Setta SS

Menulis untuk Keabadian

0
(0)

Oleh Setta SS


SUATU ketika Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, “Bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.”

Saya sependapat dengan apa yang diutarakan oleh beliau. Satu contoh riil, hari ini saya masih dapat membaca seri kisah detektif Hercule Poirot—seorang detektif Belgia bertubuh kecil dengan deskripsi kepala berbentuk telur dan suka sekali akan kerapian—berjudul “Death in the Clouds” atau diterjemahkan menjadi “Maut di Udara” karya Agatha Christie. Anda masih ingat, tahun berapa buku tersebut pertama kali diterbitkan?

Tepat sekali, 1935—atau 76 tahun silam. Kemudian versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia pertama kali dirilis oleh PT Gramedia pada Januari 1987. Padahal penulisnya sendiri sudah mangkat di tahun 1976. Agatha Christie meninggalkan warisan tak kurang 77 novel dan kumpulan cerita detektif yang terjual puluhan juta eksemplar dalam berbagai versi bahasa dunia.

Lantas, seberapa validkah relasi antara aktivitas saya menulis di blog ini dan usaha menyambung usia? Saya kadang berpikir usil, “Apakah akan ada yang mengenang saya selepas tutup usia nanti?” Apakah cukup sekadar menulis di blog gratisan ini sebagai pengingat generasi yang akan datang 50 tahun kemudian?

“Writing is thinking. If you can’t think, you can’t write.”—Robert Pinckret. Menulis ternyata lebih dari sekadar merangkai alphabet menjadi kata dan serangkaian kalimat semata, tetapi adalah sebuah proses pembelajaran berpikir. Tulisan ini besok boleh saja dihapus, tetapi “ruh tulisan”—pemikiran—yang terkandung di dalamnya sangat mungkin masih akan mengendap di pikiran bawah sadar seorang pembaca hingga ia tutup usia. Bahkan tak menutup kemungkinan intisari tulisan ini akan diwariskannya pada generasi setelahnya, pada anak-cucunya.

Baca juga  Ia Datang Tak Mengetuk Pintu Lebih Dulu

Jadi ada satu syarat utama agar menulis dapat memanjangkan umur. Dibaca orang selain saya. Maka tidak penting lagi apakah media pembacaan itu adalah sebuah buku yang dicetak ulang ribuan eksemplar di lembar-lembar eksklusif atau sekadar blog gratisan atau media apa pun. Tafsir paling sederhananya, tulisan apa pun jika tak ada orang lain yang membacanya, gugurlah ujaran Pramoedya.

Saya sudah menulis di blog ini dan dibaca sekian orang. Saya yakin sekali itu meski saya tidak tahu siapa saja orang yang telah berkenan membacanya. Pertanyaan saya berikutnya, “Apakah hasil pembacaan tulisan-tulisan tersebut kelak akan turut serta mengantarkan saya ke gerbang surga atau malah akan menjadi pemberat perantara yang menyemplungkan saya ke palung neraka?”

Hal inilah yang kemudian harus selalu saya pertanyakan dan dievaluasi kembali setiap kali akan menulis di sini, di blog ini. Jika benar materinya berisi nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran, apakah tidak terselip pamrih lain?

Sungguh pada akhirnya aktivitas menulis, bagi saya, ternyata tak sesederhana yang semestinya. Selalu ada hal urgen yang harus saya pertanyakan terlebih dahulu sebelum memulai. Untuk apa menulis ini, mengangkat tema itu, menceritakan peristiwa C, mengutip kisah T, dan lain sebagainya.

Jika benar steril dari segala pamrih, sebuah pertanyaan lagi yang sangat memberatkan saya sudah menanti, “Mengapa kamu mengatakan (menulis) apa yang tidak kamu perbuat?” Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan (menuliskan) apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

Semoga saya selalu dibimbing-Nya untuk belajar menulis buat bekal keabadian sejati itu. (*)

 .

.

Jakarta, 12 Juni 2011 22:18 WIB

Baca juga  Let’s Be Wise People

.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Aba Mardjani

    Ya, menulis adalah alat…alat perjuangan…alat dakwah…

Leave a Reply

error: Content is protected !!