Ade Mulyono, Cerpen, Kedaulatan Rakyat

Kau

Kau - Cerpen Ade Mulyono

Kau ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

3.8
(4)

Cerpen Ade Mulyono (Kedaulatan Rakyat, 03 Desember 2021)

KAU baru saja kembali ke duniamu setelah semalam rembulan memberikan mimpi indah untukmu. Tidak usah takut padaku, apa kau lupa semalam aku yang telah menenangkan hatimu, menenteramkan gundahmu, membekuk emosi, dan mengendalikan gairahmu.

Lihat kepalan tanganmu yang besar. Apa kau juga lupa semalam kau buat mati seorang polisi dengan sekali pukul. Aku yang menyelamatkanmu dari kejaran peluru dan gonggongan anjing.

“Siapa kau?” tanyamu. “Di mana aku?”

“Aku adalah aku,” jawabku. “Kau di tempat paling aman.”

Jangan palingkan tatapanmu. Tidak ada yang mengetahui tempat ini. Sekalipun itu malaikat. Pasti kau heran, benar bukan?

Baik akan aku ceritakan. Kau adalah ciptaan pengarang galau. Dan aku diutus ke sini untuk menemanimu. Betul, seperti Hawa menemani Adam. Tidak usah panik jika aku bisa membaca pikiranmu. Begitulah sang pengarang menciptakanku dengan segala kelebihannya.

Benar sekali, kehidupan ini fiksi. Kau juga fiksi. Cerita ini dan semua yang telah kau lalui hanyalah fiksi. Kau dilahirkan hanya untuk menghibur pengarang. Pengaranglah Tuhan kita. Semua yang telah kau lakukan sudah direncanakan oleh pengarang kita.

“Sampai di sini paham?”

Benar. Kau hanyalah martil. Seperti kelinci bagi ilmuwan.

Apa kau tidak mengingatnya? Baiklah mungkin ini tugasku menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Pertama-tama kau diciptakan. Kau diberi nama, kau diberi pengetahuan, kau diberi hati, kau juga diberi pekerjaan supaya persis seperti kehidupan yang sebenarnya.

Kau adalah dosen filsafat. K*u mengaku diri anak kandung filosofi Sartre: eksistensialisme. K*u tidak mau menikah. K*u berkhotbah kebebasan hanya mungkin dilakukan jika meniadakan Tuhan. K*u dipecat dari pekerjaanmu sebagai dosen. Karena dianggap menyalahi aturan. K*u hidup di bangsa yang beradab. Bertuhan. Berbudaya.

Baca juga  TAMSIL USIA

K*u tinggal di kampung. K*u menolak tunduk oleh aturan sosial. K*u tidak mau menikah. K*u tidak mau diperbudak kapitalisme. Tidak mau diperas tenaganya. K*u menulis artikel dan menyerukan pembangkangan sosial. K*u ajak buruh turun ke jalan. K*u ajak bekas mahasiswamu menentang aturan ganjil Omnibus Law. Lalu k*u diuber polisi. K*u pukul polisi itu hingga tewas.

K*u bingung hendak ke mana. K*u bingung dalam kehidupanmu sendiri. K*u hendak meloncat dari JPO Pondok Indah. Lalu aku datang menawarkan sebotol bir dan lupa dengan tindakan yang katanya ekisistensial: bunuh diri.

Aku bawa k*u ke hotel. K*u ajak aku bercinta sampai k*u lelah dan kantuk. Dan sekarang k*u siuman. Sekarang sudah tahu sejarah hidupmu?

Penderitaanmu. Pemberontakanmu. Perlawananmu. Semua sudah direncanakan pengarang kita. Itu sebabnya aku hadir di sini untuk menyampaikan kabar itu. Juga supaya k*u tidak kesepian. Jadi, tidak ada yang salah apa yang telah k*u lakukan. K*u hanya suara pengarang. Dan aku suara hatimu.

Jangan tanya apa yang sekarang akan k*u lakukan. Cerita baru dimulai. Bab pertama k*u adalah pembunuh. K*u seorang buron. Aku akan membawa peta untuk cerita ini. Bersiaplah menjadi tokoh yang akan mengalahkan kepopuleran Aku si Binatang Jalang. Ya benar tidak usah pikirkan nama yang baik untukmu. Aku memanggilmu k*u. K*u, aku ulangi.

Sekarang bersiap-siap, kita akan menyeberangi lautan. Kita meninggalkan Jakarta. Kita akan pergi ke hutan. Kita akan tinggal di hutan sebagai sepasang pengantin. Dalam perjalanan menuju hidup baru kita yang ganjil, kita menyeberang ke masa lalu. K*u akan terlibat polemik sebagai saksi atas kematian Munir. K*u seorang aktivis. K*u mengetahui siapa pembunuh Munir. Siapa dalang di balik pemerkosaan orang-orang China. Benar tahun 98. Itu halaman yang melelahkan. K*u akan dipenjara. Disiksa. Sebelum bebas tanpa perintah pengadilan sebagaimana k*u dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan.

Baca juga  Pelean Klebun

Dan k*u akan mengingat sejarah hidupmu. K*u adalah anak politisi yang dituduh PKI. Bagian dua ini k*u akan dipertemukan dengan orangtuamu. Terutama ibumu yang hidupnya sengsara. K*u telah kehilangan segalanya. K*u akan menjadi saksi kisah pembantaian massal tahun 65. Betapa menyedihkan hidupmu, bukan? K*u akan melewati semua itu untuk memuaskan pengarang kita. K*u akan menjadi saksi kunci sejarah yang telah disembunyikan. Tentu saja semua itu fiksi yang dibangun dengan tulang punggung fakta. Pengarang kita telah menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk riset. Jadi ini bukan cerita main-main.

Itu sebabnya k*u diciptakan hampir sempurna sebagai tokoh yang kompleks. K*u tampan, cerdas, sekaligus gila. Ya, pengarang memberimu karakter pemberontak. Apa-apa yang tidak sesuai dengan alam pikirmu yang kelewat maju padahal k*u hidup di negeri yang tertinggal.

“Lalu apa yang dapat diambil dari semua ini?” tanyamu dengan cahaya mata yang redup.

“Pandangan lain. Suara yang lebih nyaring. Tindakan yang berani.”

Kau belum jelas juga?

Sikap. Itulah suara yang hendak k*u katakan. Melalui k*u pengarang kita hendak bersikap dari berbagai persoalan yang mengganggu pikirannya. Sekarang bersiap-siap cerita baru dimulai. ***

.

.

Ade Mulyono. Lahir di Tegal. Tulisannya tersiar di berbagai media. Sedang menyiapkan novel keduanya ‘Namaku Bunga’.

.

.

 321 total views,  1 views today

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!