Cerpen, Media Indonesia, Yaya Marjan

Wong Agung

3.5
(4)

AULA tempat mengaji mulai sepi. Lampu utama juga sudah padam. Namun, Amir masih duduk sambil bergumam dan memegang kepala. Sebagai mahasiswa eksak di sebuah perguruan tinggi negeri, Amir belum bisa menerima cerita Gus Riqza. Tidak masuk akal. Dia tak percaya ada orang yang bisa mencomot rembulan; bisa menjadikan air sebagai bahan bakar sepeda motor; dan bisa berjalan di atas air.

“Ada-ada saja Gus Riqza, mustahil,” gumam Amir sambil membetulkan letak kacamata minusnya yang makin tebal.

Gus Riqza merupakan putra seorang kiai yang masyhur di daerahnya. Setiap bakda tarawih, Gus Riqza mengadakan ngaji pasanan untuk jemaah Majlis Ngudoroso yang dia asuh. Kebanyakan mereka para pekerja pabrik dan sebagian lagi masih berstatus mahasiswa, seperti Amir. Ramadan ini, Gus Riqza membacakan kitab Akhlaq al-Muslim Alaqotuhu bi al-Mujtma’ karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily.

Saat sampai bab amal kebaikan, Gus Riqza mencontohkan beragam amal kebaikan dan bisa menjadi sedekah, “Berdiam diri di rumah saat pandemi seperti sekarang, juga sedekah,” ujarnya. Di sela-sela ngaji, Gus Riqza berkisah tentang wong agung yang memiliki kekuatan besar, tapi selalu menahan diri untuk tidak menggunakannya. “Beliau kalau mau, bisa nyedani mereka yang mengejek. Sampai beliau emosi dan ngucap sesuatu, maka terjadi. Besok kamu mati, ya besok mati! Tapi beliau sebisa mungkin ngeker, menahan diri tidak melakukannya. Menahan tidak melakukan sesuatu yang padahal kita bisa melakukannya, itu sangat berat,” ujarnya dengan sorot mata yang tajam saat menceritakannya.

Malam itu rembulannya utuh, langitnya cerah bertabur bintang. Sinarnya menuntun Amir melihat sekeliling aula. Matanya menyapu semua sudut. Sorotnya berhenti sejenak pada jam dinding yang jarum pendeknya belum menunjuk angka 12. Pandangannya kembali mengedar dan menubruk tiga orang yang masih meriung di aula. Dibantu cahaya purnama, samar-samar dia bisa mengenalinya: Zaki, Badawi, dan Ulum. Lamat-lamat dia mendengar apa yang mereka obrolkan.

“Saya malah pernah dengar kalau beliau bisa berlipat ganda.” Itu kata-kata Ulum yang bisa Amir dengar. Lainnya tak tertangkap. Mungkin karena hanya Ulum yang suaranya kencang saat ngobrol. “Pasti bahas cerita Gus Riqza,” gumam Amir lalu mendekati mereka.

“Jadi kalian percaya?” pertanyaan itu seketika meluncur dari mulut Amir. Tanpa basa-basi, dia langsung duduk meriung, tepat di samping Zaki.

“Maksudmu, sosok yang diceritakan Gus Riqza?” Zaki menanggapi.

“Iya,” jawab Amir. Spontan mereka langsung menjawab dengan jawaban yang sama, tapi volumenya berbeda. “Jelasssssssss!!!” suara Ulum terdengar paling nyaring karena volumenya tinggi dan panjang.

Zaki yang teman kuliah Amir satu jurusan, tahu arah pertanyaan Amir. Dia menepuk pundak Amir dengan peci hitamnya yang sudah lusuh. “Heh, kamu kok gak percaya kalau beliau wong agung, kekasih Gusti Allah? Beliau itu wali.”

“Jauh sebelum Gus Dur jadi presiden, beliau pernah bilang kalau Suharto akan lengser, dan Gus Dur jadi presiden,” kata Badawi. “Ini yang cerita Pak Wakid. Dan benar, Suharto lengser, dan Gus Dur juga jadi presiden,” imbuhnya. “Betul, istilahnya sabdo dadi,” timpal Zaki.

“Kang Busthomy, seniorku di sekolah pernah cerita. Dia pernah salat Jumat satu baris dengan beliau. Tapi beliau juga salat Jumat di masjid daerah lain. Jadi beliau bisa ada di banyak tempat,” Ulum ikut bercerita.

Baca juga  Perahu Penjemput Arwah

“Secara logika, tak masuk akal. Apa iya, air bisa jadi bahan bakar. Coba motormu isi air. Berani?” tantang Amir. “Dan kalau rembulan dicomot begitu saja, itu berdampak pada peredaran bumi dan matahari, pastinya alam semesta goncang. Ini jelas tidak masuk akal,” sangkal Amir lagi.

“Mir, beliau itu wali, wong agung yang suci. Jangankan cuma air jadi bahan bakar motor. Mengeluarkan air susu dari tembok, beliau juga bisa dan mudah,” kata Zaki.

“Ah, semua yang kalian ceritakan hanya katanya. Kalian tak menyaksikannya langsung. Ini zaman serbadigital, bro! Hati-hati, banyak kabar bohong dan pencitraan,” balas Amir berbarengan suara lonceng jam dari tembok aula.

“Sudah pukul 12 malam, saya pulang dulu. Mau ke Pantai Bandengan sama Kang Dono,” kata Zaki pamit pulang. “Eh sebentar, itu ada Kang Busthomy, santri ndalem. Tanya saja langsung. Dia pernah melihat sendiri keramat beliau,” susulnya sambil menunjuk seseorang yang mendekati mereka.

“Kalian kok belum pulang, sudah jam tumpuk loh,” tanya Kang Busthomy. “Iya ini Kang, lagi bahas sosok agung yang diceritakan Gus Riqza,” jawab Zaki. “Dan Amir tidak percaya, Kang,” imbuh Badawi.

“Sudah ya, saya pulang dulu. Assalamualaikum…” kata Zaki. “Waalaikumsalam…” semuanya menjawab.

Kang Busthomy mendekati Amir dan memegang pundaknya. “Kamu kenapa kok sampai tidak percaya?” tanya Kang Busthomy. “Lalu kalian di sini membicarakan beliau, dikiranya beliau tidak tahu? Jangan salah, beliau itu wali,” imbuhnya sembari melihat satu persatu wajah mereka.

Semua diam, hening. Untung malam purnama yang cerah itu, masih ada suara jangkrik yang mampu memecah keheningan. Badawi seketika ingat sesuatu. “Kang, apa saat beliau mengambil rembulan, juga pas purnama seperti sekarang?”

Kang Busthomy tak menjawab, dia menaruh jari telunjuk ke bibir karena lamat-lamat terdengar suara yang memanggil namanya. “Kalian dengar?” Tanyanya. Suaranya tak asing dan makin terdengar seru. Arahnya dari rumah yang tak jauh dengan aula. Gus Riqza. Benar, itu suara Gus Riqza. “Thom… Thomy, sini Thom.”

“Nah itu, Gus Riqza memanggil,” kata Kang Busthomy dan bergegas menuju rumah Gus Riqza.

***

Kang Busthomy kembali ke aula. “Kalian sudah ngopi?” tanyanya. “Belum, Kang!” Ulum cepat menjawab. “Kebetulan, Gus Riqza menawarkan kopi. Nanti bisa sekalian bertanya tentang sosok wong agung yang barusan kalian obrolkan,” kata Kang Busthomy sambil melirik Amir dan mengajak mereka masuk ke rumah Gus Riqza.

Gus Riqza duduk bersila di ruang tamu, bersarung batik hijau; kaus oblong putih; dan peci yang tingginya sekitar 11 sentimeter berwarna hijau mirip samber lilin. Di depannya ada meja setinggi 50 sentimeter dengan panjang 3 meter yang di atasnya berjejer kitab-kitab klasik, salah satunya kitab karya Syaikh Wahbah.

Gus Riqza memberi isyarat tak perlu salaman. Semua langsung duduk dan jaga jarak. “Tunggu sebentar,” kata Gus Riqza lalu masuk ke dalam. Kang Busthomy ikut masuk. Biasanya, dia yang menyajikan hidangan untuk tamu. Badawi dan Ulum saling lirik, “Dapat kopi gratis,” kata Ulum pelan.

Baca juga  Sumur Gumuling

Kang Busthomy kembali ke ruang tamu, tapi tak membawa apa-apa. “Loh kok kosongan?” Badawi menyindir karena Kang Busthomy keluar tanpa nampan. “Sstt…. Malam ini istimewa, Gus Riqza sendiri yang meracik kopi,” kata Kang Busthomy tak kalah pelan sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya.

Tak lama Gus Riqza keluar membawa nampan berisi lima cangkir kopi dan tiga piring kancang rebus. “Ini kopinya,” Gus Riqza mempersilakan lalu meminta Kang Busthomy membeli makan sahur di warung langganan. “Nanti sahur bareng,” katanya.

***

“Masa kecil beliau tak beda jauh dengan anak sebayanya. Bisa jadi malah lebih menonjol karena superaktif dan perangainya terlihat berbeda dari anak-anak pada umumnya. Misalnya, soal kegemaran, sejak kecil beliau lebih senang bermain dengan makhluk yang bernyawa. Saat anak-anak sebayanya bermain layang-layang, beliau lebih memilih bermain ayam dan burung dara.”

“Berarti beliau tidak pernah bermain layang-layang, Gus?” tanya Ulum, tak sabar.

Gus Riqza tak langsung menjawab dan melanjutkan cerita. “Beliau sangat patuh dengan orangtuanya, terlebih kepada ibu. Suatu hari ketika beliau sedang bermain layang-layang, beliau mendengar ibunya memanggil. Langsung saja layangan dilepas dan berlari menemui ibunya,” kata Gus Riqza sambil melihat Ulum.

Banyak kisah tentang sosok wong agung yang Gus Riqza wedar, dari kebersamaannya dengan masyarakat sampai para pejabat tinggi negara. Biasanya, mereka datang minta barokah doa. “Siapa pun beliau doakan, tak peduli kaya atau miskin, pejabat atau rakyat,” ujar Gus Riqza. “Dan hampir semua calon presiden di Indonesia, pernah bertemu dengan beliau,” imbuhnya.

Semua yang Gus Riqza ceritakan sering berakhir dengan pertanyaannya Ulum. Namun, kalau dicermati, pertanyaannya serupa sindiran untuk Amir. “Itu apa motornya tidak rusak dimasukin air, apa benar bisa mengeluarkan air susu dari tembok? Itu nyata, Gus? Bukan trik sulap atau hanya untuk popularitas?” tanya Ulum sambil melirik Amir.

“Gusti Allah memilih beliau menjadi wali. Apa yang dikatakan, bisa terwujud. Doanya makbul. Namanya karamah,” jawab Gus Riqza seraya menunjukkan sejumlah kitab di atas meja sebagai rujukan.

“Uangnya berlimpah, tapi beliau tak butuh duniawi, apalagi popularitas, itu semua remeh. Beliau bukan dukun apalagi tukang sulap. Tapi waliyullah. Ingat, wong agung!” kata Gus Riqza, tegas dan dengan sorot mata yang tajam.

Amir terdiam mendengar ucapan Gus Riqza yang terakhir itu. Kepalanya langsung menunduk saat tahu sorotan Gus Riqza mengenai matanya. Kata-kata itu mengingatkannya pada pelajaran semasa sekolah tentang karamah yang memang tidak masuk akal, tetapi nyata. Seperti mukjizat para nabi. Sejenak Amir melamun dan tebersit keinginan menjadi seorang wali.

“Banyak karamahnya beliau, tak hanya mengetahui isi hati seseorang, beliau juga bisa menjadi banyak. Tak sedikit orang yang menjumpai beliau salat dan tawaf di Mekah, padahal orang-orang juga menyaksikan beliau ada di Indonesia,” kata Gus Riqza.

“Suatu hari, Kang Busthomy salat Jumat di desanya. Dia yakin satu baris dengan beliau karena setelah salat bersalaman. Namun, di masjid desa lain, Kang Dono, juga mengaku satu baris dengan beliau saat salat Jumat. Mereka sampai eyel-eyelan. Tanya saja ke orangnya nanti,” kata Gus Riqza.

Baca juga  Nelayan itu Masih Melaut

“Wali majdzub begitu orang-orang menyebut beliau. Madjzubnya temporal dan bisa dimintai doa. Gusti Allah memilih dan memberi beliau keistimewaan tanpa harus bersusah payah tirakat mencapai makamnya. Berbeda dengan salik yang harus melakoni tirakat,” jawab Gus Riqza. “Kalian bisa jadi wali,” imbuhnya sambil melihat Amir.

“Dalam setiap masa, hanya ada 7 orang pilihan yang menempati makam kewalian seperti beliau. Kalian tahu apa makam kewalian beliau?” tanya Gus Riqza. Semua terdiam menunggu jawaban.

“Assalamualaikum…” Busthomy masuk ruang tamu membawa bungkusan. “Nah, Busthomy sudah datang, waktunya sahur,” kata Gus Riqza lalu berdiri masuk ke rumah.

***

Tepat di hari kedua Idul Fitri, Badawi dan Amir janjian silaturahim ke rumah Gus Riqza. “Ajak Ulum dan Zaki sekalian,” kata Amir. “Betul, saya hubungi Ulum. Kamu hubungi Zaki,” jawab Badawi. “Eh, saya tak punya nomornya Zaki,” jawab Amir. “Sama, saya juga,” timpal Badawi lalu tertawa.

Sore hari, Amir, Badawi, dan Ulum sudah berkumpul di aula. Ketika hendak menuju rumah Gus Riqza, sebuah mobil masuk parkiran samping aula. “Nah, itu Zaki, kebetulan, ajak sekalian,” usul Ulum dan mereka menunggu. Tak sendirian, ternyata Zaki datang bersama Kang Dono. “Mau sowan Gus Riqza, kan? Bareng-bareng saja,” kata Zaki lalu mereka berjalan menuju rumah Gus Riqza.

“Nyesel kamu Zak, kemarin pulang duluan. Tidak bisa ikut sahur bareng Gus Riqza. Kita dapat banyak cerita tentang sosok wong agung yang penuh karamah. Akhirnya saya tahu kalau nama lengkap beliau ternyata sama dengan Sunan Kudus dan ternyata silsilah keduanya masih sambung,” kata Amir. “Iya Zak, ketinggalan banyak cerita kamu,” timpal Badawi.

“Maksudnya?” tanya Zaki, bingung.

“Jadi kemarin waktu kamu pulang, Kang Busthomy mengajak kita ke rumah Gus Riqza. Kita dapat banyak hal: cerita, kopi, dan sahur gratis,” Ulum menjelaskan seraya menggunakan jarinya untuk menghitung.

“Ealah… Saya pas ke Pantai Bandengan sama Kang Dono, di sana bertemu Gus Riqza. Kami juga sahur bareng dan ngobrol banyak hal sampai subuh. Kalian jangan ngarang cerita,” kata Zaki. “Betul, kalian jangan ngarang! Kami ke sini hari ini, juga atas permintaan Gus Riqza,” imbuh Kang Dono.

“Tidak bisa, Kang Dono. Kita banyak saksi kalau Gus Riqza bersama kita waktu itu. Kang Dono sudah tua, tidak boleh bohong loh…” Ulum ngeyel. “Kamu kok ngeyel toh, Lum! Tanya sendiri sama Gus Riqza kalau tidak percaya,” balas Kang Dono, emosi karena dianggap bohong.

Tak terasa mereka sudah sampai depan rumah Gus Riqza. Di samping teras rumah, Gus Riqza yang sedang memberi makan burung perkutut, senyum-senyum sendiri mendengar tamunya yang eyel-eyelan. ***

Demaan, 14 Mei 2021

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Rml

    Salah satu cerpen yang menarik menurut saya. Realistis, penuturannya mengalir dan mudah dicerna, serta ceritanya yang cukup memberikan kejutan. Terima kasih, Penulis!

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: