Buku, Diar Candra, Jawa Pos

Ketika Llosa Menelanjangi Ibu Kota

0
()

Oleh Diar Candra (Jawa Pos, 06 Mei 2018)

Cinco Esquinas ilustrasi Google.jpg

Cinco Esquinas ilustrasi Google

Dalam karyanya ini, Mario Vargas Llosa meneropong struktur sosial di Lima, Peru, mulai lapisan teratas hingga terbawah. Mengurai kebusukan politisi, moral bobrok selebriti, penegak hukum yang korup, dan militer yang punya kekuasaan tak terbatas.

“ADA berbagai pendapat tentang bagaimana membuka lembar-lembar pertama novel. Ada yang memilih mengalir biasa saja. Tapi, ada juga yang langsung menghantam. Dan, kalau boleh memilih, saya lebih suka yang kedua.”

Sastrawan Eka Kurniawan pernah mengatakan itu dalam obrolan santai sekitar dua tahun lalu. Tapi, penulis Peru Mario Vargas Llosa memilih cara lain dalam lembar-lembar awal karyanya yang berjudul CincoEsquinas. Tidak menghantam, tapi ehm.. menggairahkan.

Tersebutlah, gara-gara kena jam malam di Lima, Chabela memutuskan menginap di apartemen Marisa. Malam hari di Lima, ibu kota Peru, pada era 1990-an, tepatnya era Presiden Alberto Fujimori, memang mencekam. Terorisme, pembunuhan, dan pengeboman oleh separatis membuat Presiden Fujimori menerapkan jam malam di ibu kota negaranya tersebut.

Namun, erotisme sejenis antara Chabela dan Marisa hanya kulit ari dari karya yang terbit dalam bahasa Spanyol pada 2016 itu. Peraih Nobel Sastra 2010 tersebut menghadirkan cerita yang lebih rumit dari percintaan Chabela dengan Marisa. Yakni, misteri pembunuhan bos media Destapes Rolando Garro.

Garro yang punya kedekatan dengan Kepala Intelijen Peru El Doctor dikisahkan mencoba memeras Enrique Cardenas, salah seorang pengusaha tambang sukses Peru. Lewat foto-foto orgy yang dilakukan dua tahun sebelumnya.

Untuk menguatkan kesan sebagai sosok yang “pantas” dibenci, Llosa mendeskripsikan Garro sebagai pribadi culas. Dengan senyum kecil mirip tikus, mata jelalatan, dan bau badan tak sedap.

Baca juga  Di Jarwal, Kutunggu Kematianku

Perilaku dan gaya Garro dalam memeras mangsanya terdengar akrab dalam dunia kewartawanan. Modus pura-pura meminta waktu kemudian mengancam mangsa seperti yang dilakukan Garro mirip dengan langkah wartawan abal-abal atau lebih dikenal sebagai wartawan bodrex saat bertemu narasumber.

Destapes, media yang dipimpin Garro, mengkhususkan tulisan gosip dan kehidupan selebriti Lima. Lewat Destapes dan media-media sejenisnya, Llosa seperti ingin menunjukkan bahwa Peru adalah negara yang dibangun di atas gosip, intrik, dan kasak-kusuk.

Kedatangan Garro yang “menyentil” Enrique itu merupakan sindiran Llosa untuk kehidupan kaum elite yang dianggapnya hipokrit. Llosa menggambarkan bagaimana di satu sisi Enrique melakukan skandal seks, tetapi juga tak pernah absen beribadah ke gereja bersama istri, anak, dan ibu nya di sisi lain.

Llosa yang senang melempar humor gelap tak lupa menghadirkan karakter satir dalam Cinco Esquinas. Pada awal karirnya, Peineta adalah orang yang menggilai puisi. Namun, kecintaannya terhadap karya sastra dan idealisme soal sastra luruh karena tawaran menggiurkan yang tak mung kin ditolaknya. Yakni, menggantikan salah seorang personel trio lawak ter lucu di Lima, Los Tres Chistosos.

Banting setir Peineta itu tidak hanya membuat dirinya diolok-olok komunitas penggemar puisi. Garro dan Destapes ikut “menghajar” Peineta dengan menulisnya sebagai komedian gagal dan tak pantas dibayar mahal.

Penghilangan nyawa Garro dilukiskan dengan brutal oleh Llosa. Setelah ditikam, wajah Garro dihancurkan. Mayatnya kemudian dibuang di area kumuh Lima. Polisi bahkan membutuhkan bantuan anak buah Garro, Julieta Leguizamon atau La Retaquita, untuk mengenalinya.

Dalam karyanya, Llosa meneropong struktur sosial di Lima mulai lapisan teratas hingga yang terbawah. Posisi-posisi elite diwakili pebisnis, kemudian pengacara papan atas Peru yang punya koneksi kuat ke pemerintahan Presiden Fujimori dan tangan kanannya, El Doctor.

Baca juga  Hadiah Okky untuk Anak-anak

Sementara itu, kaum marginal diwakili seniman gembel macam Peineta yang untuk mendapatkan sarapan gratis harus antre berjam-jam di kantin gereja. Juga, pejudi kelas teri Willy Rodrio yang menjadi saksi pembunuhan Garro.

Peru pada era 1990-an digambarkan punya kontrol kuat terhadap media. Pejabat yang berkuasa bisa menekan lawan politiknya dengan bekerja sama dengan media lampu merah seperti Destapes dan memuat skandal-skandal yang membuat kredibilitasnya terjun bebas.

Cinco Esquinas yang mengulas kebusukan politisi, moral bobrok selebriti, penegak hukum yang korup, kriminalitas jalanan, dan militer yang punya kekuasaan tak terbatas di Lima terasa dekat dengan pembaca Indonesia. Meski berjarak ribuan kilometer, problematika Peru hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia. (*)

 

JUDUL: Cinco Esquinas

PENGARANG: Mario Vargas Llosa

PENERBIT: Gramedia

TEBAL: 305 halaman

 

Diar Candra, Wartawan Jawa Pos.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: