Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Mufti Wibowo

Nyekar

Nyekar - Cerpen Mufti Wibowo

Nyekar ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

3.1
(7)

Cerpen Mufti Wibowo (Kedaulatan Rakyat, 17 Desember 2021)

MALAM-MALAM sebelum keberangkatan, ia merasa malam lebih cepat datang dan pagi terasa begitu lambat tiba. Ia menerjemahkan itu sebagai pertanda ajalnya akan segera tiba. Padahal, kepada saudara-saudaranya, ia baru saja menyampaikan niatnya untuk menikah, ia telah menyetujui lamaran seseorang. Pikiran itu begitu saja terbersit saat ia tengah menonton film Parasite ditemani cokelat panas dalam mugnya.

Setelah mematikan monitor televisinya saat film masih menyisakan bagian antiklimaks, ia kemudian membuka semua pintu dan jendela rumahnya, sementara di luar langit sandikala menampakkan rona yang megah.

Ia lalu melangkah ke luar rumah via teras samping. Di kursi malasnya, ia menemukan embrio bulan purnama yang makin lama makin tegas menampakkan warna merah darah—tak rasi bintang yang tampak menyelisihi.

Dia menarik napas panjang-panjang, berharap menemukan aroma badheg yang tengah mengental di atas kawah—wajan besar. Tentu saja itu tak akan ia temukan, ia sedang mengingat aroma yang ia ambil dari memori puluhan tahun lalu ketika ia masih bocah. Ketika itu, ia tinggal di sebuah pedusunan kecil, di sekitar lembah Serayu.

Setelah ibunya meninggal, sepuluh tahun lalu, ia tak pernah lagi berkereta, untuk mudik. Beberapa kali menyeberangi sungai Serayu dengan kereta, untuk urusan pekerjaan, tak pernah berhasil membujuknya singgah, sekadar menabur bunga di makam ibu dan bapaknya.

Empat saudaranya, dengan istri dan anak mereka, yang juga tinggal di J, beberapa hari sebelumnya berkumpul di rumahnya. Itu adalah acara tahunan untuk memperingati, secara bersamaan, hari kematian ibu dan bapak mereka, menurut hitungan kalender Jawa.

Mulanya, acara tahunan itu dilaksanakan di tempat yang selalu bergantian. Kemudian, mereka memutuskan untuk selalu dilaksanakan rumahnya. Selain sebagai anak tertua, rumahnya berada di titik tengah di antara keempat saudaranya. Dengan begitu, keempat saudaranya hanya akan menempuh perjalanan berkendara antara satu sampai dua jam saja.

Baca juga  Ini Lelucon atau Hanya Mimpi?

Dia satu-satunya perempuan dalam lima bersaudara itu. Tapi, dia yang memiliki kehidupan paling mapan. Jika ada yang membuatnya terlihat kurang adalah dia hidup sendiri. Bisa dibilang, ia yang membiayai pendidikan, terutama dua adiknya yang lahir paling akhir. Saat bapak dan ibunya meninggal, dalam rentang tahun yang sama, keduanya masih sekolah menengah. Karena itu, kedua anak bontot itu begitu dekat dengannya—kalau tak bisa disebut manja. Sedangkan dengan adik pertama dan kedua, usia mereka hampir sepantaran, berselih dua dan empat tahun saja.

Dua adiknya paling bontot itu, malam sebelum hari peringatan kematian ibu dan bapak mereka, memimpikan hal yang sama; ia berpakaian pengantin. Tentu saja kedua adiknya menceritakan itu sambil menangis hebat.

“Memang kenapa kalau kalian bermimpi aku jadi pengantin?”

Keempat saudaranya saling memandang. Mereka takkan tega mengatakan mimpi itu adalah pertanda kematian.

Adik paling tuanya menyanggah, “Mimpi itu hanya bunga tidur. Bukankah mbakyu kita memang telah mengatakan rencanya untuk menikah. Bukankah itu mimpi yang baik?”

Sejak itu, adik-adiknya, sejam sekali, secara bergantian meneleponnya. Tak peduli itu adalah jam kerja atau larut malam.

Tiba-tiba, sebuah denyut aneh di dadanya yang kanan membuatnya berdiri dari kursi malasnya. Langit sudah gelap sempurna. Ia merasa dirinya adalah bocah sepuluh tahun, di lembah Serayu, ia berjalan seolah sedang mendekat ke arah bulan yang tampak bercokol di puncak bukit.

Dari sudut pandang pembaca, tubuhnya itu makin dekat dengan bulan, atau berarti sosoknya semakin mengecil, tapi masih cukup jelas terlihat, menjadi siluet yang menyelisihi warna merah darah bulan purnama. Hingga, seolah-olah bulan itu tampak cuil. Cuilan siluet sebesar tubuh seorang bocah yang kini telah menjadi wanita matang dan masih melajang di usia yang memasuki kepala empat.

Baca juga  Bulan Mulud dan Mata yang Anjing Sekali

Ia terus berjalan, mungkin mengira bulan berada dalam jarak yang dapat dijangkaunya dengan berjalan kaki. Saat tubuhnya sampai di puncak bukit, setelah hampir sejam berjalan, ia tiba-tiba berhenti. Ia tampak kebingungan, seperti orang yang baru bangun dari tidur.

Jika pembaca adalah orang yang tinggal di sekitar lembah Serayu, pembaca akan menyebut kejadian yang dialami tokoh utama sebagai peristiwa gaib yang disebabkan sosok gaib yang disebut cepet. Cepet sendiri sering disebut akan muncul pada saat sandikala untuk mencuri kesadaran seseorang.

Bertahun-tahun lalu, tokoh utama kita pernah mengalami peristiwa semacam itu. Beruntung, ia bisa ditemukan selamat. Tak sedikit orang yang mengalami kejadian serupa, tapi tak pernah ditemukan kembali. Ada yang bisa kembali dengan nyawa, tapi kehilangan kewarasannya seumur hidup.

Dua setengah jam lagi, seorang perempuan akan menjemputnya sebelum pergi ke stasiun. Esok pagi, berbekal bunga dan keberanian mereka akan pergi nyekar. Dia akan mengenalkan calon suaminya di hadapan kuburan ibu dan bapaknya. ***

.

.

Fakuntsin, 2021

Mufti Wibowo, berdomisili di Purbalingga. Penulis buku ‘Catatan Pengantar Tidur’.

.

Nyekar. Nyekar. Nyekar.

 235 total views,  2 views today

Average rating 3.1 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. walah baru tahu aku soalan cepet ini kak. Istilah darimanakah itu?

Leave a Reply

error: Content is protected !!