Ganda Pekasih

Pengubur

0
(0)

Cerpen Ganda Pekasih (Jawa Pos, 3 Juli 2011)

Nafsu adalah kuda pacuan. (Plato)

HALTE yang baru dibangun itu dilewati banjir setinggi mata kaki, langit masih kelam oleh hujan yang mendadak turun, padahal beberapa saat yang lalu matahari begitu terik. Petir lalu mulai menjauh seperti melolong sedih, hujan yang tadi jatuh amat deras menyisakan gerimis.

Enam orang berdiri di halte itu, menatap ke arah utara yang ramai berderet etalase-etalase kaca dan iklan-iklan raksasa, mereka seperti baru menyeberangi dunia hujan yang aneh menuju ujung sore yang jatuh menghunjamkan lidah-lidah cahaya kuning kemerahan. Gedung-gedung tinggi mendadak seperti baru didirikan, kendaraan berserak ke segenap penjuru mata angin bak gerombolan hewan yang terlepas dari ikatannya.

Orang-orang yang berdiri di halte itu tiga orang lelaki dan tiga wanita, yang berada di pinggir paling kiri wanita berusia sekitar 43 tahun, berperawakan kurus, berwajah pucat dengan tatapan mata kelam tanpa cahaya dan tangan kiri yang selalu bergetar sendiri. Perempuan ini baru saja turun dari kereta kelas ekonomi, kesumpekan kereta itu masih dirasakannya, pengab seperti berada dalam kepompong raksasa. Kereta yang bahkan cuma sekadar memberinya tempat untuk mencaci maki orang-orang yang ada, pengemis yang merangkak-rangkak di lantai, orang-orang yang merokok seenaknya, pasangan muda-mudi yang berbuat mesum secara sembrono.

Dia tak memakai perhiasan apa pun bahkan sekadar cincin imitasi, pakaian yang melekat di tubuhnya bahkan kumal, padahal tarif untuk pekerjaannya selama ini dia dibayar mahal, dia membawa tas berisi beberapa pakaian pengganti saja.

Profesi perempuan ini sangat dikenal di kalangan wanita-wanita penghibur, ibu-ibu muda, juga mahasiswi, tapi hari ini dia telah melarikan diri dari kampungnya yang teduh dan udaranya bersih, memilih mencoba peruntungan menjadi pembantu rumah tangga saja di kota.

Siapa yang tidak mengenalnya, tukang becak, tukang ojek dan calo-calo  berkeliaran di terminal siap mengantarkan perempuan-perempuan itu begitu disebutkan namanya, dialah jagal bayi-bayi dari wanita-wanita yang ingin menggugurkan kandungan mereka, yang datang entah dari pelosok mana saja.

Kini dia merasa dalam pengintaian berpasang-pasang mata yang aneh, dengan tangan yang selalu bergetar sendiri seperti ditampar setrum listrik padahal selama ini tangan itu biasa terlatih memupus harapan hidup bayi-bayi malang tak berdosa. Sangat rapi dan tenang apa yang ditutupinya sehingga tak ada celah orang untuk mengintip ke balik matanya apa yang telah dilakukannya, tapi semakin hari semakin banyak bayangan aneh datang apalagi setelah beberapa wanita mengikuti jejaknya, mereka mengaku-ngaku sebagai murid Nyai Marliah. Beberapa wanita muda pendarahan hebat akhirnya tewas, ada yang dijemput maut di tempat kos mereka, ada yang mengerang mati di rumah sakit. Nyai Marliah merinding mengingat semua itu.

Sekarang dia sudah ada di kota, dia tak ingin menjalankan pekerjaan itu lagi walau perempuan perempuan itu akan mengejarnya sampai ke sini, merengek-rengek dan akan bunuh diri jika tak ditolong.

***

Seorang laki-laki tua dengan sorot mata yang lelah tetapi tenang seperti permukaan danau berdiri tak jauh dari perempuan jagal bayi itu. Sesekali dia mengusap wajahnya yang basah. Dia memegang keranjang ayam dari rotan yang ringsek dan kosong, celananya hitam setinggi lutut dengan tali pinggang berwarna hijau yang besar, memakai kopiah lapuk dan berkaos hitam.

Lelaki itu penjabung ulung, sehari-harinya bekerja merawat ayam-ayam aduan. Dia pernah terlibat perkelahian sesama penjudi, lawannya roboh oleh hunjaman belatinya yang selalu tersimpan rapi di balik tali pinggang besarnya, tali pinggang yang kini tentu saja tak dapat lagi mempertahankan kejantanan masa lalunya bahkan semua yang pernah dia miliki.

Lelaki itu penduduk asli kampung sini, termasuk salah satu yang dipanggil Jawara ketika itu. Di halte ini dia terlihat begitu rapuh dan tua, sunyi seperti keranjang ayamnya yang kosong itu walau matanya sesekali masih tampak cahaya tak terduga.

Dia belum lama keluar dari tahanan yang menyekapnya selama tujuh tahun, dia lantas pulang ke rumah, semua masih seperti yang ditinggalkannya kecuali istrinya. Tahun pertama di tahanan dulu istrinya sering menjenguk, tapi tahun kedua dan berikutnya istrinya tak pernah datang lagi, kata anak-anaknya ibu mereka pulang ke kampung dan tak mau kembali lagi ke kota, tapi di sana kata keluarganya dia tak pernah muncul. Perempuan itu hilang lenyap seperti ditelan bumi.

Lelaki itu ingin menyusul istrinya dimulai dari halte yang baru dibangun ini, dia membawa keranjang rotan kosong dan berharap mendapat seekor ayam aduan dari sana lalu memulai lagi mengadu nasib di arena judi yang semakin ramai yang membuat seolah tubuhnya dipacu lagi untuk kembali menghimpun kekuatan. Matanya yang lelah itu terus menatap ke utara seperti genangan air danau, tapi terlihat hewan-hewan liar berkeliaran di dalamnya untuk suatu waktu bangkit.

Baca juga  Peti Mati

Dan lelaki itu tak jadi berangkat ketika seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri datang membutuhkan tenaganya, dia akan memberikan uang serta beberapa ekor ayam jago sebagai upah, lelaki itu tak menolak, matanya pun mengerjap, hewan-hewan liar itu mulai bergerak.

***

Seorang wanita dengan kaki dan pinggang yang gemuk berdiri di belakang lelaki itu, dia tinggi besar, kulitnya hitam, rambutnya keriting, wajahnya bundar dengan kulit yang kasar. Dan anehnya dua biji matanya nyaris tak berkelopak, bahkan mata itu seperti hendak meloncat keluar. Dia tampak seperti wanita berkulit badak, terkesan tak punya akal sehat.

Jika dia berjalan orang-orang menyebutnya Raksasa, terkadang mereka sebut juga angin ribut karena dia siap berkelahi dengan siapa saja jika ada yang melanggar wilayahnya. Dia sangat gagah perkasa di sepanjang boulevard itu, dia seperti harimau betina lapar yang baru melahirkan. Dan dia sungguh benci melihat perempuan-perempuan dari desa-desa yang berdatangan ke kota ini hanya bermodalkan kecantikan dan usia muda. Tidak seperti dia yang berani mendirikan bangunan di sebuah lahan tak jauh dari halte itu untuk berjualan bensin eceran, rokok dan ganja.

Sepasukan tramtib pernah beberapa kali hendak merobohkan bangunan liar miliknya, tapi keberanian wanita itu tak bisa diduga, dia pernah melawan sambil mencopot semua pakaiannya sehingga dia telanjang bulat, dan rupanya hal itu cukup ampuh untuk mengusir tramtib yang masih punya rasa malu mengingat mereka juga dilahirkan oleh wanita.

Malam hari dia mendirikan tenda yang lebih besar untuk berjualan sate  daging anjing, dan biasanya beberapa orang polisi mampir di situ, mereka duduk-duduk minum kopi sambil merokok, sesekali mereka menghentikan truk-truk bermuatan besar yang memasuki kota dan menginterogasinya. Lama-lama perempuan itu jadi kenal dekat dengan para polisi, dan bangga bisa bercakap-cakap dengan mereka.

Suami perempuan itu membuka tambal ban beberapa kilometer jauhnya dari situ, suka mabuk bersama kawan-kawannya di sana, bahkan sesekali mereka minum-minum di tempat usaha si perempuan itu, dan perempuan itu membiarkan saja keinginan mereka seperti tanda kehidupan lain menemukan bagiannya di malam hari.

Suatu hari si suami dan teman-temannya bermain gitar dan minum anggur murahan yang dicampur spritus agar cepat mabuk, mereka menyanyi hingga tengah malam dengan suara melengking tinggi hingga ke langit. Perempuan besar yang sedang tidur di gubuk kayu itu marah dan mengusir mereka, mereka tersinggung dan pertengkaran pun terjadi, perempuan itu memukul suaminya dengan kayu seperti anjing.

Dini hari berikutnya suaminya kembali datang, mau meminjam uang karena usahanya sudah sebulan nyaris sepi, dia kembali bermabuk-mabukan bersama teman-temannya, si Raksasa yang kulit wajahnya kasar seperti kulit katak beracun itu kembali mengusir mereka sampai mereka berkelahi. Salah seorang teman si suami yang membawa pistol rakitan sangat geram, pistol itu terangkat siap mencabut nyawa perempuan itu, pelatuk pun akhirnya ditarik tak bisa ditahan, perempuan itu tercekat. Biji matanya yang seperti tak berkelopak dan seakan hendak meloncat keluar itu kali ini benar-benar pergi menjauh. Dia menatap keji ke penembaknya dengan erangan dahsyat sebelum kemudian tubuh besarnya terjengkang, lalu terguling ke selokan.

***

Lelaki berikutnya di halte itu seseorang yang berpakaian rapi, berbahan mahal, berperut sedikit gendut. Dia memegang buku panjang berisi catatan orang-orang yang berhutang padanya. Dia lintah darat. Dia sangat teliti dan seksama menjaga bank kecilnya di rumah. Tangan kanannya sejak tadi tak berhenti merokok, habis satu dia nyalakan lagi sambil menjepit kuat di ketiaknya buku panjang berisi nama-nama para pengutang itu, tentu saja sekaligus catatan bunganya yang berlipat ganda serta alamat-alamat mereka.

Sebelum tiba di halte itu dia baru saja keluar dari sebuah restoran Cina, mengisi perutnya dengan kwetiau goreng kesukaannya, irisan daging babi panggang dan sebotol sarsaparila dingin. Di balik matanya yang menyipit karena asab rokok yang bertubi-tubi, tampak kekejian yang luar biasa buasnya. Dia pernah diusir warga sekitar tempat tinggalnya karena terlalu banyak memelihara anjing. Kini dia cuma punya dua ekor anjing saja yang berjaga-jaga di depan pintu gerbang rumahnya, tapi tetap saja kalau malam mereka sangat gaduh, mereka sering melolong panjang seperti sedang melihat hantu.

Hari ini dia akan menemui seseorang yang sudah lama tidak membayar utangnya, utangnya sudah menumpuk dengan bunga yang berlipat setiap hari, dan utang itu harus dibayar hari ini, minimal tiga bulan untuk tunggakan bunganya saja. Seorang jawara kampung pernah beberapa kali diutusnya ke rumah pengutang itu tapi dia malah lebih kasar dan berani. Jawara kampung itu keok seperti ayam aduan, lalu beberapa preman sewaannya yang biasa menagih hutang dengan tak punya perasaan juga gagal. Lelaki ini kini sangat ingin tahu sejauh apa keberanian pengutang yang menarik dirinya sampai datang bahkan akan menanyakan kabarnya lebih dulu dengan sopan sebelum dia menegaskan lagi maksudnya yang sudah sangat jelas, orang yang begitu berani baginya bahkan setelah mendengar namanya disebut, si Lintah Darat paling keji.

Baca juga  Bir Pletok

Jika orang itu sudah ditemuinya dan diancam tak ada kemungkinan dia segera membayar hari ini, dia akan memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyembelih saja tikus itu, mayatnya tinggal diserahkan kepada orang lain untuk dipotong-potong dan dibuang agar jejak kehidupannya lenyap seketika. Toh pekerjaan itu gampang saja karena banyak orang yang bisa dibayar atau hutang-hutangnya dilunasi dengan imbalan tenaga dan kekejian mereka.

***

Berikutnya seorang wanita yang kurus tapi tampak  otot-otot lengannya begitu kuat, sebuah kotak besar membisu di samping kakinya, sesekali laler hijau besar berdengung mengintip ke dalam kotak yang tampak masih baru dan diikat dengan bagus seolah di dalamnya adalah benda yang dikirim untuk seseorang dan harus diterimanya dalam keadaan baik.

Perempuan itu bekerja di rumah pemotongan hewan, lalu dia mendapat order untuk mencincang tubuh seorang lelaki kurus, tua, tetapi banyak uang dan harta warisan, memasukkannya ke beberapa kantong plastik kemudian membuangnya seperti membuang kantong kantong sampah.

Dari pekerjaan itu dia mendapat imbalan sepuluh juta rupiah, uang itu sudah diterimanya separuh, jika mayat itu tak ditemukan dalam seminggu, walau ditemukan tentu sudah sulit dilacak identitasnya, maka uang yang separuh lagi akan diberikan kepadanya. Kardus itu adalah kantong terakhir yang akan dia buang, ini adalah ordernya yang kedua, belum tahu dibuang di sudut mana di kota ini, yang pasti dia sudah membuang belasan kotak ke segenap penjuru kota, daging-daging manusia yang tidak dikenalnya itu, toh bukan dirinya yang membunuh, jadi dia tak merasa bersalah, dia hanya memotong-motong dan membuangnya saja.

Berawal karena  banyak punya alat-alat pemotong daging di rumah, seorang tetangganya yang dicurigai sebagai anggota komplotan pembunuh bayaran, memberikannya order menakjubkan itu.

Pekerjaan memotong-motong mayat dan membuangnya baru dilakukannya dua kali, tapi dia segera mendapat pengalaman tentang anatomi tubuh manusia, yang ketika sudah mati sama saja dengan hewan-hewan di rumah potong itu. Dia berpikir orang memang mudah membunuh siapa saja dalam waktu yang singkat, tapi melenyapkan mayat itu dengan mencincang-cincangnya menjadi beberapa bagian tentulah memiliki keberanian khusus yang tidak dimiliki setiap orang. Dan dia bangga memiliki keberanian itu.

Mayat dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ada bagian terkecil, ada bagian besar dan berat seperti kepala dan bahu. Ada isi perut yang sangat cepat membusuk dan bau, isi perut adalah bagian yang tersulit dimasukkan ke kantong-kantong plastik karena mudah terhambur dan berceceran.

Perempuan ini sudah lama terjerat hutang pada rentenir, gaji dari pekerjaannya di rumah potong hewan tak mencukupi, tiga orang anaknya masih sekolah, dia seorang janda, suaminya baru setahun meninggal karena paru-paru kronis yang tak sungguh-sungguh diobati karena tak ada biaya.

Hanya tinggal seplastik besar yang dijejalkan ke dalam sebuah kardus untuk dibuangnya hari ini berupa isi perut dan kepala, sisa terakhir dari kantong-kantong plastik yang sudah dua hari sejak kemarin dia sebar. Kini dia masih berpikir, ke mana kardus terakhir ini dibuang, tapi ini pekerjaan yang mudah pikirnya, kemudian dia akan menanti bayaran sisanya dengan gembira.

***

Dan lelaki yang terakhir, dia  kurus dan kecil tapi dengan urat-urat tangan yang dipaksa bertonjolan keluar, dia duduk di tanah saja di luar halte, memegang cangkul, bertelanjang kaki. Singlet dan celana pendeknya kumal nyaris sama dengan warna tanah.

Dia seorang penggali, datang menyusup ke kota besar ini dengan truk pengangkut pasir suatu malam. Setelah beberapa kali melewati terowongan dan jembatan layang, truknya berhenti di tengah kota, yang dilihatnya dari kejauhan seperti gurita raksasa yang berjalan di lautan yang airnya hitam.

Cara duduknya terkesan tampak santai tapi matanya awas karena dengan sekali lambaian tangan saja dari seseorang di atas truk yang lewat yang tak mengurangi kecepatannya, maka dia harus segera melompat dari samping halte itu seperti kadal tanah memburu mangsanya, begitulah dia bekerja mendapatkan uang di kota besar ini.

Truk-truk itu berisi pasir atau kerikil yang dibawa dari sungai di kaki gunung dan bukit bukit yang jauh dari kota, pasir dan kerikil itu adalah rejekinya, dia bisa mengumpulkan uang untuk dibawa pulang ke kampungnya jika tiap hari mendapat lambaian, tapi jika tak ada lambaian dari orang-orang di truk yang lewat itu, untuk makan saja dia sulit, bahkan dia tak punya kontrakan untuk  sekadar mengistirahatkan tubuhnya.

Tapi kini sudah lama dia tidak cuma menunggu truk-truk yang lewat, sesekali dia diajak menggali kuburan dari orang-orang yang biasa menggali pemakaman. Pertama kali dia menggali lobang kubur sama saja baginya seperti menggali pasir di sungai atau membersihkan got, tapi melihat temannya yang biasa menggali kubur berdoa khusu sebelum mengayunkan cangkulnya, dia pun mengangkat tangannya.

Baca juga  Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa

Beberapa kali ada orang-orang menakutkan yang membutuhkan tenaganya, tapi dari sorot mata mereka dia dapat melihat mereka adalah manusia-manusia yang bisa melakukan hal-hal diluar dugaannya. Seperti kemarin malam misalnya, seorang lelaki melambai dari kenderaan bercat kelabu tua, tanpa pikir panjang dia melompat bak kadal tanah memburu mangsa. Biasanya dia naik ke atas truk, kali ini sebuah mobil yang di dalamnya terasa sangat dingin dan nyaman tapi beraroma kematian. Dia cepat disuruh masuk lewat pintu bagian belakang, tapi dia merasa ini order yang bagus.

Sesosok mayat ditutupi jaket dan berlembar-lembar koran yang bersimbah darah, mayat itu bau karena urine dan tinjanya keluar, dan dia tahu dia akan menggali lubang untuk menguburkan mayat ini di tempat yang dirahasiakan, entah mayat siapa, dia tak peduli, yang penting dia bekerja menggali untuk mendapatkan upahnya.

Lalu entah kenapa dia jadi tenang dan keberaniannya berkobar ketika orang-orang di mobil itu mengatakan bahwa mayat ini tak ada gunanya, dia manusia kejam, uangnya banyak dan mereka berhutang padanya lima puluh juta, itu baru pokoknya, bunganya sangat tinggi, empat puluh persen sebulan. Mereka bilang lelaki ini Lintah Darat yang dijuluki manusia paling Keji, kepalanya akan mereka kubur dan tubuhnya dipotong-potong.

Lalu kemudian hari, di halte itu dia berjumpa dengan seorang perempuan dengan tangan kiri yang sering bergetar dengan sendirinya, perempuan itu memintanya menguburkan mayat bayi berusia empat bulan lebih yang baru saja dia sentapkan dari rahim seorang mahasiswi yang membayarnya mahal, ini terpaksa dilakukannya, kata perempuan itu. Di kota pelariannya ini membuat dirinya justru tak bisa lagi berhenti dari pekerjaannya.

Dia telah menyeberangi sungai dengan susah payah, lalu menemukan jembatan, tapi setelah melewatinya, jembatan itu runtuh, dan dia tak bisa kembali.

Bagi si Penggali pekerjaan mengubur manusia baginya kini enteng saja, tapi muncul kebiasaannya yang tak terduga, dia suka membuka kelopak mata mayat yang hendak dikuburkannya. Sorot mata mata itu hitam mengerikan, bahkan bayi itu justru membuatnya lebih merinding. Ada aliran aneh dari mata kaki hingga ke tengkuknya ketika dia menguburkan mayat kali pertama dan tak bisa hilang beberapa hari. Tapi itulah pekerjaannya, dia menyukainya kini, dan dia menunggu di samping halte itu, bergerak cepat seperti kadal ketika ada tangan melambai dari kenderaan yang lewat tanpa mengurangi kecepatannya.

***

Pagi yang sibuk menyapu kawasan itu, suaranya berdengung seperti kumbang, orang-orang turun naik di halte yang baru dibangun itu lalu memasuki gedung-gedung perkantoran, mereka tampak seperti ikan-ikan di lautan luas yang memasuki jaring perangkap yang sudah lama terpasang.

Seorang perempuan kurus, tua, menjadi tontonan orang-orang di halte ketika dia berkata bahwa suaminya dikuburkan di tempat itu dulu, belasan tahun lalu. Dia memandang ke segala arah dengan mata yang dibalut sunyi, mata yang dikelilingi keriput menghitam. Dia yakin suaminya yang jawara kampung itu kuburannya di situ. Orang orang di halte mengacuhkannya, menganggapnya perempuan gila.

Halte yang suka dilewati banjir semata kaki orang dewasa jika hujan deras turun, di ujung boulevard yang di kiri kanannya sudah menjadi kavling-kavling para pengusaha untuk didirikan apartemen dan perkantoran bertingkat.

Orang-orang yang berdiri di situ kini sekadar berteduh ketika hujan dan guntur melolong. Menyeberang dan melintas batas entah ke mana. Kendaraan-kendaraan sibuk, berhenti silih berganti, terkadang simpang siur bak segerombolan hewan ketika ikatannya terlepas.

Enam orang berdiri di halte itu, memandang ke arah utara, mata-mata mereka mengambang di permainan cahaya seperti ikan hias di air akuarium yang diberi lampu berwarna. Tubuh mereka bak patung batu yang rapuh dan retak menanti pecah.

Keping-keping etalase, iklan-iklan raksasa dengan lilitan lampu yang menyala tetapi kering dan kaku terus bermunculan di utara yang makin memikat dan menarik keinginan siapa saja untuk mendatanginya.

Halte itu tak pernah sepi, orang-orang silih berganti menanti kendaraan yang lewat untuk dipilih ke penghentian terakhir.             

Hampir tengah malam, perempuan tua yang siang tadi dianggap orang gila, terseok seok memasuki halte itu, dia tampak sangat mengerikan di malam hari, seperti mayat yang baru saja bangkit dari kubur…. (*)

.

.

Ganda Pekasih, menulis cerpen, novel, dan skenario. Pernah menjadi editor majalah Anita Cemerlang. Novelnya yang sedang beredar “Sang Dewi” dan “Unpredictable Loves”. Juga, menulis Cerita Anak. Tinggal di Jakarta.

.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!