Cerpen, Indrian Koto, Jawa Pos

Rumah Makan

Rumah Makan ilustrasi Budiono/Jawa Pos

5
(3)

Cerpen Indrian Koto (Jawa Pos, 08 Januari 2022)

“MENIKAHLAH denganku,” ucap sang sopir nyaris setiap usai meniduri si perempuan. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali dalam percintaan mereka yang ganjil. Meloncat-loncat lewat butiran keringat dan derit kasur, seperti laju truk di jalanan berlubang dan berbatu. Tak ada yang tahu rahasia kata-kata dari bibirnya yang hitam.

Ia memainkan tubuh perempuan itu sedemikian rupa, sebagaimana ia memainkan setir di belokan tajam, di tempat sempit dan curam. Lincah, cergas, dan penuh ketelitian. Secepat ia memulai, secepat itu pula ia menyudahi. Ringkas dan agak terburu-buru, seperti menarik persneling dan menekan gas dan rem dalam sekali sentakan. Ia mendengus serupa babi, lalu membenamkan tubuhnya ke badan si perempuan.

“Sudah berapa kali kubilang, ha?! Jangan cium bibirku, kataku!” maki si perempuan ketika lidah sang sopir menjalar tak keruan. Lidah yang meliuk seperti truk pada setiap belokan tajam.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Di sini semua orang pandai menjaga rahasia. Sopir truk semacam dirinya, nyaris sepanjang hidupnya menghabiskan waktu di jalanan, memerlukan hal-hal ringan pengisi waktu agar tidak membosankan. Di tempat semacam inilah biasanya, rumah makan yang ramai oleh sopir truk, Fuso, dan tronton, mereka mencari sedikit hiburan. Saat-saat seperti ini pula ia terlihat lebih berkuasa dari kernet yang di setiap pemberhentian mesti memeriksa ban, angin, rem, serta segala kelengkapan lainnya.

Di usianya yang nyaris empat puluh tahun, lebih dari separonya telah ia habiskan di jalanan. Kali pertama ia ikut bus antarkota dalam provinsi, sebagai kernet dua—istilah untuk kaki tangan kernet yang sebenarnya, jika umur bertambah dan tentu juga pengalaman, ia akan naik pangkat jadi kernet satu—sebelum ia tamat sekolah dasar. Dari sana pula sekaligus ia belajar menjadi sopir, ketika semua penumpang habis dan mobil diangkut ke tempat pencucian. Dari satu bus ia pindah ke bus lain, dari bus antarkota ia beralih ke bus antarprovinsi. Sesekali waktu ia bisa pula ikut truk ke luar pulau. Begitu seterusnya, dari kernet ia menjadi sopir. Sampai kini, sampai usianya nyaris empat puluh tahun, sampai perutnya membuncit dan uban sudah rimbun di kepalanya.

Baca juga  Lorong Tergelap Sekolah Kami

Ia tak pernah sekali pun menikah.

“Dengan menikah kau bisa belajar mengumpulkan uang, tidak menghambur-hamburkannya di rumah makan dan membaginya dengan banyak perempuan,” begitu omongan kawan-kawannya di pangkalan. Tapi ia sudah terbiasa hidup di jalanan. Ia terlalu lama berhubungan dengan rem, gas, dan oli.

Kalaupun sesekali ia berkehendak, siapa yang mau kawin dengan sopir truk gemuk dan bau asap macam dirinya? Sementara di luar sana, dia tahu, dunia bergerak dengan cepat. Sesekali ia menyesali mengapa dulu tak berpikir usia tua macam begini?

***

Si perempuan mendesah. Tubuhnya mati rasa. Setelah memastikan tak ada lagi getaran kasar laksana truk tua di jalanan berlubang, ia mendorong tubuh yang membuat dadanya sesak itu dengan kasar. Berat dan menyusahkan. Ia mesti menarik napas berkali-kali. Ia merasa seperti tertindih ban tronton yang sarat dan melebihi kapasitas.

“Geser sana. Panas. Badanmu bau knalpot!”

Udara benar-benar pengap. Atap hanya sepenggalah dari kepala. Perempuan itu lalu berdiri. Keringat mengalir di tiap pori tubuhnya.

“Ke mana? Kenapa kau tak pernah mau tiap kali aku ajak menikah?” ucap si lelaki dari ranjang. Tubuhnya besar berminyak, seperti babi yang siap dibakar.

“Aku tak tahan dengan panas.”

Dibiarkan tubuhnya yang telanjang. Atap seng yang karatan dan bolong menyimpan, lalu memantulkan panas sedemikian rupa. Dibukanya jendela kecil yang menghadap jalan. Hari hampir petang, matahari masih memanggang. Jalanan lengang dan terbungkus debu. Angin dengan semena-mena menerobos kamar yang pengap dan panas seperti neraka itu. Tak lupa membawa debu dan bau ban terpanggang.

Ia menatap lurus ke jalan. Lengang. Di luar langit begitu terang, biru membentang. Apakah langit berwarna biru? Apakah yang berwarna biru itu adalah langit?

Baca juga  Juragan Empang

Di bawah berjejer truk-truk dan tronton bersilang-seling, penuh muatan dan barang-barang. Beberapa orang dengan tubuh setengah telanjang berbaring di bawah kendaraan masing-masing—para kernet yang terbiasa dan bersiaga dengan mesin, ban serep, dan dongkrak—penuh oli dan peralatan. Yang lain menggelindingkan ban, menggeser ke sudut kiri halaman. Perjalanan rasanya masih sangat jauh. Ke utara selepas persimpangan menuju kampung-kampung di kaki bukit dengan orang-orangnya yang udik, jalanan akan lebih kecil, lalu terdapat cabang-cabang kecil, berliku dan melulu gunung dan perkampungan melewati provinsi demi provinsi. Arah selatan penuh tanjakan dengan jurang di sisi kanan, beberapa persimpangan besar dan berujung di pelabuhan.

Dia masih berdiri di depan jendela. Tak banyak yang memperhatikan ruang yang menyerupai gudang yang terdiri atas tiga kamar tempat istirahat para sopir—yang sering kali ditemani perempuan seperti dia (ah, bisakah mereka, para sopir itu, sungguh-sungguh istirahat?). Tempat yang kotor, terjepit di antara rumah makan di bagian paling depan—yang memakan sebagian besar tempat persinggahan ini, kamar mandi dan sebuah musala kecil di belakang. Sementara di bagian depan, ia cukup terlindung oleh dahan ceri dan pondok kecil bertulisan “tempel benan” dan “tubles”, harta satu-satunya seorang Batak tua yang sepanjang hari berada di sana. Di seberang yang lain, berjejer kios-kios makanan kecil, roti dan minuman, pedagang mi rebus dan nasi goreng—sebagian masih milik tuan pemilik rumah makan. Dia penguasa kecil dan memiliki banyak musuh tentu saja. Beberapa armada bus harus dikuasai, para sopir harus dilayani sempurna dan sopir truk dan tronton pun perlu diservis sedemikian rupa agar tak memarkir kendaraan di rumah makan lain.

Lubang dan bekas tambalan aspal serupa koreng di punggung jalan. Beberapa kendaraan yang lewat seperti melarikan diri dari impitan nasib. Dulu dia berpikir, di sebalik ini semua sudah tak ada apa-apa lagi. Hanya gunung dan sepenuhnya kosong, tempat penghabisan jalan. Dan memang demikian, mesti tidak sehiperbola yang dibayangkan. Tak jauh dari sini, jalan-jalan bercabang, setiap cabangnya memiliki riwayat dan nasib sendiri-sendiri. Itulah sebabnya, hampir semua kendaraan umum dan pribadi akan istirahat di sini, memulihkan diri untuk perjalanan yang agak menjengkelkan: semata lengang, semata jurang. Mereka, para sopir, lebih suka melewatinya berkonvoi dengan kendaraan lain. Sewaktu-waktu para perampok suka berkeliaran di pendakian. Dan dia, seirama dengan kesepian ini, serupa lekuk jalan penuh tikungan, senantiasa dilewati dan selalu ditinggalkan.

Baca juga  PANDEMI INI (1); PANDEMI INI (2); PANDEMI INI (3)

Ia sudah akrab dengan sopir dan kernet sejak lama. Sejak menyelesaikan bangku SMP ia sudah terbiasa dengan bus antarkota. Ia tak melanjutkan sekolah, lalu bekerja di sebuah rumah makan kecil di pinggir pantai tempat wisata. Di sana ia mula-mula melewatkan hidup yang keras dan berhadapan dengan lelaki. Di tempat wisata itu, ia akrab dengan bahasa kasar para preman dan lonte-lonte bernasib malang. Malam hari, pantai itu menjadi tempat mereka mencari uang. Para preman memungut uang keamanan, yang perempuan mendampingi lelaki yang butuh teman.

Ia menikah dengan seorang kernet bus antarkota yang kemudian menjadi sopir truk. Setelah mereka bercerai, lelaki itu mati dihajar orang ketika menabrak anak sekolah.

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: