Aliurridha, Cerpen, Republika

Albert Tarantula

4.5
(2)

“Waq Jamal sudah ketemu,” teriak seorang pemuda. Wajah-wajah panik berlarian ke arah Jeger, pemuda yang menemukan Jamal.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Abdul, keponakan Jamal.

“Waq Jamal masih hidup, tapi dia…” Jeger tercekat. Ia tak menemukan kata untuk menjelaskan.

Ia menuntun mereka menuju tubuh Jamal yang terbaring lemas di kebun jati, di antara dua pohon paling tinggi. Badan Jamal bergetar, giginya bergemeletuk, dan semburat ketakutan memancar di wajahnya. Setiap jeda beberapa detik, dia meringis kesakitan. Daun telinga kirinya telah hilang dan terlihat darah segar mengalir di sana.

Rumah Jamal semalam disatroni perampok. Para tamu tak diundang itu meminta Jamal menyerahkan segala uang hasil panen tembakau. Jamal melawan. Namun, tak ada yang bisa dilakukan karena hanya dia lelaki dewasa di keluarganya sedangkan perampok itu berlima dan semuanya bersenjata.

Tak butuh waktu lama para perampok itu menghajar Jamal sampai ia tak mampu berdiri. Istri Jamal yang ketakutan oleh ancaman mereka memberikan semua uang hasil panen dan meminta mereka meninggalkan keluarganya. Tapi, para perampok itu tidak puas dan membawa Jamal bersama mereka.

Jauh sebelum sang surya ditarik dari peraduannya di ufuk timur, warga Buluksumur yang mengetahui perampokan di rumah Jamal panik mendengar kabar ini. Mereka beramai-ramai mencari Jamal. Mereka panik karena Jamal adalah orang penting. Ia adalah pemilik lahan pertanian tembakau paling luas di desanya. Banyak orang menggantungkan hidup padanya.

Kepanikan itu bukan disebabkan mereka benar-benar peduli pada nasib Jamal, melainkan lebih peduli pada nasib mereka sendiri. Mereka sama sekali belum mendapatkan upah untuk kerja sebagai buruh tani. Mereka tidak ingin Jamal mati sebelum upah mereka dilunasi.

***

Beberapa bulan belakangan, kelompok perampok yang dikenal dengan sebutan Golok Merah menebar teror. Rumah-rumah warga yang diketahui menyimpan harta disatroninya. Mereka tidak pernah salah sasaran, semua rumah yang terlihat lebih baik dari rumah-rumah lain di desa-desa sekitar Desa Buluksumur kena giliran. Kali ini adalah giliran Desa Buluksumur.

Abdul sebenarnya sudah berkali-kali mengingatkan Jamal untuk menyimpan uang di gudang milik Albert Tantular—pria kaya yang membuka jasa penitipan harta; uang, emas, perak, atau apa pun yang berharga. Serahkan saja padanya. Dia cukup mengambil 0,25 persen dari jumlah harta yang disimpan per bulannya. Harta yang disimpan di sana dijamin keamanannya. Tapi, Jamal menolak. Dia justru menjelek-jelekkan Albert dari balik punggungnya, mengubah nama belakangnya menjadi Tarantula. Padahal, Albert adalah rekan bisnisnya, tempat dia meminjam uang untuk modal tanam tembakau.

Baca juga  Tobat

Begitu mendengar musibah yang menimpa salah satu rekan bisnisnya, Albert langsung mengunjungi rumah Jamal. Dia mengucapkan belasungkawa atas musibah yang menimpa Jamal dan mengatakan kalau keluarganya tidak perlu membayar bunga untuk pinjaman modal tanam tembakau periode sebelumnya. Cukup lunasi saja pinjamannya dan itu pun boleh dicicil.

Dia juga menawarkan, sekali lagi, kepada keluarga Jamal untuk menyimpan harta dan uang mereka di gudang miliknya. “Gudang kami dijamin keamanannya, dijaga oleh orang-orang kebal berilmu tinggi,” bujuk Albert kepada istri Jamal.

“Tidak ada lagi harta yang kami miliki, Pak,” balas istri Jamal. “Kami bahkan tak tahu lagi bagaimana harus membayar para pekerja,” lanjutnya dengan berurai air mata.

