Beri Hanna, Cerpen, Koran Tempo

Dongeng Penelitian Nambuk Kubo

Dongeng Penelitian Nambuk Kubo ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

0
()

Cerpen Beri Hanna (Koran Tempo, 09 Januari 2022)

PADA 2018, Garmann Fulhert, arkeolog dari Magdeburg, berangkat ke Nambuk Kubo. Sampai di Kota Bangko setelah repot berganti-ganti transportasi, Garmann dijemput Abdini Muslonah, lalu mereka berperahu di atas Sungai Batang Hari. Sekilas Sungai Batang Hari tak jauh berbeda dengan Sungai Elbe yang berhulu dari Republik Cek barat laut, dan membelah sebagian Jerman hingga bermuara di Laut Utara.

Apa yang sebetulnya dicari Garmann Fulhert hingga jauh-jauh datang ke Nambuk Kubo, tidak lain sebuah batu granit; yang konon, jauh sebelum banyak hal diketahui seperti sekarang, Santo Guirec yang Agung telah jatuh cinta kepada nenek moyang Anne Murdock—salah seorang selir Pangeran Edward. Cinta Santo Guirec yang Agung kepada nenek moyang Anne Murdock rupa-rupanya tidak diberkati sekalian alam. Jadilah Santo Guirec yang Agung, yang saat itu sekaligus bekerja sebagai tukang batu, memutuskan untuk pergi dan tidak akan pernah kembali. Moyang Anne Murdock mencegah Santo Guirec, tetapi Santo Guirec tidak ingin menjadi arang yang terbakar karena melihat pernikahan. Sebelum nanti moyang Anne Murdock merasa hampa karena nyala cintanya—datang terlambat—bagai kobaran api kepada santo, ia telah melengkapi sisa umurnya untuk menikah dengan lelaki tanpa asal-usul, melahirkan dan jatuh sakit hingga meninggal dalam keadaan menggenggam batu granit pemberian Santo Guirec.

Karena seumur hidup moyang Anne Murdock dan suaminya miskin, tidak ada harta yang dapat diwariskan kecuali batu granit pemberian Santo Guirec yang Agung itu. Dan kemiskinan rupa-rupanya tergaris pada telapak tangan dan mengutuk turun-temurun anak, cucu, cicit, piut, hingga setiap keturunan menikah dan melahirkan, batu granit itu berpindah tangan dan berujung menjadi gigi palsu Anne Murdock.

Juan Garcia, si gipsi yang selalu berpikir liar dari kebanyakan orang-orang gipsi, lebih dikaruniai untuk mengetahui sesuatu yang tersembunyi sekaligus luput dari cermatan Pangeran Edward dan orang-orang Eropa di awal abad dua puluh. Pada suatu Rabu yang panas, Juan Garcia melihat Anne Murdock dan menjadi banyak merenung untuk memikirkan segala hal dalam pandangan ke dalam dirinya sendiri. Sebelum nanti Juan Garcia dengan orang-orang gipsi lain berpindah tempat, Bapa di surga telah meniupkan sesuatu ke dalam mimpinya. Seolah-olah mendapat karunia dan mukjizat batiniah berkat mimpi itu, Juan begitu yakin, satu dari gigi Anne Murdock adalah batu granit yang di dalamnya terdapat serbuk emas murni yang luhur. Ia mendadak tahu Santo Guirec dari dalam mimpi dan meyakini dirinya sendiri bahwa Santo Guirec tidak lain kakek moyangnya di masa lampau.

Baca juga  VARIASI DARI PROSA LIRIS ITALO CALVINO (BAGIAN 2)

Lewat pertunjukan kartu dan sulap tongkat, Anne Murdock tak berkedip melihat sosok tinggi tegap, dengan kulit eksotik dan jambang hitam, si Juan Garcia. Merasa ada minat yang sama, Juan Garcia mendatangi Anne Murdock seusai pertunjukan. Sejak saat itu, mereka lebih sering bertemu untuk berduaan. Hingga suatu saat Anne Murdock memintanya untuk meramal. “Kekeliruan menjelma ular di dalam kepalamu,” kata Juan Garcia. Sebelum ditanya apa maksudnya, Juan menjelaskannya dengan sangat bijak, mengutip beberapa puisi dari buku yang selalu dibawanya. Dan itu cukup membuat Anne Murdock mengangguk-angguk takjub serta melupakan segala sesuatu. Karena pandai bertutur dan menggoda, Anne Murdock tidak menyadari bahwa ia terjerumus ke dalam perangkap. Dan saat itulah, kepedihan luka dihujani garam menyadarkan Anne Murdock bahwa sesuatu yang lain dari dirinya adalah hal yang paling diinginkan Juan Garcia.

