Cerpen, Haluan, Mahan Jamil Hudani

Susu Jahe yang Membuat Seorang Pemuda Hampir Putus Asa karena Tak Laku-Laku Akhirnya Mendapatkan Kekasih Baru

5
(1)

APA yang kau rasakan ketika usiamu telah jauh melebihi dua puluh lima bahkan telah mendekati kepala tiga namun kau belum pernah mengalami indahnya bercinta? Ah tidak, maksudku kau belum pernah memiliki seorang kekasih walau sekali saja dalam hidupmu padahal sungguh batinmu selalu merasakan kesepian yang sangat luar biasa hingga membuatmu benar-benar hampir putus asa.

Itu bukan karena kau tak pernah mengalami jatuh cinta, tapi entah kenapa jalinan nasib seolah tak pernah berpihak padamu, kau selalu saja gagal mendapatkan seorang kekasih di masa lalu. Saat kau benar-benar merasakan jatuh cinta, perempuan itu ternyata telah memiliki seorang kekasih dan akhirnya kau tak berani mendekatinya untuk menyatakan perasaanmu kepadanya.

Itulah yang dialami temanku, Miftah Basori namanya. Sama sepertiku, ia seorang guru SMA. Aku tahu betul kisah hidupnya yang merana. Ia bahkan benar-benar hampir putus asa. Sebagai teman, aku tentu saja sering memberi saran, namun ia memang benar-benar tak memiliki keberanian. Sungguh, ia pemuda lugu yang tak pernah ingin mengganggu hubungan percintaan perempuan, selain ia memang tak punya kepercayaan diri yang sebenarnya bagiku adalah sebuah sikap rendah hati. Ia sesungguhnya pemuda yang memiliki karakter baik; suka menolong, tak perhitungan, ramah, sifat yang sebenarnya bisa menjadi modal utama untuk bisa dekat dengan perempuan. Hanya saja selain tak memiliki rasa percaya diri dan tak ingin mengganggu hubungan orang, ia memang agak tertutup.

“Kalau kau mencari seorang perempuan jomlo, terlebih jika perempuan itu cantik, akan sulit bagimu mendapatkan kekasih,” kataku padanya. Seperti biasa ia hanya diam. Aku menyarankan agar ia mengutarakan perasaannya pada perempuan yang ia suka meski mungkin perempuan itu telah memiliki kekasih. Tapi rupanya susah juga mengatakan apapun padanya, sikapnya yang agak tertutup dan susah bercerita tentang perasaannya menjadi penghalang utama. Sungguh sifatnya berkebalikan denganku yang bisa dekat dengan siapa saja, bahkan dengan murid-muridku sendiri.

***

Aku tak menyangka jika aku bertemu dengan Shofwa, nama lengkapnya, Shofwatun Nada. Ia dulu muridku, juga murid temanku, Miftah Basori, yang saat itu adalah seorang guru baru dan belum lama wisuda dari kampusnya. Shofwa kini telah duduk di semester akhir perguruan tinggi. Itu berarti aku tak bertemu dia kira-kira empat tahun lamanya. Ia sungguh jelita, aku sendiri sering menatapi parasnya saat aku sering mengajar di kelasnya saat ia masih di bangku SMA. Untunglah aku baru menikah saat itu, hingga buru-buru aku mengalihkan pandanganku jika aku ingin lama-lama menikmati parasnya.

Baca juga  Sebotol Hujan untuk Sapardi

“Kau senang susu jahe rupanya?” Tanyaku pada Shofwa saat kami bertemu sore itu. Aku baru pulang mengajar dan hari tiba-tiba hujan, aku singgah di perjalanan dan di sekitar situ aku menemukan kedai susu jahe. Aku melihat Shofwa, sedang menyesap susu jahe.

“Iya Pak, susu jahe hangat itu sungguh nikmat. Sudah sangat lama Shofwa senang susu jahe, Pak.” Shofwa bercerita padaku dengan lepas. Ia terbiasa menyebutkan namanya sendiri saat berbicara padaku.

“Aku tahu tempat minum susu jahe yang nikmat kalau kau mau.” Sungguh aku ingat Miftah Basori. Aku tahu jika ibu Miftah memiliki kedai susu jahe. Aku ingin mengajak Shofwa ke sana nantinya dan berniat menjodohkan Miftah Basori dengan Shofwa. Aku bercerita pada Shofwa serupa penjual obat yang lihai bahwa ada kedai susu jahe yang sangat nikmat luar biasa. Aku sengaja tak menceritakan terlebih dulu jika kedai susu jahe itu milik keluarga Miftah Basori. Oh ya, aku sama sekali tak tertarik bertanya pada Shofwa tentang kekasihnya. Aku tahu dulu semasa ia SMA, ia telah memiliki seorang kekasih, tapi sungguh itu bukan urusanku, meski aku yakin, perempuan jelita seperti Shofwa pasti susah dipercaya jika tak memiliki pacar.

***

“Ayo, besok hari Sabtu kita ke kedai susu jahe Pak Miftah lagi.” Aku mengirim pesan pada Shofwa.

“Maaf Pak, Shofwa tidak bisa,” balasnya singkat.

“Kenapa? Kan susu jahe hangat Pak Miftah sangat nikmat. Shofwa juga suka kan?”

“Iya Pak. Tapi Shofwa tak bisa, sedang sibuk menyusun skripsi, Pak.”

Aku sebenarnya memaklumi jawaban Shofwa tersebut meski terasa aneh bagiku. Satu minggu lalu aku benar-benar mengajak Shofwa ke kedai susu Miftah Basori. Temanku itu sungguh kaget luar biasa saat aku mengajak Shofwatun Nada ke sana. Miftah tak bisa juga menyembunyikan kebahagiaannya. Jelas terlihat sekali dari roman muka dan sikapnya yang salah tingkah, namun aku bisa membuat suasana menjadi lebih cair. Begitu juga Shofwa, ia sempat bertanya kenapa aku tak bercerita lebih dulu padanya jika aku mengajaknya ke kedai susu jahe Pak Miftah yang juga gurunya semasa SMA. Aku hanya tersenyum tak begitu menanggapinya. Aku juga merasa pertanyaan Shofwa itu tak begitu penting. Shofwa juga kurasa sekadar kaget, tapi tak begitu mempersoalkan. Ia bahkan sempat ngobrol dengan Miftah setelah kuciptakan suasana lebih kondusif. Aku lalu mencoba menghindar, membiarkan Shofwa dan Miftah berbincang cukup panjang lebar. Aku senang, sepertinya Shofwa bertambah dewasa dan ramah, meski aku tahu ia memang begitu sejak masih di bangku SMA.

Baca juga  Penjual Dongeng

Saat Shofwa pulang terlebih dahulu dengan mengendarai sepeda motornya, aku melihat Miftah Basori membungkuskan beberapa plastik susu jahe yang masih sangat panas sambil berkata agar Shofwa bisa menikmatinya setiba di rumah dalam keadaan hangat. Ya, aku dan Shofwa tadi berkendara dengan sepeda motor sendiri-sendiri menuju ke sini. Kami bertemu di tempat yang telah kami tentukan. Aku sendiri belum pernah ke rumahnya. Setelah bayangan Shofwa berlalu, Miftah mencecarku banyak pertanyaan.

“Shofwa sedang tak memiliki kekasih saat ini,” jawabku pada Miftah. Ia tak percaya, bertanya lebih detail, namun aku katakan dengan gaya yang sangat meyakinkan jika Shofwa baru putus dengan kekasihnya. Aku sebenarnya sungguh sama sekali tak tahu menahu dengan urusan itu. Aku asal bicara saja pada Miftah. Aku melihat wajah Miftah begitu cerah.

Tentu sungguh aneh jika Shofwa tak mau aku ajak ke kedai susu jahe Miftah lagi. Hal aneh lagi, beberapa hari ini Miftah sering membawakanku susu jahe ke sekolah setiap pagi. Susu jahe itu tetap terjaga panas karena Miftah membawakanku susu jahe masih dalam termos kecil, tak hanya satu termos. Jika aku bertanya padanya tentang termos satunya, ia menjawab bahwa itu pesanan orang yang akan ia antarkan sepulang mengajar. Aku biasanya menunggu sebentar saat sudah kutuangkan dalam gelas agar masih terasa hangat. Aku juga memperhatikan Miftah kini sering menghabiskan waktu di laboratorium komputer, asyik tenggelam di depan layar monitor.

Beberapa bulan berlalu, tak kudengar lagi kabar tentang Shofwa. Beberapa kali aku mengajaknya ke kedai susu jahe, ia selalu menolaknya karena benar-benar sibuk dengan skripsinya. Akhirnya aku jarang dan hampir-hampir tak pernah mengiriminya pesan. Di sekolah, Miftah juga kulihat makin sibuk di lab komputernya. Ia tetap membawakanku susu jahe dalam termos setiap pagi. Satu termos lagi entah untuk siapa, ia antar sepulang sekolah.

***

Aku mendengar penuturan Miftah dengan penuh keterkejutan dan kebahagiaan. Ia memintaku dengan sangat agar aku ikut hadir dan mendampinginya untuk acara petunangannya yang akan dilangsungkan Sabtu malam. Ohh akhirnya temanku itu memiliki kekasih dalam hidupnya, untuk pertama kalinya, bahkan akan melangsungkan pertunangan. Ia tersenyum bahagia tanpa menjawab siapa kekasih barunya.

Kali ini aku kembali terkejut luar biasa saat aku tiba di rumah calon istri Miftah Basori. Ternyata perempuan yang menjadi kekasih Miftah tersebut adalah Shofwatun Nada. Aku tentu gembira sekali meski merasa agak sebal karena aku seperti dipermainkan. Ternyata setelah pertemuan di kedai susu jahe Miftah itu, hubungan mereka berlanjut. Miftah tak menyiakan kesempatan ketika kuceritakan padanya bahwa Shofwa baru putus cinta. Momentum seperti inilah yang ia nanti, momentum seorang perempuan jelita yang sedang tak memiliki kekasih membuat rasa percaya diri Miftah timbul.

Baca juga  Kisah Ganjil Seorang Penggali Kubur

“Sungguh terlalu kau, Miftah. Tak bercerita jika Shofwa telah menjadi kekasihmu,” kataku sebal di acara pertunangan itu.

“Aku hanya ingin membuat kejutan yang menyenangkan untukmu,” jawab Miftah datar.

Sepulang mengajar dari sekolah, Miftah selalu mengantar termos berisi susu jahe untuk Shofwa. Setiap hari dalam beberapa bulan hingga Shofwa merasa senang karena Miftah begitu perhatian. Hal yang lebih membahagiakan Shofwa lagi adalah Miftah membantu Shofwa dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakan skripsinya. Itulah juga kenapa Miftah begitu sibuk beberapa bulan ini di lab komputer sekolah, ternyata ia sedang membantu mengerjakan skripsi seorang perempuan yang kemudian menjadi kekasih barunya.

Satu hal yang lebih mencengangkan lagi adalah, ternyata Miftah telah mencintai Shofwa sejak perempuan itu masih di bangku SMA. Miftah sungguh tak punya keberanian waktu itu terlebih Shofwa juga telah memiliki kekasih. Ternyata juga, Shofwa telah memiliki kekasih saat Miftah datang padanya. Hanya saja hubungan Shofwa sedang sangat buruk dengan pacarnya. Kesungguhan dan perhatian Miftah dengan membawakannya susu jahe kesukaannya juga membantu keras dalam mengerjakan skripsinya, membuat Shofwa memutuskan untuk menerima cinta lelaki itu, lelaki yang pernah menjadi gurunya. ***

MAHAN JAMIL HUDANI. Adalah nama pena dari Mahrus Prihany. Lahir di Lampung Utara, 17 April 1977. Lulusan Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO). Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel) sebagai ketua. Kini juga Kepala Sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), serta Redpel di portal sastra Litera.co.id. Karyanya tersiar di berbagai media massa dan antologi bersama. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), dan Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021).

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: