Cerpen, M Arif Budiman, Suara Merdeka

Tanah Lesung

Tanah Lesung ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

4.4
(16)

Cerpen M Arif Budiman (Suara Merdeka, 26 Desember 2021)

AWALNYA tak ada satu pun penduduk Tanah Lesung peduli terhadap tanda merah dari cat yang terbubuh di pintu dan pagar-pagar rumah mereka. Mereka menganggap tanda itu hasil kerjaan tangan-tangan iseng pemuda tanggung yang kerap nongkrong di pos ronda hingga larut malam.

Namun pada akhirnya penduduk Tanah Lesung mulai kasak-kusuk ketika tanda merah mulai menyebar hampir ke seluruh rumah. Hingga kemudian tersiar kabar bahwa tanda merah itu sengaja dibubuhkan seseorang bagi rumah-rumah yang akan terdampak pembangunan waduk.

Kabar seputar pembangunan waduk membuat telinga Mat Jai memerah. Mantan jawara yang alih profesi sebagai petani kopi itu pun mulai gerah dengan isu yang beredar.

“Di antara kalian, adakah yang tahu penyebar keresahan ini? Berani benar dia meneror kampungku. Biar kutetak batang lehernya,” ujar Mat Jai, pandangannya menyapu ke seluruh orang di dalam kedai kopi Dul Kodir. Dan semuanya menjawab dengan gelengan.

“Aku rasa ada dalang di balik semua ini, Kang,” ujar Dul Kodir, sembari menyodorkan kopi ke hadapan Mat Jai.

“Tentu saja. Si pembubuh tanda merah hanyalah wayang.”

“Apa tak sebaiknya Wak Jai tanyakan saja pada Ki Lurah?” sahut Parlan.

Mat Jai terdiam. Diseruputnya kopi yang telah ia tumpahkan dalam lapik cangkir. “Nanti aku pikirkan. Biar kukumpulkan bukti-bukti dulu. O iya, apa seluruh rumah di kampung kita telah terbubuh tanda merah?”

“Barangkali Bakir tahu, Wak,” ujar Parlan, menunjuk Bakir yang tengah sibuk memintal sarungnya.

“Setahuku belum semua, Wak. Hanya rumah-rumah di legok yang sudah terbubuh. Sementara rumah-rumah di lereng belum tersentuh semuanya.”

Mat Jai mengangguk. Benaknya langsung menyusun rencana. Ia harus mengumpulkan bukti kuat agar apa yang akan dilakukannya nanti tak salah jalan.

Keesokan harinya, sepulang dari ladang, Mat Jai sengaja mengambil jalan yang tak biasa dilewati. Ia melewati depan rumah-rumah penduduk di lereng. Sesekali matanya melirik pada pintu dan pagar rumah. Hingga pada rumah terakhir, ia telah mengantongi rumah-rumah yang belum terbubuhi tanda merah.

Baca juga  Penghalau Kematian

Malam harinya, berbekal lampu senter dan golok, Mat Jai pergi menuju lereng kampung. Setelah memilih salah satu rumah yang belum terbubuhi tanda merah, ia mengambil tempat bersembunyi. Mat Jai percaya, orang-orang suruhan itu akan datang untuk melancarkan aksinya.

Dugaan Mat Jai tak pernah meleset. Beberapa saat setelah Mat Jai mengambil tempat sembunyi, datang dua orang bercadar sarung mengendap-endap. Salah seorang tampak membawa sebuah kaleng cat. Lalu membubuhi pagar rumah dengan cat. Sementara seorang lainnya mengawasi sekitar.

Merasa telah menemukan buruannya, Mat Jai segera menyergap kedua orang itu. Salah seorang langsung kabur, sementara seorang lainnya sempat melakukan perlawanan pada Mat Jai. Hingga akhirnya orang itu pun ikut kabur, setelah mendapatkan beberapa tinju dari Mat Jai. Dan beberapa setelahnya, orang-orang pemilik rumah keluar karena mendengar kegaduhan.

Keesokan paginya, Tanah Lesung geger karena Mat Jai berhasil menghajar si pembuat keresahan. Meski si pembuat keresahan tak berhasil ditangkap, namun Mat Jai berhasil mengantongi sebuah bukti.

***

Sudah beberapa tahun belakangan, ketenangan penduduk Tanah Lesung selalu diusik. Penyebabnya tak lain program pemerintah yang rencananya akan membangun waduk. Bentuk geografis Tanah Lesung yang menyerupai lesung, cekung memanjang dengan dikelilingi bukit, dianggap cocok untuk dibangun waduk. Letaknya yang strategis juga akan menguntungkan banyak pihak pada kemudian hari.

Namun upaya pemerintah membujuk penduduk Tanah Lesung agar mau direlokasi selalu mendapat penolakan. Penyebabnya, jika pembangunan itu terjadi, maka penduduk Tanah Lesung harus rela pergi dari tanah kelahiran mereka. Selain itu, mereka juga harus rela kehilangan makam leluhur yang sudah dipastikan akan terendam air waduk. Karena itu, sebagai orang yang dituakan, Mat Jai memiliki tanggung jawab penuh terhadap penduduk Tanah Lesung. Ia berteriak paling lantang menolak segala bujuk rayu pemerintah. Meski beberapa warga setuju terhadap ganti rugi pemerintah, namun Mat Jai masih berada dalam barisan orang-orang yang menolak.

Baca juga  Kota Kami

“Njanur gunung. Ada angin apa ini Kang Jai. Tumben sekali datang kemari?” tanya Ki Lurah, menyambut kedatangan Mat Jai.

“Ah, tentu kedatanganku sudah Ki Lurah duga,” jawab Mat Jai.

“Maksud Kang Jai?”

“Terkait tanda merah yang terbubuh di pintu dan pagar-pagar rumah penduduk, Ki.”

Ki Lurah terdiam. Meski demikian senyumnya terus mengembang.

“Memangnya ada apa dengan tanda merah itu? Bukankah itu hanya sebuah cat yang dibubuhkan oleh tangan-tangan jahil, Kang?”

Mat Jai tersenyum sinis. “Jika itu anggapan Ki Lurah, tentunya tak masuk akal. Jika itu hasil tangan-tangan jahil, mengapa hampir seluruh rumah di Kampung Lesung, terutama yang berada di legok dan lereng dibubuhi tanda merah? Apakah ini ada kaitannya dengan rencana pembangunan waduk, Ki?”

“Sebentar. Jadi kedatangan Kang Jai mau menuduhku sebagai dalang atas tanda merah itu?”

“Bukan demikian maksudku, Ki. Aku hanya ingin mencari kebenaran.”

“Kebenaran macam apa yang Kang Jai inginkan?”

“Tentunya kebenaran yang hakiki. Aku akan terus berjuang membela tanah leluhurku sampai darah penghabisan.”

“Lalu, apa hubungannya denganku?”

“Menurutku, Ki Lurah pasti tahu siapa dalang di balik kekisruhan ini.”

“Atas dasar apa Kang Jai beranggapan demikian?”

“Jika kekisruhan ini merupakan sebuah strategi yang dijalankan oleh pemerintah terkait pembangunan waduk, tentunya Ki Lurah mengetahuinya. Bukankah Ki Lurah kaki tangan pemerintah?”

Ki Lurah terdiam. Pikirannya tampak memendam sesuatu.

“Jika Ki Lurah enggan untuk menjawab, aku akan bertanya pada Bakir.”

“Maksud Kang Jai?”

“Barangkali ia tahu banyak tentang ini.”

Sejurus kemudian Bakir datang setelah Ki Lurah memanggil.

“Ada apa Ki?”

“Kang Jai hendak bertanya padamu.”

“Kau pasti tahu tentang tanda merah yang sedang ramai dibicarakan, bukan? Kita pernah membahasnya di kedai Dul Kodir. Bahkan kau memberitahuku seputar rumah-rumah yang sudah dan belum terbubuhi tanda merah.”

Bakir mengangguk.

“Dan kau tahu siapa pelakunya, bukan?”

Baca juga  Pil Kebahagiaan

Bakir menggeleng. “Tidak Wak.”

“Tak usah menyangkal. Kau tahu persis siapa pelakunya,” desak Mat Jai.

“Sebaiknya Kang Jai jangan asal tuduh,” sela Ki Lurah.

“Aku tak asal tuduh, Ki. Aku punya bukti kuat.” Mat Jai mengurai sehelai sarung yang ia jadikan ikat pinggang. Lalu melemparkannya ke atas meja. “Ini buktinya. Ini sarungmu, bukan? Ini sarung yang sama kau pakai ketika di kedai kopi Dul Kodir.”

Bakir terdiam. Wajahnya memucat. Sementara Ki Lurah mencoba mencairkan suasana dengan menyuruh Bakir untuk membuatkan kopi.

“Sudah jelas-jelas pembantumu itu pelakunya, Ki. Sekarang Ki Lurah mau alasan apa lagi? Semuanya sudah jelas. Bakir bertindak atas perintahmu, bukan?”

“Sabar Kang Jai. Semua bisa dibicarakan baik-baik.”

Tak lama berselang Bakir datang membawa dua gelas kopi. Lalu Mat Jai dan Ki Lurah pun segera meminumnya.

“Saya berharap Kang Jai tak memperpanjang masalah ini.”

“Keputusanku tak dapat ditawar lagi, Ki. Tekadku sudah bulat.”

“Mohon Kang Jai pikirkan risiko-risikonya.”

“Sudah kupikirkan, Ki. Aku akan tetap melawan siapa saja yang coba menghalangiku. Termasuk Ki Lurah sendiri,” jelas Mat Jai. Lalu pamit pulang.

Sore harinya, Tanah Lesung kembali geger. Namun bukan perkara tertangkapnya si pembuat resah kampung selama ini, melainkan kematian Mat Jai yang secara mendadak. Ia ditemukan tak bernyawa di ladang dengan mulut berbusa beraroma kopi. ***

.

.

Kudus, Juli 2021

M Arif Budiman, lahir di Pemalang. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

.

.

Publikasikan karya terbaik Anda (puisi atau cerpen) di Suara Merdeka. Naskah dikirim ke email [email protected]. Jangan lupa sertakan nomer ponsel Anda. Panjang naskah sekitar 7.000 karakter. Ditunggu. Terima kasih. (Redaksi)

.

.

Loading

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 16

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Siapa yang berani melawan pemerintah, begitulah hasilnya, tapi itu hanya di dunia, nanti kehidupan setelah dunia ini, ya siap-siap aja.

Leave a Reply

error: Content is protected !!