Cerpen, Iin Farliani, Republika

Tanda Mata dari Sang Profesor

Tanda Mata dari Sang Profesor ilustrasi Rendra Purnama/Republika

4.8
(4)

Cerpen Iin Farliani (Republika, 09 Januari 2022)

TIGA hari yang lalu, Akka menerima telepon dari kawan lamanya, laki-laki yang pernah satu kampus dengannya. “Akan ada paket untukmu. Sebuah tanda mata peninggalan Profesor Ibra.”

Akka belum sempat menanggapi. Dia masih terpaku di tempatnya berdiri. Gagang telepon terhimpit di antara pundak dan telinganya, sementara jarinya sedang menggores sesuatu di atas kertas putih. Dia masih merasa heran mengapa kawannya ini yang bertahun-tahun lampau tak ditahu kabarnya, kini tiba-tiba meneleponnya dan membicarakan tanda mata. Profesor Ibra? Nama itu juga telah lama terkubur dalam ingatan masa lalunya dan kini perlahan-lahan terkuak kembali.

Terdengar suara embusan napas yang keras dari telepon, diikuti decakan lidah bernada heran. “Jadi kau belum tahu? Aku kira kau sudah dengar bahwa Profesor Ibra meninggal tiga minggu yang lalu. Di antara peninggalan di rumahnya, ada tanda mata yang dititipkan untukmu. Kira-kira, dua bulan lalu ia menghubungiku, semacam pertemuan murid lama dengan profesornya. Profesor Ibra seperti sudah mengetahui umurnya tak lama lagi. Ia bercerita tentang tanda mata yang mungkin bisa kuantarkan jika kelak ia meninggal. Aku tidak tahu isinya apa. Baiknya kau akan mengetahui isinya nanti ketika kita bertemu.” Telepon ditutup.

Di kantornya yang tak memiliki pendingin ruangan, Akka dapat merasakan aliran peluhnya yang meleleh menuruni pelipis. Profesor Ibra, ya, Profesor Ibra, gumamnya. Telah berapa lama waktu berlalu? Akka masih ingat pengalaman bersama profesor itu. Tetapi, hal itu terasa padanya telah berlalu sangat lama karena dia sudah tidak berkomunikasi lagi dengan profesor itu. Dia juga tidak pernah mengikuti pertemuan alumni sehingga dia hampir benar-benar tidak mengetahui perkembangan kawan-kawan kampusnya dahulu.

Baca juga  Tumis Blenyik

Dia dan Profesor Ibra memang terkenal dekat. Selayaknya guru dan murid yang setia, Akka selalu mendampingi Profesor Ibra dalam kegiatan penelitiannya di lapangan. Dia menyusun dalam tulisan tangan yang rapi data-data survei lapangan yang didapatkan sang profesor, menyalinnya di buku tulis yang telah kumal sampulnya yang telah mengeras karena sering tersiram air laut dan dikeringkan di bawah sinar matahari.

Lalu, tanda mata apakah itu yang ditinggalkan untuknya? Akka melihat ke tumpukan berkas yang mesti dibereskannya. Tumpukan berkas itu meninggi menutupi sebagian jendela, menghalangi sebagian pandangan terarah ke luar. Akka mendekat ke jendela, menggeser tumpukan berkas itu. Melalui jendela, dia melihat dua perempuan muda sedang berjalan menghindari lumpur dari gundukan tanah yang telah melumer dan tergenang sehabis tersiram air hujan yang berlangsung siang tadi. Salah satu perempuan berjalan sambil menjinjing sepasang sepatu hak dan satunya lagi tiba-tiba terperosok ke dalam lumpur.

Melihat kejadian yang selintas itu, Akka teringat pengalamannya bersama Profesor Ibra menyusuri lahan mangrove dan membuat transek dengan berjalan melingkar, mengelilingi sebatang pohon Rhizophora yang besar menggunakan tali rafia. Keduanya telah melipat celana setinggi lutut. Tetapi, pakaian mereka tetap terkena lumpur. Dalam momen singkat waktu itu, Akka dapat merasakan kedua kakinya seperti diisap oleh lumpur hingga membenamkannya sebatas dada.

Di seberang, Profesor Ibra menampakkan raut terkejut. Ia berjalan terseok-seok berusaha menggapai lengan Akka. Alat ukur air yang dikalungkan di lehernya terayun ke kanan dan ke kiri selama ia berjalan di tengah lumpur itu. Akka menggapai uluran tangan sang profesor.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Profesor Ibra.

Akka lekas menggeleng. “Tidak apa-apa, Prof. Tidak apa-apa. Terima kasih.”

Baca juga  Sejarawan yang Tersingkir

Beberapa tahun setelah kelulusannya, Akka hanya sesekali berhubungan dengan kawan-kawannya, para alumni dari berbagai angkatan, dan dosen-dosen yang sering mengacungkan jempol bila mendengar nama Akka disebut. “Oh, Akka mahasiswa yang rajin itu.”, “Oh, si Akka. Mahasiswa andalan Profesor Ibra.”

Sesudah itu, dia memutuskan tidak terlibat lagi dalam bidang penelitian kelautan dan mempertaruhkan hidup untuk menjadi seorang novelis. Tetapi, tenyata pilihan itu memperoleh jalan yang tak mudah. Dia pun berusaha mendapatkan pekerjaan tetap dan kini bekerja sebagai editor berita-berita kriminal. Dia mengurus berita-berita yang membuat sakit kepala, mengedit tulisan wartawan yang kurang berpengalaman dalam menulis. Waktu bekerjanya terus bertambah dan kesempatan untuk menulis novel menjadi makin sedikit. Dia merasa putus asa.

Dia teringat kata-kata Profesor Ibra. “Kerjakan apa pun yang kau suka. Mana tahu, berapa lagi sisa hidup kita di dunia. Alangkah malangnya, jika separuh umur kita dihabiskan untuk mengerjakan hal-hal yang tidak kita cintai. Dan siapa yang tahu? Esok mungkin kita jatuh sakit, menghabiskan hari-hari di pembaringan. Tinggal menanti ajal. Sesudah itu habis. Selesai.”

Akka telah hafal tabiat sang profesor yang gemar membicarakan kematian. Di waktu istirahat, selesai menyantap bekal makan siang sambil memandang ke hamparan laut biru terik yang menyilaukan di bawah keteduhan pohon ketapang, Profesor Ibra berujar tentang persiapan-persiapannya kelak untuk menyambut kematian.

“Aduh, Prof! Kita baru selesai makan siang. Jangan membicarakan tentang kematian,” ujar Akka sambil merogoh rokok dari saku celananya. Profesor Ibra tertawa mendengar keluhan Akka. Ia menampakkan wajah riang untuk sebuah pembicaraan yang terlalu sendu, kematian itu.

Akhirnya, di sore yang masih menampakkan langit mendung, Akka melihat kawannya yang menelepon tiga hari lalu itu tengah berjalan dari parkiran menuju kantornya. Akka bergegas keluar menemuinya. Dia melihat kawannya itu membawa kotak bingkisan berwarna cokelat. Apakah itu tanda mata dari sang profesor?

Baca juga  Fondasi

Mereka berjabat tangan, saling menepuk bahu dan bertanya soal kabar masing-masing lalu duduk di kursi beranda kantor. Kawannya itu membicarakan hari-hari terakhir Profesor Ibra yang makin sering membicarakan kematian sejak ia ditinggal mati oleh istrinya. Istrinya tak jauh berbeda umurnya dengan Profesor Ibra. Tetapi masih tampak sehat, tak ada tanda-tanda sakit. Karena itulah Profesor Ibra sangat terpukul ketika di suatu pagi ia menemukan istrinya tak bangun-bangun. Andai saja Profesor Ibra bisa menyisipkan semacam keabadian bagi istrinya seperti pekerjaan yang dilakoninya; membuat herbarium, membuat awetan dari tanam-tanaman pesisir yang diletakkan dalam kotak kaca, berusia panjang lebih dari yang seharusnya.

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. I Komang Berata

    Saya tidak menemukan tanda mata dari Sang Profesor

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: