Cerpen, Kompas, Yanusa Nugroho

Wisanggeni

Wisanggeni - Cerpen Yanusa Nugroho

Wisanggeni ilustrasi Handy Saputra/Kompas

2.7
(7)

Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 19 Desember 2021)

UDARA naik. Uap tanah naik. Angin kering menggelasak hutan. Hutan terbakar. Rumput di lapangan hangus. Batang-batang tebu kian kering, tapi mungkin kian manis. Mandor-mandornya harus giat berkeliling. Banyak maling. Kebakaran di mana-mana, dan dari salah satu entah bangunan apa sebenarnya, yang terbakar hebat, orang-orang tercekat. Dari dalam gunung api yang menjilat-jilat langit pekat, terdengar tangis bayi mengoyak-ngoyak sepi.

“Anak siapakah dia? Tolong, ambil….” teriak seseorang. Tapi, tak seorang pun berani mengambil risiko memasuki gunung api yang tengah menikmati kemenangannya itu. Siapa menantang akan terpanggang. Polisi datang, hanya memandang. Pemadam kebakaran tiba terlambat dan wartawan hanya bisa bertanya-tanya. Semuanya mendapatkan jawaban apa saja yang diinginkan, tapi tak satu pun melakukan sesuatu atas tangisan bayi yang masih meraung-raung di tengah kobaran api itu.

Setiap kepala akhirnya hanya bisa menyaksikan si iblis merah itu dikalahkan oleh kepongahannya sendiri; tak ada yang terbakar, dia padam sendiri. Setiap kepala hanya bisa membayangkan, mereka-reka dan menerka cerita apa selanjutnya di bangunan besar yang kini tak berwujud apa-apa itu. Tak ada lagi api. Asap tebal putih memedihkan mata yang mengabuti semua pandangan. Hanya asap dan bau sangit. Ada orang yang muntah karena membayangkan ada mayat mengering hitam di entah sudut yang mana. Satu muntah, lalu beberapa juga ikut muntah, mungkin karena ada bau sangit yang sangat bercampur—ah, kau pun tahu—bau rambut dan tulang yang hangus. Ada yang pingsan membayangkan ada tengkorak yang pecah karena panasnya api.

Semua masih terpaku ketika dari kabut putih yang sangit itu ada seorang bocah—mungkin sekitar 7 tahun, menggendong bayi yang masih menangis terkoar-koar. “Siapa yang masih punya susu, tolong beri dia minum….” ujarnya dengan nada tinggi.

Semua manusia yang ada di situ hanya bisa diam. Yang pingsan tiba-tiba siuman. Peristiwa ini terlalu mencengangkan. Terlalu bertubi-tubi untuk bisa dimengerti.

Anak kecil itu dengan gerakan cepat, dengan kekuatan yang tak terbayangkan, merobek kaus seorang perempuan muda. Merobek kutangnya. Ada yang ranum di sana. Dia lalu menyodorkan bayi itu ke puting ranum itu.

Perempuan itu, yang semula mematung bingung, tiba-tiba merasakan kehadiran kehidupan yang luar biasa. Dia yang perawan ternyata bisa memberikan kehidupan bagi si bayi, yang langsung terdiam menikmati kehangatan dan cinta. Perempuan itu menangis bahagia. Dia menjelma bidadari surga, yang bukan hanya jelita, tapi juga agung, lantaran bisa memberi andil bagi kehidupan.

***

Wartawan televisi yang sejak tadi lupa mematikan kamera, seperti tersadar. Peristiwa anak kecil yang muncul dari hutan asap, perempuan yang setengah telanjang menyusui bayi, semuanya terekam. Ketika tersadar lalu mengejar si bocah yang berjalan tenang meninggalkan kerumunan.

Baca juga  Merah Pedas

Rombongan wartawan berlarian mengejarnya dengan lampu-lampu dan kamera. Si kecil tenang-tenang saja.

“Bagaimana perasaan adik?”

“Bahagia….” jawab si bocah yang bertelanjang dada itu. Sorot matanya berapi-api. “Kalau kamu, gimana perasaan kamu?” balasnya sambil cengengesan di depan kamera.

Tentu saja tak ada satu pun yang menjawab, karena rata-rata mereka hanya bisa bertanya.

“Maksud adik, bahagia itu, bagaimana?”

“Bahagia, ya, bahagia…. Mas-mas dan mbak-mbak nggak Bahagia, ya? Lihat itu… si bayi bisa nyusu. Dia bisa hidup, semoga nanti hidupnya bahagia. Apa itu bukan bahagia, namanya?”

Semua terbengong-bengong. Ini bukan anak manusia. Ini tentu anak dewa. Wajahnya yang berapi-api, sorot matanya yang berapi-api dan bahkan ucapannya memiliki nada yang menyulut perasaan, adalah alasan yang tepat untuk menyebutnya anak dewa.

“Saya punya pertanyaan. Ada yang bisa menjawab? Kalau bisa, berarti Anda orang cerdas.”

Sekali lagi para wartawan itu, yang rata-rata masih muda-muda itu, saling pandang.

“Mmm… mau tanya apa, adik?” tanya wartawan perempuan sambil tersenyum manis.

“Siapa namaku?” ucap si bocah tenang, sambil memandangi wajah-wajah yang seperti menahan senyum ketidaktahuan.

“Maksud adik, bagaimana?”

“Ya. Siapa namaku?”

“Kami disuruh menebak, atau bagaimana?”

“Saya tanya; siapa namaku. Saya butuh jawaban, bukan tebak-tebakan.”

Terdengar gelak tawa di antara para wartawan.

“Saya bukan pelawak, kenapa mas-mas dan mbak-mbak tertawa? Apa yang lucu dari pertanyaan saya? Kalau tidak tahu, ngomonglah tidak tahu. Nggak usah pura-pura tahu.”

Seperti disiram air es, mereka bungkam. Ini kurang ajar. Ini anak belagu, kutuk satu dua kepala.

“Maaf, dik… kita tanya baik-baik, kenapa adik marah?”

“Saya ulangi, siapa nama saya?”

“Mana kita tahu….”

“Nah, bilang dari tadi. Selesai.” Lalu anak kecil itu pergi begitu saja.

“Sebentar, sebentar, adik… kami… minta maaf…. Tapi kami ingin tanya-tanya, boleh, ya…. Adik ini dari mana?”

“Nggak tahu.”

“Kok bisa keluar dari gedung terbakar dalam keadaan sehat walafiat?” tanya yang lain.

“Nggak tahu….”

“Dan bayinya, kok juga bisa nggak terbakar?” tanya yang lain lagi.

“Jangan tanya saya. Saya cuma menggendongnya keluar.”

“Kok, adik bisa… apa rahasianya?”

“Jadi, yang kalian tahu itu apa? Masak semua harus saya jawab, kalian dong, cari jawaban sendiri….” jawab si bocah tak acuh. Tak ada yang berani tersinggung, karena sorot mata anak kecil itu seperti mengancam. Sorot mata itu seperti memiliki lidah api yang siap membakar siapa pun.

“Saya mau ngomong di televisi.” Kamerawan-kamerawan itu segera menyodorkan pelantang dan menghadapkan kamera ke wajah si bocah. “Saya mau tanya sama siapa saja yang menyaksikan. Adakah yang tahu, siapa nama saya. Siapa ayah ibu saya. Dari mana saya berasal?”

Baca juga  Belajar dari Kekalahan

***

Siapa namaku, menjadi berita yang viral. Menyebar mirip virus. Mungkin lebih cepat daripada sebaran virus. Mungkin sama misteriusnya dengan virus. Tapi kebakaran terus terjadi. Perampokan dan perkelahian meledak di mana-mana. Di sosmed pertanyaan si bocah ‘siapa namaku’ menjadi tayangan yang disukai banyak orang. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah kebingungan si bocah, ternyata disukai oleh jutaan. Beratus juta manusia menyukai kebingungan. Begitu bingungnya menghadapi kebingungan itu, muncul video baru.

Video itu hasil shot dari kamera HP. Ada gadis cantik gayanya seperti artis. Kaus oblong pink. Celana pendek yang terlalu pendek. Sambil malu-malu menghadap kamera, dia yang berdiri di latar kain hijau, menjentikkan jarinya. Ada tabir yang juga hijau. Tertutup oleh hijau, si gadis ayu itu hilang dari pandangan. Sesaat kemudian semua pakaiannya, luar-dalam, terlihat terlempar dari balik tabir hijau. Lalu ada teks: “Hayo, tebak… aku pakai apa?” Lantas video ini pun viral. Lalu diikuti oleh jutaan penyuka. Lalu muncul lagi video yang lain lagi.

Tapi, si bocah yang keluar dari hutan asap dan gunung api, masih belum menemukan jawaban. Si bocah ‘tanpa nama’ itu setiap kali masih bertanya pada orang-orang yang dijumpainya ‘Siapa namaku?” yang kebanyakan menuai gelak tawa. Dan dari gelak tawa itu biasanya muncullah pengeroyokan, yang selalu dimenangkan oleh si bocah, si anak dewa, itu. Lama-lama banyak yang menyukai si bocah anak dewa itu, dan hanya dalam waktu singkat, dia punya pasukan yang merasa ‘senasib’ dengan si bocah.

“Aku lapar, boleh gabung, ya, bang,” kata seorang remaja pada si anak dewa. Anak kecil itu diam saja, tapi tak melarang siapa pun yang berniat menjadi bagian dari pencariannya. Kelompok ini membesar. Mereka butuh makan. Mereka selalu lapar. Di mata wali kota, ini kekacauan. Satpol PP tak bisa mengatasi manusia bingung. Maka polisi yang ditugasi.

Suatu kali, anak kecil itu ditangkap polisi, tentu saja tidak dengan kekerasan. Percuma saja melerai kebingungan dengan kekerasan. Mantan komandan polres, yang sudah pensiun, sebenarnya, didampingi Kanit Serse, akhirnya bisa membujuk si bocah.

“Saya cuma mau tanya, siapa namaku?”

“Iya, paham… Cuma, teman-temanmu itu jadi ikut ngrampok, dan kamu diam saja….” ujar si pensiunan.

“Mereka bukan teman-teman saya. Kalau mereka merampok, ya, ide mereka sendiri, bukan saya yang nyuruh. Mereka lapar.”

“Kamu nggak lapar?”

“Nggak.”

“Kamu nggak haus?”

“Nggak. Kalau kamu lapar, makan saja, sana. Saya mau mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan saya….” berkata begitu dia keluar ruang interogasi.

Baca juga  Lebar-an

“Tunggu, tunggu, nak… saya tahu namamu….” kata Kanit Serse.

Si bocah berhenti, “Siapa, coba?” sambil menatap mata Kanit Serse—yang tiba-tiba merasa disiram air es, karena kalor tubuhnya diserap si bocah. Seketika dia bungkam. Lidahnya beku. Kata-kata yang disiapkannya, lenyap entah ke mana.

***

Siapa namaku, belum reda dari peredaran bumi. Bukan hanya di kota kecil itu, seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Wajah si bocah tampil di mana-mana. Dia selalu bertelanjang dada, bercelana panjang yang dibuntungi sedikit di bawah lutut. Rambut yang tak pernah disisir, tapi selalu menarik perhatian. Entahlah, setiap mata akan terpesona memandangnya. Bukan hanya wajah, sorot mata, tapi juga gesturnya, membuat siapa pun terkesima.

Banyak juga yang kemudian beranggapan bahwa dia memang ‘dibayar’ untuk tujuan tertentu. Semua yang ada di tayangan televisi itu hoax.

Merasa kian membuat orang bingung soal namanya, si anak dewa itu—sebenarnya gerombolan, atau simpatisan, atau fans-nya yang bikin ulah—diincar petugas lagi. Ada perampokan bersenjata, lalu si anak dewa ditangkap, karena satpam penjaga bank itu mati. Si anak dewa berkilah, tapi sia-sia. Dia marah. Dikeroyok polisi dan dijebloskan ke bui.

***

Di balik jeruji si anak dewa itu meremaja. Terasah oleh kebingungan dan kemarahannya sendiri, dia tumbuh tanpa nama. Sampai suatu ketika dia bertemu seorang kakek gemuk bukan main.

Si kakek tersenyum, memeluk anak dewa itu lalu, “Wisanggeni… itu namamu….” bisiknya.

“Hah? Aku suka. Siapa namamu, kek?”

Kakek menggeleng. “Wisanggeni, tempatmu bukan di sini….”

Wisanggeni ingin bertanya, tapi dia seperti dibawa udara. Di sebuah pantai sepi, dia menyaksikan nelayan berpantun, riang gembira. Wisanggeni mendapati dunia tanpa nama. ***

.

.

Jalan Pinang 982.

Yanusa Nugroho, lahir di Surabaya, 2 Januari 1960. Menulis empat novel dan tujuh buku kumpulan cerpen. Cerpennya, “Orang-orang yang Tertawa”, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam kumpulan cerpen berjudul Diverse Lives—editor: Jeanette Lingard (1995). Beberapa kali mendapatkan penghargaan di bidang sastra. Cerpennya, “Selawat Dedaunan”, mendapat Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2012.

Handy Saputra lahir di Denpasar, 1963. Lulusan Magister Manajemen dari Universitas Warmadewa. Di sela-sela kesibukannya sebagai pebisnis, dia menyalurkan hobinya di bidang fotografi dan seni. Pameran tunggal pertamanya bertajuk “The Audacity of Silent Brushes” di Sanur, Februari 2020.

.

Wisanggeni. Wisanggeni. Wisanggeni. Wisanggeni.

 289 total views,  2 views today

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!