Cerpen, Indarka PP, Suara Merdeka

Pohon Beringin untuk Kakek

Pohon Beringin untuk Kakek ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

3.7
(3)

Cerpen Indarka PP (Suara Merdeka, 09 Januari 2022)

TIADA seorang pun mengira, pohon beringin di bukit, perbatasan antara kampung Jerami dengan kampung Randu, itu tumbang. Terlebih tak ada kejelasan terkait penyebabnya, semisal hujan atau angin lebat. Suatu malam, dentuman robohnya pohon itu mengejutkanku dan Kakek yang baru selesai menunaikan shalat Isya di langgar. Dengan tergopoh-gopoh, aku menemani Kakek yang bersikeras ingin ke bukit. Di sana kami menyaksikan pohon berumur ratusan tahun itu telah terjungkal, akarnya tampak ke permukaan.

Hari-hari setelahnya, di sudut-sudut kampung tiada topik pembicaraan selain tumbangnya pohon beringin. Warga seolah-olah larut dalam ketidakpercayaan lantaran pohon itu tumbang secara tiba-tiba. Dan tampaknya hal tersebut juga dirasakan Kakek. Sebab beberapa hari kemudian, aku mulai menyadari keganjilan pada kakek, ada yang berubah dari sikapnya. Kakek jadi gemar menyendiri dan melamun. Ia juga seperti tidak punya keinginan untuk melakukan kegiatan apa-apa sekalipun hanya sederhana. Padahal setahuku Kakek dulu termasuk orang yang tidak tahan kalau diam terlalu lama.

Lantaran sudah satu bulan Kakek bersikap demikian, aku bertanya pada Ibu. Dan ternyata Ibu juga sepakat dengan apa yang kupikirkan tentang sikap aneh Kakek. Aku lantas bertanya apa yang terjadi pada Kakek, namun jawaban Ibu tidak membuatku puas.

“Masa tua menjadi masa-masa perenungan atas hidup yang sudah dilampaui,” kata Ibu.

“Bukankah perenungan bisa dilakukan kapan saja dan tidak perlu menunggu tua, Bu?”

“Sudahlah, yang penting kakekmu masih sehat.”

Aku sebenarnya heran. Dari mana Ibu bisa menilai orang yang sering menyendiri dan melamun seharian itu sehat?

“Apa semua itu ada hubungannya dengan pohon beringin, Bu?” tanyaku lagi.

Baca juga  Kinoli

Ibu melengos. Ia kemudian berlalu tanpa menjawab pertanyaan terakhirku. Sementara aku masih bertahan duduk di pelataran rumah sisi barat, memandangi Kakek yang duduk bertopang dagu, melamun di sisi timur.

Aku hanya khawatir kalau sikap Kakek tersebut pertanda hal buruk. Bisa berkaitan dengan kesehatan jiwa atau raganya. Oleh sebab itu, kuberanikan diri mendekati Kakek. Aku ingin mencoba mengajak Kakek berbincang tentang apa pun yang sekiranya bisa membuatnya berhenti melamun. Namun ketika aku sudah persis berada di sebelahnya, Kakek cepat-cepat menanjakkan tongkat. Ia berdiri, kemudian berjalan pelan masuk ke rumah lagi.

Jujur, aku jadi terenyuh melihat keadaan Kakek. Bagaimana tidak. Dahulu, kedekatanku dengan Kakek melebihi kedekatanku dengan Bapak dan Ibu. Aku sering ikut Kakek tiap kali ia pergi ke sawah. Saat itulah Kakek menunjukkan padaku nama-nama pohon di sepanjang jalan yang kami lalui. Dan sepulang dari sawah—ini yang paling menyenangkan, Kakek selalu memberiku uang dua ribu. Katanya itu imbalan karena sudah menemaninya.

Aku sangat yakin Kakek menyanyangiku, sebagaimana aku menyayanginya. Salah satu buktinya, ketika dulu Ibu memarahiku dan hampir melempariku sapu, Kakek tiba-tiba muncul mencegah. Lantas Kakek balik memarahi Ibu.

“Kau pikir kekerasan bisa menyelesaikan segalanya?” bela Kakek, kala itu.

Malam ini aku sengaja menyendiri menikmati sebatang rokok dan segelas kopi di ruang tengah, sembari merenungkan cara supaya Kakek kembali seperti semula. Selang beberapa menit, aku terkejut mendengar teriakan Ibu.

“Kakek hilang!” seru Ibu, gugup.

Kami langsung mencari Kakek. Memeriksa pelataran rumah, pekarangan, sampai bertanya ke para tetangga. Tetapi Kakek tidak ada. Setelah setengah jam pencarian, kami menemukan Kakek di bukit, tempat pohon beringin yang sudah tumbang itu berada. Lantas kami mengajak Kakek pulang. Ketika tiba di rumah dan kutanyai perihal maksudnya pergi ke tempat itu, Kakek hanya diam. Tak lama Kakek pun terlelap.

Baca juga  Alya

Aku yang tak habis pikir tentang perbuatan Kakek, kembali duduk di ruang tengah. Kusesap sisa kopiku tadi. Aku lantas memejamkan mata, kepalaku sedikit pening.

Seperti sengaja melintas dalam benak, aku mendadak ingat suatu hal. Pikiranku mengembara ke masa lalu, tepatnya saat aku menemani Kakek berbincang dengan Mbah Tirto. Kala itu mereka membicarakan perihal rasulan. Tentu aku tak ingat isi perbincangan itu secara terperinci, kendati demikian ada satu hal yang masih tertinggal jelas di otakku hingga saat ini. Mbah Tirto meminta Kakek untuk mengantar sesajen ke pohon beringin lagi. Ketika mendengar hal tersebut, kulihat Kakek hanya tersenyum. Sesaat kemudian dengan halus Kakek menolak permintaan Mbah Tirto, seraya berkata bahwa ia tak pantas lagi melakukannya.

Setelah mengingat peristiwa silam itu, timbullah keinginan dalam diriku untuk menemui Mbah Tirto. Mumpung belum terlalu larut, aku bergegas ke rumahnya. Ketika tiba di sana, aku langsung mengutarakan semua yang terjadi pada Kakek akhir-akhir ini, termasuk peristiwa yang baru saja terjadi.

“Kakekmu belum cerita tentang peristiwa pohon beringin, Nang?” tanya Mbah Tirto setelah aku selesai berbicara.

Aku menggeleng. Sementara Mbah Tirto menghela napas panjang sehingga peyot di pipinya semakin kentara.

Mbah Tirto mulai bercerita. Katanya, dahulu Kakek adalah kuncen kampung Jerami, yang salah satu tugasnya mengantar sesajen ke pohon beringin setiap hendak melaksanakan rasulan. Ketika Kakek sedang mengantar sesajen ke tempat itu, tiba-tiba sekelompok orang dari kampung Randu mendatangi Kakek sambil memekikkan takbir dan mengacung-acungkan pedang. Itu puncak dari perbedaan antara warga kampung Jerami dan kampung Randu karena sebelumnya seorang dari kampung Randu telah menemui kakek. Ia meminta Kakek berhenti melakukan perbuatan yang dianggapnya syirik.

Baca juga  Percakapan di Tengah Hutan

“Kakekmu tidak goyah. Ia kukuh ingin melestarikan adat sebagaimana yang leluhur ajarkan.”

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: