Cindy Wijaya, Koran Tempo, Puisi

MENYEMAYAMKAN IKAN; MENATAP KAPAL LAYAR

MENYEMAYAMKAN IKAN; MENATAP KAPAL LAYAR ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

0
()

Puisi-puisi Cindy Wijaya (Koran Tempo, 09 Januari 2022)

MENYEMAYAMKAN IKAN

.

Di laut itu pula Serrao dan Magellan berpisah

yang ikan-ikannya menumpang katinting lewat

dan kepiting-kepiting telah lebih dulu bertolak

mengunjungi restoran dengan kuah rebusan.

.

Di Calaca kutawar ikan tude seharga kepala

pedagang bilang apa yang kaucari, Ibu?

Mencari harta terpendam, kubilang

tengkorak santo yang mati sahid.

.

Siapa tahu telah dibawa orang, Ibu

lalu kauajak pergi makan di sepanjang bibir laut

kita duduk mencari dalam menu-menu ikan

.

kautarik lengan sintal pelayan itu

kaukata sebentar, Cewek, tak kaupesan kuah asang

dengan revolusi dalam perut ikan.

.

Lalu nyaku pecahkan kure

prosesi pemakaman, di hadapan semangkok ikan.

.

.

.

MENATAP KAPAL LAYAR

.

Dua kapal tertambat, layar koyak

muara Sungai Manado berhati baik

.

ia jumlahkan berapa banyak penjala yang terjala

sudah kaudengar mereka menutup kolam renang karena wabah?

Angka-angka manusia mati di televisi

ikan-ikan berenang mundur

menghasilkan keluarga baru ikan.

.

Noni merapat di tiang labuhan

tempat batu-batu merendah

ia penghuni kampung dengan gapura selamat natal

berbahasa asing yang salah eja

menatap kapal layar adalah pekerjaan tambahan.

.

Ia pandang-pandangi lekuk gunung di garis batas

hamparan daratan saat surut mirip kain yang ia kenakan

terus ia peluk tiang labuhan.

.

Sementara angka-angka terus bengkak

kita kekurangan penjala, cuaca

kabar baik, cuaca.

.

Mar sapa dang Noni da tunggu?

.

.

.

Cindy Wijaya lahir di Manado, 25 Agustus 1985, dan menetap di Tangerang. Buku kumpulan puisinya berjudul Syukini yang Pulang (2018). Puisi-puisi pendiri komunitas Sahabat Cikokol di Tangerang pada 2014 ini disiarkan di majalah sastra dan koran nasional.

.

.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: