Cerpen, Koran Tempo, Pangerang P Muda

Skandal Parfum Nyonya Fin

3.9
(9)

Kedatangan Tuan Iben belakangan ini mengusik ketenangannya. Dari serambi atas yang terbuka, ia sedang menyaksikan rombongan lelawa pulang ketika sebuah kereta kuda datang mengantar laki-laki itu. Ia masih ingin menatap rombongan lelawa yang seolah-olah renjis dawat di atas kanvas langit merah kesumba itu. Namun laki-laki yang ada di bawah sana sudah melintasi halaman menuju pintu depan. Bel pintu akan berkeloneng, dan, seperti biasanya, tak berhenti bila ia tak menemuinya. Ia duga laki-laki itu mulai menaruh prasangka. Makanya ia berpikir lebih baik mengecohnya dengan sambutan yang lebih simpatik. Bersela sejenak setelah pintu ia kuak, baru saja hendak menyapa, Tuan Iben sudah lebih dahulu mengumbar pujian, “Sore ini, kamu terlihat sangat cantik.” Secepat jengah menyapu parasnya, secepat itu pula Nyonya Fin membalik badan, mendahului tamunya ke dalam.

Tuan Iben menyusul dan berujar, “Sesekali keluarlah dari kastelmu. Sepertinya kamu banyak ketinggalan berita.”

“Berita apa?”

“Orang-orang di luar sana mulai bergosip tentang kejadian itu,” ujar Tuan Iben, mengiringi pemilik rumah menyusuri koridor. “Ada spekulasi mengatakan kematian perempuan itu tidak wajar.”

Nyonya Fin tak kuasa menyamarkan paras tak nyamannya. Ia menoleh, tepat ketika Tuan Iben juga sedang berpaling ke arahnya. Semeter setengah lebar koridor yang membagi dua bagian dalam rumah itu tidak cukup membentang jarak agar wajah keduanya tidak demikian dekat. Sorot mata Tuan Iben sampai seakan-akan menerjang tatap Nyonya Fin.

Nyonya Fin lekas menguasai diri. Sedikit bergegas, sebelum mencapai ruang duduk yang menghadap ke halaman belakang, ia menyergah, “Dan menurutmu?” lalu menekan dua sakelar di tembok. Ruang duduk benderang, menyusul lampu taman di halaman belakang. Merah kesumba langit di luar mulai kelam.

Tuan Iben mengedikkan bahu. “Entah benar, atau gorengan para penggosip belaka, katanya bisa jadi perempuan itu mati karena racun.”

Setan! pekik Nyonya Fin tersangkut di lidahnya. Ia tidak boleh goyah, ia mesti tegar. Berusaha membesarkan nyali, ia menatap lekat kilat kerjap bola mata Tuan Iben yang juga menatap tepat ke matanya, dan merasa makna tatap tamunya itu memang sedang menaruh syak. Atau … uh, jangan-jangan Tuan Iben sendiri yang menyebar gosip seperti yang dikatakannya itu? Sekilas terlintas di pikiran Nyonya Fin untuk menyumpal saja mulut Tuan Iben dengan bibirnya, tapi cepat-cepat pula ia tepis.

“Maklumlah; perempuan itu, walau sudah dinikahi oleh suamimu, tetap saja dicap istri simpanan. Tekanan hidup sebagai istri simpanan tentu tidak ringan. Ya, siapa tahu karena beratnya tekanan hidup yang dia alami, lalu memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya; mungkin minum racun.”

“Nah, ternyata kamu yang pandai berspekulasi,” cibir Nyonya Fin. Elok parasnya yang sedang mencebik membuat Tuan Iben tak ingin menanggalkan tatap.

Baca juga  Pengakuan

Seraya berpikir betapa usia paruh baya tidak juga melesapkan kecantikan wanita di depannya, Tuan Iben menggaruk-garuk dagunya yang mulai berbulu kasar setelah dua pekan tidak bercukur, bergumam, “Sebenarnya, ada yang lebih penting hendak saya katakan sore ini, alih-alih soal gosip….”

Ringkik kuda di luar membuyarkan kalimat Tuan Iben. Sais kereta yang dihela dua ekor kuda itu sepertinya memberi kode ada urusan lain yang harus Tuan Iben kerjakan. Dan sebelum tamunya membalik badan, Nyonya Fin sudah memikirkan siasat untuknya.

***

Gunjing perselingkuhan memang serupa aroma kakus yang menguar di gang-gang perumahan kumuh, dan hanya soal waktu sebelum ia ikut menghidu bacin baunya. Apalagi suaminya seorang pembesar, wakil pejabat utama pemerintah kota, yang sedang disiapkan mengganti pejabat utama yang sudah sepuh. Gunjing demikian tentu dengan enteng akan terus digoreng para seteru politik.

Dengan hati galaba, Nyonya Fin berkali-kali mengingatkan. Tapi suaminya tak peduli, malah kemudian nekat menikah siri. Pesona perempuan ternyata bisa membuat seorang lelaki sejenak lupa pada ambisi kekuasaan; dan pelabi suaminya, bahwa itu semata sebagai upaya mencari keturunan setelah dokter mendiagnosis rahim Nyonya Fin bermasalah, kian memedihkan pula hatinya. Dilamun rasa putus asa, Nyonya Fin berpikir: kenapa tidak menyelesaikan saja kisruh ini dengan sebotol parfum?

Rencananya kian bulat begitu mendapat pasokan kabar bahwa dirinya tidak cuma telah berbagi ranjang dengan perempuan lain, tapi juga kerap berbagi harta. Ternyata sudah terlalu banyak pemberian suaminya kepada perempuan itu. Meski suaminya tak henti menyodorkan pelabi demi mencari keturunan, mulai pula mengiba-iba, Nyonya Fin tetap tidak memberi restu pernikahan siri itu dan berkeras sekubit pun penghasilan suaminya tak akan dibagi lagi.

***

Di luar dugaan, sebotol parfum yang pernah ia kirim dibawa kembali suaminya ke rumah. Berbaring di ruang ICU, dalam tarikan napas yang terus melemah, suaminya mengaku botol parfum itu dia ambil dari rumah istri sirinya. “Untuk menambah koleksimu,” bisik suaminya, dan bilang botol itu dia surukkan saja ke kolong tempat tidur. Nyonya Fin paham betul bukan itu maksud suaminya: ia yakin suaminya bermaksud mengelakkannya dari jerat hukum, sekalian pengimbal kesalahan atas apa yang telah diperbuatnya.

Nyonya Fin kemudian menyembunyikan botol parfum itu di tempat yang hanya Tuhan dan dirinya yang tahu. Seburuk-buruk laku suaminya yang telah menduakannya, ternyata tetap tak ingin bila ia dipenjara dan menderita. Suaminya tahu, atau mungkin pula hanya menduga-duga, apa yang menjadi penyebab kematian istri siri itu. Sebelumnya, dalam sebuah pertengkaran hebat, dalam luap amarah Nyonya Fin melontar gaham akan meracun saja perempuan itu. Bisa jadi dari ancaman yang pernah ia lontarkan itu, serta kegemarannya bertahun-tahun bermain aneka jenis aroma parfum, membuat suaminya tak perlu berspekulasi panjang siapa yang telah mengirim botol parfum bercampur racun itu.

Baca juga  Celurit Warisan

Suaminya ada di rumah istri sirinya itu ketika kejadian dan menjadi satu-satunya saksi. Dalam kalimat terpatah-patah, suaminya sempat menguraikan kejadian itu, “Dia amat penasaran menerima kado dari kurir, lekas-lekas membukanya … uh, isinya ternyata sebotol parfum. Hadiah sebotol parfum bermerek, membuat perempuan mana pun girang. Dia sempat menyangka saya sendiri yang hendak membuat kejutan. Uh… betapa semangat dia membuka tutup botol parfum itu, menghidu aromanya … apa pula yang paling mungkin dilakukan orang yang menerima sebotol parfum, kecuali membuka tutup botolnya, lalu membaui aroma dari dalamnya? Dia menghidu … tidak sekali, tapi berulang, dan setiap hidu makin dalam, panjang, dan … tangannya gemetar ketika menutup kembali botol….

“Tidak berapa lama setelahnya, dia jatuh terduduk di depan meja riasnya,” sendat suaminya. “Dia bersandar di kaki meja, kepalanya terkulai. Kemudian … entah berapa lama pula … uh, aliran napasnya sudah terhenti. Lekas saya ambil botol parfum itu… hh, saya menduga, isi botol parfum itu yang telah membuatnya jatuh terduduk, sebelum meninggal. Orang-orang mengira dia kena serangan jantung …menyamakan dengan penyakit saya….”

Dengan berakhirnya hidup perempuan itu, Nyonya Fin mengira persoalan telah selesai: ia bisa memiliki kembali suaminya, dengan utuh, bisa pula menyemangatinya meneruskan kembali karier politiknya yang tinggal seundakan sebelum menjejak puncak sebagai pejabat utama pemerintah kota. Namun, kematian perempuan itu justru menjadi pemicu penyakit jantung suaminya yang sudah lama diidap memburuk, sampai kemudian upaya medis tidak bisa lagi membantu.

***

Sepeninggal suaminya, semua berjalan normal-normal saja, sampai Tuan Iben mulai kerap bertandang dan membawa teror baru. Teman almarhum suaminya itu di satu sisi terang-terangan menampakkan rasa suka kepadanya, tapi di sisi lain justru memulai mengungkit-ungkit kejadian itu. Atau, jangan-jangan suaminya pernah tanpa sadar bercerita kepada Tuan Iben, bahwa Nyonya Fin pernah dalam luap emosi mengancam akan meracun madunya itu? Atau, uh, ini lebih mengerikan bagi Nyonya Fin: Tuan Iben berusaha menekannya atas sepotong info itu, dan hendak menukarnya dengan imbalan rasa menyukai?

Nyonya Fin takjub skenario yang ia rancang bisa berjalan sukses, termasuk mengecoh kurir dengan menuliskan isi paket itu alat kosmetik dan mencantumkan toko pengirim yang palsu. Lewat sebulan setelah kejadian itu, dan tidak juga ada kasak-kusuk kabar penyebab kematian perempuan itu selain faktor “ajalnya memang sudah sampai”, membuat Nyonya Fin merasa sudah bisa melepas beban. Namun Tuan Iben malah datang menyinggung-nyinggungnya.

Hari itu Tuan Iben berlama-lama menatap ke dalam lemari pajang koleksi botol parfumnya, seperti menghitung, yang dipenggal Nyonya Fin, “Jumlahnya sudah dekat seratus. Ada yang kamu minati?”

Baca juga  Tas Hitam di Bandara Ketika Pintu-Pintu Tertutup

“Tidak semua kosong,” kata Tuan Iben, tidak merespons tawaran si pemilik koleksi.

“Saya tidak cuma mengoleksi botol parfum kosong, beberapa botol masih dengan parfumnya,” ujar Nyonya Fin. Ia merutuki rasa ingin tahu tamunya, yang menegangkan parasnya, meski sedikit mengendur ketika Tuan Iben berkata, “Kapan-kapan, saya yang akan menambah koleksimu.”

“Oh, ya,” Tuan Iben menjauhi lemari tempat memajang botol-botol parfum itu. “Saya pernah membaca artikel, bahwa di setiap botol parfum bekas itu punya kisah. Katanya di situ ada asmara, tragedi … oh, semakin berbalut misteri sebuah botol parfum, kolektor semakin bergairah memilikinya. Hmm, sebagai kolektor, apakah menurutmu memang seperti itu?”

Selama ini Tuan Iben tidak pernah menampakkan ketertarikan pada botol-botol parfum, sampai pada hari kedatangannya itu. Makanya Nyonya Fin menganggap Tuan Iben sedang memancing-mancing, atau lebih tepat sedang cari perkara dengannya. Dan kalau kedatangannya memang berniat melakukan semacam penyelidikan, tidak akan ada hasilnya; Nyonya Fin tidak bodoh, ia tidak menyertakan botol parfum beracun itu di dalam rak-rak lemari pajang koleksinya.

Merasa Tuan Iben benar-benar mendatangkan teror baru, membuat Nyonya Fin mematangkan siasat yang telah ia rancang untuknya.

***

Seraya berjalan menuju kereta kuda yang menunggu, Nyonya Fin melongok isi tas tangannya untuk memastikan pisau cukur itu masih di tempatnya. Kemarin ia menawarkan bantuan yang membuat Tuan Iben amat girang, “Berewokmu sudah panjang dan berantakan. Besok saya akan ke rumahmu mencukurnya.” Merapatkan topi lebar yang menyamarkan parasnya, Nyonya Fin tersenyum menaiki kereta kuda.

Sepanjang perjalanan, tak henti ia membayangkan seperti apa kelakuan Tuan Iben nanti saat ia mencukur berewoknya: bisa jadi merayu, atau malah tak sungkan mengelus bokongnya seraya mengekang hasrat; dan dalam gairah yang berbeda, Nyonya Fin membayangkan pula bagaimana nanti pisau cukur di tangannya bergerak bolak-balik di dagu dan pipi Tuan Iben sebelum meluncur turun menekan urat leher laki-laki itu. Sudah pula ia siapkan gertak, “Jangan ungkit-ungkit lagi kejadian itu!” ***

Pangerang P Muda menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Ia telah menerbitkan empat buku kumpulan cerpen: Menghimpun Butir Waktu (2017), Svetsna (2018), Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019), dan Perkara Pisau Lipat dan Laba-laba Emas (Sampan Institute/2021). Keseharian sebagai guru SMK dan berdomisili di Parepare.

Average rating 3.9 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: