Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Sekadar Iqra

5
(3)

“Jika kau tak temui adab pada dirinya, kau tak perlu buang-buang waktu belajar ilmu kepadanya.” —Pesan ibu Malik bin Anas.

***

Buat apa perintah iqra turun? Untuk membaca? Membaca apa? Membaca apa saja. Ini bukan kabar gembira bagi yang malas membaca buku apalagi menulis. Ini adalah kabar buruk bagi yang memperlakukan aktivitas literasi sebagai “sekadar membaca”. Sekadar iqra.

Apa itu sekadar iqra?

Sekadar iqra adalah membaca tanpa menelaah. Bagi yang membaca dan menelaah pun bisa terpeleset ke jurang sekadar iqra apabila pengetahuan dalam dirinya hanya untuk dirinya. Itu saja? Tidak. Bahkan, kalaupun pengetahuan itu bermanfaat bagi banyak orang karena berhasil ia tuliskan dengan baik, misalnya, ia akan tetap sekadar iqra kalau justru menciptakan lingkungan yang menuhankan ilmu pengetahuan semata. Akibatnya, informasi penting lalu-lalang dalam kehidupan, dan diskusi dan debat tentang pengetahuan pun marak sehingga melahirkan banyak orang berkemampuan pas-pasan menghina para ahli.

Ada lagikah?

Kalaupun pengetahuan yang lahir dari aktivitas membaca atau literasi lainnya itu menjelma tindakan, karya, atau gerakan, ia akan tetap sekadar iqra apabila hanya membuat ia dan lingkungannya menjadi kritis, tapi tak peka.

Membaca banyak membuat kita memiliki pengetahuan. Pengetahuan akan memudahkan kita berbuat, berkarya. Karya-karya akan menjadi jenama. Dan memiliki jenama adalah keistimewaan cum kemudahan untuk memengaruhi banyak orang.

Tapi, sampai di situ pun kita sebenarnya belum diperkenankan berhenti.

Aktivitas iqra, yang kemudian menjadikan kita mahir memimpin, menganalisis, menulis, memengaruhi orang lain, dan lain sebagainya, memiliki hilir yang jarang disadari. Apa itu? Tindakan?  Belum cukup. Kalaupun kutipan “hilir aktivitas literasi adalah tindakan” tak ingin disangkal, saya hendak mengusulkan hilir setelah hilir: menjadi peka.

Baca juga  Pasar Omong Kosong

Tindakan berbunga karya. Kepekaan berbuah kebermanfaatan.

Buat apa menuhankan karya, buku-buku bagus, tulisan-tulisan megah, perusahaan dengan banyak cabang, komunitas gemuk anggota, atau hal-hal yang kelihatan besar lainnya, apabila semuanya malah menjadikan kita pribadi yang tidak peka, tunarasa, tidak rendah hati, tak acuh dengan orang lain dan lingkungan.

Pokoknya karya adalah segala-galanya!

Aduh, buat apa? Buat apa?

Kemenjulangan yang tidak memedulikan kemanusiaan adalah menara gading. Indah dilihat, tapi tak terjangkau. Begitu diterpa sinar matahari, orang-orang awam akan menyalahkan mata mereka yang gagal menaklukkan silau, sementara orang-orang peka tahu bahwa rumah sebenarnya adalah hati yang lapang dan ilmu yang bermanfaat.

Ketidakpekaan rawan membuat kita mudah mengklaim paling baik karena ilmu, menuduh tanpa bukti, memanfaatkan ketaklid-butaan awam sehingga merasa berhak mengambil tanpa izin, atau bahkan menghilangkan periuk nasi orang lain karena menganggapnya inkompeten!

Buat apa?

Sungguh betapa bumerangnya ilmu itu. Sampai-sampai, mereka yang dipeluknya erat-erat sukar bernapas, terus hibuk memperkaya diri dengannya. Sampai-sampai tak lagi mau tahu bahwa penting menjadi peka, penting mencukupkan jiwa dengan adab. Syaikh Ibnu Mubarak, seorang yang sangat salih dan berilmu, terang benderang menyatakan, “Aku belajar ilmu selama 20 tahun. Lama? Tidak. Aku bahkan membutuhkan 30 tahun lamanya untuk belajar satu hal yang lebih penting dari segala: adab.”

Selama belum mengamalkan itu, urusan pegiat literasi dan kreator, termasuk saya, sungguh sekadar gagah-gagahan. Sekadar pamer. Sekadar banyak baca. Sekadar iqra. Sekadar, sebagaimana termaktub dalam Al Jumuah ayat 5, seekor keledai yang memikul buku-buku tebal. ***

Padang-Lubuklinggau, 6-7 Juni 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: