Cerpen, Hersis Gitalaras, Suara Merdeka

Oooh

1
(1)

ADA sesuatu yang basah di kedua sudut matanya, setelah membaca pesan di ponselnya: “Maturnuwun ya Say, sing tak tresnani nganti jroning ati. Hehehe.” Ada kebiasaan si pengirim itu manambahkan kata “hehehe” di setiap akhir kalimatnya, agar pembacanya tidak menganggap apa yang ditulisnya sesuatu yang serius, tetapi tidak untuk kali ini.

Kalimat itu tetap saja terasa ada getar yang menyelinap dan terkirim melalui gelombang elektromagnetik lalu merayap ke jiwa dan persendian si penerima pesan, yang selama ini telah kaku jauh dari kepekaan yang semestinya.

“Sama-sama ya Jeng, maturnuwun wis ditresnani. Hehehe,” jawabnya merespons. Lalu secara cepat dijawab lagi dengan simbol “senyum dan tangis” hingga sangat menggelitik orang yang dipanggil Say untuk bertanya lagi: “Itu ngguyu atau nangis, Jeng?”

Agak lama menunggu jawaban.

“Dua-duanya, Say. Senyum dan tangis itu lambang paling tepat,” sahutnya kemudian.

Oooh hanya oooh yang mendesis di dalam batinnya yang mewakili berjuta kata-kata, ada kepedihan, penyesalan, dan perasaan bersalah yang tak berkesudahan setiap kali membayangkannya, sosok Jeng yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Perasaan bersalah yang tanpa penyelesaian itu selalu menghantui sepanjang hidupnya. Perjuangan panjang dalam kesunyiaannya hanya menghasilkan bayang-bayang semu dan bukan kenyataan yang diimpikan.

Sengaja. Lelaki itu berjalan kaki dari tempatnya berkerja menuju stasiun kota tua Maastricht, hanya karena ingin berlama-lama mengenang suatu episode yang terpenggal dalam hidupnya, dan ingin menghadirkannya kembali relief-relief cinta yang berantakan, walau dalam bentuk khayalan semata.

Udara dingin memasuki bulan Desember di belahan Eropa sisi utara menggeretakkan gigi-gigi gerahamnya, jaket tebal dan syal yang juga lebih tebal dari biasanya membungkus tubuh yang sebenarnya sudah terhalang timbunan lemak di perutnya yang sedikit membuncit. Kafe-kafe di emperan bangunan tua yang ghotik dan artistik di kota itu sebagian sudah mulai buka.

Angin musim dingin yang berembus menusuk tulang memaksanya singgah di salah satu kafe yang biasa menjual kopi Luwak asli Indonesia. Kebiasaan yang dia lakukan sebenarnya adalah membeli kopi cup kertas dan membawanya duduk di bangku pinggir chanal di bawah rimbunan pohon flamboyan yang berjajar sambil menikmati parahu atau speedboat yang melintas silih berganti berpenumpang sepasang kekasih atau satu keluarga kecil.

Dengan penuh kegembiraan mereka melaju sambil tertawa-tawa, seraya melambaikan tangannya kepada orang-orang yang duduk di pinggir chanal yang terawat dan terjaga keberbersihanya. Hisapan terakhir rokok putih tergantikan dengan secangkir kopi Luwak yang pekat. Jemarinya terusik lagi untuk menulis pesan singkat di ponselnya: “Andai saat ini kau di dekatku…oooh.”

Kali ini dia hanya berspekulasi dengan pesannya itu. Syukur dibalas, kalau tidak pun tidak apa-apa, jam pulang kantor di tempatnya, di Jakarta, tentu lebih malam sekitar enam jam, sehingga yang menerima pesan pun mungkin sudah terlelap di peraduan, dan mungkin sedang “oooh…”

Dia tidak ingin membayangkannya, seseorang yang dirindukannya itu toh sudah hidup bahagia bersama keluarga dan suami pilihannya. Ada rasa getir di rongga dadanya yang masif. Seakan-akan dia menjadi lelaki pecundang yang telah kalah perang, seperti pernah disampaikannya dua puluh tahun silam dalam bentuk puisi untuk kado pernikahan sahabat terkasihnya itu. Suatu kekalahan akibat keegoisannya sendiri yang jika diingat membuatnya menyesal berat.

Baca juga  Angpau Kwan Sing Bio

Lelaki itu tersentak, ada suara burung kuter di sakunya menyampaikan pesan: “Kok oooh, apa maksudnya? Memangnya kau sedang di mana?” begitu bunyi tulisannya.

“Oooh itu maksudnya indah Jeng, jika kau di dekatku. Karena aku sedang sendirian duduk di buk,” tulisnya bercanda.

“Memangnya pulang kampung ya kok duduk di buk? Apa buk kulon desaku itu, hehehe.”

“Iya buk yang menjadi saksi ketika sepedaku rusak dan rantainya lepas,” canda lelaki itu lagi.

“Walah rusak atau sengaja dilepas rantainya sambil menunggu yang diharap lewat?” jawabnya menggoda.

Sambil meyeruput kopi yang tinggal setengah, dia tersenyum-senyum teringat masa SMA, hatinya galau setengah mati jika sehari saja tidak bisa berpapasan dan bersama-sama mengayuh sepeda menuju sekolah.

“Maaf ya Jeng, jika mengganggu malam-malam begini, mangga diteruskan istirahatnya. Salam buat keluarga ya,” Lelaki itu mengakhiri percakapan elektriknya. Dia ingin meneruskan pengembaraan angannya itu sendiri tanpa terganggu oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang sedang dibayangkannya sekalipun.

Bulir-bulir putih anyep menerpa wajah dan mantelnya ketika dia nekat untuk melanjutkan langkahnya menuju stasiun Maastricht menuju kota Roermond tempat tinggalnya dengan jarak tempuh sekitar 25 menit perjalanan kereta. Rencana semula dia ingin naik sepeda santai bersama temen-teman kantornya sambil enjoy weekend. Tapi tiba-tiba cuaca berubah, kurang bersahabat, sehingga diurungkan niatnya itu.

Napas panjang menghela. Ingatannya menerawang jauh ke dua puluh tahun silam, selalu saja saat-saat tertentu dia bicara sendiri: “Seharusnya kamu yang berada di sini, di tempat ini. Bukankah ini cita-citamu, tinggal di tempat yang damai seperti ini. Hanya realita bicara lain, aku mendapatkan beasiswa selepas dari kuliah, selanjutnya mendapatkan penawaran pekerjaan di sini dengan fasilitas yang memadai. Sedangkan kau di sana… oooh aku tidak tahu apakah kau dalam ketidakkekurangan suatu apa?”

Bagi lelaki itu, dia tak lebih pantas hidup bahagia melebihi sahabat terkasihnya itu. Aneh didengarnya, bukankah intensitas bahagia hanya dapat diukur oleh masing-masing jiwa sebagai pemilik otoritasnya itu sendiri. Tetapi menurutnya ungkapan itu tidaklah berlebihan, karena sahabatnya terkasih itu secara langsung atau tidak menjadi motivator utama dalam meraih cita-cita, yang semula dirasa tidak mungkin menjadi mungkin.

Lelaki itu terpilih dan berkesempatan mendapatkan beasiswa dari perusahaan-perusahaan besar yang berkonsorsium dengan perusahaan-perusahaan asing. Lalu nasib melemparkan lelaki itu ke tempat-tempat yang tak terduga, jauh dari negerinya yang hiruk-pikuk, penuh kesemrawutan seperti benang kusut yang sulit diurai.

Tentang episode yang terputus di rentang dua puluh tahun itu, kini membuat kepala lelaki itu semakin penat, dia ingin merenungkan kembali dan menggugah kenangan silam. Suatu peristiwa di mana ada dua bongkah hati dilingkupi kesombongan serta keegoisan, telah memorakpondakan jalinan kasih yang telah tertata.

Baca juga  Kartini

Jiwa mudanya menganggap jarak dan waktu yang tidak menentu, long distance relationship, membuat tidak ada jaminan “kesetiaan hati” bagi keduanya, terutama bagi seorang laki-laki. Dan keduanya tidak mampu memahami hal itu, pada saat semuda itu. Maka, putuslah benang ikatan yang halus dan lembut itu oleh keegoisan masing-masing. Ternyata benang yang halus lebih sulit untuk disambung. Ego yang membuncah bersemayam di hati dua insan. Mereka saling berjanji dalam hatinya untuk tidak ingin memulai komunikasi, kecuali ada hal lain yang secara tidak sengaja mamaksanya bersambung kembali.

Hal lain itu adalah ketika suatu hari ada seorang teman lelaki itu mengirim email minta tolong bahwa kerabatnya membutuhkan bantuan informasi tentang Yayasan Panti Wredha dengan alamat yang kebetulan masih satu distrik dengan tempat tinggalnya. Kemudian teman si lelaki itu memperkenalkan sebuah account dan email address seorang perempuan yang membutuhkan bantuan, dan menyarankan keduanya untuk berkomunikasi langsung menyampaikan informasi apa saja yang dibutuhkan dan pertolongan apa yang diinginkan.

Semula lelaki itu sama sekali tidak berpikir siapa gerangan sosok di balik account dan email address itu, karena menggunakan nama institusi yang menyerupai nama perempuan.

Sebaliknya, si perempuan itu kaget bukan kepalang. Kepalanya mendadak berat seperti menyunggi batu berton-ton, begitu membaca nama account dan email address yang disodorkan oleh kerabatnya. Hatinya bergemuruh laksana gunung api yang ingin memuntahkan lahar yang menyumbat sekian lama. Awal-awal emailnya bahasanya normal-normal saja, jawabanya pun sewajarnya sesuai pertanyaan.

Dalam hati si perempuan itu berkata, masih sama hati lelaki itu tetap masif dan angkuh. Tiga bulan dari komunikasinya hanya bicara sebatas aktivitas sosialnya dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa menghubungi pengurus Panti Wredha, dan memasuki bulan di mana lelaki itu akan berulang tahun, si perempuan itu mulai menulis email yang tidak ada hubungannya dengan maksud dan tujuan awal, yaitu urusan sosial. Dia mulai melenceng bercerita bahwa Jakarta musim hujan, bercerita makan baso dan es kelapa nangka sambil nunggu macet di Pasar Sunan Giri.

Namun lelaki berhati masif itu seperti tak terusik dengan reportase perempuan itu. Komentarnya pun hanya normatif.

Ada salah satu pertanyaan yang agak menyenangkan hati si perempuan itu saat ditanya, “Memang Mbak tinggal di mana?” Komunikasi melalui yahoo messeger dengan display picture pemandangan sunset itu menyelubungi tabir mereka yang sejauh ini tidak disadari.

“Saya tinggal di daerah Utan Kayu, Pak.”

“Oooh pantesan dekat dengan Pasar Sunan Giri.”

“Oooh Bapak paham daerah Utan Kayu ya?”

“Iya tahulah dikit-dikit, dulu suka main ke kampus Daksinapati,” jawabnya.

Hati perempuan itu tiba-tiba bingung setengah mati, karena dia tidak siap untuk membuka tabir dirinya secepat itu, sebelum misi sosialnya tercapai. Ada rasa khawatir rencananya menjadi berantakan, karena direpotkan oleh huru-hara dan haru-biru perasaannya yang sifatnya pribadi. Ini tidak boleh terjadi. Walaupun terlalu banyak yang bisa diluncurkan untuk membuat lelaki itu terhentak. Sungguh sulit menata hati dan perasaan dengan kegalauan sangat tinggi. Tidak tahan tangannya ingin menulis atau mengganti display picture di YM-nya, tetapi keteguhan dan profesionalitas menahannya untuk tidak mencampuradukkan antara kerja, riset, dan ego pribadi.

Baca juga  Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara

Tiga bulan komunikasi berlangsung aman dan misi sosial sudah tercapai, memulangkan ke tanah air beberapa keluarga, terutama kaum lanjut usia yang terasing di negeri orang dan tersingkir dari bangsanya sendiri, hanya karena perbedaan pandangan politik. Sebuah misi yang bisa dibilang sederhana, tapi membawa dampak yang sungguh berarti bagi keluarga mereka, juga bagi masyarakat yang sedang belajar arti demokrasi dan bagaimana menghargai hak-hak orang lain.

Saatnya sahabat perempuannya mengubah pic display di YM-nya dengan foto rumah kampung dengan halaman yang luas berhiaskan deretan pohon melinjo dan pohon mangga yang di bawahnya betengger balai-balai bambu usang.

“Sepertinya aku mengenal tempat itu, Mbak,” kata lelaki itu setengah jam kemudian.

“Oooh ya? Di mana, Pak. Jangan-jangan kampung Bapak sama dengan kampung saya.”

“Bukan, itu bukan kampung saya, tapi kampung tetangga lain desa.” Komunikasi itu sengaja tidak dilanjutkan oleh si sahabat mayanya, karena harus segera sign out ada rakor di kantornya.

Sehari kemudian komunikasi diteruskan melalui email. Sudah tidak ada tabir lagi. Masing-masing menumpahkan segala perasaan yang usang, seusang balai-balai bambu di bawah pohon mangga itu. Hura-hara perasaan yang tidak ada gunanya dan tidak menghasilkan apa-apa, selain kepedihan, tetapi tetap indah untuk dibahas dan dikenang.

Walau terselip perihnya luka lama yang belum sembuh benar, tapi telah terkorek kembali. Dan mereka harus mencari penyembuhan dan penawarnya sendiri-sendiri. Tidak ada jalan lain, selain kesadaran akan suratan nasib masing-masing. Magma volcano yang terpendam yang menyumbat sekian lama akan turut membeku diselimuti salju musim dingin bulan Desember.

Jalanan memutih, ranting pepohonan menggigil, butir-butir salju semakin deras bagai gerimis musim hujan. Lelaki itu terus berjalan dari stasiun di kota Roermond menuju pondokannya untuk menyinggahkan hatinya yang pilu. Sementara di belahan lain, ada sekeping hati perempuan gelisah dan menggeram berjuang mengubur segala memori yang bermunculan. ***

Amsterdam 2010

—Dilahirkan di Jakarta dengan nama Heri Siswanti. Dalam tulisan-tulisannya, dia biasa menggunakan nama pena Hersis Gitalaras atau Gita Laras. Karya puisi-puisinya masuk dalam antologi puisi Bianglala, Antologi Puisi Seribu Sajak Danau Toba dalam Festival Budaya Batak, dan Antologi Puisi Kepada Tuan Dekker kumpulan puisi Festival Seni Multatuli. Karya fiksinya tersebar di berbagai media dan sedang menyusun sebuah novel. Tulisan tentang kisah penyintas terangkum dalam buku Cahaya Mata Sang Pewaris editorial Putu Oka Sukanta.

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. dawam

    Kurang paham dengan “maksud” cerpen ini. Bingung.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: