Bagus Likurnianto, Cerpen, Suara Merdeka

Meruwat Arwa

Meruwat Arwa - Cerpen Bagus Likurnianto

Meruwat Arwa ilustrasi Nugroho DS/Suara Merdeka

5
(5)

Cerpen Bagus Likurnianto (Suara Merdeka, 12 Desember 2021)

MASIH terbilang amat pagi, tapi matahari sudah tidak sendirian lagi. Orang-orang sejak semalam telah beramai-ramai memenuhi lapangan dengan tenda. Aih, padahal udara di sini teramat dingin bagi mereka yang biasa tinggal di dataran rendah. Demi apa mereka rela bertahan berlama-lama di sana.

Sisa lentera dan sampah itu masih berserakan di sekitarnya, dari lubang jendela kamarku yang hanya tertutup korden tipis ini terlihat sejumlah panitia memungutinya. Beberapa orang peduli dan membantunya, sebagian lainnya acuh tak acuh karena dingin membuat mereka memilih berdiam di depan nyala api, atau di dalam selimut di tenda-tenda bersama kekasihnya.

“Bangun, Nduk.” Suara Nenek yang memanggil sudah terdengar dari depan. Tapi aku memilih kembali berpura-pura tertidur.

“Nduk.” Nenek mendekat dan ia duduk perlahan di samping tikar tempat tidurku. “Ini Nenek bawakan apa yang kamu minta sebagai persyaratan ruwat hari ini. Bapakmu yang mengirim langsung dari kota. Bangun dan lekas mandi, kita akan bersiap ke rumah Nyai Wongso,” ungkapnya sembari menyiapkan kebaya putih dan rok batik kawung untukku.

Aku tidak mengatakan apa pun sebagai jawaban. Tetapi, aku menurutinya, bangun dari tempat tidur dan mandi pagi-pagi sekali. Sudah ada air panas yang tinggal kutuang dari panci yang masih setia di atas pawon, menunggu aku mengangkatnya dan menuangnya ke ember.

“Nek, aku ingin mandi sedikit lebih lama.” Aku beralasan kepada Nenek yang berada di bilik sebelah, kamarku yang tadi kuceritakan.

Aku memang merasa ingin mandi sedikit lebih lama, sebab rambut panjang yang paling kusayangi ini bakal diruwat setelah ritual siang nanti. Aku ingin membasuhnya lebih lama.

Bohong! Sebenarnya aku ingin melarikan diri. Aku bahkan sama sekali belum melepas pakaian. Bilik kamar mandi kututup agar Nenek mengira aku masih mandi, lalu aku diam-diam pergi lewat pintu belakang menuju ke ladang. Pasalnya, aku tahu bahwa Nenek berbohong. Hadiah permintaanku itu tentu bukan dari Bapak, melainkan dari Pak RT. Aku melihatnya kemarin sore ia keluar dari rumah Pak RT dan membawa apa yang kuminta itu.

Baca juga  Ketika Semua Berjalan Mundur

Mengenai Bapak, aku bahkan sama sekali belum pernah bertemu dengannya dan tidak pernah tahu ia tinggal di kota mana. Nenek hanya mengatakan bahwa Bapak tinggal di kota. Demikian pula dengan Ibu, kata Nenek, Ibu meninggal ketika aku baru saja dilahirkan. Konon, seorang ibu yang meninggal sesaat setelah melahirkan, akan masuk surga. Demikianlah, aku menjadi sedikit tenang karena kupikir Ibu sudah damai di sisi-Nya. Nenek menyimpan banyak sekali foto Ibu. Ia memang mirip sekali denganku, eh aku yang mirip dengannya. Tapi, mengenai Bapak, aku sama sekali tidak pernah melihat wajahnya, termasuk sekadar di foto.

“Em, kira-kira wajah Bapak seperti apa ya?” Aku menerka-nerka sambil bertanya kepada diri sendri. Barangkali apa yang tidak mirip antara aku dengan Ibu adalah jawabannya.

“Mata,” sergah Nenek yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku. Aku terkejut bukan kepalang. “Matamu adalah mata bapakmu. Lelaki kota yang tertarik dengan gadis desa, ibumu.” jelasnya.

Nenek tidak bertanya mengapa aku melarikan diri, ia pun tidak marah padaku, sebab hari ini aku sedang menjadi putri Atas Angin yang bakal diruwat, seperti ratu, hari ini akulah pemeran utama bagi para wisatawan yang hadir, dan tentu saja bagi kamu yang membaca cerita ini. Lantas, kami segera pulang, mandi, dan berpakaian layaknya putri Raja Kaladete. Rambut gimbalku bersanggul ronce melati seperti para dayang Nyai Roro Kidul. Tidak, tidak, rambut gimbal tak bisa dibuat seperti itu, aku hanya berharap saja suatu ketika aku bisa mengenakannya, barangkali kelak saat menjadi pengantin.

***

“Eh, kamu cantik sekali, Nduk.” Nyai Wongso menyambut kami. “Kau mirip sekali dengan ibumu saat ia seusiamu.” Selain Nenek dan aku sendiri, ia orang pertama yang mengatakan hal ini. “Masuklah, Nyai akan sedikit bercerita tentang mendiang ibumu,” katanya. Aku pun masuk dan segera duduk berdekatan dengan Nyai Wongso.

Aku memandangi bibirnya yang terus mengunyah kinang. Ia berpaling memandangku dan sedikit tersenyum. Giginya benar-benar merah kehitaman.

Baca juga  Manusia yang Tercipta dari Secangkir Kopi

“Ibumu gadis cantik jelita,” ungkapnya. Ia memulai ceritanya sambil mulai menata rambutku agar nanti mempermudah prosesi ritualnya. O iya, di tempat kami, pemotongan rambut gimbal memang harus dilakukan dengan ritual, tak boleh sembarangan jika tak mau tertimpa petaka. Konon, rambut gimbal yang terpotong tanpa ritual yang sempurna akan membawa petaka, seperti yang pernah dikatakan Ki Wongso, rambut itu mendatangkan keburukan bagi rumah tangga seseorang. Atau bahkan menyebabkan kematian.

“Eh, malah melamun, Nduk, kamu mau dengar cerita Nyai, tidak?” tanyanya dengan nada lembut, dan dengan sedikit terkejut kujawab dengan anggukan manut. Ia pun bercerita.

***

Empat puluh empat tahun lalu kira-kira, saat ibumu berusia dua puluh tahun datang ke mari, sama persis seperti dirimu untuk melaksanakan ritual ruwatan tahunan. Tibalah waktu bagi prosesi pertama. Ia naik tandu dan diarak ke sungai untuk dijamasi di Sendang Sedayu dan dibersihkan dari segala mala petaka di kepalanya, lalu kembali ke padepokan. Maka, di hadapan tetua, rambut gimbalnya diruwat.

“Nyai, apakah kutukan itu telah terbebas dariku?” tanya ibumu, namun aku belum punya jawaban. Sebab ritualnya belum usai.

Di sana pula ia berjumpa dengan bapakmu, seorang wisatawan dari kota yang pandangannya telah jatuh di pangkuan ibumu. Pada hari itu pula, bapakmu melamar ibumu.

“Celakalah engkau, wahai Sasmita!” Aku menyergah ibumu, tapi ia tak peduli. “Ritual ini belum usai, kau dan keturunanmu akan dikutuk kanjeng Atas Angin!”

“Hai! Kenapa engkau mengutuk putriku?” Seru nenekmu kepadaku dengan nada semarah-marahnya.

“Sebab putrimu telah melanggar ritual, hingga ia meninggalkan prosesi dan menyepelekan pantangan demi lelaki itu.”

“Ia sudah menentukan takdirnya!” kata nenekmu sembari melangkah pergi.

***

Demikianlah, Nyai Wongso menceritakan bahwa tak seberapa lama, Ibu menikah dengan Bapak. Setahun kemudian, aku dilahirkan. Seperti yang dikatakan Nenek, Ibu meninggal saat melahirkanku, sementara Bapak sudah pergi ke kota sejak empat bulan sebelum aku dilahirkan.

Kini, giliranku melaksanakan ritual, sama seperti Ibu, menaiki tandu diarak dari Sungai Wanggu hingga Sendang Sedayu, suara gamelan mengiringiku, doa-doa tetua ditiup alastu di keningku. Lalu diruwat rambutku dan di situlah aku bertemu kekasihku. Ia pria dari kota yang menjatuhkan hatinya kepadaku. Ia melamarku pada hari itu, Nyai Wongso memarahiku karena aku meninggalkan ritual yang belum usai itu, tetapi Nenek merestui keputusanku.

Baca juga  Tentang Seorang Lelaki yang Mati di Tepi Hutan

Tak seberapa lama dari hari itu aku menikah dengannya. Pada hari pernikahanku satu harapanku terkabul, yakni memakai sanggul ronce melati seperti para dayang Nyai Roro Kidul.

Dan kini aku tengah mengandung anak pertamaku. Suamiku sudah empat bulan ini kembali ke kota karena bekerja di sana. Aku tak bisa menghubunginya. Ia pun sepertinya tak berusaha menghubungiku, padahal tinggal hitungan hari aku akan melahirkan anakku ini.

Aku ingin pembaca tahu bahwa aku menulis cerita ini sebagai catatan untuk anakku: “Wahai anakku, ketahuilah bahwa aku, ibumu, sangat mencintaimu. Engkau mungkin akan sangat mirip denganku, kecuali matamu, kau memiliki mata bapakmu. Kau bisa melihat wajah ibu melalui foto-foto yang disimpan di galeri padepokan Ki Wongso itu. Maafkan Ibu, kau tidak bisa melihat foto bapakmu, sebab ia membawa semua bersamanya. Kalau kau rindu Ibu, datanglah ke Sungai Wanggu, di bening airnya lihatlah ke dalamnya, Ibu ada di sana. Sebenarnya masih banyak yang ingin Ibu sampaikan kepadamu, tetapi cukuplah engkau tahu bahwa Ibu sangatlah menyayangimu.”

***

Dan suamiku yang tinggal di kota, barangkali telah membaca cerita ini berkali-kali. ***

.

.

Bagus Likurnianto, lahir di Banjarnegara 9 Januari 1999. Kini tinggal di Jl Tamansari Gg Pasar Kota Banjarnegara No 22 Parakancanggah. Bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Beberapa karyanya pernah disiarkan di berbagai media cetak dan online.

.

Meruwat Arwa. Meruwat Arwa. Meruwat Arwa. Meruwat Arwa. Meruwat Arwa.

 14 total views,  2 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: