Cerpen, Isbedy Stiawan ZS, Jawa Pos

Mahar Sunyi

Mahar Sunyi Cerpen Jawa Pos

Mahar Sunyi ilustrasi Jawa Pos

0
()

Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Jawa Pos, 12 Juni 2011)

Saat ini kita bermain dalam imajinasi, / tapi suatu saat pasti terjadi….

KALIMAT menyerupai untaian puisi, seperti pernah kuperoleh pelajaran di sekolah menengah atas dulu, kau ucapkan dengan sangat meyakinkan; berirama, sehingga kudengar bertenaga. Telingaku bergetar, dadaku berdebar.

“Kau sungguh-sungguh?”

“Aku tak pernah main untuk soal cinta,” sergahmu. “Aku tipe perempuan setia, tapi aku lebih muak kalau orang yang kucintai main dengan perempuan lain!” lanjutmu. Kali ini suaramu meninggi dan menekan.

Aku terdiam. Sementara percakapan melalui telepon, senja ini, sempat hening. Hanya gemerisik gelombang dari angkasa luas menyesakkan gagang telepon.

“Meski aku mengenalmu baru beberapa hari. Itu pun lewat salah sambung, namun kuyakin kaulah pilihanku,” katamu setelah sama-sama diam. “Itu sebabnya, aku ikhlas mengirimkan foto-fotoku berbagai fose. Aku tak mengharap pujianmu, tak juga yang lain….”

“Tetapi, kau memang cantik. Menyegarkan. Terutama fotomu di peraduan itu, dan….”

“Yang lain tak usah kausebut, nikmati saja….”

Tahukah sesungguhnya aku sudah menikmati foto-fotomu, berkali-kali. Sejak kau titip dengan surat elektronik. Sejak itu, hatiku berkata, kau paling pas menjadi pendampingku. Menemani tidurku, membikinkan aku kopi tiap pagi dan sore, mengajakku bercakap-cakap soal masa depan, dan merancang kapan memiliki anak serta mana lebih duluan, apakah anak lelaki ataukah perempuan.

Aku memang sudah sangat kecil: layaknya semut yang berbaris. Lihatlah, katamu suatu saat, sungai itu seperti ular yang panjang.

Ular? Teringat aku pada hewan yang dulu sekali pernah menyesatkan manusia pertama di bumi: Adam. Konon, iblis menyamar sebagai ular, lalu menggoda Adam dan Hawa sewaktu di taman firdaus, setelah iblis gagal membujuk Adam-Hawa saat menyamar sebagai orang tua penghuni surga. Tapi, menyamar jadi ular pun, Adam tak tergoda. Habislah akal iblis….

Tentu kau bukan ular, katamu. Kau adalah kekasihku, lanjutnya. Kau adalah lelakiku, suamiku: kapan kau meminang aku? Ah, tak penting kapan waktunya. Sebagaimana tak penting, apakah aku sudah kaunikahi? Aku juga sudah lupa penghulu yang menikahkan kita, sambil berucap yang diiikuti olehmu–lanjutmu.

“Kunikahkan kau dengan Sinta Pujiastuti Angraini binti Lukman Setianegara yang telah diwalikan kepadaku, dengan maskawin….”

Kau masih ingat ucapan yang dilontarkan penghulu beberapa tahun lalu di hadapan kita, saat tanganku dijabatnya sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ya. Hanya, aku tak yakin kalau penghulu telah mengucapkan itu. Kita, sesunguhnya, tak pernah duduk bersila di depan penghulu. Persisnya pelindur, pengigau ulung. Sebab, kenyataannya, kamu masih resmi sebagai isti Rendy Alhabsi, pengusaha kaya, namun tak pernah kau ketahui asal-usul keluarganya. Kau juga tak tahu apakah kau adalah istri satu-satunya, atau yang pertama, kedua, atau malah ketiga?

Kau juga tak pernah bertanya ketika Rendy tak pulang berhari-hari, meski selalu memberikan alasan ada pekerjaan di luar kota yang harus ditanganinya sendiri. Atau terkadang, padahal kau tak bertanya, dia melapor ada rapat di kantor sehingga pulang menjelang subuh.

Tapi, katamu kemudian, lupakah ihwal rumah tanggamu yang berantakan. Rumah tangga yang selalu diterpa kesunyian. Keluarga yang dalam buku harianmu, selalu kau menulis: “Temani aku, rembulan” atau “Aku rindu kamu malam ini” atau sejenis itu.

Baca juga  Romansa Merah Jambu

“Untuk apa membeberkan risalah rumah tanggaku. Rasanya tak begitu penting, tak ada istimewanya untuk disiarkan,” ujarmu sambil merapatkan kepalamu di dadaku yang lumayan bidangnya lebar ini.

Sebenarnya aku juga tak mau tahu soal rumah tanggamu. Selama ini aku hanya melihatmu dari kulitnya saja, dari luar atau permukaan. Kau selalu mengendarai sendiri mobil Avanza putihmu. Ke mana-mana selalu mengenakan pakaian yang belum pernah kau pakai. Sepatu selalu baru. Handphone bermerek BB termahal dan tak pernah istirahat mengaktifkan FB atau chatting ke mana kau suka. Entah keperluan salon atau ke butik. Rasanya hampir setiap hari.

Kau cukup menunggu suamimu datang dan mengantar uang, lalu kau ditinggal lagi sampai beberapa hari kemudian. Karena itu, menurutmu, kalau tidak diisi dengan kesibukan seperti itu, tak lama hidup di dunia ini. “Aku akan mati dalam kesunyian,” ujarmu sambil kau mengutip sebuah puisi “sendiri itu sunyi//di kamar ini/aku tak perlu sesiapa/tapi suaramu–senyummu–kuharap/bisa membunuh sepi//sunyi itu menyerupai mati//aku menginginkan/kalaupun aku mati/dekat di sampingmu/dan kau tersenyum/melepas bulu-bulu sayapku/agar terbang lekas//kematian adalah kehilangan//aku tak ingin hilang/oleh sepi yang mengikat/kuingin matiku/bukan karena kehilangan/tapi mencintai sunyi//sepi itu gelisah//jangan tawarkan sepi/kalau aku pun mati ingin dalam keramaian/diiringi tawa-riang/:buang ratapmu/ aku hanya pindah/dari kamarku ke ini kamar//: yang sunyi” [1]

Sementara kau tak ingin mengalami kematian serupa itu. Kamu, sebagaimana kuketahui, adalah perempuan periang, bergaul, dan tak pernah dalam sehari pun kau tanpa yang menemani–setidaknya seorang teman perempuan atau merima telepon maupun menelepon banyak teman lelakimu. Kau habiskan waktu-waktu itu, yang kau bilang amat sepi jika tak diisi seperti itu, untuk mengobrol. Jika bosan mendengar suara, kau buka Facebook dan kau mengobrol dengan banyak teman di sana: teman yang kau kenal atau hanya pertemanan di dunia maya itu.

“Akhirnya kesepian bisa kulawan, sampai aku mengenalmu dan kita pun akhirnya tiba di tempat ini,” ujarmu, lebih tepatnya berbisik, sambil mendaratkan ujung lidahmu ke daun telingaku.

“Kau bahagia?”

Kau mengangguk. Tersenyum. Mengeluarkan sebatang rokok mentol dari merek terkenal. Menyulutnya dengan Zippo milikku. Kemudian menghisap dalam, mengembuskan asapnya ke langit ruangan hingga membentuk beberapa lingkaran. Kulihat jemarimu yang dicat warna ungu itu begitu indah saat sebatang rokok terselit di antara jari telunjuk dan tengah. Meski perokok, tak kulihat bibirmu hitam karena nikotin. Apakah karena ditutup lipstik merah jambu itu?

Kau belai bibirmu dengan dua jarimu. Aku tahu itu.

“Maaf kalau aku sudah membuatmu repot,” katamu kemudian.

“O tidak, Puji…. Aku senang kok berteman denganmu. Kau kawan yang menyenangkan. Bisa diajak berdiskusi,” sanggahku. Meski usiamu jauh di bawahku, selalu kau perlakukan aku seperti teman.

Baca juga  Kerikil Ajaib

“Lain kali kau mesti berhati-hati lagi,” ujarmu.

Aku mengangguk.

Memang aku pernah melakukan kesalahan. Padahal dia sudah berkali-kali mengingatkan agar aku jangan menelepon, jika ada suamimu di rumah. Tapi, karena saat itu sangat butuh mengobrol, kutelepon kau.

“Untung aku bisa jelaskan. Kubilang saja kau teman sewaktu kuliah.”

“Suamimu percaya?”

“Dia tak pernah tak percaya, kalau aku sudah ngomong. Lagi pula buat apa dia mencurigaiku, sedangkan aku tak pernah mau tahu urusan dia di luar rumah. Bagiku dia adalah milikku saat bersamaku, setelah dia keluar rumah, ya mana aku tahu dan mana bisa aku mengontrolnya?”

Aku mengangguk. Tersenyum. Kemudian kukecup keningmu.

.

HARI ini, Minggu cerah. Kau menepati jadwal ke kota ini, sebuah kota yang indah meski setiap hari sedang musim hujan, kota kelahiranku. Meski sudah beberapa kali kau mengganti hari keberangkatan karena urusan ini dan itu. Kau datang sore kemarin lalu menginap di rumah keluargamu dan paginya kau menghubungi hotel ini. Lalu, pukul dua belas siang kau checkin sambil menunggu kehadiranku.

Sudah beberapa jam kami mengobrol. Aku suka jadi pendengar setia. Kau banyak cerita soal masa lajangmu, masa-masa kuliah yang selalu membuatmu ceria, para lelaki yang memburumu karena kau memang manis dan periang, lalu kau berjodoh dengan lelaki yang tak kau ketahui di mana keluarganya.

“Ya, sampai begini. Yahhh….” katamu pendek.

Aku tak mau minta dia meneruskan ceritanya. Apalagi dia mengakhirinya dengan mendesah, seperti keluhan. Aku yakin, dia memang sedang mengeluhkan hidupnya. Meski, soal kebutuhan sudah dipenuhi suaminya.

“Untuk apa kebutuhan melimpah, kalau aku tak bisa mendayakan. Hatiku kering. Itu sebabnya, aku membutuhkan rembulan setiap malam menemaniku,” ujarmu.

“Akulah rembulan itu sekarang, Sayang….”

Kau hanya tersenyum.

“Akulah rembulan….”

Lagi-lagi kau hanya tersenyum. Kau makin mendaratkan kepalamu ke dadaku. Seperti ingin menenggelamkannya hingga ke paling dalam. Sejenak kemudian dia masukkan kepalanya ke dalam ketiakku. ’

“Aku ingin menciumi aroma ketiakmu….” ujarmu lirih.

Kau begitu merindukan bau keringat suamimu. Sayangnya, itu selalu tak terpenuhi. Dia pulang hanya tiap Jumat sore, lalu tidur sepanjang waktu. Hanya bangun kalau ingin makan atau mengajakmu makan di luar bila kau tak menanak. Setelah itu berdiam di kamar sambil menonton televisi berlayar lebar yang diletakkan di dinding kamarmu. Sedangkan kau dibiarkan duduk di kursi yang tersedia sebuah laptop. Kau pun mabuk dalam dunia maya.

“Hanya, yang kusuka dari dia, tak mau tahu apa yang kuperbuat. Sehingga aku bebas….”

Bebas? Begitukah manusia yang dirajam kesepian, akan selalu merindukan kebebasan? Bebas menikmati sunyi atau membunuh sepi?

“Aku tak mau tahu apa itu maknanya,” katamu.

“Sebab, aku tak butuh makna. Aku hanya ingin tak mati karena sepi,” imbuhmu. Kau sudah dirasuki puisi “Sendiri itu Sunyi” itu, setiap ucapanmu yang kutangkap adalah interpretasi atas puisi tersebut.

Sejak aku mengenalmu, jujur saja, aku amat menyukai. Kalau saja kau bukan istri sah Rendy Alhabsi, sudah kupinang dan terserah apalah aku akan sulit menafkahimu ataukah tidak. Sebagai penulis sastra yang sudah dikenal masyarakat, itulah yang membuatmu ingin berdekat denganku. Mungkin juga, mungkin, sekadar ingin mengetahui kehidupanku di luar karya-karya sastraku. Cuma kemudian, kau bukan saja jatuh cinta pada karya-karyaku, ternyata kau jatuh hati dengan penulisnya.

Baca juga  Sepak Cinta, Gila Bola

Aku adalah lajang. Aku punya banyak–bahkan berlimpah–waktu senggang. Karena tak setiap hari aku menulis karya sastra, tak setiap waktu aku memiliki keinginan menuangkan inspirasiku. Kalau karya-karyaku sudah kukirim tersebar di media massa, aku pun istirahat sambil menunggu panen bulan berikutnya. Aku simpel saja. Kalau dua bulan karyaku belum terbit di satu media, akan kulempar karyaku itu ke media lainnya. Sampai kuyakin karya yang kulahirkan sudah dimuat media massa. Setelah itu, baru aku berkarya lagi dan mengirimkan lagi ke media massa.

Karena itu, aku banyak waktu luang. Sebagai lajang, kebetulan aku juga disukai banyak penggemarku–meski tak semua penggemarku bisa kuajak kencan– setidaknya aku bisa berganti-ganti pasangan penggemar. Namun, ketika aku berkenalan denganmu dan makin mengenal dirimu dari banyak obrolan, entah kenapa aku yang kini sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Ingin sekali aku merebutmu dari Rendy.

“Cukuplah kita saling memiliki seperti ini. Kau adalah suamiku juga, meski hanya bayang-bayang….” kau menjelaskan. “Bukankah dengan cara ini pun kita bahagia?”

“Ya sih. Tapi, aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin menjagamu kalau malam kau kesepian….”

“Itu hanya permainan imajinasimu….” sanggahmu.

“Tapi, suatu saat pasti terjadi… seperti katamu bukan?” selaku.

“Hanya ucapan orang ngelindur,” jawabmu tersenyum.

Ah!

Tiba-tiba kau memelukku. Makin rapat. Sangat. Aroma parfummu membuatku mabuk, sebagaimana aku usai meminum tequila; aku melayang, terbang, menuju taman yang sulit kulukis indahnya di sini. Kususuri peta terbentang itu. Sungai di bawahnya bagai ular terpanjang, kota-kota yang gaduh terasa sepi.

“Kita pun kesepian….”

“Tak terdengar gaduh.” Hanya desah kita. Lirih.

“Maukah kau kupinang?”

“Apa maharnya?”

“Sebuah puisi,” jawabku yakin.

“Aku suka puisimu ‘Mahar Sebuah Perjalanan’ [2] sepertinya untukku,” ujarmu lagi ingin mendapatkan anggukanku. Aku masih ingat beberapa barisnya, “perempuan yang bermain/hanya dalam puisi puisi/menjelma jadi boneka/atau sungai kata kata.tapi,/aku adalah puisi itu/dan kata-kata yang mengeram/di dalam nadimu,” katamu gegas dan kembali/memetik bulir-bulir huruf/yang dulu tak kau hirau.

Aku mengangguk. Kali ini aku yang garang: memagutmu…. ***

 .

 .

Lampung, 2010–2011

.

Catatan:
[1] Puisi “Sendiri Itu Sunyi” Isbedy Stiawan ZS, Jambi 10 Januari 2011 dalam manuskrip Buku Puisi Taman di Bibirmu (rencana terbit 2011, ilustrasi sampul dari pelukis Dirot Kadirah—Jakarta).
[2] Masuk dalam manuskrip Buku Puisi Taman di Bibirmu.

.

.

Cerpen Mahar Sunyi karya Isbedy Stiawan ZS sebelumnya terbit di Jawa Pos edisi 12 Juni 2011.

.

 164 total views,  1 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

5 Comments

  1. Saya selalu menyukai puisi2 bung izbedy stiawan zs. Pada bidang ini bung izbedy cukup berhasil menciptakan puisi2 yg indah sekaligus memiliki kedalaman makna. Namun, pada penulisan cerpen, sepertinya tidak demikian. Seperti cerpen ini, saya tak melihat kepiawaian seorang izbedy dalam merangkai kata sebagaimana puisi2nya. Alur cerita dalam cerpen bahkan hanya menyerupai sebuah ke-aku-an yang narsis, pongah, dan, maaf, norak. plot ceritanya tampak hanya sebuah tempelan.

    Saya menilai bung izbedy lebih berhasil menulis puisi ketimbang prosa.

  2. …Mungkin saya cuma tidak suka dgn gagasan sex bebas atau tindakan ‘menikmati milik orang lain’ seperti yg tersirat dalam cerpen isbedy di atas.

  3. Saya harap rekan lakon hidup sudi menghapus (tidak mempublikasikan) 2 komen saya di atas, terutama komen yang pertama. Saya pasti lagi demam menulis komen jahat seperti itu. Sebelumnya saya menghaturkan berjuta terima kasih kasih atas kerja samanya.

  4. kalimat ini yang paling menyentuh:
    “kau juga suamiku, meski hanya bayang-bayang.”

  5. biasa, seorang penulis yang pasti juga ada pengembaraan di dalam karya tulisnya. Seorang IOsbedy juga dari karya ini tengah mengembara..sebuah karya yang bagus untuk ‘sebuah’ variatif dalam ber-karya.

Leave a Reply

error: Content is protected !!