A Warits Rovi, Cerpen, Koran Tempo

Apakah Tradisi Ini Juga Berlaku bagi Kami?

Apakah Tradisi Ini Juga Berlaku bagi Kami? - Cerpen A Warits Rovi

Apakah Tradisi Ini Juga Berlaku bagi Kami? ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

3.8
(12)

Cerpen A Warits Rovi (Koran Tempo, 19 Desember 2021)

“APAKAH tradisi ini juga berlaku bagi kami yang miskin?” tanya Hamid dalam dirinya. Pertanyaan itu ingin ia utarakan kepada keluarganya, tapi ia tak punya keluarga selain ayahnya. Tapi ayahnya kini membujur tak bernyawa di depannya, diselimuti sarung bekas, dan ditaburi kelopak kembang ala kadarnya yang ia petik sendiri dari pekarangan rumahnya.

“Jangankan orang hidup, orang mati pun butuh biaya. Jika orang mati tidak disedekahi yang layak kepada tamu yang melayat, rohnya akan kelaparan,” ungkap salah seorang tetua beberapa waktu lalu ketika menjenguk ayah Hamid saat masih sakit. Kata-kata itu menancap seperti duri di pikiran Hamid hingga kini. Itu membuat dirinya membayangkan menu apa yang hendak disajikan untuk para pelayat. Orang-orang meninggal di desanya lazim diiringi dengan sedekah yang mewah untuk para tamu—lauknya dari aneka masakan daging sapi, kambing, ayam, dan yang paling parah berupa telur. Menu paling terakhir itulah yang biasanya akan menjadi bisik-bisik warga sekaligus tanda bahwa yang meninggal miskin.

“Jangankan ayam, telur pun saya tak mampu,” gumam Hamid, meneteskan air mata. Ia mengingat-ingat, harta kekayaan keluarganya hanyalah sebatang pohon kelapa ceking tak berbuah di samping rumahnya dan dua ekor ayam kurus.

Hamid mencoba menenangkan diri dengan mengaji. Suaranya senyap, bibirnya gemetar—antara menyelami makna ayat Al Qur’an dan mengingat-ingat dari manakah gerangan sumber dana untuk mengiringi upacara kematian ayahnya. Perlahan air matanya kembali merembes. Perlahan dadanya kembali sakit.

“Saya tak ingin roh ayah kelaparan, tapi di mana saya akan mendapat biaya untuk menjamu tamu-tamu. Apakah tradisi ini juga berlaku bagi kami?”

***

Para tetangga dan kerabat mulai berdatangan satu per satu, melesak masuk ke dalam rumah gedek berlantai tanah itu. Sejenak melihat kondisi terakhir jenazah ayah Hamid dan selebihnya mereka lebih lama mengamati keadaan rumah itu yang lebih mirip kandang; gedeknya banyak yang bolong, ditambal koran bekas yang kusam dan penuh sobekan karena perekatnya sudah memudar. Kecoa, tikus, dan cecak kejar-mengejar di antara jaring laba-laba. Sedangkan lantainya yang berupa tanah dipenuhi oleh sampah, kotoran binatang, dan sarang undur-undur. Orang-orang saling berbisik dan keluar. Di luar, mulai diwarnai percakapan yang agak riuh perihal persiapan pemakaman.

“Mid! Ayahmu mau dikubur di mana? Dan apakah kamu punya sedikit uang untuk menjamu tamu-tamu?” tiba-tiba Obak Rahem berdiri di sampingnya sembari memegang pelepah pisang untuk mengukur tubuh ayah Hamid sebagai patokan panjang lubang kubur.

Baca juga  Teriakan Aluna

Hamid menoleh perlahan. Jarinya pelan menyeka air mata.

“Saya hanya punya uang Rp 10.000, Bak,” jawabnya beriring isak.

“Kamu bisa berutang uang ke Haji Sultan atau bisa juga langsung berutang bahan-bahan ke toko Ji Maimunah.”

Hamid terdiam. Obak Rahem mengukur tubuh ayah Hamid dengan meletakkan pelepah pisang di sampingnya dan memberi tanda potongan pada ujung yang lima senti lebih panjang dari panjang keseluruhan tubuh ayah Hamid.

“Ini tamu-tamu semakin banyak. Sekadar kopi dan rokok saja masih belum ada,” lanjut Obak Rahem.

“Kalau mau berutang, saya tak punya barang apa-apa untuk membayarnya, Bak.”

Obak Rahem mematung. Kedua matanya melirik ke atas seperti berpikir.

“Tak punya sedikit pun, ya?” lantas Obak Rahem bertanya.

“Hanya sebatang pohon kelapa di samping rumah yang tidak berbuah dan dua ekor ayam, Bak.”

Obak Rahem menghela napas. Ia tampak bingung hendak mengatakan apa.

“Apa tradisi ini juga berlaku bagi orang miskin seperti saya, Bak?”

Obak Rahem melangkah pelan ke dekat Hamid. Bibirnya mengembang senyum. Dengan gerak lembut, ia menepuk bahu Hamid.

“Kita tidak bisa lepas dari tradisi secara total, Mid. Itu sulit. Karena tradisi sudah bagian dari hidup ini yang memang sejak dulu diwariskan oleh tetua.”

“Apa tradisi memang tak memandang keadaan, Bak?”

Obak Rahem pelan menurunkan tangannya dari bahu Hamid. Lalu ia duduk. Wajahnya lurus ke wajah Hamid dengan tatap kedua mata penuh iba.

“Begini saja, lebih baik kamu berutang bahan-bahan ke toko Ji Maimunah. Nanti bayarnya kamu bisa pakai jasa, yaitu dengan cara kamu bekerja di sana yang lamanya setara dengan perolehan gaji sebesar utangmu itu.”

Hamid menoleh ke wajah Obak Rahem. Kedua matanya yang bengkak tampak kian suram, dan di sudut-sudutnya masih menetes butiran bening. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi tak bisa.

“Jika kamu sungkan, biar aku yang menemui Ji Maimunah untuk membicarakan perihal ini,” lanjut Obak Rahem tegas.

Hamid lalu mengangguk. Kedua matanya semakin basah.

***

Setelah melalui perundingan yang pelik, akhirnya Ji Maimunah menyetujui permintaan Obak Rahem. Mengepullah dapur darurat Hamid dengan asap yang menyebar wangi aneka masakan. Orang-orang terus berdatangan. Laki-laki dan perempuan. Semua mengucap belasungkawa. Yang perempuan membawa beras, kopi, atau gula.

Obak Rahem mendekati Hamid agar ia mengingat-ingat para perempuan itu. Sebab, nanti, jika kerabat si perempuan itu mati, Hamid juga harus ke sana. Tentunya juga harus membawa sesuatu sebagai tanda belasungkawa.

Baca juga  Benalu

Hamid mengangguk. Isaknya masih terdengar, duduk dengan tubuh agak lemas di halaman paling timur sambil menerima kedatangan para pelayat satu per satu. Sesekali menoleh ke arah keranda berselimut kain hijau bertulisan kalimat tauhid yang di dalamnya ada jenazah ayahnya. Sedangkan dalam pikirannya terus berkecamuk beragam tanya, “Apakah tradisi ini seperti utang yang nanti harus dibayar? Apakah tradisi ini tak bisa diubah demi memberi keringanan bagi yang miskin? Apakah tradisi ini berpahala?”

Tangis Hamid memuncak setelah ayahnya selesai disalatkan dan digotong oleh enam orang lelaki menuju permakaman, diiringi beberapa lelaki lain di belakangnya sambil membaca tahlil. Sedangkan para pelayat yang tidak ikut ke permakaman sudah duduk melingkar untuk makan-makan, minum kopi, dan merokok.

Obak Rahem mewakili Hamid menyilakan tamu-tamu menikmati hidangan. Sedangkan Hamid ikut ke permakaman, turut menyelesaikan proses pemakaman. Setelah pemakaman selesai dan orang-orang pulang, ia berdoa dengan khusyuk dan berlinang air mata di antara wangi tanah dan irisan kembang yang bertebaran.

Sebelum pulang, tangannya gemetar memegang batu kijing ayahnya.

“Yah! Semoga Ayah tenang di sana dalam rahmat-Nya. Doakan saya semoga mampu menunaikan tradisi leluhur yang kadang kala begitu berat bagi orang-orang miskin seperti kita,” suara Hamid serak didesau angin, dirajam hening. Kedua matanya masih dibalur butiran dingin.

***

Setiap hari, tamu-tamu terus berdatangan ke rumah Hamid, terutama tamu wanita yang datang membawa beras dalam tas, bercakap-cakap sebentar, disuguhi makanan, lalu pulang setelah tas yang dibawanya oleh pihak tuan rumah diisi nasi atau mi instan sebagai balasan atas beras yang mereka bawa.

Sedangkan tamu laki-laki banyak yang datang saat waktu pelaksanaan tahlilan yang dilaksanakan setiap malam sesudah salat isya. Sesudah tahlilan, mereka disuguhi kopi, rokok, dan makanan.

Selama tujuh hari tujuh malam, Hamid sibuk menemui tamu-tamu. Obak Rahem beberapa kali menyuruh orang mengambil bahan suguhan dan keperluan lainnya ke toko Ji Maimunah. Di samping rumah Hamid, di bawah tenda darurat, beras yang dibawa tamu-tamu dikumpulkan dalam wadah sak dan sebagian dimasak untuk hidangan.

Selama tujuh hari tujuh malam, Hamid menerima tamu-tamu dengan keunikannya masing-masing. Ada yang melayat dengan ucapan doa belasungkawa, tapi lebih banyak dari mereka yang sekadar menjalankan tradisi—datang ke rumah Hamid sama sekali bukan untuk mendoakan atau menghibur. Sebaliknya, malah bicara semaunya, tertawa nyaring dalam topik percakapan yang sebenarnya tak layak dilakukan di rumah orang yang sedang berduka. Yang paling menjengkelkan, tak jarang dari pembicaraan mereka yang justru melukai perasaan Hamid.

Baca juga  Mereka Menikah di Kolong Jembatan

“Apa gunanya membawa beras banyak saat melayat, sementara kehadirannya justru melukai tuan rumah? Rupanya sebagian pelayat datang hanya karena takut punya utang tradisi,” kesimpulan Hamid suatu ketika, antara paham dan bingung.

***

Tenda terpal yang tujuh hari menaungi tamu-tamu telah diturunkan. Lincak besi sewaan pun baru saja diangkut pikap. Para lelaki merapikan benda-benda yang ada di halaman dan rumah Hamid. Sedangkan para wanita mencuci perabot masak dan sebagian mengembalikan yang telah bersih ke tetangga yang meminjamkannya.

Hamid baru saja memberi pakan dua ekor ayamnya sekalian ia bermaksud menghibur diri dari sisa-sisa duka. Obak Rahem, dengan langkah agak tergopoh, menarik lengan Hamid hingga keduanya duduk di pokok kayu yang ada di pojok halaman.

“Aku baru saja dari rumah Ji Maimunah, Mid.”

“Iya. Berapa utang saya, Bak?”

“Total lima belas juta, Mid!”

“Ha? Lima belas juta?”

Hamid menganga dan kedua matanya agak terbelalak. Jumlah uang yang diutarakan Obak Rahem membuat jantung Hamid bagai disambar petir.

“Harganya memang lebih mahal, Mid, karena kamu berutang. Andai kamu punya uang dan langsung membeli bahan, mungkin hanya sembilan jutaan,” lanjut Obak Rahem.

Hamid masih terdiam.

“Beras sedekah tamu-tamu ini insya Allah cukup untuk melunasi separuh utangmu. Jadi, sisanya bisa kamu cicil dengan cara membayar jasa, yaitu dengan bekerja di toko Ji Maimunah,” suara Obak Rahem datar.

“Terus, ritual 40 hari, 100 hari, dan berikutnya bagaimana, Bak?” tanya Hamid sedikit lemas.

“Itu tergantung kemampuanmu, Mid. Tapi, yang pasti, tradisi harus dilaksanakan biar tak jadi pembicaraan orang.”

“Jadi, orang miskin seperti saya juga harus melaksanakan tradisi leluhur, meski harus berutang dan pontang-panting untuk sekadar mendapatkan uang Rp 10.000?”

Obak Rahem mengangguk tegas. “Tradisi itu harus,” imbuhnya dengan suara nyaring. Hamid terdiam, antara paham dan bingung. ***

.

.

Rumah FilzaIbel, 2021

A Warits Rovi lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya, berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel, dimuat di berbagai media massa. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Kini ia tinggal di Gapura Timur, Sumenep, Madura.

.

Apakah Tradisi Ini Juga Berlaku bagi Kami?

 200 total views,  2 views today

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Dalrm,bagus cerpennya,memang tidak.ada kewajiban,rasulullah s.a.w pun mencontohkan,sebaiknya keluarga yang berduka tidak menyediakan apapun,semuanya dari warga sekitar.

Leave a Reply

error: Content is protected !!