“Jangan pikirkan itu, Bu. Nanti saya pinjamkan uang untuk membayar lunas upah mereka. Bila ibu dan bapak juga butuh modal tambahan, saya akan pinjamkan lagi dan saya berikan potongan bunga lebih kecil dari sebelumnya.”

“Betapa mulia hati Bapak Albert,” ucap istri Jamal seraya mencium tangan Albert. Air mata membasahi tangan gemuknya. “Kami tidak tahu lagi bagaimana harus membalas kebaikan hati Bapak Albert,” lanjutnya lagi.

“Ah, jangan begitu, Bu. Sebagai rekan bisnis, hanya ini bantuan yang bisa saya berikan. Saya sangat bersedih atas musibah yang menimpa Pak Jamal. Semoga, dengan ini persahabatan di antara kita semakin terjaga,” ucap Albert sambil mengelap tangan gemuknya dengan sapu tangan.

Istri Jamal sangat bahagia mendengar tawaran bantuan dari Albert. Dia menatap pria berkulit putih, pendek, gemuk, dan berperut buncit itu seolah-olah sedang menatap malaikat. Dia menganggap pria dengan pipi serupa bakpao itu benar-benar utusan Tuhan, dikirim untuk menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan. Kini, dia tidak perlu menjual sebagian tanahnya untuk modal tanam periode selanjutnya.

Albert pamit ke keluarga Jamal. Tapi, begitu mendekati pintu keluar, ia membalik badan, menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berjalan mendekat ke arah istri Jamal. Kemudian, dia berbisik pelan dengan tangan menutupi mulutnya, seolah suara pelannya masih kurang cukup untuk menyembunyikan kata-katanya. “Bu, saya harap nanti Ibu tidak mengulangi kesalahan Bapak; kalau sudah panen, uangnya disimpan saja di gudang kami. Dijamin aman.”

“Tentu saja, Pak. Saya berniat begitu. Saya tidak mau kalau kejadian seperti kemarin terulang pada keluarga saya,” ucapnya seraya menoleh kepada suaminya yang masih duduk merenung dengan pikiran yang tak jelas berada di mana.

***

Sejak perampokan yang dialami keluarga Jamal, makin banyak saja warga menitipkan hartanya di gudang milik Albert. Mereka takut rumah mereka mendapat giliran. Mereka takut kehilangan nyawa, atau lebih parah lagi; masih bernyawa tapi tidak lagi hidup, seperti yang terjadi pada diri Jamal.

Baca juga  Hujan Seribu Malam

Setiap hari, Jamal hanya duduk di kursi goyangnya, hidup tapi tak benar-benar hidup. Ia tidak melakukan apa pun selain bernapas, makan, minum, dan buang hajat. Itu pun semua dilakukan dengan bantuan istrinya. Tak ada lagi sosok pria yang keras, tegas, dan tak punya takut. Sosok itu telah lenyap bersama lenyapnya telinga kanan miliknya.

Dengan makin bertambahnya warga yang menitipkan barangnya, masalah mulai mendatangi Albert. Gudangnya kelebihan muatan. Dia sadar bahwa menumpuk harta sangatlah berisiko; bukan hanya risiko kerampokan, kehilangan, kecurian, tapi berbagai musibah alam yang sukar terprediksi. Harta-harta itu tidak memberikannya keuntungan apa pun selain sedikit uang jasa yang tidak sebanding dengan risikonya. Belum lagi, dengan makin terkenalnya gudang miliknya akan mengundang komplotan perampok dari segala penjuru negeri untuk berjudi, mempertaruhkan nyawa mereka demi hidup bergelimang harta.

“Kita membutuhkan gudang baru, Bos. Gudang sudah penuh dan yang mengantre masih banyak.”

“Kita tidak butuh gudang baru. Kita butuh orang yang pantas untuk dipinjamkan uang,” jawab Albert.

Albert telah memprediksi hal ini sejak awal memulai bisnis. Dia telah memprediksi bahwa gudangnya akan kelebihan muatan jika semua berjalan lancar. Dia juga telah menghitung-hitung kalau biaya pemeliharaan dan penjagaannya akan sangat mahal dan akan menjadi lebih mahal lagi jika dia me nambah gudang baru. Karena itu, dia telah berencana mengumpulkan orang-orang yang pandai mencari calon-calon potensial untuk menerima pinjaman. Calon-calon yang sudah diperhitungkan ketika menerima pinjaman tidak akan macet dalam mengembalikannya dan dengan bunga tentunya.

***

“Saya ndak nyangka Jamal selembek itu.”

“Saya juga. Saya pikir, dia setangguh yang diceritakan orang. Baru telinganya dipotong, dia jadi seperti mayat hidup.”

“Hahaha betul. Dasar lemah.”

“Kamu ingat tidak, bagaimana dia menangis waktu Ron memotong telinganya.”

“Dia menangis seperti anak kecil.”

“Untung saja Ron cuma memotong telinganya.”

“Betul. Kalau saya jadi Ron, akan saya potong penisnya biar dia tidak bisa lagi ena-ena.”

“Hahaha. Memangnya dia bisa ena-ena sekarang?”

Mereka tertawa begitu keras. Mereka tidak sadar saat itu ada seorang pemuda yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Pemuda yang tadinya akan ke kebunnya menanam ubi, berbelok mengikuti para pria tak dikenal yang sedang membicarakan sesuatu yang membuatnya penasaran. Pemuda itu memasang telinga baik-baik, berusaha untuk menangkap percakapan mereka.

Baca juga  Saat Ayah Meninggal Dunia

“Kamu sedang apa?”

Jeger terkejut. Seseorang menangkapinya sedang menguping pada keempat pria yang sedang meminum kelapa di tengah kebun. Begitu menoleh, dia bersyukur karena matanya menangkap sosok yang dikenalnya. “Sialan Abdul kamu bikin kaget saja,” ucapnya separuh berbisik.

“Kamu lihatin apa?”

“Kamu lihat orang-orang itu?”

Jeger menujuk pada keempat pria yang sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. “Sepertinya mereka adalah perampok yang merampok rumah Waq Jamal.”

Abdul terkejut. Wajah terkejutnya berubah panik. “Hei bodoh!” teriaknya memanggil keempat pria di depan. “Kalian tidak sadar sedang diikuti?” lanjut Abdul.

Apa-apan kamu Dul?” tanya Jeger panik. Mereka berlari ke arah Jeger dan Abdul. Jeger berusaha kabur, namun dengan begitu cepat seseorang memukul tengkuknya dan semua menjadi gelap. Jeger pingsan.

“Kalian bodoh. Kalian mau bikin bos ketahuan?” Abdul marah-marah.

“Terus kita apakan dia?”

“Kita bawa ke tempat bos,” jawab Abdul.

Saat itu, kesadaran Jeger mulai pulih. Ketika samar-samar mendengar percakan mereka, dia bertanya-tanya, siapa bos yang dimaksud Abdul?

“Lihat dia sudah pulih.” Seseorang menunjuk Jeger yang telah bangun.

“Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?”

“Ayo segera kita bawa ke bos. Biar bos yang tentukan nasibnya.” Abdul mengulangi lagi apa yang tadi dikatakannya.

“Dasar pengecut. Kalau kita selesaikan sekarang, bos tidak perlu tahu.”

Kata pengecut seperti pecut yang membawa Abdul pada ingatan menyebalkan. Ia menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya sambil menatap wajah teman-temannya.

“Aku sebenarnya tak mau membunuh orang,” ucapnya sambil melirik ke arah Jeger. “Tapi, bos sekarang sedang pusing. Bisa-bisa kita semua disembelihnya.” Abdul mengambil golok dari tangan seorang pria dan mengelus-ngelusnya seperti sedang mengelus anak kucing. Jeger menatap Abdul dengan mata memelas. “Dul, jangan Dul. Kita ini teman sejak kecil….”

“Harusnya kamu urus saja urusanmu sendi…” belum selesai bicara, Abdul sudah mengayunkan goloknya.

“Ngeri betul kamu, Ron. Tidak heran Bos Albert menyukaimu.” ***

Sandik, Januari 2021

Aliurridha, penerjemah dan penulis lepas. Tinggal di Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Sehari-hari, ia menulis esai, opini, cerpen, dan cerita horor. Karyanya tersebar di beberapa media baik cetak maupun daring. Aktif berkegiatan dalam komunitas Akarpohon.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: