Cerpen, Gde Aryantha Soethama, kompas

Pangus Ukulele

Pangus Ukulele ilustrasi Joko Sulistiono/Kompas

5
(1)

Cerpen Gde Aryantha Soethama (Kompas, 28 November 2021)

SETELAH istrinya meninggal, juragan tembakau dari Bondowoso itu menyerahkan seluruh urusan perusahaan kepada anaknya. Dan sejak itu ia sulit tidur, selalu membayangkan usaha yang dengan gigih ia bangun sejak muda bakalan redup dan akhirnya terkubur karena salah urus.

Seorang paranormal menganjurkan agar ia menyepi, mengikhlaskan diri. Lelaki Bondowoso itu pun membeli tanah di Tegalalang, dusun yang bertetangga dengan Ubud. Ia pilih tempat di ketinggian, yang jika ditarik garis sejajar khatulistiwa, akan tepat bertemu di titik rumahnya di Bondowoso. Walau sangat jarang, kadang kabut turun memeluk pohon-pohon. Orang-orang di Tegalalang mengenalnya sebagai Pak Bondo, tinggal bersama seorang juru masak perempuan tua, dan lelaki bernama Loling untuk mengurus kebutuhan sehari-hari.

Tapi di tanah yang dirimbuni pohon durian, manggis, buni, sandat, bermacam jepun dan cempaka, lelaki tua dari Bondowoso itu tetap tak bisa memicingkan mata. Jika malam, ia senang duduk di belakang rumah, suatu kali pindah ke samping, lain waktu di depan. Jika langit tak berawan ia tengadah lama-lama memandang gemerlap bintang. Kadang-kadang ia berteriak memanggil Loling agar duduk menemani, untuk menyaksikan bersama beberapa ekor kunang-kunang terbang mengendap-endap di antara ranting belukar.

“Mereka lemah dan rapuh, tapi menyuguhkan keunikan dan keindahan dalam gelap,” ujar lelaki tua itu menyaksikan kunang-kunang hinggap pada ringgitan janur penghias penjor.

Pak Bondo memerintahkan Loling selalu menancapkan penjor di depan rumah. “Biar suasana selalu seperti hari raya Galungan, saat orang-orang sedesa berjajar memasang penjor,” ujarnya gembira.

Jika janur hiasan penjor layu, ia meminta segera diganti agar selalu segar. Saban purnama, lelaki itu suka mengintip bulan dari sela-sela ringgitan janur yang dililitkan pada bambu. Di seantero Bali, hanya di rumah Pak Bondo penjor dipasang terus sepanjang tahun.

Tapi Loling belum pernah melihat lelaki tua beruban tipis itu tidur. Mungkin terlelap ketika subuh, sesaat. Atau tertidur di sofa tengah hari, Loling juga tak yakin. Usai makan malam, ia selalu ingin ditemani seseorang yang bermain musik. Hanya seorang, tak ingin lebih, dan ia suka alat musik petik. Sayang sekali Loling tak bisa main gitar, sehingga ia harus mendatangkan gitaris. Langganannya pemusik dari Ubud, cuma kurang dua puluh menit sampai.

“Suruh dia datang tiap malam, semoga permainan gitar akustiknya bisa bikin saya tidur.”

Pak Bondo akan berbaring di sofa, sekali-sekali mengucek-ucek mata, kadang menyeret langkah ke meja mengambil segelas air, kemudian duduk di kursi dekat jendela sambil menyantap buah. Ia berharap bisa mengantuk setelah mendengar petikan gitar lagu-lagu dari berbagai genre yang populer tahun 1970-an semasa ia muda. Namun, tetap saja kantuk tak kunjung bertengger di matanya.

Baca juga  Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus

Justru gitaris itu yang terkantuk-kantuk dan akhirnya tertidur setelah lelah berjam-jam bergitar. Sesungguhnya ia sudah merasa jenuh saban malam hadir di rumah itu. Hanya karena dibayar mahal ia rajin datang. Menjelang subuh sering Pak Bondo yang membangunkannya.

“Sudah pagi,” Pak Bondo pelan mencolek bahu gitaris yang terkesiap bangun sembari memutar-mutar pinggangnya yang pegal, kemudian pamit menggendong gitar. Nanti malam dia akan datang lagi, ketiduran, dibangunkan, lalu pamit pulang selepas subuh. Begitu selalu, dan Pak Bondo tak jua kunjung bisa tertidur oleh petikan gitarnya.

Satu hari di bulan November hujan turun sepanjang hari. Biasanya selepas petang pemetik gitar itu datang, langsung ke dapur menyeruput kopi, setelah meletakkan gitar di ruang tengah. Malam ini, mungkin karena hujan, ia tak kunjung tiba. Berulang-ulang Loling menghubungi, telepon pemetik gitar itu tidak aktif. Pak Bondo sangat gelisah kalau tidak mendengar musik yang dimainkan langsung, kendati belum sanggup membuatnya tertidur.

Setelah gitaris itu tak juga muncul menjelang makan malam, Loling datang ke rumah Pangus, temannya semasa mahasiswa yang suka ngeband, namun keduanya drop out karena kepincut mengurus vila bule yang menjamur di kampung mereka.

“Aku tak punya gitar,” jelas Pangus ketika Loling memintanya menggantikan si gitaris.

“Tu, itu apa?” Loling menuding gitar kecil tergantung di dinding.

“Bukan gitar, itu ukulele.”

“Mainkan sajalah, yang penting live music.”

Pangus punya dua ukulele, terbuat dari kayu solid, akasia dan mangga. Dengan finishing vintage dof, kedua gitar berdawai empat itu memamerkan seratnya yang indah dan klasik. Dawai keempat ukulele akasia jenis tenor itu ia ganti dengan senar low G, sehingga suaranya lebih rendah dan merdu, namun tetap terasa lengkingannya. Jrenggg…, jrenggg…, jrenggg….

Ukulele dengan kayu mangga, jenis soprano, lebih kecil, sebesar kentrung yang biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu keroncong. Senar keempat ia biarkan high G, suaranya jadi nyaring dan riang. Cringgg…, cringgg…, cringgg….

Malam itu Pangus memainkan ukulele low G dekat meja di ruang tengah, di seberang Pak Bondo yang seperti biasa tergolek di sofa. Ia petik lagu “Belaian Sayang” gubahan Bing Slamet, membuat dia terkenang ibunya yang selalu menyanyikan tembang itu setiap meninabobokkan si bungsu. Di luar masih tersisa gerimis, meninggalkan suara tipis di genting dan daun-daun. Pangus mengulang-ulang lirik lagu itu dengan suara perlahan, nyaris berbisik.

“Waktu hujan turun, rintik perlahan/

Bintang pun menyepi, awan menebal/

Kutimang si buyung, belaian sayang/

Anakku seorang, tidurlah tidur”.

Entah pada putaran lagu ke beberapa, pasti lebih dari sepuluh kali, Loling yang duduk dekat pintu, menghampiri Pak Bondo. Ia melihat nafas teratur lelaki tua itu yang tertidur di sofa. Ia pandang Pangus yang terus memetik ukulele, memberi tanda agar mendekat ke sofa, ikut menyaksikan Pak Bondo tertidur nyenyak.

Baca juga  Jalan Sunyi Menuju Mati

Pangus dan Loling menahan nafas, berbalas senyum dan anggukan melihat Pak Bondo mendengkur. Loling merasa mengalami keajaiban, dan bertanya-tanya, kehebatan apa gerangan dimiliki temannya yang bisa menidurkan penderita insomnia dengan petikan ukulele?

“Datang lagi besok ya, pastinya nanti kukabari,” rajuk Loling di pintu gerbang ketika mengantar Pangus pulang selepas tengah malam.

Tapi Loling malam ini tak berkabar kalau Pangus harus memainkan lagi ukulelenya. Pangus menduga gitaris dari Ubud itu datang dan Pak Bondo memberi lagi kesempatan. Bisa jadi juga lelaki tua dari Bondowoso itu sudah sanggup tidur sendiri tanpa live music.

Baru lewat tengah hari Loling muncul tergesa. “Pak Bondo belum bangun. Lebih empat puluh jam dia tidur. Aku khawatir.”

“Panggil saja dokter.”

“Sudah, tekanan darah, detak nadi dan jantung normal. Kata dokter, Pak Bondo lagi menikmati deep sleep. Tapi aku tetap khawatir, kenapa tidur begitu lama. Menurutmu ini bagaimana?”

Pangus mengambil ukulele soprano dekat meja, bersama Loling ia ke rumah Pak Bondo.

Cuaca dingin, angin mendesir, langit murung berawan seperti akan hujan. Hampir sepanjang jalan daun-daun beringin dan bunut gugur terserak. Seekor capung yang hinggap terayun-ayun di ujung rumput tiba-tiba melesat terbang, ketika seekor belalang meloncat hendak menubruknya.

Pangus menyaksikan lelaki tua itu masih tidur pulas seperti saat ia tinggalkan kemarin malam. Ia mainkan ukulele, tidak dipetik, tapi dengan irama island sturm, memukul keempat dawai dengan membahana, menghasilkan suara keras karena senar-senar itu seperti dihempas badai berulang-ulang. Ia pilih lagu “Somewhere Over the Rainbow” yang semangat dan riang gembira.

“Somewhere over the rainbow, skies are blue/

And the dreams that you dare to dream really do come true”.

Pada pengulangan lagu kelima, kelopak mata Pak Bondo mulai bergerak-gerak. Loling kian takjub, bagaimana mungkin Pangus melakukannya? Membangunkan seorang yang tertidur lelap dengan ukulele? Loling terkesima ketika majikannya membuka penuh matanya.

Lelaki tua dari Bondowoso itu bangkit perlahan, terduduk lemah, bicara sangat pelan, “Saya lapar, masak apa kita hari ini?”

Pangus terus memainkan ukulele sopranonya. Turis yang tinggal di vila sekitar, atau yang sedang jalan-jalan melintasi pematang sawah dan jalan setapak di kebun, memiringkan kepala, menyiagakan kuping, mempertajam pendengaran, agar bisa menangkap dari mana asal cringgg…, cringgg…, cringgg… itu.

Sejak itu Pangus jadi pesohor, banyak bule minta diajar main ukulele. Gitaris-gitaris lokal, yang sudah piawai memetik dawai, datang untuk mengintip gaya petikan Pangus. Beberapa pemusik dari Ubud kemudian mencobanya di antara turis pengidap insomnia, tapi mereka tak kunjung tidur, tetap begadang sembari menenggak wiski dan bir sampai pagi. Para pemusik itu kemudian yakin, ukulele Pangus itu bertuah dan sakti. Ada yang berniat mencolongnya.

Baca juga  Jenggo

Rumah Pak Bondo kini ramai dikunjungi turis untuk bermain ukulele bersama. Mereka duduk di atas rumput, di antara bunga gumitir, di bawah pohon wani, belimbing, sentul, nangka dan alpukat. Mereka memainkan empat jenis ukulele: soprano, concerto, tenor dan bariton. Play along mereka pun menjadi lengkap dan meriah, ditingkahi kumandang lagu meliuk-liuk menelusup di antara dahan, ranting dan pucuk-pucuk daun di dusun sejuk itu.

Beberapa penderita insomnia sering bermalam di rumah Pak Bondo untuk mendengar petikan ukulele Pangus. Jika mereka ditanya mengapa sampai tertidur, mereka menjawab, “Tidak tahu, tidak sadar saya mengantuk dan tidur.”

Dunia kini tahu, para turis itu menyebar berita ke mana-mana: seorang warga kampung berhasil merawat dan menyembuhkan penderita insomnia dengan petikan ukulele. Mereka menyebutnya sebagai “Pangus uke healing”.

Kabar ini membuat banyak bule datang menjinjing ukulele langsung dari negaranya. Mereka berniat menggelar garden festival ukulele dunia tahun depan, seperti festival ukulele di San Fransisco tahun 2018, dan Brisbane, 2019.

Tegalalang dan Ubud akan meriah oleh suara ukulele. Mereka sepakat menjadikan “Somewhere Over the Rainbow” gubahan Harold Arlen, yang paling sering mereka mainkan bareng, sebagai lagu utama festival, menjadi lagu kebangsaan uke lover. Lagu sederhana yang melampiaskan kegembiraan, kehangatan, semangat bersama, dan berlimpah harapan. Cocok buat mereka yang sedang dirundung malang.

“Someday I’ll wish upon a star/

And wake up where the clouds are far behind me/

Where troubles melt like lemon drops away above the chimney tops/

That’s where you’ll find me”. ***

.

.

Denpasar, November 2021

Gde Aryantha Soethama, banyak menulis cerpen dan esai tentang tanah kelahirannya, Bali. Tahun 2016 ia menerima Penghargaan Kesetiaan Berkarya dari harian Kompas. Tahun 2006 kumpulan cerpennya, Mandi Api, memenangi Khatulistiwa Literary Award.

Joko Sulistiono, lahir bulan April 1970 di Grobogan, Jawa Tengah. Sejak kecil sudah mencintai dunia seni lukis, kemudian ikut di Sanggar Mandiri dan tahun 1990 kuliah di ISI Yogyakarta. Sampai saat ini tetap teguh menjalani profesi sebagai pelukis dengan menetap di kota Yogyakarta.

.

.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: