papua.

Telah lama keduanya berencana melarikan diri. Hanya, satpam itu belum berani menceraikan istrinya. Maka Alina membantu memberanikan hati laki-laki itu.

Setiap Sabtu siang, Alina menyiapkan juga satu rantang sup ayam untuk laki-laki itu, sup ayam yang sama seperti yang dia hidangkan untuk ibu mertua dan tiga orang anaknya. Sup ayam dengan setengah botol air kencing.

Alina percaya hal yang bertahun-tahun lalu diajarkan ibu kepada kami berdua, hal buruk yang juga dilakukan ibu kepada ayah. “Kalau nanti suamimu kasar dan susah diatur, beri dia air kencing. Campurkan dalam makanannya. Dia akan jinak seperti kuda yang diberi garam.”

Dan benar. Baik suaminya maupun satpam itu kemudian jinak. Satpam itu pun menceraikan istrinya, setelah selama setahun diberi sup ayam racikan Alina, dan berencana menghilang ke Papua.

Namun pelarian itu tidak pernah terjadi. Kini Alina berbaring tak berdaya di rumah sakit dengan tiga luka tusukan di kedua pinggangnya. Malam sebelum mereka melarikan diri, istri satpam itu mendatangi kamar kos yang sering Alina gunakan, dengan belati mengkilat-kilat di tangan dan api cemburu berkobar-kobar di dada. ***

Tommy Duang lahir di pedalaman Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 26 Januari 1995. Sekarang bekerja sebagai guru di SMA Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu, salah satu sekolah berasrama di Pulau Flores. Pada Januari 2021, Tommy menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya, berjudul Sepanjang Azan Akan Berkumandang.

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Kal

    Soal air kencing yang dimasukkan ke makanan itu apa tidak mubazir? Diulang2 sampai 6-7 paragraf. Harusnya bisa dikembangkan ke hal lain.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: