Dody Widianto, Kompas, Koran Tempo

Zar dan Agama Para Anjing

3.8
(12)

Sebelum semangkuk sayur sup asparagus kesukaanmu sampai di rumahmu, bunyi dentuman keras telah lebih dulu membuatku menumpahkan seluruh isinya. Meninggalkan serpihan tubuhmu yang tertinggal dalam rongga kepalaku. Lalu bulir bening tak sengaja kutumpahkan dari sudut mataku di antara hati yang bergemuruh dan tangan yang bergetar.

Zar, pada detik yang berguguran aku selalu bertanya bisakah kau hidup kembali? Setidaknya ada sayuran sup yang bisa mengontrol kadar gula dalam darahmu ini yang selalu kubuat di pagi hari. Di hari Minggu saat kidung kebaktian dimulai. Dokter bilang kau harus makan makanan yang sehat. Kolesterol bisa membuat umurmu lebih pendek dari yang seharusnya. Setidaknya cacahan asparagus, wortel, dan kentang ini bisa memanjangkan umurmu. Saat aku tahu, ada yang aneh di dalam kepalamu.

Zar, jika semua yang ada di semesta ini berawal dari ketiadaan, aku tak tahu dari mana rindu ini berasal. Entah serpihan tubuhmu yang tertinggal di rongga kepalaku ini yang membuatmu terus hidup dalam ingatanku, ataukah memang kau sengaja meminjam sedikit ujung jiwaku saat aku terlelap. Kita pernah bermain gelembung-gelembung sabun tepat saat azan asar berkumandang. Lalu kau bilang padaku untuk berhenti dahulu. Tapi kita baru tersadar itu bukan panggilan untuk kita. Itu panggilan dari Tuhan untuk para manusia. Lalu kita tertawa. Mencoba melihat siapa yang akan datang segera. Bagi mereka, Tuhan hanyalah wujud pelampiasan kesepian dan kekecewaan. Manusia-manusia itu pasti hanya akan datang ke Tuhan saat butuh saja. Sekali lagi kita kembali tertawa.

Zar, kemarin aku tak sengaja menemukan sebuah buku di laci lemari di dalam kamarku. Aku yakin bukan ditulis oleh pendeta, bukan pula oleh seorang ustaz atau pemuka agama lainnya. Aku yakin dengan semua yang kuucapkan ini. Aku telah membaca beberapa tulisan di dalamnya. Buku itu selalu mengajarkan kebencian. Berusaha mengadu hal-hal yang berbeda di dunia ini. Menganggap kelompok mereka paling benar. Padahal kita tahu, bunga-bunga akan lebih indah jika tercipta dalam berbagai warna. Aku yakin, buku itu ditulis oleh iblis. Sengaja menebar kebencian pada sesama dan membuat kerusakan di muka bumi.

Zar, beberapa orang yang telah terdoktrin buku itu akhirnya berusaha meledakkan diri di muka umum dan tempat-tempat suci. Bagi mereka, itu jalan terbaik menuju surga. Aku tak mengerti adakah surga yang disiapkan Tuhan untuk manusia-manusia yang sering menyiksa sesama. Yang aku tahu, di surga tentu makanannya lebih enak ketimbang di dunia. Aku ingin sekali membawa serta cemilan Whiskas ke sana. Begitu juga dengan makanan Pedigree yang sering kau bagi padaku walau aku sedikit tak suka. Aku bilang padamu untuk menghabiskan sup asparagus buatanku lebih dulu agar tubuhmu tak terus membulat. Sekali lagi, kita tertawa.

Zar, aku pernah bertanya padamu apakah nanti kita tinggal di surga yang sama? Selain manusia dan tumbuhan, kita makhluk ketiga di semesta yang juga disayang Tuhan. Kau bilang tumbuh-tumbuhan akan masuk surga terlebih dahulu. Surga tak akan indah tanpa bunga-bunga, tanpa rindang mahoni dan trembesi, tanpa hijau rumput dan putih kamboja. Lalu kau bilang kita masuk di kloter kedua. Para manusia yang sering menebar kebencian itu akan masuk di kloter terakhir. Di dunia saja mereka selalu berebut demi mendapat apa yang mereka mau. Demi selalu menjadi yang pertama. Sudah pasti di surga mereka dipaksa mengantre, dipaksa disiplin, dipaksa menjawab segala interogasi. Bahkan mungkin, manusia-manusia itu ditanya kenapa hewan-hewan mereka paksa beragama. Kita kembali tertawa.

Baca juga  Travelogue

Zar, menurutmu manusia-manusia itu tak lebih binatang? Esok hari yang lalu di kerumunan aku melihat seonggok daging terbakar. Kita terbiasa melihat kawan-kawan kecil kita terbuang di tong sampah. Kumal, kedinginan, lagi kelaparan. Beberapa lagi kepala kawan kita ditemukan remuk terlindas truk. Tapi kemarin aku pastikan itu seonggok daging manusia. Tubuhnya hangus terbakar di pinggir selokan. Aroma kesadisan itu terus menguar ke mana-mana. Kerumunan massa itu yang telah membakarnya. Aku melihatnya. Terus meneriakkan kata maling. Entah ia sengaja mencuri atau terpaksa mencuri, aku tak tahu seperti apa isi kepala mereka. Apalagi sampai tahu kondisi undang-undang kemanusiaan di dunia mereka. Tapi kita jadi paham, di negara ini nyawa manusia hanya seharga satu motor.

Zar, bahkan kau tahu kita dulu terlahir dari kumpulan yang terbuang. Kata orang kita binatang jalang. Kau tak usah tertawa. Aku tidak sedang berpuisi. Pertama kali bertemu denganmu, kau begitu bau. Aku kurus lagi dekil. Lalu seseorang menemukan kita. Mengambil kita, merawat kita, memberi makan kita, lalu berusaha membersihkan ingatan luka dalam kepala. Hingga waktu terus berlalu sampai kau dan aku mendewasa, kita percaya ia jelmaan malaikat dan bukan manusia. Bisa-bisanya ia mencampurkan kita dalam satu kamar. Padahal buku-buku pelajaran anak SD telanjur menulis peribahasa kalau kita selalu saja bertengkar. Sialan. Tapi, seseorang berhati mulia berhasil membuat kita terus berkawan. Ia lebih manusia dari manusia lainnya.

Zar, terakhir aku pernah menguping percakapanmu dengan dokter itu. Beliau bilang ada pecahan kaca yang bersarang dalam kepalamu sepanjang tiga milimeter. Jika ingat ledakan itu, kepalaku serasa ikut meledak bersama duka yang kau bawa dalam rongga kepala. Jika saja yang meledakkan diri itu tahu kau sering menyeberangkan jalan saat kajian di hari Minggu. Di tepi jalan raya yang ramai, dengan suara lirihmu, kau menuntun pria berjubah dan berkopiah putih, berkacamata hitam, bertongkat kayu menyeberang jalan. Ia hendak pergi di sebelah utara jalan. Tepat di depan rumah Tuhan dengan kubah hijau begitu besar di tengah-tengah bangunan yang menjulang menatap awan.

Zar, seandainya yang meledakkan tubuhnya lalu melukai tubuhmu saat ini tahu jika hati punya akalnya sendiri, ia tak akan pernah melakukannya. Di antara raungan suara sirene ambulans, bau daging terbakar, dan asap membubung yang pekat dan hitam, kau sempat memegang erat jemariku sebelum akhirnya kau dimasukkan ke dalam ruangan dengan tirai serbaputih. Di sela kotak kaca, aku melihatmu kesakitan. Jujur saja, aku hanya berpikir bisa-bisanya mereka berkata akan masuk surga dengan jalan menyiksa sesama.

Baca juga  Kisah dari Alam Kubur

Zar, aku tak habis pikir kenapa kau terus berbuat baik pada mereka. Bukankah mereka sering menggunakan kalimat kasar yang menyisipkan namamu saat mereka marah dan murka. Aku juga tak tahu kenapa harus namamu. Banyak yang lain di semesta ini, semisal tokek, kambing, belalang, atau yang lainnya. Apakah kedudukan mereka lebih terhormat? Aku rasa tidak. Kau malah menggeleng. Berkata sekali lagi padaku jika hati punya logikanya sendiri. Lalu kau balik bertanya padaku apakah kebaikan dan kebenaran punya agama tersendiri?

Zar, yang lebih menakutkan adalah ketika mereka berjalan-jalan di muka umum dengan pakaian sedikit terbuka. Aku bilang padamu barangkali beberapa tahun ke depan mereka benar-benar akan murni telanjang seperti kita. Mereka mulai berani berjalan-jalan tanpa penutup badan yang semestinya. Makhluk yang mendeklarasikan diri dan katanya lebih maju dalam hal pemikiran dan wawasan itu kenapa malah ikut-ikutan dengan kebiasaan kita. Makan tanpa berdoa atau duduk bersama tapi tak saling sapa. Mereka lebih senang makanan itu mereka foto tanpa menghabiskannya, lalu mereka pamerkan di jagat maya. Padahal di luar sana beberapa makhluk yang lain merintih menahan kelaparan.

Ah, Zar, jika kau; masih melihat mereka hari ini bersamaku, tentu kita akan tertawa bersama. Bukankah waktu itu kau pernah bilang ingin membeli celana tapi tukang jahit itu berkata belum ada pesanan pakaian untuk kita. Kau bilang malu dengan ketelanjangan tubuhmu. Kenapa malu? Lihat itu. Kita berdua datang ke lokasi gempa di sepanjang jalanan kota. Sehari setelah kejadian dan orang-orang itu bilang ini hanyalah fenomena alam biasa. Padahal kita tahu, malam sebelum kejadian, kau dan aku melihat betapa manusia-manusia berjoget ria tanpa memakai pakaian apa-apa. Menurutmu siapa yang lebih binatang? Barangkali iblis-iblis itu lebih malu melihat tingkah mereka. Kita kembali tertawa.

Zar, sehari setelah tubuhmu ikut meledak dalam rongga kepalaku, aku tak tahu di mana keberadaan buku yang kutemukan di laci kamar itu. Sebenarnya aku ingin melenyapkannya saat itu juga. Tapi kurasa hal itu akan sia-sia belaka. Sudah pasti mereka yang terus mencipta kebencian di antara kita akan terus menuliskannya. Di laci kamar itu aku malah menemukan sebuah koran. Lalu betapa huruf-huruf besar yang tertera di halaman awal membuat mulutku sedikit menganga. Seorang ayah tega menghamili anak gadisnya? Aku kira itu surat kabar dari dunia binatang. Tidak. Koran kita berbeda bukan? Selain sering menampilkan foto-foto anak kembar delapan atau berita adikmu yang menikahi ibunya sendiri, ada daftar harga diskon untuk Whiskas dan Pedigree di berita-berita koran kita. Belakangan aku jadi tahu, surat kabar manusia itu sedang meniru apa yang kita punya.

Baca juga  Di Persimpangan Pantura

Zar, di depan epitaf yang menuliskan tiga huruf namamu, jujur saja sebenarnya aku ingin berkata apa kau bisa hidup lagi. Aku begitu rindu padamu. Tuhan memang begitu baik lalu menjemputmu lebih dulu. Aku tahu Tuhan tak ingin kau terus menahan kesakitan lebih lama. Tapi tetap saja, bayang manis wajahmu terus saja menggantung dalam kepala. Lupakan peribahasa di dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang bilang kita selalu saja bertengkar. Nyatanya, kita bisa terus berkawan. Bahkan untuk semangkuk asparagus yang selalu aku buatkan untukmu ini, dia tahu beberapa orang memaksa kita memisah-misah dalam hal keyakinan. Aku binatang beragama yang satu, kau binatang dari agama yang lain. Jika sudah begitu, agama apa yang pantas untukmu Zar?

Zar, beberapa orang menganggap kita pintar dan lucu. Beberapa orang menganggap kita tak perlu didekati dan pantas dilenyapkan. Entah kita terlahir di mana dan sebagai apa, kita tak pernah diajarkan untuk membandingkan nama-nama Tuhan. Kita tahu semua agama mengajarkan pada kebenaran. Lalu jika binatang-binatang mulai dipaksa beragama, barangkali mulai saat ini kita tak pantas lagi menyebut mereka manusia.

Lalu apakah kebaikan dan kebenaran punya agama tersendiri?

Zar, aku masih saja terus teringat kata-kata terakhirmu itu. Bukankah di dunia ini, dalam kebersamaan, dalam hal apa pun, kita selalu dihadapkan dengan segala perbedaan. Kau berpesan padaku untuk terus melakukan kebaikan. Bahkan untuk seorang gadis yang tiba-tiba keluar dari ujung jalan dengan dua menara salib di tengah-tengah bangunan. Gadis itu berjalan perlahan, lalu dengan tangannya ia berusaha memberi tanda ke para pengendara. Menyeberangkan jalan seorang pria berjubah dan berkopiah putih, berkacamata hitam, bertongkat kayu, menuju bangunan besar dengan kubah hijau begitu besar di tengah-tengah bangunan yang menjulang menatap awan.

Zar, sekembalinya dari seberang jalan, gadis itu tiba-tiba menggendong tubuhku dengan lembut tepat saat aku mengeong di pinggir jalan. Di tangan kanannya aku lihat semangkuk sup asparagus dengan cacahan wortel dan kentang. Entah siapa gadis itu, aku tak tahu. Tapi Zar, apa kau percaya cinta dan kebaikan bisa bereinkarnasi? Barangkali hanya semangkuk sup asparagus yang percaya ceritaku ini. ***

Dody Widianto, lahir di Surabaya. Bekerja dan menetap di Depok, Jawa Barat. Bergiat di komunitas menulis Writerpreneur Academy. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa.

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: