Cerpen, Ede Tea, Kedaulatan Rakyat

Rumini dan Wanita Tua

Rumini dan Wanita Tua - Cerpen Ede Tea

Rumini dan Wanita Tua ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

4.4
(8)

Cerpen Ede Tea (Kedaulatan Rakyat, 24 Desember 2021)

“APA mimpimu, Rum?” tanya seorang Wanita Tua yang terbaring di atas tempat tidur. Ia berpaling menatap kedua bola mata bening milik Rumini. Gadis berusia dua puluh tahun itu hanya mengedikkan bahu setelah mendengarnya. Setelah itu ia lepaskan pandangan ke luar jendela. Sinar matahari sore yang menembus kaca jatuh mengenai pelipis matanya.

Rumini menghindari sorot matahari itu, ia putuskan untuk berbaring di sebelah Wanita Tua. Sambil menatap langit-langit kamar, Rumini mulai membuka mulut. “Impianku sederhana saja. Melihat Mak tertidur dengan guratan senyum di bibir, itu sudah lebih dari cukup.”

Wanita Tua itu mengalihkan pandangannya sebentar. Bibirnya melengkung serupa perahu di dermaga. “Kau berhak untuk bermimpi, Rum. Bermimpilah!”

Rumini menggulingkan tubuhnya ke hadapan Wanita Tua. Matanya berbinar. Dadanya berdegup penuh harap. Rumini ingin mengabadikan saat-saat seperti ini. Melukis rangkaian cerita yang takkan pernah terulang. Tapi Rumini sadar bahwa tak ada yang benar-benar abadi di dunia ini. Termasuk kenangan itu sendiri.

“Dulu, Mak ingin aku jadi dokter, bukan? Apa Mak masih ingat?”

Wanita Tua itu terkekeh. Pertanyaan Rumini seakan menyinggung usianya yang sekarang sudah beranjak senja. Wanita Tua itu tidak seperti kebanyakan manula yang lain, yang semakin berkurang daya ingatnya ketika makin tua. Meski kesehatan tubuhnya semakin menurun, namun pancaindranya masih bekerja dengan baik. Apalagi ingatannya. Ia tidak pernah gagal untuk menebak sesuatu meski telah lama terjadi.

“Tentu saja,” sahut Wanita Tua itu. “Aku ingin kau menjadi orang yang berguna. Bisa menolong banyak orang!” lanjutnya.

“Sekarang aku sudah jadi apa yang Mak harapkan. Jadi, untuk apa lagi aku bermimpi?” sanggah Rumini penuh penekanan.

Baca juga  Kota Mati

Hening. Cahaya di luar jendela mulai meredup. Tubuh Rumini perlahan bergetar. Ia dekatkan tubuhnya ke samping Wanita Tua. Ada rasa takut yang mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Tapi Rumini mencoba untuk tetap tenang. Tetap tegar.

Wanita Tua itu mendekap tubuh Rumini. Air matanya menggenang di sudut mata. Terbayang dalam benaknya kejadian 15 tahun silam, ketika Rumini kecil menangis di pusara kedua orangtuanya yang tiada. Sejak saat itu ia berjanji untuk merawat dan membesarkan Rumini dengan penuh kasih sayang.

“Kau masih muda, Rum. Kau harus membangun mimpi lebih banyak lagi!” dengus Wanita Tua itu dengan nada yang mulai meninggi.

“Aku tidak ingin,” sanggah Rumini. “Apa arti mimpi-mimpi itu jika pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah penyesalan.”

Wanita Tua itu terdiam. Ia berpaling ke luar jendela. Tak ada lagi cahaya yang menyembul ke dalam kamar. Ia berpindah menatap wajah Rumini. Sorot mata gadis itu menyiratkan banyak kegelisahan. Sebab itu ia mulai mendekap tubuh Rumini dengan erat. Lalu mendongengkan kisah masa lalu agar Rumini menjadi lebih tenang. Percakapan di antara mereka pun terus berlangsung hingga matahari benar-benar padam.

Di samping itu, lantai yang mereka pijak tiada hentinya bergetar. Beberapa orang di luar sana melaung sebisa mampu. Tubuh Rumini hendak terpental, namun dengan cepat ia memeluk tubuh Wanita Tua dengan erat. Benar-benar erat.

“Sebentar lagi rumah dan desa ini akan hancur. Semua akan terkubur bersama kenangan yang ada. Pergi dan carilah kebahagiaanmu, Rum! Aku akan istirahat panjang di sini!” Wanita Tua itu meneteskan air mata.

“Satu-satunya mimpiku yang belum terwujud adalah membahagiakan Mak. Aku tidak akan pergi dari sini. Aku ingin hidup kekal bersama, Mak.”

Baca juga  Mata, Air, Hujan

Setelah itu langit-langit kamar perlahan ambruk. Rumini mencium kening Wanita Tua dengan perasaan yang kacau. Sebuah gumpalan awan panas perlahan masuk melalui celah jendela lalu menjebolkannya. Rumini menyudahi segala mimpinya. Sebentar lagi dirinya akan tamat. ***

.

.

Ede Tea, lahir di Bogor. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Merupakan mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia yang bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

.

Rumini dan Wanita Tua. Rumini dan Wanita Tua.

 217 total views,  3 views today

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!