Orang-orang gipsi yang telah bersiap mengembara sambil menyenandungkan lagu-lagu, membelah jalan ke arah laut, lalu melompat ke atas kapal kaum Hatohato yang selalu bermimpi akan bertemu tanah datar, di mana mereka akan menegakkan tiang dan mengibarkan bendera sebagai tanda bahwa merekalah kaum pertama yang menginjak tanah tersebut.

Berbulan-bulan setelah berlayar melawan ombak serta badai, kaum Hatohato banyak meninggal. Hingga akhirnya, tiga dari yang tersisa menerbitkan senyum ketika melihat wilayah hutan seperti murni milik seluruh alam. Meski mereka sudah terlampau kurus untuk dibandingkan dengan seekor anak sapi dan patut pula diragukan dapat berjalan dengan tulang kaki kering, semangat berbalut mimpi masa lampau masih membara dalam jiwa mereka. Dengan tidak sabar mereka segera menepi. Sesaat mereka membuka peti-peti kerabat yang telah meninggal untuk dipindahkan ke tanah yang layak, orang-orang gipsi yang menyaru menjadi serupa mayat, bangkit bagai drakula, dan tidak butuh waktu lama, kaum Hatohato pun diganyang, lenyap tak bersisa.

Andai kata Juan Garcia tidak pernah mencuri gigi batu granit Anne Murdock, tentu, baik Garmann Fulhert maupun orang-orang di mana pun, tidak akan mengetahui adanya batu itu. Tapi, karena peristiwa itulah, Pangeran Edward marah setelah Anne Murdock mengaku bahwa giginya yang tanggal adalah batu granit, peninggalan nenek moyang dari abad enam belas. Dan karena kemarahan itu, diketahuilah sebab-musababnya. Cerita tersebar ke mana-mana. Banyak ahli berpendapat, batu granit itu menyimpan sesuatu yang luhur, dan tidak mengherankan muncul berbagai polemik lain tentang berharganya batu itu, setara dengan seribu kapal terbang. Orang-orang terus berdebat, menghitung dan mengukur kemungkinan paling dekat arah kapal kaum Hatohato yang ditumpangi orang-orang gipsi berlayar. Sementara itu, waktu semakin ganas berlalu, jejak-jejak kapal kaum Hatohato tak pernah terlacak.

Baca juga  Laporan No. 72 (Distrik 437, 963, & 5)

Seperti si gipsi Juan Garcia yang dikaruniai, Garmann Fulhert yang pada suatu Rabu panas melihat unggahan toko buku online menjual Romancero Gitano karya Federico Garcia Lorca yang dieditori Madrid: Revista de Occidente, terbitan tahun 1929, berkeyakinan bahwa ia harus melihat suatu petunjuk dari cara seorang gipsi. Alam telah memilih dia dari ratusan bahkan mungkin ribuan yang berusaha mengungkap arah kapal kaum Hatohato berlayar. Dengan kecermatan meneliti goresan tinta pada buku unggahan itu, tertulis nama Juan Garcia. Ia tidak salah dan telah memastikannya lewat kiriman foto Abdini Muslonah yang dengan senang hati menerima tawaran bayaran dua kali lipat dari harga awal yang dicantumkan. Terlebih benda-benda lain, seperti piring dan gelas perunggu yang ditemukan nenek Abdini Muslonah di Nambuk Kubo, juga disepakati harga cukup, sebagai harga jasa menggali-gali tanah.

Bahwa buku itu telah dibawa ke Nambuk Kubo, bukan kemustahilan. Garmann yakin, Juan Garcia si gipsi telah meninggalkan jejaknya dan alam telah memilihnya untuk lebih dulu mengetahui semua ini. Ia telah menemukan sesuatu yang tidak terbaca, bahwa pada tahun buku itu terbit, orang-orang gipsi memang bermunculan dari Spanyol, Rumania, Bulgaria, dan belahan Eropa lain. Dan tidak jauh setelah buku itu terbit, rumor gigi Anne Murdock marak terdengar di mana-mana.

Maka bergegaslah Garmann Fulhert meneliti Nambuk Kubo, dengan ketekunan dan kesabaran. Pada hari pertama ketika ia diinapkan di rumah nenek Abdini Mulsonah, ia bermimpi, di dalam tanah tempat orang-orang Nambuk Kubo tinggal, tersimpan sesuatu, termasuk batu granit yang dicarinya. Setiap pagi dan siang ia selalu menekuni tiap benda dan permukaan tanah, dari sudut-sudut bukit sampai ke anak sungai dan kebun sawit. Tidak cukup di sana, ia meneliti ke dalam lubang yang digalinya setiap waktu. Hingga tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat, sementara tak ada tanda-tanda seperti yang diharapkan. Garmann Fulhert setengah putus asa.

Pada saat putus asa menjadi benang yang mengikat tubuh Garmann, seorang warga lokal dengan tenang dan gemetar menenteng dayung bercorak kepiting untuk diperlihatkan. “Mungkin dayung ini yang Mister cari-cari,” katanya dengan dingin. Bingung melihat temuan itu, Abdini Muslonah menyarankan supaya dayung itu dipotret. Dan potret itu dikirim ke orang-orang tempat Garmann berasal. Bahkan supaya lebih dipercaya, dayung itu harus dikirim dengan kapal. Menurut Abdini Muslonah, banyak orang-orang Nambuk Kubo yang suka melihat kapal besar, dan untuk itu ia meminta kepada Garmann supaya orang dari negaranya datang dengan kapal besar.

Baca juga  Apakah Tradisi Ini Juga Berlaku bagi Kami?

Dua minggu setelah itu, sebuah kapal besar berlabuh di Pulau Berhala, dan dari sana, penumpang kapal berganti naik perahu lalu menyusuri Sungai Batang Hari dan sampai di Nambuk Kubo. Tanpa berlama-lama, setelah melihat lubang galian terdalam yang cukup menakjubkan, dayung itu diambil dan dibawa. Orang-orang itu diantar dengan perahu-perahu penduduk Nambuk Kubo menuju laut supaya bisa melihat kapal besar.

Dengan perasaan yang sedih dan tangan melambai-lambai, penduduk Nambuk Kubo mengucap salam perpisahan kepada kapal, seolah-olah penumpang kapal itu adalah sanak keluarga mereka yang hendak pergi merantau. Setelah itu mereka pulang, dan Garmann Fulhert juga Abdini Muslonah lebih sering bertukar senyum, lalu pura-pura terlihat mencari jejak purbakala dan pura-pura membuat catatan-catatan. Ketika seorang warga lokal bertanya kapan kapal besar akan datang lagi, baik Garmann Fulhert maupun Abdini Muslonah menjawab, “Setelah kita temukan dayung, piring, guci, batu-batu dari dalam tanah ini.”

“Kalau begitu, seluruh orang kampung harus menggali.”

Senang melihat semangat yang muncul dari orang-orang Nambuk Kubo, Garmann Fulhert berbisik kepada Abdini Muslonah, “Semakin panjang dan berlarut, semakin menjanjikan.”

Saat media-media nasional datang di Nambuk Kubo, baik Abdini Muslonah maupun Garmann Fulhert telah sepakat menjawab, “Selain dayung, ada pula gentong, tali, cincin, kitab puisi, bahkan batu dari abad enam belas, mungkin bahkan sepuluh, juga senjata dari serdadu-serdadu zaman batu.”

“Kami sudah punya peta dan titik-titik benda-benda itu tertanam. Dan tentu, kami belum bisa membocorkannya sekarang. Kami akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk meneliti wilayah Nambuk Kubo secara berkala dan profesional.”

“Bagaimana dengan batu granit dari gigi palsu selir Pangeran Edward?” tanya seorang wartawan.

“Tentu. Itu juga sudah terlacak. Kami perlu sokongan alat dari pihak tepercaya untuk mengambil batu itu di dalam lubang.”

“Kalau soal kapal besar yang beberapa waktu lalu berlabuh di Pulau Berhala?”

“Ah. Itu hanya kapal besar. Yang jauh lebih penting lubang-lubang di Nambuk Kubo ini.” ***

.

.

Beri Hanna lahir di Bangko. Jualan buku di @bukuodessa.

.

.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: