Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Literasi Oportunistik

4.5
(13)

Karakter adalah pohon yang kuat, sementara reputasi adalah bayangannya yang senantiasa berubah oleh pergerakan matahari. Gagal menjadi pohon adalah gagal menjadi diri sendiri. Sibuk menjaga reputasi adalah kesia-siaan tanpa koma.

***

Siapa saja pegiat literasi itu? Bisa siapa saja. Meliputi banyak lini pekerjaan dan kegiatan. Dari yang paling umum: pengelola taman baca, pustakawan, relawan berbagai bidang, aktivis sosial, semua guru atau tenaga pendidik dan sejenisnya, penulis, motivator, pendakwah, bahkan penyanyi, pelukis, dan status atau sebutan yang berafiliasi dengan upaya men(s)yiarkan kebaikan, kebermanfaatan, atau semacamnya.

Dalam praktiknya, banyak sekali ironi yang terjadi di tengah ladang bernama Literasi itu, yang menempatkan pegiat literasi itu sendiri sebagai biang keroknya.

Ya, prinsip berliterasi yang kerap—sengaja diabaikan—banyak orang, bahkan pegiatnya sendiri, adalah:

Sebelum jauh-jauh memberi manfaat, kebahagiaan, dan petuah ini-itu kepada orang lain, penuhi dulu hak diri kita sendiri, keluarga kita, dan orang-orang tedekat kita.

[1] Pastikan kita meluangkan waktu untuk menunaikan hak diri kita sendiri: hidup sehat, beribadah dengan tenang, bergembira melakukan hobi, atau melakukan “kegabutan” yang tidak merugikan orang lain.🙂

Jamak ditemukan pegiat literasi malah tepar karena kelelahan menyusun materi presentasi, abai pada fitrah dan kebutuhan biologis sebagai manusia, atau tak pernah bisa menikmati perjalanan dan pergaulan karena dikejar agenda demi agenda.

[2] Pastikan kita sudah menunaikan hak orang-orang dalam lingkaran terdekat kita: orangtua, pasangan, anak(-anak) kita, dan tetangga kita.

Tidak sedikit pegiat literasi, yang saking sibuknya, tidak pernah menjenguk atau memanjakan orangtua, rumah tangga berantakan, anak tumbuh antisosial atau biang onar di mana pun ia berada, bahkan ia sendiri tidak mengenal tetangga-tetangganya.

Baca juga  Sesungguhnya Dia Sangat Cemas

***

Bagaimana mungkin kita “berhak” memberi jalan yang lurus bagi orang lain kalau kita bahkan buta-literasi tentang makan yang sehat itu, mengabaikan pengetahuan bahwa begadang itu membuat pankreas bekerja melebihi kapasitas, tak cakap memilih pasangan hidup, tak peduli pada rumah tangga sebagai muara segala literasi (ya, kalau memberi kasih sayang kepada keluarga saja kita selalu kerepotan, mau ceramah apa di luar sana?), atau malah lebih kerap salat di masjid raya kota—yang membuat kita leluasa bertemu para pejabat—daripada di masjid kompleks yang akan membuat kita auto-berinteraksi dengan para tetangga?

Kita bisa bicara apa sahaja. Ke mana-mana. Di mana-mana. Hingga ke langit ke-44. Tapi, kalau—sengaja—(me)lupa(kan) bahwa muara segala kebaikan yang lebih luas adalah beresnya literasi keluarga, kita sudah gagal meliterasi diri sendiri.

Kalaupun kita memaksakan terus bergerak dan berkarya atas nama urusan pribadi adalah urusan masing-masing, kita sebenarnya menunjuk diri sendiri karena … literasi adalah mengakuisisi urusan domestik umat manusia—yang mulanya semrawut—ke dalam keteraturan demi kebermanfaatan dalam persepsi publik yang universal!  Ya, mengavling-kavling literasi yang sejatinya milik semua bidang kehidupan adalah upaya deliterasi itu sendiri. Kita, dengan semua kepongahan atas nama kemaslahatan manusia, telah menyajikan sesuatu yang paradoks dengan melahir—jalan—kan literasi yang sinkretis dan oportunistik.

Kita mengabaikan hal-hal fundamental yang gagal dibereskan seraya terus memupuk urusan terkait reputasi di hadapan orang-orang yang tidak bisa menjangkau kehidupan pribadi kita.

Kalau sudah begitu, tidak ada bedanya kita dengan motivator projekan, politisi aji mumpung, atau tukang obat dengan mikropon soak, yang sebenarnya tidak bisa membuktikan apa-apa. Kita hanya pandai bicara. Mahir berkoar-koar. Dan menyalahgunakan ilmu retorika. Mereka bagai lupa bahwa, literasi itu punya hilir. Dan ia bukan ilmu pengetahuan, melainkan tindakan. Sekali lagi tindakan, titik. ***

Baca juga  Buku-buku Tak Punya Otak

 

Lubuklinggau, 19-26 Mei 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

 

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Terima kasih Pak Benny.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: